Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Cemburu? Mungkin.


__ADS_3

Sholeha terbangun dari tidurnya, ia mengusap peluh yang bercucuran membasahi keningnya, sebelum tidur tadi dia meminum obat terlebih dahulu.


Sholeha cukup dewasa untuk menangani tubuhnya sendiri, dia juga tidak ingin terlewatkan acara malam ini.


Dia turun dari ranjangnya, mengambil segelas air putih dari dapur, suasana sepi begitu terasa hanya terdengar denting jam tua di ruang tengah. Sholeha tau sekarang ini sudah larut malam, wajar jika se-sunyi ini.


Dengan terpaksa Sholeha juga merasa takut dan sedikit was-was, jiwa penakutnya muncul seketika. Ia mengira akan cepat tertidur kembali, ternyata matanya secerah matahari pagi, dia bingung kenapa tiada kantuk lagi seperti sebelumnya. Di lihatnya langit-langit kamar yang masih sama sepertu dulu, tidak berubah sejak awal di buat. Tidak ada satu pun gambar bintang yang biasa orang bayangkan ketika mereka susah tidur. Mungkin ini karena terlalu banyak tidur siang tadi, tengah malam begini ia sudah terbangun.


Entah kapan mulai terpejam kedua matanya, tiba-tiba saja suara adzan subuh telah berkumandang merdu membangunkannya. Sholeha segera beranjak mandi, dia harus pagi sekali ke rumah Rizal. Apa lagi kondisi tubuhnya yang terasa lengket dan tidak nyaman.


Membayangkan guyuran air dingin di hari masih fajar begini membuat giginya ikut terasa ngilu.


Sholeha dengan sangat keras memaksa dirinya sendiri, dia harus segera mandi.


Sholeha tampak lebih segar, ia tersenyum melihat pantulan dirinya di kaca, ia sengaja berdoa sedikit lebih keras pada dirinya sendiri.


" Semoga hari ini tidak terlalu kacau seperti kemarin" jemarinya merapihkan warna bibirnya yang terlihat segar dan tipis.


Dia mengenakan baju simpel kesukaannya, dress panjang polos andalannya, di tambah kerudung yang sedikit bercorak terpasang anggun dan manis.


" Tidak terlihat habis meriang kan?" ia bergumam. Setidaknya ibunya tidak khawatir dan memarahi karena ia kehujanan kemarin.


Mengingat lagi hari yang cukup terlalu drama seperti kemarin, membuat Sholeha teringat akan satu hal, berdasarkan pengakuan Sholeh dan cerita dari Ayu kini sudah jelas bahwa Rahma bukanlah sekedar teman.


Mungkin dari sekarang Sholeha harus siap bersaing atau bahkan cemburu pada wanita dewasa dan sangat cantik itu. Tanpa di sadari Sholeha telah memulai perjuangan dan selangkah maju menyusul Sholeh yang ia anggap sedikit menang dalam hubungan ini.


" Tapi kalau Mas Sholeh jadi ingat masa lalu lagi gimana, atau dia belum bisa melupakannya?" sejak tadi dia masih berdialog sendiri di depan kaca.


Duh Sholeha, kamu ya....


Tidak ingin sibuk dengan pikiran buruknya, Sholeha bergegas meninggalkan cermin dari kamarnya itu, dia sangat menggangu paginya yang cerah ini. Bahkan ibu bapaknya saja sudah bersiap dengan rapih menunggunya tidak sabaran.


Padahal mereka bisa saja pergi tanpa harus menunggunya, kalau kata ibunya itu, " Kamu ndak di tunggu, ya tambah lama ndak kelar - kelar ," yang di omeli hanya nyengir menampilkan deretan gigi putihnya.


Keluarga kecil itu bersiap mengikuti berbagai rangkain acara syukuran Fatih. Sebelumnya acara akan dilaksanakan malam hari namun ada perubahan jadwal, Sholeha juga belum tau jelas apa penyebabnya, baru saja ibunya memberi tahu, oleh sebab itu mereka sedikit terburu-buru. Untung saja Sholeha sembuh pagi ini, kalau tidak dia akan absen di acara penting keponakannya itu.


Memang hanya pengajian dan syukuran kecil-kecil lan, tidak seberapa repot kalau hanya mengubah jam dari malam ke pagi hari. keluarga dan kerabat juga sudah berkumpul sejak kemarin.


Sesampainya di pelataran rumah Rizal, sudah ada banyak orang disana terutama ibu-ibu, karena sebagian pengisi acara dan tamu undangan memang para ibu.


Hanya sebagian kecil para bapak-bapak yang telah mengisi kursi undangan.


Sholeha memasuki tenda, mencari Ayu yang hari ini menjadi tuan rumah acara ini.


Sound sistem sederhana juga telah berbunyi sejak tadi, mendengungkan selawat nabi dari tabuhan para grup rebana. Ada permintaan khusus dari Fatih sang bintang hari ini, dia meminta harus ada ustadz idolanya sebagai penceramah di acaranya syukuran khitanan nya.


" Mbak, udah siap semua?" tanya Sholeha kemudian pada Ayu yang telah berada di dekatnya.


" Tinggal nunggu Ustadz nya aja Dek"


" Kenapa di ubah acaranya?"


" Katanya Pak Ustadz nya ada acara dadakan, terpaksa deh acara kita yang di majuin, ndak papa mungkin penting banget acaranya pak ustadz. Kita juga ndak tau Dek."

__ADS_1


" Oh, untung ya Mbak ndak sebar undangan" kata Sholeha menanggapi.


" Iya, kalau orang terdekat kan langsung kontak aja mereka pasti datang, yang untung lagi Dek, semua makanan juga udah bisa di hendel semua, hampir nangis mbk Dek" Ayu menceritakan kembali bagaimana ketika ia mendapat informasi itu kemarin sore.


" Syukurlah Mbak, Fatih juga ndak minta aneh-aneh" ucap Sholeha menambahkan.


Di tengah gerombolan para tetangga yang memadati kursi di dalam tenda, terselip satu wanita yang sangat menonjol terlihat di mata Sholeha, Seperti kemarin malam saat pertama kali bertemu, Sholeha tetap terpesona dengan paras wanita dewasa nan anggun itu.


Dia berjalan dengan anggun, dapat Sholeha tebak dia akan menuju kemari menghampiri mbak iparnya.


Dia masih berjalan, tiba-tiba mata tajam Sholeha melihat dengan jelas Sholeh yang juga berjalan searah di belakang Rahma.


Entah mengapa Sholeha merasa tidak suka melihatnya, dan sepertinya mereka sengaja membuat janji untuk datang secara bersamaan. Bahkan Sholeha bisa melihat betapa Rahma sengaja memelankan langkahnya, jelas terlihat ia sedang menunggu.


Yang satu cantik dan anggun penuh dengan pesona dewasa yang begitu memikat, dan satunya gagah tampan dan terlihat terpesona dengan si wanita yang sedang menunggu. Ah dari kejauhan saja mereka sangat serasi seperti itu.


Mengapa tiba-tiba dada Sholeha terasa seperti mendapat cubitan kecil di hatinya. Seolah tak ingin berpaling begitu saja, matanya malah semakin dalam menyelami suasana hati keduanya.


" Aduh..... Sesak sekali dada ini" katanya membatin.


Mereka saling melempar senyum, kemudian berjalan bersisian begitu serasi.


Sholeha menyerah, begitu keduanya sampai lima langkah lebih dekat dari hadapannya Sholeha menunduk menghalau segala kenyataan yang tergambar dari wajah keduanya.


Ya ampun Sholeha, sampai serba salah seperti ini. Dia berhitung dalam hati, menunggu apa yang terjadi selanjutnya sampai akhirnya terdengar suara lembut nan alun menyapa telinganya .


" Ayu, maaf ya aku hampir terlambat" ucapnya sembari memberi pelukan ala persahabatan mereka.


Begitu juga Sholeh yang masih berdiri di antara keduanya nimbrung seolah minta di peluk juga, Sholeha sampai jengah melihatnya.


" Ah aku kira sudah selesai, sampai minta Mas Sholeh menunggu ku, malu kalau datang tinggal makan saja" bisiknya pada Ayu yang terdengar oleh Sholeha, mereka tertawa lebar, Sholeha juga tak melepaskan matanya dari Sholeh yang juga menikmati pembicaraan Ayu dan Rahma.


Sholeha terdiam, dia tidak nyaman dengan posisinya. Tapi dia sangat tidak ingin jauh dari Ayu dan teman lamanya itu. Dia semakin di buat penasaran saat ini.


"Mas Sholeh sampai ku telfon berkali-kali" ucap Rahma kemudian, dia tersenyum memandang Sholeh.


Ya Tuhan.... apa ini?


Sholeha jelas mendengar dengan telinganya ini, telpon berkali-kali, mereka sedekat itu saat ini? Sholeha bertanya dalam hatinya sendiri.


Sholeha melihat Sholeh yang tersenyum hangat menanggapi Rahma.


Kali ini jelas saja Sholeha sampai menarik nafas untuk membuang udara kotor dari hatinya, seperti polutan yang memenuhi kota, sangat berbahaya.


" Eh ya sudah duduk yok!" ajak Ayu padanya, Rahma menuruti, kemudian ia tersenyum pada Sholeha.


Begitu juga dengan Sholeh yang kemudian berjalan ke arah para rombongan tamu laki-laki. Dia hanya menatap Sholeha sebentar tanpa ekspresi.


Kali ini, Sholeha sangat tidak menyukai Sholeh, dia sangat kesal dan sebal.


Suara riuh para tamu undangan dan merdu alunan Sholawat membuat Sholeha sedikit melupakan kekesalannya.


Rupanya sang penceramah telah tiba, segenap orang menyambutnya termasuk mbk Ayu yang berpindah posisi menyapa Ustadz bersama Rizal.

__ADS_1


Semua orang berdiri, melantunkan shalawat dengan cukup hikmat, tanda acara akan segera di mulai.


Setalah pembukaan dan rangkaian acara terlaksana, tiba saatnya inti dari acara syukuran khitanan Fatih Mahendra putra pertama dari Rizal Mahendra kakaknya.


Rizal juga telah menyampaikan sambutan singkatnya, selain meminta maaf ia juga memberikan arahan untuk menikmati hidangan terlebih dahulu sebelum pulang.


Semua orang mendengar tausiah ustadz yang viral dan banyak pengikutnya di sosial media, meskipun hanya tingkat desa Durian ini. Hehehe


Fatih sungguh mengidolakan sang ustadz, katanya beliau lucu dan suka kasih uang pas dia ceramah, ceritanya ini si Fatih mau cari tambahan uang saku. Ada-ada saja memang bocah satu itu.


Ceramah yang memang lucu dan baik di dengar itu terlalu sebentar dan tak terasa beliau sudah menutupnya dengan membacakan sepotong ayat dari surah Luqman. Semua orang di minta mencicipi hidangan dan di teruskan makan siang.


Sholeha sangat sibuk menjadi wakil dari tuan rumah yang memastikan ini dan itu jangan sampai kehabisan.


Sholeha tidak menyangka jika acara ini berlangsung dengan cepat, padahal persiapannya sampai dia demam kemarin.


Sholeha tengah memeriksa prasmanan makanan yang terlihat hampir habis, dia tidak sengaja mendengar suara Rahma dari belakang ia berada .


" Kamu masih suka pecel Mas?" Sholeha tetap diam berusaha tidak ingin mendengar.


" Namanya juga favorit Dek, mana bisa berubah" jawab Sholeh, sepertinya dia tidak menyadari ada Sholeha di depan Rahma.


Rahma memang tau Sholeh sudah bertunangan tetapi ia tidak tau jika tunangannya adalah Sholeha, dan Rahma juga tidak mengenal Sholeha dengan akrab. Dan, mengapa ada sebutan lain yang ia dengar dari Sholeh, dek.? itu terlalu manis untuk seukuran persahabatan menurut Sholeha.


Mereka tertawa persis di belakang daun telinga Sholeha, huh...... Persahabatan yang begitu mesra ujar Sholeha dalam hati.


Sholeha tersadar ketika ibu tiba-tiba memanggil namanya dari arah yang berbeda.


" Sholeha, Nak tolong ambilkan sedikit saja untuk Al!" ibu mencoba lebih mendekati Sholeha dari kejauhan.


" Ah iya Bu, sebentar ya!" jawab Sholeha sengaja meninggikan suaranya, dia tau kedua orang yang sedang bernostalgia itu belum pergi dari belakang punggungnya. Ada sedikit maksut untuk menyindir, sebenarnya.


Sholeha berbalik, bermaksud mengambil piring di dekat Sholeh, namun Sholeh terlebih dahulu mengulurkan piring pada Sholeha. Sholeha tau jika laki-laki itu tersenyum padanya, dia tak sedikit pun mau membalasnya. Anggap saja aku tidak tahu! ucapnya dalam hati.


Mengapa acara ini begitu cepat berlalu, Sholeha bahkan belum mendapatkan ketenangan hati setelah mendengar ceramah agama dan shalawatan, ada apa sebenarnya ini? sejak tadi sibuk berpikir buruk dan memendam amarah pada seseorang, dia cukup berdosa kali ini.


Berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskan dengan asal, dia tidak akan melakukan apa pun kali ini, belum saatnya harus mengakui perasaan dan menyatakan kekalahan meski pada dirinya sendiri. Ya, ego Sholeha memang setinggi tembok Cina.


" Pacar Om Sholeh cantik yah" kali ini Sholeha mendengar langsung dari mulut Fatih yang tidak jauh duduk di dekatnya.


Sholeh spontan melotot dan menengok ke arah Fatih yang sedang sibuk makan es krim. " Siapa?" dia memastikan jika ia tidak salah dengar.


" Tante Rahma lah Bi " jelasnya ngotot.


Wajar saja Fatih tidak memahami situasi ini karena di saat Sholeh melamarnya bocah satu ini tidak mengetahuinya, kalaupun dia tau belum tentu paham yang namanya pertunangan itu apa. Seharusnya Sholeha tidak boleh marah, karena Fatih tidak bersalah.


" Cantikan juga Bibi Sholeha" ujarnya sewot, ia juga memajukan bibirnya dan memperlihatkan matanya sedikit melotot.


" Ih, Bi, Ha marah" ejek Fatih meninggikan suara.


Bahkan ada beberapa orang yang sampai menoleh ke arahnya.


Kali ini Fatih juga tidak salah melihat, bibinya itu memang sedang marah bahkan air matanya sudah bergelayut di ujung kelopaknya. Sholeha tidak berusaha mengelak, dia tertunduk begitu dalam ingin sekali menangisi sikap Fatih yang sangat memperburuk keadaan hatinya yang tidak baik-baik saja sejak tadi.

__ADS_1


*****


__ADS_2