
Sampai beranjak tengah malam Agus baru pulang, banyak kata yang ia lontarkan demi meyakinkan Sholeh. Untuk masalah Rahma dan tentu saja untuk hari akadnya besok. Sholeh masih enggan bergeser dari posisinya duduk, matanya lurus memandang gelapnya malam dari pintu rumah yang masih terbuka. Ada banyak hal yang ia pikirkan di malam terakhir masa lajangnya ini.
Bukan melulu soal Rahma yang masih menyisakan banyak tanya di kepalanya, tetapi soal hatinya yang kadang gelisah dan juga gugup menghadapi hari esok. Keinginannya menikahi Sholeha akan segera terwujud, hatinya senang terus saja mengucap syukur, kadang masih tak menyangka jika jodohnya sedekat ini.
Sempat terlintas banyak hal yang telah ia lalui selama ini, tentang kepergian ayahnya, tanggung jawab atas ibu dan usaha yang telah diberikan kepadanya sejak muda dulu, betapa Sholeh masih tak percaya kini ia kembali menambah tanggung jawab sebagai suami untuk seorang gadis yang lebih muda darinya. Dalam hati Sholeh sempat ada keraguan tentang keputusannya ini, tidak berbohong kala itu ia juga menaruh harapan pada Rahma. Setelah memilih Sholeha sebagai tujuan akhir masa lajangnya, sedikit demi sedikit harapan pada Rahma terkikis dan hilang entah kemana.
Dia mengakhiri lamunannya, matanya harus ia istirahatkan agar hatinya pun mendapat sedikit ketenangan untuk mengurangi ketegangan. Sholeh masuk ke dalam kamarnya, bersiap menata saraf dan otaknya untuk beristirahat sejenak.
***
Matahari masih jauh dari ufuk timur, tetapi Sholeha sudah di bangunkan untuk menjalani serangkaian persiapan sebagai mempelai wanita. Jika tidak salah ingat dia bahkan baru saja tertidur lima menit yang lalu. Jadilah ia yang sekarang sedang sibuk bingung tentang apa dulu yang ia lakukan.
" Sarapan aja dulu, nanti ndak sempat !" perintah sang ibu yang menghampirinya entah jam berapa, adzan subuh pun belum terdengar kala itu.
" Anggap aja makan sahur," ucap Irma menambahkan, dia juga sudah ikutan sibuk melebihi Sholeha sejak tadi.
" Ndak usah lah, belum lapar " rengek Sholeha pada Irma, ia tak berani mengeluh pada sang ibu yang terlihat lebih tegas hari ini.
" Ntar kamu pingsan malah repot, kan kita juga ndak tau kapan kamu kelar make up, emangnya bisa makan pas itu. Belum lagi acara akad yang tepat waktu atau tidak, makan aja dulu"
Sholeha hanya diam menyimak Irma, sebenarnya bukan perkara lapar atau tidak, Sholeha hanya tidak nafsu makan karena hatinya sedang bercampur aduk rasanya.
" Makan saja dulu Mbak, habis itu kita siap-siap" kata perias pengantinnya yang baru saja datang.
" Iya deh, tunggu sebentar ya mbak" kata Sholeha menurut.
Di bantu Irma yang sudah menyiapkan segala keperluan makannya, Sholeha menikmati sepiring nasi dengan sepotong ayam kecap. Dia tidak menawar apa saja yang di berikan untuk sarapan kali ini, berharap bisa tertelan dan bisa membantunya bertenaga.
" Suaminya mas Sholeh ya Mbak?" tiba-tiba saja mbak tadi bertanya pada Sholeha yang baru saja menyelesaikan makannya.
Dengan tersenyum Sholeha mengangguk.
" Kalian seperti serangakaian doa ya Mbak, unik deh" pujinya dengan ramah.
" Maksud Mbak nama kami?"
" Iya, kelihatan udah jodoh banget ya" dia tertawa ditengah tangannya yang sibuk menata segala peralatan yang di meja rias Sholeha. Dia terlihat begitu santai dan terbiasa.
" Iya", jawab Sholeha seadanya.
" Kita mulai ya Mbak, sesuai dengan permintaan kemarin. Make up yang natural. Hem mbaknya udah cantik, poles dikit kelar deh" pujinya sembari memulai kerjaannya.
" Ah, Mbak bisa aja" Sholeha sedikit tersipu.
Sejak di putuskan akan resepsi semua pernak pernik acara segera di sewa oleh Sholeh, gayanya yang lihai dan mampu itu bisa menghubungi semua dengan singkat. Awalnya Sholeha juga tidak menyangka calon suaminya itu bisa memilih dan menentukan dengan detail segalanya termasuk make up dan lainya. Dia benar-benar hanya diam dan menerima semua dengan beres.
" Mbak berapa lama pacarannya?" kembali mbak perias itu memecah kesenyapan di kecanggungan Sholeha.
" Ah itu, kita tidak pacaran."
" Ta'aruf ya?"
" Kurang lebih seperti itu"
" Ah iya sekarang memang lagi ngetren ya, saya sering dapat pelanggan yang menikah karena ta'aruf" dia dengan lembut menyapukan sesuatu ke wajah Sholeha.
" Mungkin, tetapi kami hanya kebetulan saja sama dengan yang lain"
Sholeha memejamkan matanya, ada kesan lebih nyaman jika menutup mata.
" Semoga langgeng ya mbak, saya dengar pernikahan yang berhasil kebanyakan dari ta'aruf an loh."
" Aamiin, insyaAllah."
Keduanya terdiam beberapa menit, merasa tidak ada lagi yang perlu di katakan.
" Maaf ya Mbak, " ucapnya ketika dia sengaja menyentuh bibir Sholeha.
__ADS_1
Sholeha mengangguk samar, ia berusaha meneliti wajahnya dari pantulan kaca.
" Aset Mas Sholeh ini, semoga ndak cuil " tuturnya sambil tertawa kecil, padahal dia hanya membersihkan sedikit warna bibir yang terlihat kurang rapi.
Entah mengapa Sholeha malah berusaha menahan senyumnya, " Belum Mbak, masih beberapa jam lagi. Ini masih punya saya sepenuhnya" dengan berani Sholeha menanggapi candaan ramah mbak-mbak itu.
Dia tertawa, " Masih di segel ini ya berarti, utuh aman terkendali"
Tawa riang terpancar dari Sholeha, ketegangannya mulai mereda karena kebaikan wanita berhijab yang sangat handal mencairkan suasana.
" Untuk hijabnya, kita beri mahkota kecil ya Mbak, agar tidak terlalu polos. " ucapnya lagi.
Meski Sholeha tidak akan menolak, dengan sangat sopan dia meminta izin. Entah mengapa Sholeha begitu senang padanya.
" Jika seperti ini, orang tidak akan lagi mencari mana pengantin wanitanya, mbak Sholeha cantik banget" pujinya saat selesai memasangkan hijab dan mahkotanya.
" Terima kasih Mbak, mbak juga hebat jadikan aku secantik ini di hari ini" Sholeha tak henti-hentinya tersenyum.
" Iya sama-sama, kita tunggu hingga acara di mulai ya " ucapnya sembari kembali memastikan ada yang kurang atau tidak.
" Boleh saya ambil gambar, sayang banget kalau ndak di foto terlebih dahulu. Bisa bantu untuk promo usaha" dia tertawa kecil.
" Tentu saja Mbak, ini juga hasil kerja keras mbak loh" Sholeha bersiap untuk pengambilan gambar, hitung-hitung pemanasan berfoto untuk acara nanti.
Sholeha juga sempat menyimpan jepretan kamera ponselnya, meski tidak di bagikan hari ini setidaknya ia memiliki kenangan sebelum akad nanti. Tak lupa ada sosok Irma yang turut serta memenuhi memorinya, katanya mumpung sahabatku ini masih gadis. Kalau sudah akad nanti beda rasanya. Apa yang sebenarnya ia katakan?. Dia bahkan sangat kilat pergi, tak lama sudah ada lagi di dekat Sholeha.
***
Ada beberapa mobil telah bersiap memenuhi pelataran rumah Sholeh, ada sekitar lima mobil kompak berwarna hitam kinclong siap mengantar sang mempelai pria. Di tambah entah berapa jumlah motor yang kemungkinan juga akan mengiring Sholeh nanti. Jarak yang bisa dibilang dekat namun tidak terlalu dekat itu menyemarakan semangat kerabat Sholeh untuk mengantarnya.
Sejak pagi buta tadi Sholeh sendiri sudah bersiap, di bantu dengan ibu dan temannya yang tentu saja mengaku berpengalaman. Mereka tidak banyak membantu selain berulang kali mengoloknya untuk tenang dan tidak tegang.
" Makan dulu Leh, nanti gemeteran pas ijab ndak lucu ah" ucap Dito.
Dia datang sekitar setengah jam yang lalu, mendahului Agus dan beberapa teman-teman nya. Dia sengaja mengatakan itu meski sudah tau Sholeh sedang makan.
" Kamu sudah nyampe sini aja ?" tanya Agus yang baru saja bergabung. Penampilannya sangat rapi, dengan setelan batik lengan panjang dan celana dasar yang senada. Aura bapak anak satu melekat begitu kental.
" Sak karep mu wes, yang penting ndak jelalatan saja matamu" ucap Agus mulai sebal. " Eh kan bisa ketemu Rahma juga nanti" tambahnya tiba-tiba.
" Loh dia juga ada?" Dito sedikit terkejut.
" Iya saya mengundangnya, entah dia akan datang jam berapa" ucap Sholeh di sela makanya yang nyaris selesai.
" Nah loh, pepetin aja lagi !" Agus menggoda.
" Saya cari yang baru saja, " jawab Dito sedikit lesu.
" Ya sudah terserah mu saja. Bos kok belum ganti baju, malah masih kaos oblongan gini?" Agus tak lagi menggubris Dito yang sudah melo di pagi buta seperti ini.
" Sebentar lah Gus, sudah siap semua kok. Tinggal pakai saja"
" Jam berapa sih akadnya, aku lupa " Dito mengubah posisi duduknya lebih nyaman.
" Jam delapan kalau ndak lebih sedikit, kadang penghulunya agak molor" Agus mewakilkan Sholeh untuk menjawab.
" Lah ini sudah jam tujuh, kok kamu malah masih santai toh Leh, kesiangan nanti" omel Dito seperti ibu Nur.
" Kamu ini ribet amat, kayak ibuk ku aja" Sholeh beranjak ke kamarnya.
Dito dan Agus kompak tertawa, mengiringi kepergian Sholeh kedalam kamar.
" Serius Gus Rahma ada?" Dito masih penasaran .
" Iya, kalau sepemikiran ku dia bakal ikut rombongan kita, pihak mempelai pria. Tapi lihat saja nanti"
" Semoga saja Ndak bikin heboh" ucap Dito pelan.
__ADS_1
" Siapa yang bikin heboh?"
" Oh tidak Gus, hati saya maksudnya kadang suka tiba-tiba rame pas lihat Rahma" Dito nyengir kuda.
" Lebay kamu, katanya mau cari yang baru?"
Obrolan mereka terhenti, ketika mendengar salam dari seorang wanita yang baru saja mereka bicarakan. Keduanya menoleh kompak.
" Eh mbak Rahma?" Agus berdiri menyambutnya. Benar kan apa yang dia pikirkan sosok ini pasti hadir di tengah keluarga Sholeh. Entah Sholeha tau atau tidak soal ini.
" Iya Gus, aku pikir aku telat. Ketinggalan rombongan kalian" ucapnya dengan anggun.
Sepasang mata Dito belum teralih dari wanita bergaun panjang tanpa hijab, dia terpaku tanpa mengucap kata.
" Kurang lebih setengah jam lagi berangkat, si bos sedang siap-siap" jawab Agus.
Dia beralih pada Dito, sempat tersenyum samar dan mengangguk bermaksud menyapa. Niat Dito untuk membuka suara tertahan, saat Sholeh keluar dari kamarnya dengan setelan jas hitam lengkap dengan dasi. Gaya pengantin keren yang mencerminkan CEO muda di cerita berbagai novel dan drama. Sepertinya tidak hanya Rahma yang pertama kali terpana, begitu juga dengan dua laki-laki sebaya yang kalah muda dari Sholeh hari ini. Dia melangkah dengan tenang, matanya sedikit menggambarkan tanya pada kehadiran Rahma.
" Kamu sudah datang?" pertanyaan yang sangat sederhana, namun wajah yang terkejut itu tidak bisa teralihkan.
" Aku sengaja langsung kesini, agar bisa mengantarmu. Ibu juga ada" jelasnya dengan senyum percaya diri.
" Oh bagus kalau begitu" jawab Sholeh biasa-biasa saja.
Sholeh menyempatkan duduk kembali seperti tadi, ia juga mempersilahkan Rahma duduk.
" Bos, aku cek dulu yang di luar" Agus berpamitan, meninggalkan ruang tengah yang terasa berubah suhu.
Sholeh mengangguk, dia melirik Dito yang mulai gelisah di tempat duduknya.
" Aku juga ikut Agus, sepertinya di luar sedang sibuk" tanpa menuggu jawaban Dito telah beranjak dengan cepat menyusul Agus.
Sempat hening sesaat, kedua orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing tanpa saling menatap.
" Jasnya cocok untuk mu Mas, tampan sekali hari ini" Rahma memuji tiba-tiba.
Sholeh menatap Rahma sekilas, " Terimakasih, seperti ini lah saya" jawab Sholeh sekenanya.
" Ibumu juga pulang?" Sholeh memecah rasa canggung yang seketika hadir di sana.
" Iya, katanya sangat ingin menyaksikan pernikahanmu" ada rasa pilu yang sedikit terdengar dari suara itu.
Sholeh diam tak menanggapi, bingung harus bersikap seperti apa.
" Aku dengar kamu dulu sempat akan menikah dengan Dito?" Sholeh tak lagi bisa bersabar memendam perkara ini.
Rahma malah tersenyum, seolah pertanyaan itu tak membuatnya terkejut.
" Kamu pasti telah mendengar sebagian ceritanya mas, apapun yang kamu dapatkan dari cerita itu, iya. Semuanya memang benar" jawabnya dengan tenang.
Sholeh sedikit terkejut, tetapi tak meneruskan. Dia sudah berpikir sejak semalam agar tidak banyak mengulik hal ini kedepannya.
" Jika tidak jodoh, pasti ada gantinya"
" Kenapa tidak menanyakan kelanjutan ceritanya padaku. Aku sedikitpun tidak akan menutupinya dari mu mas?" tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi sendu. Sholeh sedikit iba, tetapi tekadnya sudah bulat. Tidak akan bertanya lebih banyak.
" Apapun yang kau tutupi dari ku, tak perlu lagi kau jelaskan sekarang, percayalah aku tidak mempersalahkannya" dengan penuh ketengan Sholeh menjelaskan.
"Aku pikir ini kesempatan terakhirmu memperdulikan ku, ternyata aku salah. Tetapi aku tidak marah, aku yang besar kepala selalu menjadi orang penting di hidupmu. " air mata itu, tak sanggup lagi terbendung.
Sholeh sedikitpun tidak akan menyangka, jika ada hal yang terjadi seperti ini saat ini. Dia merasa gelisah, simpatinya tak bisa tertahan. Namun hati kecilnya menguatkan keyakinannya, dia tetap berusaha tenang.
" Maaf, aku hanya takut rasa peduliku kepadamu saat ini hanya akan menimbulkan banyak keputusan ragu yang bisa menggangu pernikahanku saat ini, jika masih ada yang perlu kamu sampaikan tunggu di lain hari setidaknya jangan hari ini." Tentu saja perkataan lembut namun menyindir itu sangat ampuh menghentikan tangis kecil Rahma, meski sebenarnya Sholeh sedikit penasaran tetapi dia juga sangat berjuang untuk fokusnya terjaga untuk acara nanti.
" Ah aku maaf, bisa-bisanya aku melupakan kedatanganku kesini untuk apa" Rahma mengusap lembut ujung matanya.
Keduanya terdiam beberapa detik, dengan pikirannya yang saling tertahan.
__ADS_1
" Nak, kita berangkat. Jangan menunda lagi hari baik akan segera berakhir jika kamu masih betah berduaan disini" suara tegas itu bersumber dari hati bu Nur yang terlihat marah. Dia berdiri tepat di hadapan Sholeh membelakangi Rahma.
***