Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Sisi Yang Berbeda


__ADS_3

" Waalaikumsalam, Mbak Rahma?" jawab Sholeha dia kontan berdiri menghampiri sang tamu.


Irma sempat bertanya dengan bola matanya yang sedikit melotot pada Sholeha, hanya ia tak menemukan jawaban pasti dari sahabatnya itu.


" Apa kabar?" tanya Rahma ketika telah mendudukkan dirinya di seberang Sholeha.


" Baik, Mbak bagaimana?"


Rahma meneliti seluruh sudut ruangan dan mendengar suara berisik dari dalam rumah, " Sudah sibuk ya sepertinya?" ucapnya dengan melongok sedikit keluar rumah, terlihat banyak kerabat Sholeha yang mulai berdatangan.


" Iya, aku pikir memang seharusnya", jawab Irma mencuri perhatian Rahma, dia langsung menatap Irma.


" Dia Irma, sahabatku Mbak", Sholeha memperkenalkan.


" Ah, hai salam kenal. "


Irma hanya tersenyum tipis dan begitu singkat, sedikit mencerminkan ketidaksukaannya pada Rahma.


" Aku dengar, Mbak masih di kota kemarin" Sholeha mencairkan suasana.


" Sengaja dong pulang, mau kondangan", Rahma tertawa kecil. Namun tawanya itu terlihat sengaja di buat-buat, apalagi Irma yang tak melepaskan pandangan menelisiknya pada Rahma.


" Irma, boleh buatkan minum untuk Mbak Rahma?" tanya Sholeha sembari memegang punggung tangan Irma.


Irma tidak menjawab, namun segera beranjak meninggalkan ruang tamu. Sholeha tau jika Rahma akan banyak mengatakan sesuatu yang serius ke padanya. " Maaf ya Mbak, Irma emang begitu," Sholeha melihat wajah Rahma yang terlihat di nyaman dengan sikap Irma.


" Tidak masalah, dia lucu. Sholeha, saya sengaja datang mendadak semoga saja tidak menggangu. "


" Oh tentu saja tidak, Leha tidak sibuk"


" Aha calon pengantin, tidak mungkin di beri kesibukan ya, cukup duduk tenang menunggu hari H."


Sholeha tersenyum simpul, " Mbak bisa saja, yah begitu lah kira-kira,"


" Selamat ya, kamu mendapat pria seperti mas Sholeh dalam usiamu yang begitu muda dan menjadi pilihan terakhir dari laki-laki dingin itu."


Sholeha terdiam sesaat, " Apa saya tergolong muda, oh bukan mungkin lebih tepatnya anak-anak, maksudnya untuk berdampingan dengan pria seperti mas Sholeh?" tanyanya sedikit tak terima.


" Hem bisa di sebut begitu, dia pria dewasa yang bijak saya pikir dia akan banyak mengajarkan semua hal kepadamu nanti" ucapnya begitu enteng, tidak tau kah perkataannya ini membuat Sholeha tersinggung.


Sholeha menghela nafas, " Dia bersedia melakukan itu padaku, saya pikir itu istimewa", jawabnya tenang.


" Iya juga, andai saja dia juga bisa seperti itu pada ku, mungkin tidak akan terlalu repot, ah saya hanya bercanda"


" Mbak tidak bisa menukar kata andai dengan ku, saat ini aku pemilik kepastiannya, jadi tidak ku izinkan ada kata andai untuk mu"


" Kamu bahkan tidak rela sekarang," dia tertawa." saya sudah cukup bersyukur pernah berbagi banyak kenangan dengannya di masa lalu", tambahnya tak mu mengalah.


Sholeha tersenyum kecil, jiwanya merasa tersaingi di posisinya sekarang.


" Aku pikir sebanyak apapun kenangan kalian di masa muda dulu tidak akan mengalahkan kuatnya ikatan kita di masa depan, dan yah, aku kira pernikahan adalah puncak dari segala hubungan pria dan wanita yang tidak akan bisa di patahkan hanya karena masa muda yang penuh canda dan kesemuan " sikap tenangnya muncul begitu saja, untuk hari ini dia tidak boleh menelan semua pendapatnya, Sholeha meyakinkan dirinya.


Rahma terdiam beberapa saat sebelum Irma kembali datang dengan secangkir es teh manis, dan lagi senyum datarnya yang cukup terlihat. " Biar adem mbak, di minum dulu" katanya terkesan menyindir.


" Terima kasih, saya memang sedikit merasa panas "


Mengapa pertemuan ini seolah menjadi perang dingin di antara dua wanita, yang satu berbekal masa lalu indah, dan yang satu nekad menyodorkan masa depan yang belum terjadi. Keduanya menyorotkan pandangan yang sangat sulit di artikan.


" Lusa bisa datang kan mbak?" tanya Irma tiba-tiba.


" Tentu saja, aku datang hari ini hanya ingin berbincang dengan calon pengantin, sebagai orang terdekat, begitu kan leha?" senyum menawan yang tidak mungkin di abaikan oleh Sholeha, ia kontan mengangguk, meski Irma sedikit memelototinya tidak setuju.


" Silahkan di minum Mbak," Sholeha kembali menawarkan.


Rahma meraih segelas es teh di depannya, sembari meminum matanya sempat melirik pada Irma yang masih saja menatapnya penuh selidik. Rahma merasakan ada sorot kebencian dari gadis yang mengaku sahabatnya Sholeha, ah mungkin dia tidak menyukainya juga karena cerita dari Sholeha. " Saya juga telah bertemu dengan mas Sholeh tadi, apa kamu tidak keberatan?" tanya Rahma sengaja memancing Sholeha.


" Ah itu, saya tau. Kami telah sepakat melakukan apapun sebelum resmi menikah, termasuk membereskan remahan masa lalu kita berdua mbak, em maaf jika menyinggung", ucap Sholeha dengan sangat tenang.

__ADS_1


Irma terkekeh, " Widih, kompak amat calon pasutri" celetuknya.


Rahma terdiam sejenak, kemudian dia berdehem kecil. " Remahan, em sekecil itu ya kalian menganggapnya, tidak apa. Saya bisa memaklumi, semoga kalian tetap kompak seperti ini", nada bicaranya sudah tidak se-ramah seperti tadi.


Entah mengapa wanita yang selama ini di nilai dewasa oleh Sholeha kini berubah menjadi wanita ramah sedikit julid dengan gayanya yang sangat elegan.


" Tentu saja," jawab Sholeha tegas.


" Baiklah, terimakasih atas es tehnya yang sedikit menyegarkan, aku pamit ya Sholeha, ndak enak ganggu calon pengantin", dia beranjak dari duduknya.


Sholeha segera berdiri, mengantar Rahma keluar. Setidaknya satu kali lagi senyum harus iya berikan, Rahma cukup berani mengajaknya duduk untuk menyampaikan kata terakhirnya sebelum benar-benar melepas Sholeh, meski ia tidak langsung mengakui perasaannya pada Sholeh di depan Sholeha. Sholeha tetap bisa mengerti.


Rahma akhirnya menghilang, terbawa panjang jalanan yang bercabang. Sholeha memutuskan kembali ke kamarnya, jika harus merutuki Rahma setidaknya hanya Irma yang boleh tau.


***


" Kamu tuh, ndak cerita kalau mbak itu mau kesini?" todong Irma pada Sholeha.


" Aku juga tidak tau, aku pikir dia hanya akan menemui mas Sholeh saja, dia malah nekad kesini",


" Ngomong apa aja dia, ngancam kamu mau jadi istri kedua?"


Sholeha berpaling ke wajah Irma dengan cepat," Apa sih kamu, ya ndak lah. Enak aja, aku ndak mau lah di madu, sembarangan banget kamu ngomongnya", ucap Sholeha menghardik pelan sahabatnya itu.


" Ya siapa yang tau, curiga boleh kan?"


" Itu bukan curiga, kamu menuduh Irma. Ndak baik ah, " Sholeha merebahkan dirinya di ranjang.


Irma tak menggubris, " Aku mau nginep malam ini, boleh ya" katanya lagi.


Sholeha tertawa, " Biasanya juga ndak ijin gitu, "


" Yah kan ini beda, besok juga deh sekalian" Irma melembutkan nada bicaranya, mode merayu.


" Iya, iya. Terserah kamu saja"


Irma berteriak kecil kegirangan, " Makasih, leha ku " ia memeluk erat tubuh Sholeh dari samping.


" Yah kamu mah, pelit amat. Bentar lagi bakalan punya mas Sholeh ini" jawab Irma dengan sendu.


Sholeha tertawa," Apanya yang punya mas Sholeh?"


Irma juga tiba-tiba tertawa kecil, " Ya kamu nya, apa aja yang ada di kamu pasti bebas tuh di peluk peluk sama dia",


Irma tertawa sangat keras, puas menggoda Sholeha yang masih saja malu-malu. Terlihat wajahnya yang memerah saat mendengar nama Sholeh di sebut terang-terangan sebagai suaminya." Kamu yah, seneng banget deh" Sholeha tak berhenti menggeleng melihat tingkah sahabatnya.


"Aku jadi ngak sabar deh, liat kamu di cium keningnya setelah akad" dia sampai melompat kecil dari ranjang.


" Kamu yah, aku aja ndak ada kepikiran kayak gitu loh" Sholeha ikut tertawa.


" Kayak yang di novel bacaan ku loh Ha, yang adegannya bikin mesem mesem sendiri, nah bentar lagi aku bakal lihat di kehidupan nyata ini, uh ndak sadar deh Ha"


Sholeha menggeleng " Ada-ada aja kamu"


Irma kembali duduk di ranjang, " Apalagi kisah mu ini sama persis sama cerita pernikahan paksa yang endingnya saling jatuh cinta, kamu sih ndak hobi baca novel" Irma bahkan terlihat sangat berapi-api menunjukan perasaan anehnya itu.


" Aku ngaji satu bulan ini Ir, yah kadang masih nyempetin nonton drama sedikit, hihihi" Sholeha tertawa.


" Drama Korea ya, jangan bilang kamu belajar kis kis-an dari sana yah, " goda Irma sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sholeha kontan menimpuk Irma dengan tangan kosongnya, " Sembarangan, ya ngak belajar juga kali. Cuman intip sedikit" Tawa keduanya meledak memenuhi ruangan itu.


" Ndak usah belajar, otodidak aja udah. Pasti kelar" celetuk Irma sok berpengalaman.


Di tengah tawa mereka yang belum juga mereda, terdengar dering ponsel Sholeha.


" Pasti calon suami" seloroh Irma bersemangat.

__ADS_1


Sholeha tidak menggubris Irma yang masih saja tertawa. Dia segera menghampiri ponselnya di meja rias.


" Ya Mas, ada apa?" benar kata Irma calon suami yang menghubunginya. Sholeha duduk kembali di ranjang, mendekati Irma.


" Saya bertemu dengan Arman tadi" katanya di seberang telepon.


" Mbak Rahma juga sudah menemui ku, apa yang dia sampaikan olehnya mas?"


" Hanya ucapan selamat, dan maaf karena tidak bisa datang besok"


" Em, Mbak Rahma juga datang dan berbincang kecil dengan ku, tidak ada yang penting" Sholeha melirik Irma yang dia yakin bisa mendengar semuanya. Wajah Irma tampak kurang setuju dan terlihat ingin melayangkan protes, Sholeha mencegahnya dengan delikan matanya.


" Syukurlah, oh iya. Ternyata saya masih menang ganteng dari mantan mu ya Ha" terdengar suara tawa Sholeh begitu percaya diri.


" Hem, begitu rupanya. Apa Mas baru pertama kali melihatnya?" Sholeha tak menanggapi tawa Sholeh yang sebenarnya sangat menggelitik di hatinya.


" Pernah lihat dari jauh, kalau bertemu secara langsung ya baru tadi"


" Lihat dari jauh?"


" Iya, pas dulu kalian masih pacaran. Beberapa kali lihat kalian lagi makan bakso di warung langganan mas juga"


Irma ikut tertawa, dia sangat paham dengan perasaan Sholeha saat ini.


" Pasti mas bohong, Sholeha jarang kok ke sana. Ya sudahlah jika tidak ada yang penting kita sudahi saja. Sholeha sibuk nih" Sholeha memajukan bibirnya, dia malu di goda Sholeh.


" Ya sudah, besok kita bahas lebih lanjut banyak hal, em saya tutup ya, Assalamualaikum,"


" Waalaikumsalam, " tanpa ada tambahan kata lain Sholeha langsung melempar ponselnya ke tengah ranjang.


" Dia tuh kebiasaan tau Ir, bahas jaman aku pacaran sama Arman. Yang bikin kesel tuh bukanya dia yang cemburu malah aku yang malu" omelnya pada Irma yang masih dengan tawanya.


" Berasa kayak di goda senior ya Ha, beda banget emang kalau nikahnya sama yang lebih dewasa"


" Ternyata dia suka iseng tau" Sholeha menggulingkan tubuhnya di kasur, gadis yang sedang beranjak menjadi istri itu masih menikmati sisa masa gadisnya.


Banyak hal yang di ceritakan oleh keduanya, dari hal yang berasal masa lalu dan hal-hal yang masih jadi angan-angan. Kamar itu menjadi riuh dengan tawa yang seolah tak surut dari keduanya.


***


" Dari mana kamu?" sontak Rahma menatap ibunya yang mengikutinya ke dalam kamar.


" Ibu kok udah di sini lagi?"


" Ibu penasaran, wanita seperti apa yang dinikahi Sholeha" dia berdiri mengintimidasi Rahma dari pintu yang masih terbuka.


" Kenapa sih Buk, ndak usah aneh-aneh"


" Kamu yang aneh, sudah ibu katakan dari dulu jangan lepaskan Sholeh, setidaknya pacari saja dulu. Kamu malah sok jual mahal tidak mau dengan dia, dia itu masa depan yang bagus untuk kamu" ucapnya meninggikan suaranya.


Rahma berdecak, " Aku sudah berusaha buk, aku pikir dia tidak menyukai orang lain selain aku, dia terlihat sabar menungguku"


" Kamu yang terlalu sombong Rahma, kamu pikir siapa yang mau dengan dirimu kamu sudah tidak muda lagi, selalu saja beralasan kuliah, dan kuliah, kamu pikir jika tidak di bantu dengan Sholeh kamu bisa sampai di titik ini. Ibu pikir kalau kamu bisa menikah dengannya kita bisa hidup makmur kedepannya, Sholeh sudah cukup menjamin segalanya " wanita separuh baya itu masih dengan wajah amarahnya tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.


" Ibu pikir aku ndak ada pikiran ke sana, aku juga mau jadi istri pengusaha muda yang banyak duitnya, aku sudah berusaha. Tidak pantas buk, jika aku berbuat jahat padanya, sementara dia selalu membantu kita" ucapnya dengan sendu.


" Ini semua salahmu, jangan mengeluh jika ibu tidak bisa lagi membantu kehidupanmu di kota yang terus saja kamu banggakan" ancamnya pada Rahma.


" Ibu, kok ngomongnya gitu?"


" Teruskan saja foya-foya mu yang ndak karuan itu, kalau bisa nikahi saja laki-laki yang lebih kaya dari Sholeh, agar kamu bisa hidup" dia pergi meninggalkan Rahma.


" Cari di mana, yang baik hati dan sabar ya hanya kamu mas" jawabnya pelan.


Rahma beranjMk menghampiri pantulan dirinya di kaca, " Kamu cantik, tapi tidak baik untuk laki-laki sebaik dia, kamu terlalu palsu, kamu banyak bohong dan aku pikir malaikat telah menolongnya dari jerat wanita seperti mu" tangannya menunjuk mukanya di kaca, raut wajah yang mengabarkan penyesalan dan rasa bersalah yang tak bisa ia ungkapkan selama ini.


" Aku sudah menahan semua sifat jelek ku sejak mengenal mu, aku pikir aku bisa berubah nyatanya tidak, semakin lama mengenalmu semakin banyak kebohongan yang aku perbuat di depan mu, ini semua bukan keinginan mas, kamu tau ini adalah pilihan. Agar kamu selalu menganggap ku baik dan mengasihani ku " air matanya jatuh, namun bibirnya tersenyum menghina tingkah gilanya. Ada kekecewaan bercampur rasa bersalah yang sulit di artikan. Persetan dengan arti sahabat, sejauh ini Sholeh yang telah banyak berkorban dan tertimpa banyak kebohongan.

__ADS_1


" Jika kamu mengetahui sisi diriku yang seperti ini, mungkin sudah sejak dulu kau meninggalkanku",


***


__ADS_2