
" Mas ndak usah bikin panik orang dong, tega banget bohongin Leha" Sholeha meninggikan suaranya.
" Yah Dek, masa iya kamu percaya. Mas mu kan emang gitu" sahut Ayu yang ikut bergabung bersama di tengah ruangan.
Malam ini kamar Sholeha sedang sibuk di dekor, untuk menandai sebagai kamar sang pengantin. Termasuk di halaman yang telah berdiri tenda untuk acara besok. Keputusan Sholeha yang ingin menunda resepsi terpatahkan oleh desakan keluarga dan Sholeh yang terus saja membujuknya untuk mengadakan resepsi di hari yang sama saat akad. Sholeha menyerah, dia juga tidak mungkin menolak hal ini hanya karena tidak ingin.
Rizal datang entah dari mana, dan tiba-tiba saja memberi kabar jika Sholeh sedang sakit parah, sontak Sholeha gelisah tak karuan. Rizal tertawa terbahak-bahak dengan mengatakan kalimat selanjutnya.
" Sakit parah kena virus manten anyar", katanya tadi, jadilah Sholeha mengomel tak henti-hentinya pada Rizal.
" Parah deg-degan katanya, pas aku temuin dia tadi, haha" sambung Rizal lagi, mengabaikan adiknya yang masih kesal.
" Kamu juga gitu dulu, kok yo sempete godain adiknya gitu toh zal" bu Fatma menepuk pelan pundak Rizal.
" Mas Rizal parah ih, ngeselin aja" Sholeh masih saja tidak terima karena di bohongi.
" Ndak papa Buk, besok malam dia sudah punya pawang, ndak akan bisa di ganggu kayak gini" Rizal masih saja meneruskan tawa jahilnya.
" Melas Le, lagi ndak karu-karuan perasaannya malah kamu jaili kayak gitu" ucap sang ibu membela Sholeha.
" Dek, gimana udah persiapan belum?" Ayu berbisik pada Sholeha yang duduk di sampingnya.
Sholeha menoleh, melihat wajah Ayu yang mengedipkan matanya sebelah. Sholeha langsung menggeleng merespon candaan yang di maksud Ayu.
" Apa sih Mbak, kedap kedip gitu?" suaranya tertahan, agar tidak di dengar banyak orang.
" Awas loh, ntar malah gugup jadi ndak karuan tingkahnya " Ayu sengaja menyenggol pindah Sholeha dengan jarinya.
" Emang aku harus apa Mbak, Leha pikir tinggal manut aja toh. Kan dia pemimpinya" jawabnya seadanya.
" Kamu kok pinter Dek, tapi kalau bisa kamu juga harus bisa memimpin ya, biar dia ndak sok berkuasa dan menang. Laki-laki kadang suka berubah bentuk kalau kita bisa lebih pintar "
Sontak Sholeha melotot, " Mbak lagi ngomongin apa sih, Leha salah beri fokus kayaknya"
Ayu malah tertawa, " Malam pertama Dek, kamu pikir mbak lagi ngomongin apa?"
" Astagfirullah, pantesan kok gitu. Leha pikir soal akad besok, malah ke sana bahasnya" Sholeha bahkan malu mendengar apa yang di katakan oleh Ayu.
" Tapi Mbak yakin sih, kamu bisa-bisa saja lebih unggul. Apa lagi kamu udah banyak ngaji belum lagi pas jaman jahiliah suka banget kan nonton drama, aduh drama apa itu loh yang sering kis kis an"
Ayu tak bisa lagi meredam suaranya, membuat orang-orang di sekitar tak sengaja ikut mendengar. " Kalian lagi ngomongin apa?" Rizal menyela.
" Mbak nah Mas, ngawur ndak tau ngomongin apa" jawab Sholeha cepat.
Candaan Ayu yang selalu membuat Sholeha tersipu malu tak berhenti di situ saja, sampai akhirnya Sholeha menyerah dan memilih pergi ke kamarnya. Lagi pula kamarnya sudah selesai di hias sedemikan rupa oleh tim sewa pelaminan. Mereka bahkan telah berpamitan pulang.
Sholeha dengan sejuta rasa yang berbagai warna memenuhi hatinya, senyum pun enggan pergi dari wajah manisnya. Calon pengantin itu sampai tak bisa tidur, entah apa saja yang sedang ia pikirkan. Padahal sang ibu terus berpesan agar tidak begadang, sudah hampir tengah malam ia masih sibuk bercerita banyak hal dengan Irma yang menepati janjinya untuk menginap. " Tidur lah Ha, besok kamu ngantuk loh. Jangan malu-maluin jadi nganten nguap terus" tegur Irma.
" Masih pengen ngobrol Ir, aku ngak bisa tidur", matanya yang bulat, sedikitpun belum terlihat kantuk.
" Nanti kamu kecapekan loh"
" Tunggu sampai aku terpejam sendiri ya, aku benar-benar belum merasa ngantuk",
Irma tak bisa membujuk lagi, dia juga ikut terlarut dengan suasana hati Sholeha yang campur aduk tak berbentuk. Setidaknya dia bisa menemani Sholeha ngobrol. Tidak lama dari itu keduanya tertidur, entah siapa yang terlelap terlebih dahulu.
***
Rumah Sholeh juga tak kalah ramai seperti rumah calon istirnya, selain kerabatnya yang sengaja datang ada beberapa teman juga menyempatkan diri menemani Sholeh malam ini. Mereka berkumpul meski hanya sekedar duduk dan bercerita banyak hal. Saling memberikan selamat dan doa agar bisa menggapai targetnya masing-masing.
__ADS_1
" Kalau nikahnya sama gadis yang masih tetangga seperti Sholeh, aku juga bisa nikah cepet meski dadakan," ujar laki-laki bertubuh gempal, dia teman Sholeh saat kuliah dulu.
" Emang kenapa?" Sholeh merasa ganjal dengan penuturannya.
" Tau dari kecil, yah pasti hapal lah. Tidak perlu saring menyaring lagi" jawabannya itu mengundang tawa, namun tak seberapa lucu.
Sholeh tersenyum menanggapi ucapan yang sebenarnya tidak terlalu pas untuk di jadikan alasan menikah dengan tetangga, tentu saja semua karena takdir yang kebetulan mendekatkan dari jangkauan mata sejak dini.
" Saring menyaring, kayak apa aja?" sahut Agus dari sebelah Sholeh yang belum mau menanggapi.
" Lha iya toh Gus, Ndak terlalu banyak pertimbangan"
" Kata siapa, yang namanya pertimbangan, ya kudu banyak dan bener hal yang perlu di timbang, contohnya pilihan dan keputusan belum lagi persetujuan. Semuanya ya komplit di sebut pertimbangan, sama saja kok. Cuman ya itu tadi banyak untungnya jika dapet masih tetangga" tawa Sholeh mengiringi ucapannya yang terkesan membela diri itu.
" Contohnya?" entah siapa yang bersuara.
" Sering ketemu, bahkan tidak perlu alasan khusus untuk melihatnya. Singkatnya menipiskan kerinduan", Sholeh tertawa, ketika melihat reaksi teman-temannya yang seolah tidak mau mendengar keindahan asmaranya.
" Leh, jujur deh sama aku. Dulu kamu suka kan sama Rahma?" Dito, dia teman seangkatan pas SMA dulu, dengan jelas mengulik hati Sholeh yang sebenarnya tidak di ketahui banyak orang.
" Dulu ya, yah katakan saja iya. Tapi saya paham kok kalau itu hanya cinta monyet yang kebetulan terbawa arus kebersamaan hingga dewasa, saya tidak bisa terlalu rinci menjelaskan. Saya juga tidak mengingatnya"
" Serius, padahal aku dulu naksir Rahma. Aku urungkan karena berpikir kamu pacaran sama dia" Dito juga terlihat sangat menyesalkan hal itu.
" Jadi, kamu patah arang?"
" Iya lah, aku segan pada mu. Susah paksain diri pas itu"
" Sekarang aja kejar, dia sendiri kok" kata Agus berusaha mendukung.
" Sekarang aku nyerah aja, berat menghidupi gaya hidup Rahma yang sangat tinggi. Jangankan membeli jam tangan mewahnya beli korekan kupingnya saja saya belum tentu bisa" jawab Dito bersungguh-sungguh.
Dito tampak murung, " Dia hampir jadi istri ku dulu, kami pisah di tengah jalan. Dan kamu tau penyebabnya apa?"
Sholeh menggeleng ragu, mengapa pengakuan Dito seolah menjadi informasi yang membuatnya salah menilai.
" Katakan, " ujar Sholeh tegas.
" Ibunya memintaku mahar yang sangat tinggi, meskipun awalnya aku bisa saja memenuhi tetapi orang tua ku tidak mengizinkan ketika mengetahui banyak korban yang di tipu oleh ibunya Rahma, seperti arisan yang di bawa kabur uangnya dan pinjaman berbunga yang selama ini ia jalankan. "
" Mengapa saya tidak mengetahuinya dit, setau ku dia orang baik",
" Aku juga tidak menyangka, sedangkan Rahma sesekali memang pernah membohongiku tentang hal yang tak perlu aku ceritakan pada mu, bagaimana pun juga aku masih mencintainya. Tidak pantas jika aku mengatainya di belakang seperti ini", Dito tampak menyesali cintanya yang kandas dan menggores luka.
Sholeh terdiam memikirkan semua yang di sampaikan oleh Dito, dia juga tidak bisa mempercayai sepenuhnya tanpa mengetahui kisah sebenarnya dari Rahma. Tetapi untuk apa, dia sudah berjanji menyelesaikan semua yang bersangkutan dengan Rahma kemarin, bahkan Sholeha juga melakukan hal yang sama kepada masa lalunya. Sholeh bingung, apa sebenarnya yang terjadi di kehidupan Rahma selama ini.
" Sholeh, aku pikir pilihanmu menikah dengan Sholeha memang sudah jalanya. Jika di pikir ulang pasti kamu sendiri tidak akan bisa memahami apa yang Dito sampaikan hari ini, tetapi aku juga bisa menjadi saksi" imbuh Agus, dia juga ikut bersuara setelah diam sejak tadi.
" Ah, apa pun itu. Saya tidak terlalu perduli hal itu. Toh saya juga tidak berhak menilainya baik atau buruk, terserah pikiran kalian masing-masing kan. Jangan sangkut pautkan pernikahanku dengan hal yang tidak baik seperti ini " Sholeh tak suka jika dia di anggap hanya mencari untung dan lari dari tidak keberuntungan bersama Rahma. Meski ia juga merasa telah di bohongi oleh ibunya Rahma, dia juga tidak bisa menghakimi Rahma.
" Kami hanya memberi tau mu Leh, kamu orang baik tanpa di beri tau oleh kita pun Tuhan akan menyelamatkanmu." ujar Dito.
" Sudah lah, kita ceritakan yang lain saja" usul Agus mencairkan suasana.
" Jadi gimana kok bisa pilih Sholeha?"
Sholeh berpaling pada Dito, wajahnya penasaran, " Awalnya, yah niat aja"
" Niat, maksudnya?"
__ADS_1
" Ya saya hanya berniat mencari istri, eh ibu jodohkan eh salah malah Sholeha yang datang minta di lamar" Sholeh tertawa kecil mengingat peristiwa beberapa bulan yang lalu.
" Dia suka kamu dari awal?" Dito memang tak sedikitpun pernah mendengar cerita ini.
" Bapak ibunya yang suka sama saya, dianya belum. Tapi tenang bentar lagi dia bakal cinta mati sama saya, ha ha "
" Yah itu lah untungnya mengenalnya sejak dia kecil, besar kemungkinan kebiasaan dan sifatnya saja pasti kamu sudah hapal ya Leh" kata Dito.
" Belum tentu, buktinya istri ku saja masih belum bisa aku pahami sampai saat ini, kita menikah hampir lima tahun." Agus menyela.
" Memangnya kamu menikah dengan tetangga?" Dito tak mau kalah.
" Loh aku ini malah nikah sama anak angkatnya bapak ku" Agus dengan tegas menguatkan pendapatnya.
Sholeh tertawa melihat keduanya saling ngotot dengan pendapatnya masing-masing, padahal Dito juga sudah tau jika Agus menikah dengan anak angkat bapaknya dan juga tetangganya.
" Halah berarti kamu yang ndak pinter pahami istri sendiri, " ejek Dito terang-terangan. Sebenarnya dia hanya berusaha membela kalimatnya yang salah pilih dari awal, seperti kebiasaanya yang sering mengeluarkan kata bijak, yang sebenarnya biasa-biasa saja, itu memang ciri dari dirinya.
" Kamu yang ndak pinter, belum nikah kok gayanya kayak punya istri dua saja" Ucap Agus sambil tertawa.
Sholeh juga ikut tertawa, kebiasaan saling mengolok dan beradu pendapat selalu saja terjadi jika sedang berkumpul seperti ini, mereka terbiasa sejak remaja.
" Ah kamu Gus, jangan menyinggung kenyataan ku yang pahit ini dong, aku sedang sedih karena Sholeh menikah, sedangkan aku malah gagal nikah " tutur katanya berubah sendu.
Agus terdiam, seolah menyadari candaannya yang terlalu keras pada Dito.
" Maaf dit, jika sempat nanti tak cariin cewek lah biar kamu seneng" hibur Agus tiba-tiba.
" Anak angkat Bapak mu masih ada?" kata Dito semangat.
" Yo ndak ada lah dit, Bapakku cuman angkat satu untukku saja" jawab Agus sewot.
Dito menyemburkan tawanya dengan puas, dia malah puas menggoda Agus.
Tak berapa lama Dito pamit pulang, katanya ingin bangun pagi supaya jodohnya cepet ketemu di acara Sholeh besok, sungguh alasan tidak masuk akal untuk ukuran pria dewasa seperti dirinya, ah tapi ya sudah.
Tinggal ada Agus, yang masih setia menemani Sholeh, teman sekaligus karyawannya ini seolah memahami kegelisahan sang bos. Terlihat gelas kopinya yang sudah kering pun ia tetap asik mencari obrolan.
" Ada apa, kok tiba-tiba diam gitu?"
" Saya masih kepikiran apa yang di ucapkan Dito, apa iya dia beneran pernah dekat dengan Rahma, masa iya saya bisa tidak mengetahuinya?"
" Aku pernah mendengarnya, tetapi banyak pihak yang mengatakan jika Rahma hanya mengikuti apa kata ibunya, kalau perkara ibunya yang seperti itu memang iya Leh, dia bahkan sempat menipu istriku juga, untungnya tidak besar jumbelahnya jadi saya diam saja." Jelasnya sangat hati-hati.
Sholeh termenung, ada banyak masalah yang sedikitpun tak bisa ia mengerti saat ini. Kembali terbayang wajah Rahma yang selalu tampak anggun dan santai seperti itu, mengapa ada banyak beban yang tak bisa ia ketahui dari awal.
" Apa iya dia tidak menunjukan hal aneh, atau sikap ibunya yang tidak baik kepadamu?" Agus bertanya lagi.
" Sesekali ibunya hanya minta bantu, tidak sampai menunjukan hal aneh. Begitu juga dengan Rahma, meminjam uang atau minta di belikan barang seperti apa yang di ceritakan Dito tadi, tidak sama sekali Gus"
" Aku pikir, wajar jika kamu tidak percaya"
" Apa ndak Rahma yang sedang menderita di tekan ibunya seperti itu, dia orang yang baik loh gus, aku kenal dia" Sholeh masih tidak habis dengan kabar yang sedang ia dengar ini.
Agus ikut termenung, nampak bingung akan menjawab apa. Dari matanya dia cukup prihatin pada Sholeh yang merasa tidak percaya, tetapi dia juga tidak bisa meyakinkannya, dia sendiri tidak begitu paham dengan sosok Rahma.
Agus menyesap kopinya sekali lagi, memastikan apa benar sudah habis tak tersisa. Ia juga berusaha berpikir untuk mengalihkan pikiran si bosnya agar tetap fokus untuk akadnya besok.
" Sudahlah Bos, simpan saja dulu masalah itu, besok mau nikah loh."
__ADS_1
***