Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Drama yang Berulang


__ADS_3

Sholeha menunggu suaminya datang menjemput dengan begitu sabar, sedangkan Irma sudah sejak tadi telah di jemput suaminya. Sesekali matanya melirik jam tangan yang terus saja berputar. Sepuluh menit sudah suaminya tak kunjung datang.


Sholeha bahkan sudah tak sabaran ingin segera bercerita, tentang kabar baik mengenai Rahma. Sholeha mondar mandir di depan gerbang, sedangkan Sholeh entah masih di mana.


" Sholeha, sedang apa?"


Sholeha tersenyum singkat, dengan sosok yang lama tidak ia jumpai. Sholeha sadar jika pria di hadapannya pasti akan menghampirinya, dia cepat-cepat berjalan agar tak berbicara banyak hal dengannya.


" Nunggu suami ya?"


Arman memelankan motornya, mengiringi Sholeha yang berjalan kecil.


" Iya. Dia akan datang"


" Aku bisa mengantar jika kamu mau"


Sholeha berhenti dan menatap Arman dengan tajam.


" Jangan aneh-aneh deh Mas, tinggalkan saya. Akan ada cerita lain jika kamu tetap seperti ini" ucap Sholeha dengan tegas.


Sholeha berjalan lebih cepat menciptakan jarak dengan Arman.


" Dari pada panas Ha, masa iya suamimu cemburu?" katanya dengan enteng.


Sholeha tak menggubris, dia merogoh ponselnya mencoba menelfon suaminya. Dering pertama berakhir, Sholeh mengabaikannya.


Arman tak menyerah, dia terus mengikuti Sholeha berjalan. Seperti dulu ketika ia merayu agar Sholeha mau di antar pulang saat pertama kali pacaran.


Sholeha menghentakkan kaki, kesal dengan Arman yang tak sopan dan lebih kesal lagi dengan suaminya. Dia yang mudah pencemburu, dia sendiri yang membuat situasi ini terjadi.


" Ayolah, aku ndak tega kamu jalan begitu" ucapnya lagi.


Kali ini ia menghentikan motornya tepat di depan Sholeha.


" Saya tidak bisa. Biarkan aku jalan kaki" kata Sholeha dengan sangat tegas kali ini.


Tin.....


Tiba-tiba terdengar klakson motor dari belakang Arman. Sholeha terperanjat, ketika melihat Sholeh dengan wajah datar dan tegasnya.

__ADS_1


Arman menoleh, kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun pada Sholeh.


Takut-takut Sholeha mendekati suaminya yang masih mengeraskan rahangnya. Tanpa mengucapkan apa pun Sholeha segera membonceng.


Begitu juga dengan Sholeh yang diam saja tak banyak tanya pada istrinya. Mereka diam tak saling berbicara, tangan Sholeha juga tak berani melingkar di perut suaminya seperti biasanya.


Kali ini Sholeha merasa ketakutan, tak berani menatap suaminya. Dia bahkan telah meneteskan air mata sejak tadi. Bisa di pastikan jika Sholeh pasti marah kepadanya.


Sholeha menautkan tangannya yang bergetar sejak tadi, entah mengapa hatinya gelisah setengah mati. Dia takut pada Arman yang bertindak lancang padanya, dia juga sangat takut pada Sholeh yang akan mendiamkannya.


Air mata Sholeha mengalir begitu saja tak mau berhenti, semilir angin pun tak sedikitpun menghiburnya. Laju motor itu terasa sangat cepat, hingga tak di sadari Sholeh telah mematikan motornya.


Sholeha menghapus air matanya, dia segera turun. Dia melihat punggung suaminya yang terus berjalan pergi ke toko. Hati Sholeha semakin mencelos, tak biasanya suaminya seperti itu.


Meski banyak kerjaan di tokonya, Sholeh pasti menyempatkan diri mengikuti istrinya kedalam mengantarnya ke kamar, atau sekedar menemaninya makan.


Sholeha melangkahkan kakinya dengan lesu, dia menyadari jika kejadian ini sangat sulit diuraikan penjelasannya. Meski bukan salahnya, tetapi Sholeha tak bisa menghindari kesalahpahaman suaminya.


Hati Sholeha berdenyut nyeri, entah tak seperti biasanya. Kemana Sholeha yang selalu tenang menghadapi suaminya, mengapa ia begitu takut kali ini, takut akan mengecewakan suaminya lebih dalam lagi.


Perutnya sangat perih, tetapi Sholeha sangat enggan makan saat ini. Seleranya hilang entah kemana, padahal sejak di sekolah tadi ia sudah terbayang ayam kecap buatan ibu mertuanya.


***


" Telat dikit, sudah asik ngobrol" ucap Sholeh menggerutu.


Agus tak menyela, dia meneruskan menghitung jumlah barang dalam diam.


Tak lama terdengar Sholeh mendesah kesal, belum lagi wajahnya yang sangat tertekuk masam. Meski Agus ingin sekali mencari tahu, tetapi ia tetap berusaha diam selama mungkin. Sebelum di ajak bicara.


Kalau sesuai dugaannya, bosnya ini sedang cemburu lagi. Seperti biasa, dia yang selalu uring-uringan di toko hanya karena sedang tak bertegur sapa dengan istrinya. Agus bahkan hanya mesem, sesekali menggelengkan kepala.


" Istri mu punya mantan ndak Gus?" tanya Sholeh tiba-tiba.


Nah benarkan. Kata Agus dalam hati.


" Kenapa, ya ada lah kalau ndak salah ada tiga. Calon suami ya juga ada sepertinya" jawab Agus dengan terkekeh, dia sengaja menggoda Sholeh agar tak membara hatinya.


Sholeh diam saja, tak jadi berkomentar.

__ADS_1


Agus meletakan kertas dan penanya, melihat wajah Sholeh dengan teliti. Seolah menebak sekiranya ada apa dengan wajah masam ini.


" Cemburu lagi, ?"


Sholeh melotot tak menyangka Agus akan secepat itu dapat menebaknya. Dia membuang mukanya asal, tak mau bersitatap dengan wajah mengesalkan dari Agus, jelas sedang mengejeknya.


" Sok, tau"


" Aku kan nanya Bos"


Sholeh tetap diam.


Agus sangat ingin tertawa dengan tingkah Sholeh yang seperti ini, dia bahkan tak bisa membayangkan jika di hadapan istrinya seperti ini, apa ndak tambah ngakak Sholeha.


" Sampean ini kok ndak umum" kata Agus pelan, terapi jelas terdengar oleh Sholeh.


Spontan dia berbalik, " Maksud mu apa, aku ini berlebihan?" suaranya sedikit naik tak terima.


Agus menepuk pundak Sholeh, " Yang sabar toh Leh, namanya juga mantan senyum dikit yang wajar. Apa harus Ndak kenal lagi, kan ndak mungkin. Apa lagi istrimu itu kan lama pacarannya, setidaknya menyapa jika bertemu itu sangat wajar. "


" Mereka tadi hampir boncengan, kalau aku ndak datang, ya mungkin saja mereka berduaan" jawab Sholeh tak terima.


Agus mulai tau akar dari permasalahan ini, benar saja jika ia salah paham. Apa lagi setengah jalan dia tidak tau ceritanya.


" Sudah ngobrol sama istri?"


Sholeh menatap Agus, dia bahkan tidak mengantarnya kedalam rumah tadi, mana ada kesempatan istrinya menjelaskan perkara tadi. Dia menggeleng, menyadari belum melakukannya.


Agus berdecak, kemudian meninggalkan Sholeh di sana. Ia tak lagi perlu menasehati penganten baru yang tak paham-paham dengan kejadian yang sudah berulang kali.


Agus meneruskan pekerjaannya, mengecek apa saja yang harus di kirim hari ini. Jika terus duduk dengan Bosnya itu lama-lama dia ikutan kesal. Agus juga sempat heran, merasa jika Sholeh berubah dari kepribadiannya yang tegas dan dewasa sebelum menikah dulu.


Sekarang pria mandiri itu telah berubah menjadi lembut dan mudah merajuk seperti anak Barbie. Agus tak berhenti mengulum senyum.


" Ada-ada saja, " ucapnya pelan.


Agus tak sengaja melihat Sholeha sedang mengitari lorong di dalam toko. Sepertinya ia gelisah dengan matanya yang sembab. Agus bergegas menghampirinya.


" Sholeha, cari Mas Bos ya?"

__ADS_1


Sholeha hanya mengangguk, dengan air matanya yang malah berderai lagi.


***


__ADS_2