
Suaminya sudah terpejam sejak tadi, Sholeha masih terjaga dalam remang lampu tidur. Entah mengapa kantuk tak segera menyapa nya, padahal tubuhnya yang lelah dan letih ini sangat ingin beristirahat dengan tertidur.
Di kira sang suami akan mendengar curhatannya sungguhan, eh malah molor duluan. Jam segini apa yang akan di kerjakan dia benar-benar tak bisa tidur setelah kegiatan tadi.
Sholeha mencoba meraih ponsel di sebelah suaminya, mungkin saja jika dengan menonton bisa segera tertidur. Sedikit susah payah ia menggeser lengan kekar suaminya, dekapannya begitu kuat dan berat. Harap-harap ia tak terganggu dengan kegiatannya.
Sejak menikah satu Minggu ini, dia sampai lupa dengan serial drama yang biasa iya tonton. Mungkin sudah tertinggal dua episode, Sholeha tersenyum kecil melihat tayangan yang baru saja ia putar.
Sesekali melirik wajah suaminya, takut ia terganggu dengan suara tawanya. Sholeha menonton dengan menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Dia masih tidur dengan posisi miring menghadap Sholeha.
Satu menit, hingga bermenit-menit. Sholeha tak tahan menahan tawanya, melihat pemeran bucin yang berpeluk mesra dan mengecupnya singkat. Tak terasa dia bergerak begitu heboh, kakinya sampai menendang keras paha Sholeh.
Sholeh mengaduh dan membuka matanya tiba-tiba. " Ada apa,?" tanya Sholeh pada istrinya.
Sholeha hanya meringis dan menggeleng tanpa kata, menyembunyikan ponsel kedalam selimut.
" Kenapa ndak tidur, ini sudah malam Sholeha, "Sholeh menoel hidung Sholeha dengan mata terpejam.
Sholeha malah tersenyum sangat lebar, menikmati sentuhan jemari di hidung sedikit tingginya itu. " Belum ngantuk Mas," keluhnya berbisik.
Seakan teringat sesuatu Sholeh membuka mata, " Mas ketiduran ya. Kamu lagi cerita apa tadi?" Sholeh berusaha membuka matanya lebar-lebar.
" Ndak ada, Mas tidur aja," Sholeha menepuk pipi suaminya kembali seperti tadi.
Bukanya tertidur Sholeh malah semakin penasaran dengan sikap istrinya yang mencurigakan.
" Ada apa, kamu kok kamu senyum-senyum gitu?" Sholeh bahkan memeriksa ke dalam selimut. Mencari tau apa yang di sembunyikan Sholeha.
Sholeha semakin tertawa kala tangan Sholeh berusaha meraba ke sana sini di bagian dadanya. Dia tak tahan, segera menunjukan ponselnya dan mengaku.
" Mas, ih lihat, aku sedang nonton drama, udah pindahin tangan mu. Geli ah"
Sholeh menatap istrinya, " Tidur ya, sudah malem loh. Besok kesiangan ndak malu sama Ibu?"
Sholeha melempar ponselnya asal, dia segera bersiap tidur. Membelakangi Sholeh yang bernada mengejek padanya.
__ADS_1
Sholeh tak lagi berkata, dia meneruskan tidurnya sembari memeluk istrinya yang sedikit merajuk itu. Ah perdebatan kecil ini pasti akan berlanjut hingga esok pagi. Masa bodoh, mata Sholeh tak lagi bisa terbuka walau sekedar memeriksa wajah cemberut sang istri. Lelahnya setelah beraktivitas malam ini begitu terasa, tampaknya terlalu bersemangat tadi.
***
Bener apa dugaan Sholeh, pagi buta istrinya itu sudah tak menyapanya, Sholeha tak menyahuti panggilan suaminya yang berkali-kali memanggil namanya.
Sholeh hanya mengikuti alurnya saja, ini bukan masalah besar nanti setelah kesalnya hilang istrinya itu pasti akan menegurnya lagi. Sholeh mengalihkan perhatiannya dengan berjalan santai di halaman rumah.
Tak di sangka Sholeh malah bertemu Rizal bersama Al yang sedang berjalan-jalan pagi. Rizal menuntun Al, mengikuti langkahnya yang terus saja sengaja mencari jalan yang tergenang air. Rizal tak sabar dan segera saja membopong putranya yang sangat jahil itu.
" Kenapa Mas?"
" Biasa anak nakal, pengennya main air terus" jawab Rizal menurunkan Al.
Sholeh hanya tertawa, Al ini anak yang sangat pintar tetapi kadang juga nakal. Dia sudah cukup besar jika untuk bermain air di jalanan. Mengusap kepalanya dengan sayang.
" Asik ya Al main air, ?" ucap Sholeh membela keponakannya.
Rizal membiarkan Al bermain-main. Dia tampak tersenyum tiba-tiba saat menatap Sholeh. Sholeh bahkan sempat terkejut melihat wajah aneh Rizal.
" Kenapa Mas?"
Sholeh langsung tersenyum " Wah... Selamat ya Mas. Cewek nih kayaknya"
Rizal melebarkan tawanya" Semoga saja, pengen banget punya anak cewek. Rizal versi cantik ha ha "
Keduanya tertawa, mengundang rasa penasaran istri Sholeh yang tak sengaja melihatnya dari teras rumah. Dia hanya diam di tempat menatap penuh curiga.
" Mas ini rupa-rupanya, tidak mau tertinggal dari ku ya?" celetuk Sholeh menambah tawa Rizal semakin lebar.
" Tidak, tidak. Aku dan Ayu memang merencanakan saat Al genap tiga tahun Leh, ternyata baru sekarang Tuhan kasih."
" Aku hanya bercanda Mas, sudah berapa Minggu ?"
Rizal tampak mengingat, " Kata Bu Bidan sudah tiga Minggu, kalau ndak salah ingat"
__ADS_1
Sholeh hanya mengangguk dan tersenyum, tak menyangka jika temannya itu sudah hampir memilki tiga anak.
" Tak di sangka, Ayu lebih pintar dalam hal ini. Padahal dulu dia itu selalu terakhir di antara kami. Hanya menikah dan punya anak dia pemenangnya" ucap Sholeh tiba-tiba.
Rizal melihat adik iparnya itu, memperhatikan wajah yang sedang membayangkan masa lalunya. Rizal menepuk pundak Sholeh.
" Dia tidak pernah berambisi akan sesuatu, dia sosok wanita yang selalu menerima apa yang terjadi dengan pemikiran terbuka, dia tidak ribet dan pantas jadi pemenangnya dalam hal ini. Baginya menikah dan memiliki anak adalah pencapaian tiada ujung, "
Sholeh mengangguk lagi " Iya, dia memang sederhana. Mbak ipar ku itu bisa dewasa lebih cepat dari pada kita, terutama dari aku."
Kedua lelaki itu mengakhiri obrolan pagi yang terasa seperti kopi, menimbulkan semangat yang sempat pergi.
Rizal meninggalkan Sholeh, tak ingin terlalu lama berbincang di hari yang masih begitu pagi. Tidak pantas jika ada yang menyebutnya ngerumpi.
Sholeh juga beranjak, melangkah ke dapur mencari sosok yang terlihat merajuk sejak pagi tadi. Wanitanya itu terlihat sedang membuat teh lemon kesukaannya. Sholeh tersenyum, ternyata dia tidak benar-benar sedang marah.
Tubuhnya yang kecil berisi dengan tinggi yang tak seberapa jika di banding dirinya, begitu menarik dan sangat ingin ia peluk dari belakang. Sholeh mendekat, baru saja berdiri di belakangnya Sholeha dengan sigap menghadap, menatapnya dengan tak suka.
" Tehnya sudah jadi, jangan minta yang lain Mas, minggir" ucapnya menggeser tubuh Sholeh.
Sholeha meneruskan langkahnya menyiapkan sarapan di atas meja. Dia masih serius tak mau bicara dengan suaminya itu.
Sholeh tak menyerah, meski sepele dia menyadari jika istrinya ini bukan masalah di tegur saat itu, ia hanya sedang merajuk karena tak di dengar curhatnya.
" Yang.... Tehnya kok pahit?" Sholeh mendekati istrinya.
Sholeha tak menggubris, dia tidak lupa telah memasukan gula tadi.
" Yang..... Benera-,
" Mas..... Itu manis. " potong Sholeha cepat.
" Kamu ndak senyum, mana bisa manis" ucap Sholeh dengan sendu. Berusaha keras menahan tawanya karena geli.
Tak lama Sholeha tersipu, meski tidak menunjukan langsung pada suaminya.
__ADS_1
" Yang..... Ayu hamil lagi"
***