
POV Sholeh sebelum pergi
Sekitar pukul setengah lima, Sholeh memutuskan akan menjemput bulek nya ,
setelah melihat kondisi ibunya yang sedikit tidak sehat. Memang biasanya bulek lah yang terus menemani ibunya jika ia pergi ke kota cukup lama atau berangkat malam seperti sekarang.
Sebenarnya dia sangat enggan pergi ke kota hari itu, menurutnya pekerjaannya yang tak seberapa penting bisa ia tunda hingga esok hari tapi ibu memaksa, ibunya itu mengatakan jangan menunda kepentingan mu nak ibu sehat ujarnya waktu itu.
Bahkan Sholeh tau jika tidak berangkat sore itu tidak akan menggagalkan bisnisnya sama sekali.
Sebisa mungkin menjelaskan pada ibunya jika dia bisa menunda, tapi ibunya yang terlalu ngeyel dan memaksa untuk ditinggal.
Sholeh tidak menyangka jika sore itu Sholeha datang bersama ibunya.
Sepertinya mereka sengaja datang menjenguk ibu, terlihat bu Fatma juga membawa beberapa buah dalam kantong keresek. Mungkin saja Ayu yang memberitahu, sebab Sholeh tadi ke rumah Rizal sebentar memberitahu jika dia menunda kepergiannya ke kota hari ini. Rencananya mereka akan pergi bersama, namun diurungkan begitupun Rizal juga ada keperluan lain esok hari.
Sholeh mengurungkan niatnya hendak keluar rumah, ia menyambut dua tamu istimewa itu sebentar. Ini kali kedua Sholeh mempersilahkan masuk Sholeha di rumahnya. Hari ini dia terlihat lebih tenang dan berwajah segar, entahlah dia begitu berbeda kali ini, ah mungkin karena lebih bersiap tidak seperti kemarin yang terkesan mendadak. Dia juga mengenakan baju yang lebih rapi dari hari pertama ia ke rumah ini. Sholeh tersenyum menyapa calon istrinya itu. Meskipun wajah Sholeha yang justru terlihat kebingungan.
Apa yang dia pikirkan? kata Sholeh dalam hati.
Benar saja Bu Fatma langsung menanyakan keadaan ibu, bahkan tidak lagi mau duduk dan terus menuju kedalam rumah mencari keberadaan ibu.
Sholeh merasa wajar-wajar saja, karena memang seperti biasanya bu Fatma yang sudah amat sering datang menjenguk ibu.
Sholeh bahkan sering mengira jika bu Fatma adalah saudara kandung ibunya.
Keduanya sangat akrab apa lagi setelah ayah meninggal dunia, bu Fatma sangat sering datang berkunjung menemui ibunya meski hanya sebentar.
Dan lihat saja, ibunya sampai keluar dari kamar, ketika mendengar suara bu Fatma.
Padahal tadi mengatakan ingin tiduran saja pada Sholeh.
Kemudian, setelah Sholeha menawarkan diri akan membantu, Sholeh sedikit ragu karena dia juga tau jika Sholeha pasti sibuk, mengingat anak TK akan ujian besok pagi. Dia begitu kekeh menawarkan bantuan. Sholeh mengalah, dia tau Sholeha sangat ingin membantu, mungkin saja dia ingin ada lebih banyak waktu dengan ibunya.
Melihat Sholeha yang terdiam, Sholeh mengajaknya berbicara sebentar. Sebenarnya Sholeh hanya ingin berpesan jika ibu sering bercerita banyak hal sebelum tidur, Sholeh ingin Sholeha tidak terlalu memperdulikannya. Sholeh bahkan ingin menawarkan kamarnya jika dia tidak nyaman tidur bersama ibunya.
Namun Sholeha langsung memotong perkataannya dengan cepat, dan menyetujui semaunya seperti selama ini dia berpikir tentangnya. Mungkin dia merasa sholeh tidak percaya padanya.
Sholeh tidak perlu lagi membicarakan banyak hal atau nanti akan timbul kesalahpahaman lain di pikiran Sholeha.
Sholeh berdiri agak lama mendengarkan dua ibu-ibu yang sedang saling bercengkrama entah kemana saja arah pembicaraan dan inti masalahnya, untungnya Sholeha tau dengan keadaannya yang sedikit bosan menunggu.
Dia pandai menegur kedua wanita dewasa itu tanpa menyinggungnya, dia juga yang terlalu handal menengahi ketika keduanya sedikit bertikai meski hanya bercanda.
Sholeh dapat melihat caranya bersikap diantara keduanya, hanya saja Sholeh tau jika Sholeha juga salah tingkah dengan ucapan ibunya yang membahas cucu di depannya. Sholeh hanya tersenyum melihat tingkah lucu calon istrinya itu.
Sholeha juga banyak dinasehati oleh ibunya bahkan Sholeh bisa melihat Sholeha memasang wajah cemberutnya.
Bu Fatma bahkan berpesan jangan bangun kesiangan pada putrinya sendiri.
Sholeh hanya menahan tawanya agar tak menyinggung Sholeha. Sholeh berniat mengantarkan bu Fatma dan sekalian izin pada Sulaiman, dia pikir sekalian saja menggunakan mobil agar tak perlu lagi mampir kesini.
Sebelum pergi, Sholeh kembali meminta izin pada ibunya di kamar. Bagaimanapun dia masih sedikit khawatir.
" Ibu yakin ndak papa Sholeh tinggal?"
__ADS_1
" Sudah sana, Ibu sangat ingin berduaan dengan Sholeha, Ibu akan cerita banyak hal dengannya" dia tersenyum.
" Ingat ya Bu, Sholeh ndak mau dijelek- jelekkan loh!" Sholeh mengancam dengan nada sedikit merajuk.
" Kamu itu memang banyak jeleknya, biarkan saja calon mantu Ibu tau dari sekarang "
Sholeh hanya menggelengkan kepalanya kecil, dia mencium tangan ibunya dan segera pergi.
Meninggalkan Sholeha yang masih melamun di halaman rumah, Sholeh sengaja membunyikan klaksonnya, terlihat Sholeha sedikit terkejut dan mendadak tersenyum menatapnya.
Dengan kaca jendela yang belum semua nya tertutup Sholeh bisa jelas membalas senyum Sholeha. Sholeha memang sangat lucu menurutnya.
Berdua di dalam mobil dengan bu Fatma, Sholeh berusaha mencairkan suasana.
Jika duduk berdua dengan bapak Sulaiman, Sholeh pasti sudah terbiasa dan tidak akan menegangkan seperti ini.
Jika kebanyakan orang takut pada calon ayah mertua tapi berbeda dengan Sholeh yang lebih takut dengan ibu mertua. Selain sikap bu Fatma yang terkesan tegassedikit garang itu, dia juga jarang tersenyum. Sholeh sedikit bingung bersikap di depannya.
Tidak berapa lama, bu Fatma membuka pembicaraan terlebih dahulu. Diawali dengan menarik nafas panjang bu Fatma mengubah posisi duduknya lebih tegak.
" Nak Sholeh, Ibu minta maaf ya jika Inu dan bapak sudah banyak merepotkan kamu, apa lagi permintaan kami yang sangat tidak mudah untuk Nak Sholeh ." Dengan begitu dalam, ia menyampaikan kata maaf nya.
" Ndak seperti itu Bu, Sholeh sendiri juga bersedia melakukanya. Jangan terlalu berfikir yang tidak-tidak, saya dan Sholeha sama-sama bersedia menjalaninya."
Sampai saat ini kedua orang tua Sholeha selalu beranggapan bahwa mereka telah memaksa dirinya menerima Sholeha. Setiap mereka saling bertemu selalu saja ada kata maaf yang terucap dari keduanya.
"Sholeha bahkan belum menyelesaikan masalah dirinya dengan Arman, mungkin Sholeha tidak akan pernah mengatakan apapun pada Nak Sholeh, tapi ibu percaya jika Sholeha bisa berbakti kepada suaminya kelak, ibu sendri yang akan mengajarkan dan membimbingnya ya "
Tampak wajahnya itu penuh dengan kesungguhan, bahkan Sholeh bingung harus bagai mana menjawabnya.
Pembicaraan berat itu harus terhenti kerena tujuan mereka sudah tiba, bu Fatma tak lagi menghiraukan apa yang dikatakan oleh Sholeh. Dia segera turun dan berniat langsung meminta Sholeh pergi saja, dia menganggap Sholeh sedang terburu-buru. Sholeh menolak, ia tetap turun dan menemui Sulaiman sesuai janjinya pada Sholeha tadi.
Ibu Fatma bahkan tidak mengizinkan suaminya itu mengajak Sholeh mengobrol lama, dia mewanti-wanti jika Sholeh tidak bisa berlama-lama. Dengan sifat bu Fatma yang begitu mendominasi kedua pria yang berniat duduk dan bersantai jadi mengurungkan niatnya. Setelah sholat magrib Sholeh langsung mengendarai mobilnya keluar menuju kota.
Karena Sholeh ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat ia sengaja datang lebih awal dia akan menginap dan paginya baru menemui teman sekaligus partner bisnisnya.
Meskipun hanya melihat beberapa material saja dia juga melakukan berbagai riset kualitas dan bahan untuk yang ia pasarkan, kemudian untuk pembuatan rumahnya sendiri.
Sebenarnya Sholeh akan sangat terbantu jika ada Rizal, tetapi dia mendadak ada keperluan besok pagi.
Dengan jarak tempuh tiga jam dari rumah Sholeh telah sampai pada satu penginapan yang dekat dengan tempat ia akan memilih bahan bangunan. Dan ada satu janji lain yang akan ia penuhi dengan teman lamanya.
Sekitar setengah sepuluh malam Sholeh telah beristirahat di kamar sewanya.
Dia terpikirkan untuk menghubungi Sholeha untuk menanyakan perihal ibunya. Dengan perasaan ragu akhirnya ia mengirim satu pesan pertamanya.
Jika dia melakukan panggilan pada Sholeha takutnya dia akan menggangu. Tidak menunggu lama ia mendapat balasan yang singkat dan begitu jelas. Sholeh tak lagi banyak bertanya, ia memutuskan tidak menghubungi Sholeha lagi.
Sholeh masih mengamati nama Sholeha di room chat ponselnya, tidak kunjung ada balasan lagi. Dia meletakan ponselnya hendak bersiap tidur, namun ia mendapat panggilan dari teman sekaligus partner bisnisnya.
" Leh maaf sekali jika saya membatalkan janji kita kerabat istri ku ada yang meninggal kita bisa atur janji lagi jika kamu tetap akan mengerjakannya dengan ku" jelasnya dari seberang telepon.
Sholeh memutuskan tetap menunggu waktu luang dari temannya itu, dia tidak ingin terburu-buru mencari pengganti untuk pemasok bahan material bangunan tokonya. Meskipun terlanjur sampai di kota, malam juga semakin larut jika ia harus pulang lagi ke rumah. Sholeh memutuskan kembali pulang pagi nanti sebelum waktu subuh.
Dan sebenarnya Sholeh masih menunggu kabar dari seseorang yang akan ia temui besok pagi jika ia bersedia. Meskipun kemungkinan bertemunya kecil Sholeh tetap menunggu apakah dia bisa menemuinya walau sebentar.
__ADS_1
Dia tertidur sebentar kemudian terbangun mendengar ponselnya berdering. Hanya notifikasi pesan, segera ia membacanya.
Wajah Sholeh berbinar namun sedetik kemudian ia terlihat kecewa.
Sudah dipastikan jika janji yang satu ini juga dibatalkan. Sholeh hanya menarik nafas panjang dan berkata dengan lirih,
"Padahal aku sangat berharap kita bisa bertemu Dek"
Ada satu hal yang belum Sholeh selesaikan mengenai urusan hatinya, sebenarnya dia sendiri tidak yakin bisa menyelesaikan atau akan terus menyimpan sebagai harapan dari masa lalunya. Terlalu berat jika harus mengakhiri sesuatu yang sudah ia mulai sejak dulu dengan baik. Dia hanya belum berani mengaku kalah dari takdirnya itu saja.
Perjalanan yang dia tempuh dengan penuh harap itu harus pulang dengan rasa kecewa. Sebelum subuh Sholeh melaju pulang, dia bahkan hanya tidur hanya beberapa jam di kamar sewanya.
Seandainya tadi ia tidak menuruti perintah ibu mungkin ia tidak terlalu kecewa seperti ini. Mungkin benar dugaannya ibunya hanya ingin mencari kesempatan untuk berbincang lebih lama dengan Sholeh.
Terkadang Sholeh bingung melihat sikap ibunya yang sangat menyukai gadis itu.
Lalu lalang jalanan yang masih begitu sepi mempercepat Sholeh dalam berkendara.
Pukul enam pagi ia sudah sampai rumah kembali. Dengan satu kunci cadangan yang ia bawa, dia masuk tanpa mengetuk pintu. Dia tau ibunya pasti sudah berada di dapur saat ini, ia segera menemui ibunya.
Dari kamarnya terdengar gelak tawa membahagiakan dari dapur, Sholeh sampai dibuat penasaran hal apa yang sedang mereka bicarakan.
" Mas Sholeh cengeng ya Bu"
Itu suara Sholeha, dia tertawa dengan lepas dan sedikit terdengar lucu di telinga sholeh. Keduanya yang asik memasak tidak menyadari Sholeh yang sudah duduk di meja makan memperhatikan keduanya.
Ketika Sholeh ikut bersuara, tawa itu tiba-tiba hilang entah kemana?
Sholeha dan Bu Nur spontan menoleh pada Sholeh, ibu Nur yang segera menghampiri putranya dengan wajah bahagia. Dan terlihat Sholeha sedikit gugup dan kembali meneruskan pekerjaannya tanpa suara. Sholeh tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Sholeha, dia sangat penasaran mengapa berubah seketika sekarang. Ingin sekali ia menggoda atau bertanya sebab tawanya itu, tapi ia tak sampai hati, bahkan dia berkata sedikit ketus pada Sholeh. Pasti dia tak enak hati.
"Sholeha, kamu hendak pulang sekarang?"
Dia hanya mengangguk
" Saya antar ya?"
"Ini sudah terang benderang Mas, Leha bisa pulang sendiri, Mas ndak usah meremehkan Sholeha begini dong, saya bawa motor sendiri dan juga mas itu baru pulang nyetir mobil sendiri kamu lelah Mas, Sholeha ndak mau merepotkan" Dia terkesan mengomel panjang dan sepertinya dia juga masih marah tentang Sholeh yang mengantarkannya pulang malam itu. Kali ini ia hanya malu sepertinya, pikir Sholeh.
"Ya sudah terserah kamu"
Dia tidak menggubris Sholeh lagi, dia menghadap bu Nur dan berpamitan pulang. Terlihat sekali dia sedang merajuk bahkan Sholeha tak sedikitpun menoleh pada Sholeh walau sekedar berpamitan.
" Ibu makasih ya buat semuanya, Sholeha harus pulang, sehat sehat ya"
" Ibu juga terimakasih sama Leha, jangan bosan sama ibu ya nduk"
Mereka bahkan saling berpelukan.
Dia mengabaikan ku? Sholeh membatin.
Sholeha benar-benar tidak menegurnya dari tadi, Sholeh semakin terheran dengan sikap wanita itu. Dia marah atau malu sebenarnya ?
Setelah itu Sholeh berencana meneruskan tidurnya yang tertunda melangkah lah iya ke kamar. Suasana yang tenang penyimpan sejuta angan dan harapan.
Pintu yang sedikit terbuka tadi, Sholeh yakin ada seseorang yang baru saja masuk sebelum dia datang tadi. Sholeh hanya tersenyum, dia sedikit terhibur setelah melihat wajah Sholeha tadi. Setalah membersihkan diri dan mengganti bajunya ia berniat tiduran sebentar.
__ADS_1
***