Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Antara lamaran dan ketiduran


__ADS_3

Datang jauh-jauh ke rumah Sholeha hanya untuk memberi tau persoalan yang sebenarnya bisa di bahas melalui chat pribadi saja, Irma cukup niat menggali informasi tentang permasalahannya.


Terkadang dia cukup menjengkelkan untuk seukuran teman dekat. Setelah memutuskan pulang dari rumah Rizal, Sholeha juga belum sempat menyimpulkan pembicaraannya dengan Sholeh apa hasilnya. Masih terlalu dini di katakan lamarannya di terima.


Di rebahkan tubuhnya yang lesu, menatap langit-langit kamar, sembari membayangkan wajah sang mantan yang tau kalau dia telah di lamar.


"Dia sedih ndak ya?" ucapnya lirih sekali hanya dia yang bisa mendengar.


Bahkan Sholeha masih bisa merubah keputusannya, saat berpikir hubungannya usai di sini saja setelah satu tahun berjalan, sejujurnya ia masih sedikit berharap bisa memperbaiki semua. Sholeha memang cukup plin-plan dalam mengambil keputusan, tetapi saat ini dia yang merasa ditinggal, lalu mengejar yang lain, apa boleh dia tidak disalah kan?


Sungguh tak jelas kemana arah nasibnya itu, sepertinya dia belum sanggup menerima semua secara bersamaan.


Dia bangun dari rebahan, melepaskan hijabnya dan melangkah keluar dari kamar. Sholeha melupakan makan siangnya perutnya sampai melilit, ia pergi ke meja makan. Terlihat ibunya juga sedang makan sendiri, tak seperti biasa.


"Bapak kemana Buk? " Sholeha mendarat kan bokongnya di kursi seberang ibu.


"Masih di sekolah, ada rapat katanya tadi"


"Oh, sudah lewat Dzuhur kok belum pulang ya Buk?" ia menatap jam yang melekat di dinding dapur.


" Sebentar lagi mungkin, Ibu juga kurang tau" disodorkannya sepiring ikan sambal kepada Sholeha.


" Irma ndak diajak makan, atau sudah pulang dia?" bu Fatma sedikit melongok ke ruang tamu.


Sholeha hanya mengangguk meneruskan makan.


Hari libur kerja yang tak seberapa panjang, hanya Sholeha gunakan untuk rebahan dan menonton drama Korea saja, membuatnya sangat bosan. Entahlah kegiatan rutinnya itu tak berfungsi samasekali hari ini. Sholeha sampai tertidur membiarkan vidio di ponselnya.


"Leha, Nak bangun dulu Maghrib ini ndak baik tidur jam segini!" bu Fatma menggoyang pelan pundak putrinya.


" Ibu, Leha ketiduran" jawabnya sambil menegakan tubuhnya yang lesu.


" Mandi sayang, ndak keburu sholat magrib nanti ! " titah bu Fatma. Setelah leha pergi mandi, bu Fatma keluar menemui sang suami.


Sholeha tergagap karena tidurnya yang kelewat banyak tak seperti biasanya, bahkan dia meninggalkan sholat asharnya, Sholeha bergegas bangun. Di ujung waktu Maghrib, bersimpuh lah ia mengumpulkan sisa-sisa kesadaran dengan segala kelalaian nya, duduk termenung menanti adzan isya, Sholeha memutuskan tak beranjak dari tempatnya sholat. Dia tidak ingin tertinggal lagi terlena karena panjangnya waktu isya.


Dari sehabis mandi tadi ia belum keluar kamar sama sekali, sampai terdengar ibu mengetuk pintu kamarnya.


" Nak, Sholeha, keluar dulu sebentar !"


"Iya Bu " ia lekas membuka pintu.


" Di tunggu Bapak di depan, Bapak ada penting!"


" Tumben, ndak langsung panggil saja tadi" ia bergumam.

__ADS_1


Berjalan beriringan dengan sang ibu yang menggandeng Sholeha, mereka menemui Sulaiman di ruang tamu. Sholeha memilih duduk di samping kursi panjang bersama ibunya.


Belum sempat Sulaiman mengutarakan kepentingannya pada Sholeha terdengar deru mobil di halaman rumahnya. Segera Sulaiman menghampiri pintu yang memang terbuka lebar, ia tersenyum hangat ketika melihat siapa yang datang. Bu Fatma yang bisa menebak siapa yang datang, segera menyusul suaminya menyambut sang tamu.


" Assalamualaikum, " terdengar suara tamu yang Sholeha mengira lebih dari tiga orang.


" Waalaikumsalam, mari Buk, Nak masuk" sambut ibu pada mereka.


Benar dugaannya, keluarga Sholeh yang datang kerumahnya, dan ada satu laki-laki paruh baya bersama mereka, Sholeha juga baru pertama kali melihatnya.


Semua mengalir begitu cepat, dan membingungkan, segera saja ia menyalami bu Nur menyambutnya dengan ramah. Sholeha sampai tak lagi sempat mengganti dasternya yang lusuh, untung saja dia sudah mengenakan kerudung rumahannya. Setelahnya muncul juga keluarga Rizal di belakang mereka.


Ada apa ini ? mereka datang hampir bersamaan, ucapnya dalam hati.


Masih terlihat linglung, akhirnya ia tersadar saat kedua matanya bersitatap dengan Sholeh, ia segera mengundurkan diri memilih kedalam rumah menyusul mbak iparnya. Tak sengaja ia melihat bayangan dirinya di kaca bufet ruang tengah, pantulan dirinya sangat kusut dan tidak enak di pandang. "Jelek sekali aku" mengasihani dirinya dalam hati.


Sholeha menghampiri Ayu yang sedang memindahkan makanan kedalam piring, dia menoleh padanya.


" Ndak usah sibuk nanya ini itu Dek, nanti juga kamu tau, sini bantu Mbak sebentar setelah itu ganti baju yang lebih sopan ya!"


Seakan tau isi kepala Sholeha dia mengatakan itu dengan tenang dan lembut. Sholeha hanya mengangguk pasrah menuruti perintah Ayu.


Di ruang tamu yang sedang berkumpul keluarga Sholeh dan Sholeha.


Hem...


Mereka berbincang santai, mengalir dengan maksud baik bersilaturahmi lalu setelahnya hal lain juga di sampaikan.


Sholeha sudah terlihat lebih rapi, mengenakan gamis polos berwarna hitam dipadukan hijab dengan warna abu-abu sedikit bercorak bunga menambah kesan anggun dan manisnya dia. Sholeha telah bergabung di antara para tamu dewasa yang sejak tadi ternyata menunggunya.


" Nak Sholeha sudah sepakat kan menerima pinangan keponakan saya Sholeh?" ucap seorang pria paruh baya.


Menurut Sholeha ini bukan sebuah pertanyaan melainkan permintaan kepastian yang harus ia berikan, meski ia ingin menolak namun apalah daya, dia yang telah mengawali semua ini menjadi seperti ini. Sholeha hanya tersenyum simpul dan mengangguk. Setelahnya dia menatap wajah sang ayah yang begitu bahagia.


" Karena dari awal kita sudah tau jawaban nak Sholeha, maka kedatangan kita kesini untuk merundingkan tanggal pernikahannya saja, dan sekedar bersilaturahmi, untuk saling mengenal. Saya sendiri paman dari Nak Sholeh, bapak Sulaiman silahkan mengusulkan terlebih dahulu!" tuturnya begitu ramah.


Lihat lah bagaimana Sholeha bertanya-tanya dalam diamnya kepada seluruh keluarga, ia memandang satu persatu mata mereka. Terakhir matanya berpusat pada sang bapak, dia menunggu apa yang akan disampaikan olehnya.


" Sebenarnya saya juga sudah obrolkan dengan nak Sholeh kemarin, kita sepakat tiga bulan dari hari ini. Jika ada usulan lain boleh kita pertimbangkan lagi."


Ya tuhan ku, lalu apa peran ku disini bahkan mereka tidak memberitahu ku tentang keputusan ini, jelas saja Sholeha sangat bersedih, ia hanya bisa membatin.


" Mungkin Sholeha ada pendapat lain ?" tak disangka Sholeh yang paling tau perasaannya, dan mau memberikan kebebasan pendapatnya.


Tapi apalah dayanya, membantah pernyataan bapak, sungguh tidak mungkin ia bisa lakukan, dari awal keputusan ini di sepakati tanpa persetujuannya.

__ADS_1


" Sholeha manut Bapak saja mas" jawabnya singkat.


Ternyata benar keputusan darinya hanya jadi penutup di bagian acara malam ini. Terbukti mereka kemudian saling menawarkan minuman dan makanan kecil di atas meja, dan saling bercerita hal-hal ringan mereka saling melempar tawa.


Sholeha hanya diam dan berusaha mencerna semua keputusan yang dia ambil dalam waktu berdekatan ini.


Dari minta dilamar malah di putuskan pacar dan sekarang niatnya hendak kenalan dulu tapi langsung di lamar. Wahai Tuhan begitukah cara ujian dan ketentuan Mu datang menghampiri, tak satu pun yang mau datang perlahan.


"Sholeh, kamu tidak minum teh mu! " Rizal menegur calon iparnya yang terlihat sedang melamun tak tau apa yang sedang ia pikirkan, Sholeha juga sempat melihatnya.


" Ah iya Mas, masih terlalu panas" jawabnya terlihat gugup dan malu.


Sholeha menelusuri paras pria yang baru saja meminangnya kebetulan dia tepat di hadapannya tidak terhalang apa pun dari matanya. Meski bukan untuk memuji ketampanan parasnya, bahkan dia terlihat biasa saja menurut Sholeha saat ini, tetapi mengapa dia begitu menarik hati bapak dan ibunya. Sampai membuat ia berada di posisi sulit dan terpojok seperti saat ini.


Sholeh yang merasa di perhatikan, memberanikan diri menatap Sholeha, mereka sempat beradu pandang dan berusaha saling menyelami perasaan masing-masing. Kemudian keduanya beralih menatap ke sembarang arah.


" Maaf Bapak, boleh Sholeh berbicara dengan Sholeha ?" ia meminta izin dengan sangat sopan.


"Boleh Nak, boleh silahkan di ruang tengah saja bisa!" perintahnya.


Ruang tengah yang tak semuanya tersekat itu menjadi tempat baik menurut bapak untuk keduanya berbicara. Ada sofa panjang di depan tv, duduklah mereka di sisi yang berjauhan.


" Maaf...... Saya tidak bisa perlahan-lahan menjalani semua ini, bahkan terkesan semaunya, maaf juga tidak berdiskusi terlebih dahulu denganmu " ucap Sholeh memecah keheningan.


" Mas ndak salah, justru maafkan Bapak jika terkesan memaksa dan merepotkan Mas Sholeh " Pilu, Sholeha tak mampu lagi menghadapi pria itu, dia sendiri juga malu dan mengasihani dirinya sendiri.


" Tidak sepenuhnya keputusan Bapak, saya juga menyetujuinya, saya yakin dengan keputusan ini,"


" Bagaimana jika saya mengecewakan sampean Mas, saya sudah jelaskan kemarin?"


" Perlahan saja ndak masalah, saya bisa menunggu kamu Sholeha."


"Baiklah, Sholeha juga akan berusaha ."


Sudah tidak akan bisa mundur jika begini jadinya, Sholeha hanya harus berusaha ikhlas menjalani takdir hidupnya ini. Dia tidak menyangka semua terjadi begitu singkat seperti mimpi, atau memang ini hanya mimpi dari tidur sorenya tadi. Sayangnya ini benar-benar terjadi.


Setelah serangkaian dadakan acara malam ini, entahlah mengapa dia masih sempat menonton drama Korea, atau dia hanya mencari pengalihan pikirannya yang masih rumit. Mungkin saja ia tidak bisa tidur karena ini.


Setelah berbincang seperlunya, keduanya sedikit memahami kondisi hati masing-masing. Secara terbuka Sholeha mengakui keadaan hatinya dan kesanggupannya mau berusaha kedepannya nanti, cukup menjadi keputusan terbaik untuk saat ini.


" Saya kira kamu juga masih butuh waktu, jika tiga bulan kurang lama, bagaimana jika kita minta tambah?" Sholeh mengusulkan.


" Tiga bulan saja Mas, jika tidak ada perubahan kita bicarakan lagi ya "


" Baiklah kalau begitu, kita juga belum menentukan tanggal akadnya." Sholeh memberikan solusi yang sama-sama menguntungkan untuk mereka saat ini.

__ADS_1


" Terimakasih ya Mas, sudah memberikan banyak waktu kepada Sholeha." Sedikit senyum manis ia sematkan untuk menghadiahkan kebaikan pria di hadapannya itu.


***


__ADS_2