Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Cemburu lagi


__ADS_3

Sholeh mulai bosan dengan obrolan Dito, dia mulai memikirkan istrinya di dalam sana. Takut apa yang di katakan Dito benar terjadi, Sholeh memutuskan kembali masuk. Meninggalkan Dito yang terlihat mengekorinya juga.


Sholeha dan Rahma terkejut, melihat kedua pria yang tampak penasaran dengan mereka. Wajahnya terlihat kebingungan dan saling pandang.


Dito mencairkan suasana, dengan menyebut Sholeh yang sedang tak betah ingin segera pulang. Semua orang tertawa, tak mempercayai apa yang telah di katakan Dito.


" Kita pulang setelah Mas minum ini" bisik Sholeh pada istrinya.


Sholeha hanya mengangguk. Kembali meneruskan berbincang dengan Rahma. Bertanya hal-hal kecil untuk mengakrabkan diri dan untuk mengurangi kecanggungan. Sholeh tau istrinya ini memiliki keahlian lain, selain pandai menghibur dan bersabar dia juga tampak menikmati menjadi pendengar Rahma yang baik.


Sholeh bersyukur dengan semua yang telah terjadi, jika saja wanita yang di pilihnya bukan Sholeha mungkin saja dia tidak akan merasakan kedamaian ini.


Mereka puas bercerita, melakukan hal-hal sederhana, setelah sholat magrib Sholeh mengajak istrinya pulang. Dan menyisakan sedikit waktu untuk Dito berbincang dengan Rahma.


" Mas, aku ndak nyangka jika Mbak Rahma begitu kuat, dengan semua kisah hidupnya", ujar Sholeha saat mereka di dalam mobil.


Sholeh diam saja, belum ingin mengomentari apa yang di katakan sang istri. Sholeh melirik Sholeha, yang tak begitu bahagia dan tidak juga sedih. Sebenarnya apa yang menurutnya menarik dari pembicaraan tadi.


" Aku dengar, Ibunya entah sedang pergi ke mana. Apa seburuk itu, kelihatanya Ibu itu tidak seperti penipu atau tukang judi" Sholeha menatap suaminya, meminta penjelasan yang mungkin saja bisa ia terima.


Sholeh memegang tangan istrinya, mengangkat dan menciumnya sekilas, " Orang memang tidak bisa di tebak Yang, Mas juga berpikir seperti itu. Cukup kita mendengar saja, tanpa harus membicarakan ini lebih jauh ya, Mas tidak ingin kamu kasihan padanya secara berlebih"


Sholeh hanya ingin istrinya ini tidak menguras pikirannya untuk Rahma, seseorang yang seharusnya ia lupakan. Dia takut akan ada rasa lain yang tumbuh di antara belas kasih dan rasa iba pada istrinya dan juga dirinya sendiri.


" Iya Mas, kita juga tidak tau bagaimana kedepannya " jawab Sholeha pelan.


" Semoga saja Dito bisa jadi harapan Rahma, yang ku lihat dia tampak bersungguh-sungguh ingin kembali kepadanya", Sholeh kembali mencium punggung Sholeha.


***


Dito memandang Rahma, ada banyak tanya yang akan ia ajukan. Namun melihat wajah Rahma yang begitu berseri Dito sedikit merasa tenang. Artinya dia baik-baik saja. Bertemu dengan Sholeha pasti sedikit membuat Rahma iri, bagai mana pun Dito bisa melihatnya.

__ADS_1


" Aku akan pulang setelah kamu memintanya " ucap Dito yang baru saja duduk di sebelah Rahma.


Tak hanya Rahma yang tertawa, Dito juga ikut tertawa setelah mengatakannya.


" Aku bahkan tidak ingin kamu pulang, jadi bagaimana?" jawab Rahma juga tertawa.


" Dengan senang hati, nona"


Mereka saling memandang tak melanjutkan tawa. Ada hasrat lain dari mata Dito, Rahma tau itu. Namun dia menyadarkannya dengan berpaling mencoba mencari pembicaraan.


" Kenapa, apa kamu takut akan berkelahi dengan istri Mas Sholeh?" tanya Rahma pada Dito.


Dito terkekeh, " Aku hanya berpikir hal terburuk yang bisa saja terjadi"


Rahma hanya menggeleng tak percaya jika yang di pikirkan nya ternyata benar. Keduanya saling menyelami pikiran masing-masing, saling melempar senyum yang sedikit tak terlihat apa sebabnya, atau hanya ingin.


Seolah ada cinta lama yang kembali bersemi, mereka hanya saling mengikuti arah cerita ke mana ujungnya, tak bohong jika Dito adalah pihak yang paling berharap saat ini. Berharap bisa memperbaiki segalanya yang sempat terhenti di masa lalu.


" Lain kali aku datang lagi, minum obat dan segera sembuh. Aku pulang ya" pamit Dito pada Rahma.


" Iya, aku juga tak suka sakit seperti ini" jawabnya dari daun pintu. Sedikit memaksa berjalan untuk mengantar kepergian Dito.


Dito pergi, meninggalkan Rahma dengan seulas senyum yang mungkin saja akan terngiang sepanjang perjalanan Dito pulang. Sangat indah dan tak terlupakan.


***


Begitu juga dengan pasangan yang baru saja sampai di rumahnya, mereka bergegas masuk kamar tanpa melakukan hal lain. Lelah dan rasa kantuk yang mendera Sholeha begitu terlihat, dia sampai tak bersemangat sama sekali.


Sholeh terlebih dahulu masuk ke kamar mandi, ingin segera menuntaskan hajatnya yang sejak tadi di tahan nya selama perjalanan.


Perbincangan mengenai Rahma terus berlanjut dalam mobil tadi, dari Sholeha yang berkali-kali mengawali. Bahkan Sholeha sempat menanyakan jaman kuliah dulu. Seperti, apa kah dia berada di kampus yang sama, jurusan, mata kuliah apa yang mereka ambil dan sesering apa suaminya bertemu dengan Rahma.

__ADS_1


Sempat ada nada cemburu dari sang istri, terutama saat menyebutkan jika hampir setiap hari mereka bertemu. Bukan mencoba mengulik masa lalu, Sholeha hanya ingin tau lebih jauh kisah mereka. Tak di sangka Sholeha terperangkap dalam rasa cemburu pada masa lalu.


Sholeha melepas kerudung lebarnya, berkaca sembari menghapus riasan wajah sederhananya. Sesekali dia memusatkan pandangannya pada bibir dan tersenyum. Kemudian merengut.


" Kurang manis, jika di banding dia" ucapnya lirih.


" Dia siapa, ?" Tiba-tiba Sholeh menyahut dari pintu kamar mandi.


Sholeha kontan berbalik, menghadap sang suami yang tampak segar dengan rambut sedikit basah.


" Ah itu, tidak Mas." Sholeha melangkah melewati sang suami dan masuk ke kamar mandi.


Sholeh hanya menatapnya heran. Dia duduk di tepi ranjang dan berselonjoran menunggu istrinya.


Sejak pulang dari bertemu dengan Rahma, istrinya itu bertingkah sangat berbeda. Berkali-kali menanyakan sosok Rahma padanya, setelah Sholeh menjawab dia akan terdiam. Sesuatu pasti terjadi, pikir Sholeh.


Sholeh bersabar menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, dia berencana mengajaknya berbincang sebentar.


Sholeha keluar dengan wajah yang lebih segar, dia tampak bingung dengan tatapan suaminya yang berbeda.


" Kok ndang langsung tidur?" Sholeha mendekat, dan duduk di sebelah Sholeh.


Sholeh merangkul istrinya, menyandarkan kepalanya ke dada bidang miliknya. Mengusap pucuk kepala dengan lembut, sesekali memberi kecupan.


Sholeha hanya menikmati, tidak bertanya ini dan itu seperti di mobil tadi. Matanya terpejam menikmati kegiatan sang suami. Tangannya dengan sederhana melingkar di perut Sholeh.


" Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Sholeh tiba-tiba.


Sholeha mendongak, menatap mata suaminya dengan perasaan bingung. Sholeha sempat terdiam cukup lama ragu hendak menjawab apa pada suaminya.


" Aku tidak tau" jawab Sholeha pelan. Tangan Sholeha lebih kuat melingkar, menyalurkan hatinya bergetar karena kacau. " Aku.... Takut cemburu" ucapnya lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2