
Kesibukan Sholeha di tempat kerjanya, dan di tambah kegiatan kajian yang ia kebut menjadi setiap hari membuatnya tak merasakan jika hari akad nikahnya hanya dua hari menjelang hari H. Begitupun dengan Sholeh yang melakukan banyak hal untuk rencana usahanya, dan pernikahannya. Dalam kurun waktu hanya dua minggu lebih sedikit tokonya sudah rampung di renovasi.
Dia juga menyempatkan mengurus semua persiapan segala surat menyurat untuk pernikahannya. Dari perjalanannya terakhir kali dengan ayam bakar kecap waktu itu, Sholeh juga belum sempat bertemu langsung dengan Sholeha. Dia juga menyadari kesibukan ini juga terjadi pada calon istrinya yang juga di tambah kelas kajian dadakan.
Matahari sedang terik-teriknya Sholeh menyempatkan diri duduk sebentar di dalam kamarnya. Sebenarnya ada rencana untuk menemui beberapa kerabat secara langsung hari ini, ia sedikit menunda. Ada rasa lelah dan rindu yang bercampur jadi satu, Sholeh begitu ingin sekali menemui Sholeha hanya sebentar, meski hanya sekedar menyapa. Keduanya terpisah seolah terbentang jarak yang begitu jauh dan tiada ujung, sesekali memang bertemu namun tidak sedikitpun ada waktu untuk saling bertukar pikiran dan sekedar memandang.
Semua urusan teratasi oleh kedua keluarga yang begitu kompak tak melibatkan calon pengantin. Entah lah, Sholeh hanya merasa sedang di larang bertemu dengan Sholeha.
Dia menyandarkan punggung nya pada kepala ranjang, tangannya menggulir layar ponsel yang baru saja berdering.
" Waalaikumsalam, ada apa Sholeha?" jawabnya pada telepon yang baru saja ia terima.
" Aku kira ini kesempatan terakhir ya, lain kali bila tidak mendesak jangan temui dia" Sholeh sedikit tersenyum mendengar jawaban dari lawan bicaranya yang tak terdengar dari kejauhan.
" Aku juga akan temui, Rahma nanti. Hanya sekedar memberinya undangan. Jangan berpikir buruk ya, dia itu hanya teman ku" tambahnya lagi, nada bicaranya masih lembut dan di hiasi senyum kecil.
" Saya pikir, kita perlu meminta doa restu dari mereka, agar tidak terjadi sesuatu di hari bahagia kita esok", ia kembali terkekeh sendiri.
Tidak lama salam penutup terucap dari Sholeh, dia pun meletakan ponselnya. " Lagi kangen banget gini, dia telpon hanya pamit ingin menemui mantan, uh kamu terlalu tega" gumamnya sembari menggelengkan kepalanya tak percaya dengan sikap Sholeha, yang terkesan lucu.
Sholeh berencana tidur sebentar, nanti sore ia telah memilih Rahma untuk ia temui terlebih dahulu, seperti apa yang ia sampaikan pada Sholeha tadi, setidaknya meminta doa untuk mempermudah ibadahnya lusa.
***
" Apa kabar Mas, kapan datang?" tanya Sholeha pada Arman. Pria itu duduk santai di seberang kursi jati di ruang tamu yang sedikit berantakan. Mungkin saja besok sudah di ubah menjadi tempat bersejarah berlangsungnya akad nikah.
" Aku baik, kemarin malam aku sampai rumah, sengaja mau singgah kesini", dia tampak mengamati lalu lalang kerabat dan keluarga Sholeha yang mulai bersiap menyiapkan segala keperluan acara.
" Syukurlah, Ibu dan Bapak sehat?"
" Tentu saja, Sholeha aku pikir hari ini adalah hari yang mungkin kamu mimpikan bersama ku dulu, dan maaf aku tidak bisa mewujudkannya," ucapnya terkesan kecewa.
" Ini jalan yang telah di berikan kepada kita, aku pikir mas yang memilihnya. Aku tidak menyalahkan, aku juga minta maaf jika membuat banyak luka yang mungkin tidak terlupakan, Sholeha minta untuk mas doa kan saja keputusanku ini adalah baik untuk kita" jawab Sholeha dengan begitu tegas.
Arman sedikit terkejut melihat Irma yang baru saja keluar dari dalam dan ikut bergabung. Sejak pulang kemarin malam ia sendiri belum sempat menemui gadis yang telah menyatakan perasaannya di tengah kekacauwan hubungannya dengan Sholeha dulu. " Irma, kamu juga di sini?" tanyanya dengan gugup.
Irma mengangguk, tidak menjawab lebih banyak pada Arman. Sebaliknya Sholeha yang langsung memimpin pembicaraan dengan sangat santai. " Dia akan rewang selama sepuluh hari, " selorohnya mencairkan suasana yang mulai kaku.
" Ah, aku hanya sedikit terkejut. Apa kabar Ir?" Arman menyapa wanita yang terlihat diam tak berselera menyapanya.
" Baik, tidak juga terpuruk. Sahabatku selalu ada untukku" jawaban yang terkesan kecewa dengan pertanyaan yang basi dari seorang Arman.
Arman terdiam, dalam hatinya hanya berbisik " Maaf aku juga mengecewakan mu" dan berusaha tenang menyimpan keluhnya itu.
" Aku datang meminta maaf, sikapku yang tidak dewasa membuat kalian bertikai untuk beberapa waktu. Tetapi aku lega, melihat kalian yang tak berubah hanya karena aku yang tidak bijaksana ini", Ucapnya terdengar sungguh-sungguh.
Sholeha menghela nafas, " Semua telah berlalu, aku dan Irma juga tidak mudah untuk melaluinya, dan aku pikir sembuh bersama dari luka adalah solusi yang lebih baik dari pada menutupnya dengan kebencian, toh tidak ada yang bahagia sama sekali di antara kita"
" Sekali lagi, maaf. Dan sekali lagi aku datang memberikan selamat dan doa atas pernikahan mu lusa, maaf jika tidak bisa menghadiri secara langsung, bagaimana pun aku tidak mau air mataku jatuh di depan matamu Sholeha, sangat memalukan", Arman terkekeh pelan.
__ADS_1
" Kekecewaan mu kali ini, memberikan keputusan terbulat ku untuk berhenti mencintai mu juga mas, walau bagaimana pun aku masih cemburu dengan sikap mu ini, aku menyerah. Sekian lama kamu masih saja tidak melihatku" dengan terang-terangan Irma mengatakan itu.
Arman terdiam, dia seperti baru menyadari sesuatu yang terlupa. Tangannya mengusap tengkuknya acak secara tiba-tiba, dia menarik nafas. " Maaf, aku juga mengecewakanmu", ucapnya pada Irma.
Ruang tamu yang terasa sangat canggung itu begitu terlihat, dari kejauhan saja sangat jelas jika Arman datang memberanikan diri untuk mengakhiri semua perkara yang telah ia hindari tanpa menyelesaikannya. Arman jelas terlihat nekat menemui Sholeha di hari sibuk menjelang pernikahannya, dia juga tidak menyangka akan ada Irma juga di sana.
" Sudahlah, ini tidak perlu di bahas lagi", jawab Irma, ia terlihat menghentikan perbincangan Arman yang tidak bisa ia terima di keadaan seperti ini.
Tidak sampai satu jam, Arman telah berpamitan pulang, mungkin ia merasakan sesaknya dada jika harus menghadapi kedua wanita itu. Belum lagi suasana sibuk di kediaman Sholeha yang membuatnya sangat tidak nyaman.
***
" Aku pikir kamu tidak bisa pulang," kata Sholeh pada Rahma yang baru saja duduk di hadapannya. Keduanya sedang berada di sebuah kafe, sengaja Sholeh membuat janji dengan Rahma, tentu saja untuk memberikan selembaran undangan yang di cetak secara dadakan kemarin. Setelah melalui banyak diskusi akhirnya Sholeha menyetujui menggabungkan walimah di hari yang sama dengan akad.
" Aku pasti usahakan mas, mana mungkin aku tidak datang", ia menarik undangan yang sepertinya telat di berikan kepadanya.
" Ah sekalian aku juga minta doanya, agar acara kita berjalan lancar"
" Tentu saja, aku selalu mendoakan yang terbaik", ia menarik nafas panjang, "Meskipun sampai sekarang aku masih berharap bisa menikah dengan mu, seperti yang pernah kamu katakan dengan bercanda dulu" ia tersenyum getir.
Sholeh terdiam, berusaha menjaga hatinya agar tak ikut terlarut dalam pembicaraan yang menyangkut hati ini," Kita tidak jodoh dek, percayalah aku juga kidak menyangka dengan jalan ku yang seperti ini", ia berusaha menenangkan Rahma.
Rahma tersenyum, " Meski butuh waktu, aku pasti bisa melaluinya".
Pertemuannya dengan Rahma terkesan sangat berhati-hati, Sholeh sendiri sangat menghindari pembicaraan yang menjurus ke masa lalu. Dia bertekad merampungkan urusannya dengan Rahma hari ini, seperti Sholeha yang juga menemui Arman untuk menyelesaikan masa lalunya. Mereka telah sepakat memulai hidup baru yang di jembatani oleh ikatan pernikahan, semakin dekat hari H baik Sholeh ataupun Sholeha telah mantap memulai semua dari awal.
" Jika tidak keberatan, aku ingin menemui Sholeha untuk sekedar berbincang dengannya", ucap Rahma pada Sholeh.
Karena cukup lama Sholeh berpikir, Rahma sampai kembali bertanya, " Apa tidak boleh mas, aku hanya ingin mengucapkan selamat, itu saja",
" Ah, iya tentu. Biar ku tanyakan dulu padanya, mungkin saja dia bisa lebih bersiap," Sholeh merogoh ponselnya dari dalam sakunya.
" Aku bisa hubungi dia sendiri Mas, aku pikir Sholeha tak memiliki alasan untuk tidak menemui ku, aku sendiri akan ke rumahnya", cegah Rahma pada Sholeh.
Sholeh mengangguk, " Aku hanya mencoba berdiskusi dengannya ", kemudian mengurungkan niatnya mengambil ponsel.
" Dia gadis baik yang cukup bijak, aku tidak akan sampai hati mematahkan kepercayaannya ke pada mu, lagi pula aku tidak punya alasan meski ingin. " imbuhnya begitu dingin. Terlihat kecewa namun sikapnya memperjelas keadaanya yang baik-baik saja.
" Maaf, jika kamu tersinggung", Sholeh merasa tak enak hati.
Untuk mempersingkat waktu, Sholeh sengaja tidak berlama-lama saat bersama Rahma, dia berencana bertemu dengan teman karib dan beberapa kerabat jauhnya. Rahma terlebih dahulu meninggalkan Sholeh di kafe, dia juga bergegas menemui Sholeha.
Sholeh hendak keluar dari kafe, seseorang memanggilnya. " Mas Sholeh, Mas Sholeh kan ya?" ucap seorang pria. Perawakannya berisi sedikit pendek dari Sholeh, rasanya dia pernah melihat laki-laki ini tetapi dia lupa.
" Iya, kenapa?"
" Kita bisa bicara, saya Arman," ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.
" Bisa, mari" Sholeh mengiring Arman kedalam kafe.
__ADS_1
Keduanya duduk di tempat yang sama dengan tempat tadi. Arman terlihat sangat rapih seperti hendak pergi.
" Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mu dengan Sholeha," ucapnya hati-hati.
Sholeh tersenyum, dia juga mulai mengingat, pria di hadapannya ini adalah mantan calon istrinya. " Terima kasih, kalau saya tidak mengira kamu hendak pergi ya" Sholeh meneliti penampilan Arman sekilas.
" Ah iya Mas, saya harus kembali segera bekerja",
" Mengapa terburu-buru, tidak menunggu kami menikah saja?"
Arman tersenyum, " Saya ini pekerja buruh mas, tentu saja harus memanfaatkan izin saya dengan baik. Toh saya sudah bertemu dengan kalian", jawabnya dengan sederhana.
Sholeh memesan dua gelas kopi, setidaknya untuk mengisi meja yang mereka duduki itu. " Saya bisa mengerti, tetapi alangkah bahagianya kita jika kamu berkenan menjadi saksi atas pernikahan kita" ucap Sholeh sedikit berbangga, dia juga sadar laki-laki di depannya ini masih melihatkan sorot kecewa yang seolah tidak rela atas Sholeha.
Arman tertawa kecil, " Aku pikir, aku hanya berusaha menyelamatkan hatiku agar tidak hancur di hari bahagia kalian, setidaknya bersembunyi. Saya memang masih belum bisa menerima kekalahan,"
" Tapi dia sudah meninggalkan mu sejak lama, jika hanya berharap tentu saja kamu yang akan terbebani dengan harapan kosong itu, dia milik ku " Sholeh menekankan perkataanya namun masih santai dan sopan.
Arman kembali tertawa, " Untuk seseorang seperti dirimu memang lebih pantas dari pada aku, wanita sebaik dia tidak akan bisa hidup kacau dengan keadaanku yang tidak jelas rimbanya, jangan merasa aku ini akan merebutnya dari mu, itu konyol."
Seorang pramusaji datang membawa dua cangkir kopi, " Setidaknya aku hanya memberikan ancaman, dan yah jangan katakan soal Sholeha yang seolah memilihku karena apapun, kami hanya saling menerima dan berniat baik untuk beribadah. Kamu sedikit merendahkan dirinya, apa lagi jika kamu menilai materi sebagai pembeda di antara kita", Sholeh meminum kopinya santai.
" Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, saya sendiri tidak cukup mumpuni untuk menjadi suami impiannya",
Sholeh menghembuskan nafas kasar, " Aku tidak suka kau mengatakan itu, jujur saja" entah mengapa dia sangat membenci perkataan Arman yang terdengar membuatnya sesak di dadanya.
" Ah, maaf. Saya tidak bermaksud membuatmu marah", Arman merasa tidak enak di tatap oleh Sholeh dengan sedemikian tajam.
" Saya pikir alangkah lebih baik jika kamu bisa menghadiri acara kami secara langsung, lagi pula hanya menunggu satu hari lagi", Sholeh sedikit mengendurkan intonasinya, dia juga menyadari sikapnya yang sedikit tidak sopan. Mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa menahannya, pertemuan pertama dengan mantan kekasih Sholeha yang pernah ia cemburui hanya karena Sholeha menyinggungnya di tengah pembicaraan penting kala itu.
" Maaf sekali mas, saya hanya mendapat izin satu hari ini untuk cuti, saya harus kembali bekerja." jawab Arman sedikit sungkan. Dia menyempatkan meminum kopi yang hampir dingin di hadapannya.
Warna wajahnya yang semakin tak karuan, membuat kegelisahannya yang tak bisa ia tutupi lagi, calon suami Sholeha begitu tegas mendominasi pertemuan dan pembicaraan ini, tak terasa peluhnya sedikit mengaliri dahi tegangnya.
" Baiklah, aku pikir cukup Mas. Saya harus pamit." Ucap Arman sebelum ia beranjak dari tempat duduknya.
Sholeh hanya mengangguk. Tak menahan atau mencegahnya pergi. Dia terdiam sesaat mengurai semua apa yang telah terjadi dengan kepala yang dingin. Kemudian ia meneruskan niatnya untuk pergi ke tempat berbeda.
***
" Kamu yakin tidak akan melanjutkan perasaanmu pada Mas Arman?" tanya Sholeha pada Irma yang masih duduk di ruang tamu seperginya Arman tadi.
" Iya Sholeha, lihat saja dia. Melihat ku saja tidak, aku semakin merasa bodoh jika masih mencintainya,"
" Kamu ini, jangan salah kan diri sendiri. Siapa tau masih ada kesempatan lagi nanti",
" Ah sudah lah, jangan pusingkan diriku untuk saat ini. Pikirkan saja pernikahanmu yang semakin nyata akan terjadi", keduanya tertawa.
" Assalamualaikum," suara itu menghentikan tawa dua sahabat yang sedang berbahagia itu. Di depan pintu seorang wanita berdiri anggun, auranya masih saja memancarkan kedewasaan yang tak pernah bisa di tandingi oleh Sholeha, dia tersenyum begitu ramah menyapa Sholeha yang masih saja terpaku.
__ADS_1
***