Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Nama kontak Baru


__ADS_3

Siang itu cuaca begitu terik, Sholeha baru saja keluar dari kamarnya, mencari air dingin untuk menyegarkan tenggorokan.


Dilihatnya ibu tengah duduk di teras belakang rumah, seperti sedang berbincang dengan seseorang. Karena tidak terlihat dengan siapa ibunya mengobrol. Dari pintu yang terbuka lebar Sholeha mencoba mencari tahu,


" Ibu ngobrol sama siapa - " suaranya tertahan ketika ia melihat Sholeh juga berada di sana sedang menatapnya,


Kontan Sholeha masuk kedalam rumah.


Dia tidak sedang berhijab dan berantakan sekali. " Astagfirullah, dosa aku ini, " menyalahkan dirinya dengan memukul kepala ringan. Kenapa dia ada di sana? dalam hatinya bertanya.


Tidak ingin bertanya lebih jauh Sholeha kembali kedalam kamar, ketika sedang membuka pintu muncul Rizal dari ruang tamu. " Bangun tidur kamu nduk?" tanyanya sambil berlalu.


" Mas ngapain disini ?" Sholeha mengejar


" Liat material, kenapa?


"Oh, mas Sholeh juga?


" Iya lah, wong dia yang antar." Rizal sampai di depan pintu dapur akan keluar.


" Kamu ndak tau kalau bapak mau renovasi dapur? Rizal berhenti dan menatap Sholeha.


" Ndak tau mas...." Ia menggeleng


Tanpa menjawab Rizal meneruskan langkahnya kembali. Kemudian terdengar ia mengajak Sholeh pulang.


" Akrab banget sih mereka" ucapnya dengan sewot.


Memilih kembali masuk kedalam kamar, Sholeha tak lagi berniat tidur, di raih nya ponsel yang bergetar. Melihat pesan baru di layar utama. Nomor baru lagi?


(Saya tadi tidak melihat mu Ha, jangan berpikir macam-macam)


setelah mengerti maksud dari pesan itu Sholeha tidak niat membalas, namun menyimpan nomor tersebut.


" Sok tau aku berpikir macam-macam, cuman malu sedikit " ucapnya pada layar ponsel yang menghitam.


" Kamu suka ngeselin" ucapnya lagi setelah mendengar deru mobil meninggalkan pelataran rumahnya.


Sholeha berniat tidur siang, namun tiba-tiba terdengar dering ponselnya.


Satu pesan baru untuknya, dia mengerutkan dahi melihat nama pengirim.


(Bisa kita bicara sebentar?)


Mengapa Arman masih menghubunginya, Sholeha merasa tidak ada kepentingan lagi setelah pertemuan terakhir dia memutuskan hubungan.


Sholeha enggan membalas pesan itu, dia bahkan melempar ponsel nya asal. Dia lelah menghadapi sikap Arman yang telah meninggalkannya tanpa perjuangan.


Bahkan dia tidak menghargai satu tahun hubungan mereka.


Sayup-sayup terdengar ibu memanggilnya, dari balik pintu yang tidak terkunci. "Nduk ada tamu di depan" suara ibu terdengar tegas.


"Siapa Buk, Leha ngak ada janji kok" Sholeha keluar kamar.


" Temui saja, jangan lama-lama sebelum Bapakmu pulang "


Bergegas menuju ruang tamu, Sholeha bahkan tak menjawab perkataan ibunya.

__ADS_1


Dari bahasa tubuhnya, bu Fatma cukup enggan menemui tamu itu. Sholeha mulai bertanya-tanya, dan seperti dugaannya, duduk lah Arman di salah satu deretan kursi kayu jati di sana, dia tampak tenang.


Sempat terdiam, kemudian Sholeha teringat harus segera menyelesaikan urusannya dengan Arman kali ini. Dia berpakaian rapih seperti hendak bepergian jauh. Sholeha enggan banyak bertanya, masih terasa sakitnya di kecewakan waktu itu, membuat ia tak lagi perduli dengan Arman.


" Ha, apa kabar? ucapnya dengan tenang.


" Langsung saja mengapa kamu kesini ?"


Sholeha menahan air mata dan kekesalan yang menjadi satu,terkesan ketus.


" Maaf ya aku buat kamu kecewa, langsung aja aku kesini mau minta ambil uang yang aku titip kan kapan hari ke kamu itu Ha..."


Sholeha terdiam, dia ingat pria di depannya ini pernah menitipkan uang seratus ribu saat awal bulan lalu. Katanya biar ada simpanan di bulan ini. Memang sebelum Sholeha akhirnya di putuskan, dia sempat mengatakan ingin menabung dulu untuk menikah, tapi itu pun baru memulainya dengan seratus ribu yang ia titipkan kepada Sholeha. Meski awalnya Sholeha keberatan, tetep Arman memaksa dengan mengatakan "Kan uangnya juga buat kamu", Sholeha ingat sekali nampak kesungguhan Arman waktu itu. Dan bodohnya Sholeha lupa mengembalikan harta milik mantannya itu. Dia datang hari ini hanya mengambil uang nya saja, atau mengatakan sesuatu yang lain. Mungkin masih ada rasa yang tersisa?, ah Sholeha terlalu berharap.


" Oh iya saya lupa, sebentar saya ambilkan" Sholeha masuk ke kamarnya .


Dia kembali dengan cepat ke ruang tamu.


" Sekali lagi Sholeha benar-benar lupa, " dia menyodorkan selembar uang dengan menunjukan ekspresi datar.


" Aku tau kamu sudah menerima pria yang jauh lebih tampan dan aku kalah banyak hal dari nya, dulu aku pikir masih ada kesempatan untuk kita berjuang bersama, nyatanya, kamu sudah menargetkan yang lebih kaya " dia tersenyum sinis dan mengejek.


" Kamu tidak berhak lagi berkomentar, karena kamu sendiri yang terlebih dulu melepas ku waktu itu." Sholeha menjawab.


" Aku tidak marah Ha, aku juga sadar diri, maaf aku merepotkan mu hari ini, aku juga sekalian pamit, mungkin dalam waktu dekat ini aku tidak bisa menghadiri pernikahan mu" ucapnya kemudian mengambil uang di atas meja.


Sholeha tak lagi menjawab, ia berusaha mencerna apa yang dia katakan Arman tadi, dia mau kemana? tidak akan nuduh diri kan? pikiran itu sempat muncul di kepalanya. Konyol sekali dia.Ketika Arman beranjak akan pergi Sholeha memaksa mulutnya agar bertanya dan menurunkan sedikit ego dan amarahnya.


" Kamu mau kemana?"


Sholeha terkejut, dia memang tau keadaan ekonomi Arman dan orang tuanya, tidak aneh jika ia membutuhkan banyak uang dan akan merantau. Tetapi Tiba-tiba sekali setau Sholeha dia bisa bekerja apapun di desa seperti selama ini, ah mungkin ada banyak hal yang tak bisa lagi ia jelaskan kepadanya.


"Hati-hati kalau begitu" jawabnya tulus.


Arman tak lagi terlihat dari matanya, namun Sholeha masih terdiam di daun pintu, masih terbayang bagai mana wajah


Arman menatapnya tadi. Apa mungkin alasan dia tidak ingin menikahinya karena masalah uang, bahkan Sholeha sering mengatakan tak perlu langsung menikah, toh banyak yang sudah di pinang dan mereka bertunangan sampai bertahun-tahun.Sholeha tidak begitu memaksa dan dia cukup mengerti keadaannya.


" Semoga selamat sampai tujuan ya Mas"


Sholeha bermaksud menutup pintu, tiba-tiba ibu datang dan langsung mencari tau.


" Ada apa dia kesini Nduk? Sholeha terperanjat mendengar suara ibunya.


" Tidak ada Bu, dia pamit mau pergi, katanya mau merantau itu saja"


Bu Fatma hanya ber oh tidak bersuara.


Kemudian ia kembali ke dapur, tapi selangkah kemudian dia berbalik pada Sholeha. " Jangan aneh-aneh loh ya Nduk!"


ucapnya mengancam pada Sholeha. Sedikit pun Sholeha tidak akan berniat aneh sekalipun dia tidak di ancam oleh ibunya. Sholeha sedikit bersedih melihat sikap ibunya yang tak menyukai Arman dan tidak mempercayai Sholeha sebagai putrinya.


Sholeha menyusul bu Fatma ke dapur, duduklah ia di satu kursi menghadap ibunya yang sedang memasak. Sholeha tidak mengetahui jika ibu nya memasak lebih awal dari biasanya.


" Ibu masak apa, tumben jam segini kok udah matang aja" Sholeha mendekati ibunya.


"Ibu buat kan bubur kacang hijau Bapak mu, katanya lagi pengen" sambil mematikan kompor.

__ADS_1


" Oh, Leha pikir Ibu buat apa?" dia kembali ke tempat duduknya.


"Sholeha, mumpung di dapur sekalian ya kamu bantu Ibu masak biar nambah menu yang kamu pelajari, jangan cuman bisanya dadar telor sama masak mie instan aja, bentar lagi jadi istri Nak Sholeh."


Sebenarnya ibu sering mengatakan itu dari dulu hanya saja Sholeha yang tak berniat menambah ilmu memasak nya. Dan bedanya dulu dia tidak menyebut nama siapapun dalam nasihatnya.


" Ih Ibu, bisa kok Leha masak sayur, ya emang hanya itu-itu saja, goreng tempe, tahu, goreng ikan juga bisa kok " ucapnya membela diri sendiri.


" Harus di tambah dong Ha, biar ndak bosen." timpalnya lagi.


Kali ini Sholeha tak menjawab, dia memang menyadari kekurangan dalam memasaknya, bahkan dalam segala hal.


Seperti urusan hatinya yang tak beres-beres masih saja berantakan. Sholeha jadi memikirkan kembali tentang hati dan perasaannya, mundur dari semua ini adalah suatu hal yang tidak mungkin, namun Sholeha juga tidak mampu melangkah lebih jauh lagi, dia benar-benar butuh waktu.


Sholeha masih sibuk dengan pikirannya, sedang ibu masih membicarakan banyak hal ini dan itu, sampai bu Fatma melirik putrinya itu dan di senggol lah bahu Sholeha.


" Sholeha, kamu kenapa malah ngelamun?"


" Eh .... apa Bu, Ibu ngomong apa ?" tanya nya celingukan.


" Ibu sudah ngomong banyak tadi, kamu malah suruh Ibu ngulang lagi." gemes nya pada Sholeha.


" Maaf ya Bu...." Sholeha tersenyum meray ibu. Dan usahanya membuahkan hasil, ibu tak lagi meneruskan ceramahnya itu.


Sholeha mengunci pikirannya pada banyak hal yang ia pikir sendiri, semakin membuatnya kebingungan tanpa solusi. Dia butuh teman curhat, tapi siapa yang mau mendengar kisahnya yang berantakan begini.


Irma ? apa dia bisa.


Seseorang yang ia pikiran tak jadi ia hubungi, dia harus bisa mandiri ini menyangkut hati dan kehidupan toh keputusan juga sepenuhnya ada pada dirinya sendiri.


Allah....


Sholeha menatap jari manisnya, melingkar cincin emas yang di dapat kan begitu singkat dan di berikan kepadanya dengan begitu tulus. Sholeha terkekeh ringan.


" Cincinnya sudah dipakai dari awal, kok masih bisa mengaku belum menerima orangnya. Sepertinya emang gila harta aku ini" ia mengoceh memarahi dirinya sendiri.


Diputarnya cincin emas itu "Bantu ingatkan aku ya jika aku lupa kalau kamu itu pemberian Mas Sholeh" tambahnya lagi kali ini pada benda bundar tak bernyawa itu.


Di tariknya nafas panjang dengan perlahan membuangnya, Sholeha bertekad mulai sekarang dia akan meniti titik awal hubungan nya dengan Sholeh.


Biarpun dia tertinggal dari Sholeh dia berjanji belajar menerima jalan hidupnya ini.


Lima menit kemudian, dia mengirim pesan pada nomor baru yang telah di ubah menjadi


Yg kasih cincin


(Mas Sholeh bantu Sholeha ya...


Sholeha mau belajar dari mas Sholeh.)


Sedetik kemudian terkirim lah pesan pada yang di tuju.


Maafkan Sholeha yang terlalu mudah menyerah tanpa merasa bersalah dia hanya berusaha menjalaninya dengan


ikhlas dan menerima dengan melebarkan hati seluas-luasnya.Sholeha hanya manusia biasa yang kadang semaunya dan terus pelupa atas segalanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2