
Suara Sholeha menghentikan langkah dua pria yang sama-sama merasa terpanggil.
" Mas Rizal, hati-hati" ucapnya kemudian. Dengan senyum yang begitu tulus ia perlihatkan.
" Halah, minta oleh-oleh kan kamu" jawab Rizal mengulurkan tangannya menerima salam dari Sholeha.
Laki-laki yang terdiam di samping Rizal, tampak setengah membeku hatinya mencelos memperhatikan adegan manis yang membuatnya menelan ludah. Senyum manis dan ciuman di punggung tangan Rizal yang belum bisa ia peroleh dari wanita anggun di pagi hari ini. Sholeh iri, ya tentu saja.
" Ndak nolak, apa saja ya Mas " sekali lagi senyum manis itu terbit di tengah kedua pipi tembem tidak bulat itu.
Sholeh memutuskan pergi terlebih dahulu, dia sudah menerima ucapan hati-hati tadi, jangan berharap lebih apa lagi senyuman setulus itu. Sholeh melangkah sembari hatinya yang mulai mengecil, di himpit rasa iri yang begitu menyiksa.
Ia benar-benar menghilang di pintu kemudi, dia sendiri merasa aneh mengapa hatinya begitu tidak tenang secara mendadak seperti ini.
Mobil itu bergerak seiring tangan Sholeha yang turun perlahan, melambai senang kepada sang kakak yang heran dengan tingkah adiknya. Sholeha kembali ke dalam, menyusul bu Nur untuk berpamitan. Dia tampak duduk tenang menunggu Sholeha di salah satu sofa.
" Buk, Sholeha langsung pamit ya, ada janji sama temen" ucap Sholeha ketika baru saja duduk menyapa bu Nur.
" Loh ndak ngobrol dulu, Ibu sendirian ini" cegahnya pada Sholeha yang terlihat sedikit merubah air mukanya tidak seperti tadi.
" Leha juga belum mandi, nanti kalau ada waktu Leha kesini lagi sebentar. Maaf ya bu" ia menyentuh punggung tangan hangat bu Nur.
" Sholeha, katakan sesuatu jika ada yang mengganjal di hati, Ibu bantu jelaskan " kata bu Nur meyakinkan Sholeha.
Sholeha tersenyum, " Ndak kok Bu, tidak ada Sholeha baik-baik saja" ia menepuk punggung tangan dengan lembut.
Apa mukanya begitu jelas menggambarkan isi hatinya yang sedikit terusik karena nama Rahma kembali terdengar dari Sholeh. Dia hanya tak bisa menghindar dari badai kegelisahan yang datang kembali meski tak begitu tinggi deburan ombaknya. Sholeha hanya tidak menyukai tentang Sholeh yang tidak memberi tahunya terlebih dahulu sebelum ia mendengar langsung dari orang lain. Mungkin ini adalah sikap berlebihan yang Sholeha tak bisa membendungnya. Jelas jika ini adalah tanda kecemburuan yang mulai bermunculan di dasaran hati Sholeha.
" Ibu percaya sama kamu, nduk. Percayalah semua apa yaNg di ucapkan Sholeh insyaAllah benar, maaf kan ibu ya yang dengan sengaja meminta mu datang sepagi ini, ibu hanya ingin melihat Sholeh ngobrol dan memperlakukan kamu dengan baik, ini sudah dekat hari akad kalian ibu butuh bukti kesanggupan kalian agar ibu juga tenang ." Bu Nur begitu peka dengan sikap Sholeha yang begitu perasa. Dari kecil ia telah mempelajari sikap dan sifatnya, wajar jika sangat mudah terbaca.
" Kali ini tidak buk, Sholeha baik-baik saja, dan insyaAllaB baik Sholeha atau mas Sholeh pasti berusaha yang terbaik untuk kedepannya, percayakan semua pada kami ya Bu." Sholeha tetap tenang dan tersenyum hangat.
Diantara ucapannya yang terlihat tenang di luar itu, ada sebongkah kecemasan yang menuntun Sholeha pada mungkin saja, sebuah kebohongan. Sebenarnya ia juga hanya bisa mengira jawaban Sholeh yang mungkin sama, atau mungkin berbeda dia tidak tau. Setidaknya ucapannya kali ini memberikan ketenangan untuk bu Nur.
" Alhamdulillah, jika kalian punya pikiran seperti itu, Ibu juga tenang. " ucap bu Nur kemudian.
Sholeha memutuskan pulang, dia ada janji dengan Irma, menilik tempatnya bekerja untuk bersiap melanjutkan kegiatan belajar esok di hari Senin. Setidaknya jika dia datang hari ini, besok pagi ia tidak terlalu banyak pekerjaan dan begitupun dengan ruangannya tentu sudah rapi.
***
Roda mobil melaju begitu stabil dan tenang, membelah jalanan menuju rumah yang sangat Sholeh kenal sejak SMA dulu, rumah orang tua sahabatnya yang pernah ia harapkan menjadi teman hidupnya.
" Kita jemput Rahma dulu ya Mas, " ucap Sholeh memecah kediaman di antara keduanya.
" Hem, oh iya Leh" ucap Rizal menyita perhatian " kamu sudah jelaskan pada leha, jika kita pergi dengan Rahma?" tambahnya langsung.
Sholeh berpaling mencari wajah Rizal sebentar, " Tidak. Tapi Ibu mengatakannya tadi di depan Sholeha".
Terdengar Rizal menghela nafas, dan sikapnya itu membuat Sholeh terpaksa bertanya " Kenapa Mas?"
" Harusnya kamu jelaskan dulu, sebelum ibu membahasnya di depan Sholeha. Yah semoga saja dia tidak berpikir aneh-aneh" jawab Rizal sedikit menyesalkan.
" Aneh-aneh, maksudnya?"
__ADS_1
" Kamu ini, cuek boleh. Tapi wanita itu perasa Sholeh, mungkin kamu belum merasa di cintai Sholeha tapi dia itu sudah menerima mu, dan ya. Dia tipe gadis yang sangat pencemburu meski tidak terlalu pintar menyembunyikannya. Mungkin saja kamu juga belum paham, nanti setelah jadi suaminya saya akan menjamin keluhan mu terhadap Sholeha bisa sangat menggunung, " Rizal terkekeh singkat.
" Ah aku tidak sejauh itu memikirkannya, aku kira kerena kita tidak pergi berdua saja maka dia akan paham Mas" jawab Sholeh seadanya.
Rizal menggeleng, " Tidak sesingkat itu Sholeh, tidak mengapa untuk kali ini. Nanti bisa kamu cari tau setelah sah jadi ipar ku".
Perkataan Rizal terhenti di kala mobil telah terhenti di depan rumah Rahma, terlihat gadis dewasa itu telah duduk menunggu. Sholeh turun menyapa, kemudian Rahma segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang Rizal.
" Maaf ya Mas, ngerepotin". ucapnya ketika mobil mulai melaju.
" Ah tidak juga, lagian kita searah" Rizal menjawab dengan begitu cepat sebelum Sholeh mengatakan semua pendapatnya panjang lebar.
Sholeh hanya terdiam, merasa terwakilkan oleh calon iparnya yang terlihat tidak mengizinkan basa-basi dengan mungkin ia kita rifal adiknya itu. Diam-diam Sholeh membatin," Sholeha emang kesayangan mu ya Mas" ia juga tersenyum singkat.
Sholawat badar mengiringi perjalanan mereka membelah jalanan kota yang masih saja terasa sibuk, padahal hari sudah beranjak santai. Hanya ada obrolan kecil antara Sholeh dan Rahma, kadang-kadang Rizal juga menambah dan menyelesaikan obrolan keduanya, dia terkesan membatasi kenyamanan keduanya. Ah emang seposesif itu Rizal pada adiknya.
" Kamu masih tinggal di sini?" tanya Sholeh, ketika ia menepikan mobilnya di jalan kecil sebuah perumahan.
" Iya Mas, ibu betah di sini. Mari kita mampir" tawarnya dengan ramah.
" Kapan-kapan ya, kita sedang buru-buru" jawab Sholeh menolak dengan lembut.
Wajah Rahma terlihat kecewa, namun ia juga tidak bisa memaksa, akhirnya ia turun dari mobil Sholeh dan tetap berdiri mengiring mobil berwarna hitam itu meninggalkan petak halaman rumahnya.
" Dia tinggal bersama ibunya saja Leh?" tanya Rizal.
" Sama Bapaknya juga, tetapi ndak tau sekarang "
Rizal hanya mengangguk, tak meneruskan pembicaraannya. " Mas?" panggil Sholeh kemudian.
" Sholeha minta oleh-oleh apa ?"
Rizal menatap Sholeh heran, " Oh dia hanya bercanda saja tadi, dia mana pernah minta ini itu, saya juga ndak pernah tau dia sukanya apa" jawab Rizal tertawa enteng, "Kenapa?" tambahnya lagi.
" Ndak loh Mas, tak pikir dia emang minta sesuatu"
" Dia ndak pernah nawar kalau di kasih, apa lagi jenisnya makanan pasti di lahap semua. Ndak usah pusing soal oleh-oleh, kadang tidak tak belikan sama sekali" Rizal tertawa sendiri.
" Serius Mas, sampean kok jahat toh jadi kakak" celetuk Sholeh tidak suka.
" Iya, emang aku ini kadang suka ndak kepikiran apalagi soal hal kecil seperti ini, untung saja sejak aku menikah, istriku itu pengertian orangnya bisa lebih perhatian sama adik bungsuku itu. Kadang banyak hal yang tak bisa aku lakukan pada Sholeha Ayu bisa mewakilkannya untukku " tampak sekali ia mensyukuri Ayu sebagai istrinya.
" Ayu memang sebaik itu ya Mas" puji Sholeh.
" Hem iya Leh, kadang leha sampai uring-uringan jika aku mengabaikan Ayu. Dari awal aku memilih Ayu sebagai teman hidup, aku pikir Sholeha orang pertama yang paling bahagia dengan pernikahan ini. Dia itu sangat lembut hatinya, dan Ayu berhasil membimbingnya dengan baik selama ini. Ah sudahlah jika aku ceritakan banyak hal tentang adikku terus, kapan kamu akan belajar memahami sendiri sifat dan kebiasaanya dan takutnya ucapan ku ini terlalu memuji" tuturnya begitu tegas.
" Ya ndak lah Mas, saya juga bisa melihatnya dari jarak sedekat hubungan kita sekarang, kalau aku ndak suka cerita-cerita tentang Sholeha dari semua orang, mungkin aku ndak buru-buru minta di nikahkan. Dari cerita kalian saya juga sudah cukup di berikan keyakinan dan tentu saja sudah ku buktikan sendiri"
" Serius nih, kamu ndak terpaksa?" Rizal menggoda.
Sholeh tak menanggapi, ia hanya tersenyum cukup lebar merasa sangat di goda oleh Rizal." Ya awalnya sedikit merasa di paksa, selebihnya suka kok". jawabnya dengan tenang. Sholeh memberhentikan mobilnya, di parkiran tempat perbelanjaan bahan bangunan langganannya. " Kita lihat-lihat saja dulu Mas, " Sholeh tersenyum melihat sebuah tempat megah bak supermarket, " pengen punya yang seperti ini, tapi ndak tau kapan" Sholeh meringis.
" Bisa Leh, kita buat yang sederhana dulu tapi rapih dan lengkap, lagian toko bangunan mu itu sudah besar untuk ukuran di desa. " sahut Rizal menyemangati.
__ADS_1
Keduanya keluar dari mobil, menuju pintu masuk yang begitu besar di pusat perbelanjaan bangunan itu. " Mas, sekalian belanja di sini atau kita pilih tempat lain. Biasanya saya ndak belanja disini?" tanya Sholeh ketika sampai di lantai dasar area per ubinan.
" Kita lihat dulu, kalau cocok ya kita beli disini, apa lagi kamu hanya renovasi tidak perlu banyak bahan kan"
" Ya sudah, bagai mana baiknya aja".
Sholeh berkeliling melihat begitu banyak jenis ubin yang begitu cantik dan berwarna. Sekilas Sholeh membayangkan memilih warna ubin rumah impiannya. Kemudian ia hanya tersenyum, mengingat perkataan Sholeha yang begitu bijak memberikan masukan dan menyerahkan semua keputusan kepadanya.
" Kamu kenapa Leh, senyum-senyum gitu?" tegur Rizal yang tak sengaja melirik Sholeh.
" Hah, ada apa. Saya senyum ya?" Sholeh tergagap melihat reaksi Rizal yang keheranan.
Rizal menggeleng, meneruskan langkahnya memilih ubin yang cocok untuk kliennya yang tergolong pemilih ini.
Sekitar setengah jam kedua pria itu berkeliling, dan akhirnya Sholeh memutuskan untuk membeli beberapa barang untuk renovasi tokonya, dan melanjutkan untuk membeli beberapa barang untuk mengisi tokonya.
" Kenapa ndak sekalian belanja di sini toh ?" kata Rizal, bingung ketika Sholeh melanjutkan ke tempat lain.
" Saya sudah langganan di sana Mas, ndak enak lah. Takut sedang di tunggu orderan ku" jawabnya sembari memutar setir mobilnya keluar dari area parkiran.
" Ya sudah terserah kamu",
Tempat usaha yang tak begitu besar itu telah menjadi langganan Sholeh dan ayahnya sejak dulu, ketika mereka hanya mampu membeli sedikit bahan bangunan. Dia tidak sampai hati meninggalkan mitra kerjanya itu meski lebih banyak tempat yang sangat besar dan menarik. Kisah toko bangunannya yang di rintis melalui tekad ayahnya yang berani berhutang terlebih dahulu kepada pemilik usaha ini, kala itu ayahnya memulai dengan satu kubik pasir yang pinjamnya terlebih dahulu. Ah, dia jadi teringat masa getir yang menjadikannya seperti ini sekarang.
Karena terbiasa hanya menyerahkan nota orderan nya saja, Sholeh tak perlu lama berada di toko itu. Sholeh bergegas membawa roda mobilnya perjalanan pulang, " Mas, kita makan dulu atau sholat dulu?" tanya Sholeh pada Rizal.
" Kita cari tempat makan yang ada musholanya aja, biar singkat "
" Ok, kita mampir di langganan ku saja"
" Jangan bilang, pas kamu kuliah dulu dan sering bersama Rahma ya?" telisik Rizal dengan sedikit bercanda.
Kontan Sholeh tertawa lebar, " Pernah sih dulu kesini, tapi ndak sering kok. Mas ini mewakilkan Sholeha menanyakan itu pada ku?"
Rizal juga tertawa, " Ah tidak juga, aku tidak sejahat itu mencurigai mu, kita bicarakan saja karena sama-sama pria yang punya masa lalu kadang perlu di kenang kan?"
" Mas Rizal bisa saja, " Sholeh juga menambah tawanya.
Bergerak dengan pasti, mobil itu menemukan sebuah rumah makan sederhana yang begitu menarik dan bersih dari luarnya. Tampak ramai namun tidak padat pengunjung, keduanya memilih meja untuk memesan makanan. Sesuai dengan rencana, Sholeh dan Rizal bergantian sholat sebelum orderan datang ke mejanya. Kedua pria itu sudah sangat terbiasa bersama untuk pekerjaan dan kepentingan lainnya seperti ini, mereka tampak saling mengerti dan sangat santai menikmati perjalanan bisnis yang sederhana ini.
Terkadang Sholeh hanya tidak menyangka hubungan mereka bisa berlanjut lebih dari sekedar teman, tetangga dan juga rekan kerja, dan sebentar lagi akan menjadi saudara. Dan sekian tahun Sholeh baru bisa menyadarinya, jika ia sudah sangat dekat dengan jodohnya, ah semoga saja ini adalah jodoh terbaik dunia dan akhiratnya.
" Mbak saya pesan ayam bakar kecapnya lima di bungkus ya" ucap Sholeh ketika hendak membayar.
" Siap mas, mohon di tunggu ya"
Pramusaji itu bergegas, membuatkan pesanan tambahan dari Sholeh. Sholeh kembali melanjutkan berbincang dengan Rizal sembari menunggu.
" Kita bisa sampai lebih cepat, jika tidak macet" ucap Rizal membuyarkan lamunan Sholeh yang entah pergi kemana.
" Semoga saja, lebih cepat juga lebih baik" sahutnya seadanya.
" Gaya mu, kayak udah rindu berat aja sama yang di rumah Leh, berlebihan" ucapnya kembali menggoda Sholeh.
__ADS_1
" Sepertinya, memang iya nih Mas", tawa Rizal meledak mendengar jawaban Sholeh yang begitu spontan dan sangat jujur.
***