
Masih dengan wajah Sholeh yang kurang memahami apa yang di ucapkan Rizal.
" Meskipun kadang ada aja salah pahamnya, kalau yang namanya istri pasti akan mengenal kita jauh lebih baik dari orang lain Leh, itu yang ku rasakan dari perjalananku selama ini, yah memang belum di katakan berhasil tapi itu lah yang aku dapat seusia pernikahan ku saat ini"
Sholeh mendengarkan dengan begitu seksama. Dia sangat tau, di usianya yang lebih dewasa dari Sholeha ini semoga bisa menjadi sosok yang mengayomi dan membimbing meski harus belajar terlebih dahulu, ujarnya dalam hati.
" Menikah dengan Sholeha mungkin sedikit akan membuatmu kerepotan Leh, dia gadis manja yang tidak bisa apa-apa. Belum lagi sifatnya yang kadang ndak mau ngalah itu, ah kamu akan tau jika Judah menikahinya nanti. Mungkin kau akan mengeluh pada ku suatu hari nanti" Rizal tersenyum tipis membayangkannya.
" Aku lihat dia itu sangat mandiri, juga bisa di andalkan dalam banyak hal" Sholeh membela.
Rizal berpaling melihat wajah Sholeh yang tersenyum seolah membayangkan wajah Sholeha ada di depan matanya.
" Hem, mungkin saja. Aku juga berharap seperti itu." Rizal berusaha menanggapi Sholeh seadanya.
Padahal dari awal mereka berdua tidak ada niat membicarakan Sholeha di sini, lihatlah sekarang semua pembicaraan berpusat pada masa kecil Sholeha segala.
"Kamu loh Leh yang dulu sering di ompoli Sholeha, aku ingat pas ibu ajak kami main kesini, kamu masih umur berapa pas dulu itu?" Rizal tergelak mengingat kenangan itu. Dulu Sholeh selalu berebut Sholeha dengan Rizal, sebab Sholeh yang tak memiliki adik.
Begitu juga dengan Sholeh yang tersenyum lebar " Ndak inget aku Mas, kalau ndak salah Sholeha masih satu tahun kan, mungkin umurku sekitar delapan kalau ndak salah ingat" kenangnya sembari menghitung umur keduanya.
Seperti apa yang telah di sebutkan di kapan waktu itu, Sholeha memang sudah dikenalkan pada Sholeh sejak dia sendiri belum bisa mengenal dirinya sendiri. Sangat kecil di usia balita. Hanya Sholeha yang tak menyadari dari mana jalur perjodohan ini berasal.
" Waktu berjalan begitu cepat ya Leh, masih ndak nyangka aku. Kamu ada perasaan belum sama adik ku itu?" tanya Rizal begitu mendadak.
Sholeh sempat terdiam, dia menyadari pertanyaan ini pasti akan muncul entah dari siapa saja. Cepat atau lambat, entah dari orang lain atau dari dirinya sendiri.
" Ada lah Mas, masa iya ndak ada perasaan" jawab Sholeh sekenanya. Karena jujur saja ia belum memastikan pada dirinya sendiri, sejauh ini hanya mengalir saja, kemana semuanya bermuara. Sholeh sampai kebingungan melihat reaksi Rizal yang terlihat kaku dan sedikit menelisik dirinya.
Tiba-tiba Fatih menyelamatkan Sholeh dengan kata-katanya yang menyegarkan tenggorokan yang sempat tercekat." Om kata Bibi, i love you." dia berbisik namun Sholeh yakin suaranya terdengar jelas ke semua penjuru ruang tamu ini. Meskipun Sholeh meragukan apa yang telah di ucapkan oleh bocah yang baru saja sunat ini, terlihat dari gayanya ia hanya iseng dan asal ngomong saja.
" Katakan saja pada Bibi, i love you to. Om Sholeh titip pesan ini ya!" jawab Sholeh setengah berbisik kepada Fatih.
Rizal menggeleng heran, mendengar keduanya berinteraksi. " Kamu ndak bohong tih, Ayah kok ndak percaya sama kamu?".
Fatih berpaling dari wajah Sholeh, berganti menatap sang ayah yang sedikit menggangunya, ia menggeleng memberi kode pada ayahnya yang tidak boleh meragukannya. " Ayah kan denger pas Bibi ngomong gitu, Fatih juga dapat hadiah dari bibi. Benar ayah Fatih ndak bohong." ucapnya tak mau kalah.
Tentu saja Rizal hanya berbohong, karena dia tidak sepenuhnya anaknya itu berbisik pada Sholeh tadi. " Iya om percaya, lain kali katakan sama Bibi mu, jangan suruh aku dong bi, gitu yah!" kata Sholeh menghibur Fatih yang terlihat kesal pada ayahnya.
" Bibi baik loh Om, dia ndak suruh-suruh Fatih kok. Bibi hanya minta tolong. Fatih juga mau nugget buatan Bibi, jadi Fatih bantu sampaikan pesan ini sama om." jelas bocah itu tak terima mendengar Sholeh menyalahkan bibinya itu.
Sholeh tertawa, kenapa anak seumuran Fatih gini ngak ada beban sama sekali dalam cara bicaranya, apakah dia juga seperti itu waktu sekecil Fatih. Urusan cinta bisa dia rangkum dalam obrolan seringan ini. Meski yang menyampaikan Fatih mengapa hatinya sempat berdesir seperti ini. Bagaimana jika ini hanya akal-akalan bocah jahil ini, ah masa bodoh Sholeh sudah cukup menikmati efek kejut yang menyenangkan ini. Andai saja Sholeha langsung yang mengatakannya, malah berkhayal di siang bolong aku ini. Batin Sholeh menggerutu.
" Jadi ada hadiahnya, nugget. Apa itu kesukaan Fatih?"
" Iya Om, Bibi yang berjanji pada ku akan membuatkannya".
" Semoga saja enak ya tih," celetuk Rizal.
__ADS_1
Tampaknya Fatih terganggu dengan perkataan sang ayah yang menurutnya kurang menyenangkan. " Enak dong yah, bibi kan pintar memasak. Bibi sendiri yang katakan itu." Fatih bahkan meninggikan suaranya, dia sangat terlihat geram pada ayahnya yang mengolok bibinya itu.
" Iya, iya. Nah lihat Leh, saingan mu berat. Rival mu ini bucin abis sama calon istri mu. Awas saja, ndak bisa kamu rebut dia dari Fatih" ucap Rizal mengingatkan Sholeh.
Sholeh terbahak dengan renyah, " Sepertinya emang sedikit alot kalau yang satu ini Mas" ia mengusap lembut kepala Fatih.
Banyak hal yang keduanya bicarakan bersama saat itu, yang terpanjang hanya tentang Sholeha dari masa kecil hingga keahliannya merajuk jika pendapatnya tidak di dengar. Sholeh sampai tak bisa berhenti membayangkan senyum manis gadis lucu yang akan di nikahinya beberapa hari lagi, dia sedikit menghangat setiap kali namanya di sebutkan dengan begitu lembut oleh orang-orang terdekatnya. Sungguh, bak permata yang sangat di jaga oleh semua orang, begitulah ia mengibaratkan calon istrinya itu. Sholeh telah jatuh cinta hanya mendengar kisahnya yang terus saja mengaliri telinga dan akhirnya jatuh ke dasar hatinya, yang telah hampa akhir-akhir ini.
Tidak lama si kecil Al yang sudah merengek dari tadi, akhirnya menangis meminta pulang. Rizal pun memboyong kedua kesatria itu pulang.
***
Sholeh masuk ke dalam, melongok ibunya yang masih menikmati duduk santainya di kursi tua di dalam kamarnya. " Sudah pulang anak-anak?" tanya bu Nur, ketika melihat Sholeh masuk.
Sholeh duduk di ranjang ibunya, menghadap sang ibu yang sedang menggulir butiran tasbih. Sepertinya ia telah melaksanakan sholat Dhuha. " Sudah Bu", bu Nur meletakan tasbihnya, " Jadi hendak berangkat jam berapa, sudah kabari Sholeha le ?".
" Jam delapan nan kalo ndak molor. Nanti deh Sholeh kirim pesan saja pada Sholeha. Kalau ndak lupa bu" Sholeh nyengir pada ibunya.
" Kamu ini, kemarin ndak sekalian cerita?"
" Ndak Bu, ngobrol sama Sholeha bawaannya pengen senyum terus, jadi lupa"
" Senyum gimana, Ibuk ndak paham".
" Lucu Buk, dia manis" jawabnya begitu santai dan terlihat berbunga.
Sholeh tak malu sama sekali, ia tak perduli jika ibunya mulai menggodanya sejak tadi. Toh ibunya juga harus tau sedikit kebahagiannya ini. Agar melegakan hati sang ibu yang sempat merasa bersalah.
" Iya deh, Sholeh manut ibuk. Kalau di pikir semakin kesini sepertinya Sholeh yang jatuh cinta terlebih dahulu bu, makanya pengen cepet nikah. Biar tambah berpahala" Sholeh sengaja mengedipkan sebelah matanya.
" Opo kui, kedip-kedip ndak jelas. Awas kalau kamu sampai bohongin ibu, mosok tiba-tiba ngaku seneng begini. Tak culek ini matanya." ancam bu Nur.
Sholeh terkekeh, ia menggenggam erat tangan sang ibu menyalurkan kesungguhan melalui tangannya.
Sholeha juga tidak menyangka akan terjatuh secepat ini pada Sholeha, seolah hatinya yang begitu kering kembali terguyur kesejukan sikap Sholeha secara perlahan. Hilang entah kemana perginya hati yang gersang tak berpenghuni itu, kini hanya ada hati yang penuh buliran cinta yang masih begitu halus.
Sholeh meninggalkan sang ibu, jika lama berdiam di sana ia akan habis di goda. Ia memutuskan meneruskan langkahnya menuju kamar. Dia teringat keinginannya akan memberi tahu Sholeha tentang perjalanannya ke kota.
Sholeh menggulingkan tubuh tinggi padatnya ke tengah ranjang, ia merogoh ponselnya dari dalam saku. Menggulir layar mencari nama calon istrinya yang begitu manis itu. Aha dia sudah mengubah sebutan untuk Sholeha kecilnya. Foto profil nya yang menggambarkan jiwanya yang hangat dan periang. " Gambar kucing pun masih sama manisnya dengan wajahmu " ucapnya memuji Sholeha.
( Besok saya mau pergi)
Terkirim, biarlah singkat dan padat. Nyatanya memang dia tak pandai berbasa - basi. Toh sama niatnya, meski tidak berembel-embel aneh. Sholeha cukup tua untuk terus memuji Sholeha yang masih sangat muda.
Satu menit terlewat, dua hingga lima menit, tak kunjung ada jawaban. Sholeh sampai mengetuk-ketuk ponselnya di dagunya pelan. Dengan sengaja ia sabar menunggu, entah lah ia begitu mengharapkan balasan dari Sholeha.
( Iya leha tau, hati-hati untuk besok)
__ADS_1
Begitu terbaca, Sholeh kontan tersenyum begitu girang. Lihatlah ia sampai guling-guling seperti gadis jatuh cinta, eh bisa saja bujang ini juga sedang jatuh cinta. Hanya dia yang tau.
" Di balas lagi ndak ya?" gumamnya pelan.
Setelah lama menimbang, Sholeh memilih mengabaikan. Sebab akan membalas apa.
Tidak salah jika ia merasa canggung akan perasaannya ini pada Sholeha, karena bujang satu ini terlalu tua untuk menikmati masa cinta monyetnya yang kata banyak orang sangat menyenangkan.
" Ah sudah lah" ucapnya pelan.
Tubuhnya yang bergulingan seperti anak gadis itu kembali tegak dengan tegas, sedikit tersenyum, melihat tingkahnya yang baru saja ia sadari. " Apa sih, ndak jelas " ia menggerutu sendiri.
Suasana kamar yang begitu tenang, berubah kacau dengan perkataan aneh yang terus bermunculan dari mulut laki-laki dewasa yang tengah kasmaran ini. Kadang bersenandung kadang menggerutu tidak jelas.
Hari masih pagi, Sholeh tidak mungkin berdiam diri di atas ranjangnya, ia bergegas keluar membunuh waktu melihat toko yang sedang ramai pengunjung.
***
" Apa ndak belanja lagi mas, ini barang nya mulai kosong semua loh. Terutama cat, apa ndak lebih baik mas beli aja untuk warna best seller nya aja" kata Agus, karyawan sekaligus temannya ini.
Sholeh kembali melihat rak cat, yang memang benar terlihat melompong di sebagian sisi. " Nah perintilannya saja masih banyak, mosok ada kuas ndak ada catnya, mereka itu kan se-jodoh mas ndak bagus lah kalau LDR an gitu" cerocos Agus dengan seriusnya.
Sholeh tertawa, " Apa kamu ini Gus, nyasar ke sana kemari kalau ngomong ndak jelas." ucap Sholeh sambil mengitari rak cat yang begitu panjang nan kosong itu.
Agus hanya meringis, tampak menikmati obrolan kecil bersama Sholeh yang akhir-akhir ini terlihat sangat bersemangat.
" Mas, saya tadi lihat mbak Sholeha lewat" celetuknya tiba-tiba.
Membuat Sholeh tiba-tiba berpaling dan menghentikan langkahnya. " Kapan?" sergap nya pada Agus.
" Tadi lah, sekitar lima belas menitan. Kalau ndak salah tebak, ya pas ada mas Rizal tadi. Mas mas, calon istrimu kok tambah cantik ya?" goda Agus pada Sholeh, sambil menoel pundak kiri yang sedikit meninggi.
" Dia sudah cantik dari lahir Gus, ndak usah heran gitu kayak baru pertama lihat saja" tegur Sholeh tampak tak terima.
Agus hanya meringis, " Halah, sampean aja baru sadar sekarang toh, kemarin kemarin belum" godanya lagi tak mau menyerah.
Agus berlari sekencang mungkin, tak ingin mendengar makian dan timpukan dari si bos nya itu, kali ini ia pasti sedikit emosi. Sholeh malah tertawa kecil, melihat tingkah temanya itu semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. " Ndak jelas" ucap Sholeh dan menggelengkan kepalanya.
Tetapi jika dipikir ulang, yang di katakan Agus memang benar, sekian lama ini kenapa baru sekarang ia menyadari kecantikan gadis kecil yang sebenarnya tumbuh tak jauh dari matanya. Ah memang Sholeh yang terlalu sibuk menenggelamkan diri berharap pada perasaan lamanya pada Rahma. Yang jelas-jelas hanya sebatas mengagumi tak lebih.
Meskipun Sholeh tidak menyangkalnya jika rasa itu ada untuk Rahma tapi takdir begitu kuat mengarah pada Sholeha yang di anggapnya adik kecil sedari awal. Tidak mengapa, ini hanya masalah waktu dan kesempatan, dulu ia sudah melewatkannya untuk Arman, laki-laki yang di sebut sebagai mantan kekasih dari calon istrinya. Jujur saja dia tidak menyangka, gadis selembut Sholeha bisa mengarungi percintaan awet yang begitu lama. Satu tahun, ah jika itu Sholeh sudah dibuat halal sejak awal. Untung saja takdir berpihak padanya. Semoga saja, Sholeha bisa melupakan mantan atau idamannya itu sesegera mungkin batin Sholeh menghiba. " Kalau sudah sah nanti, tak ikat paten, agar ndak lepas" ucapnya pelan, kemudian dia tersenyum geli.
Sejak kapan dia ini seperti ini, jadi ngotot tidak bisa di tahan. Sepertinya ia telah terjatuh sekalian tertimpa oleh pesona Sholeha yang begitu manis menurutnya. Oh tuhan, mengapa begitu aneh rasa ini menyelimuti hatinya, terlalu mendebarkan dan membuat Sholeh semakin tidak karuan. " Huh, fokus. Fokus Hamdan Sholeh, kamu harus terlihat tenang, " ucapnya sebelum ia melangkah meneruskan mengelilingi seluruh sudut toko bangunan yang belum rapi itu.
Dia datang kesini untuk bekerja, mengapa selalu saja ada Sholeha yang terlihat di semua sudut yang ia kunjungi di toko ini, wajahnya jelas terbayang begitu jelas seolah tiada sosok baru yang sangat mendominasi otaknya, " Hem, Sholeha oh Sholeha kamu sangat mengganggu" ujarnya dalam hati.
***
__ADS_1