Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Lesung pipi


__ADS_3

Kamar Irma masih terpenuhi aura bahagia keduanya, dengan mendengar Irma yang terus saja menggodanya Sholeha jadi tak kuasa menahan tawa. Setelah sedikit mengulik rasa di hati Irma. Kini kembali lagi ke topik pembahasan jatuh cintanya Sholeha yang sejak tadi Irma terus saja menggodanya.


" Ir, udah dong. Aku juga masih bingung." jawabnya begitu memelas.


" Aku tau kamu udah mulai terpapar, buktinya sudah muncul sedikit bintik-bintik malu, dan sepertinya hati mu mulai sesak yah, di penuhi pesonanya mas Sholeh" tawa Irma semakin menjadi.


Sholeha juga tertawa, " Apaan coba, emang virus kali ya?" ucapnya sebal.


" Virus, memang virus Sholeha - ,


" Cukup Irma " pangkas Sholeha cepat, ia bahkan maju membekap mulut Irma yang terus saja menggodanya.


Kemudian keduanya terkikik geli sendiri, keduanya saling terdiam seketika. Saat mata mereka saling bertemu, seolah menyadari satu hal yang kemarin sempat berjarak dan hampir hilang.


" Aku seneng kita begini lagi Ir, dari kemarin-kemarin aku kebingungan dan bersedih sendiri . Aku kangen kamu" ucapnya menahan air mata yang hampir jatuh lagi.


Irma mengangguk, " Aku juga sangat rindu dan bersyukur bisa akur lagi sama kamu" ia juga berusaha menyembunyikan tangisnya.


Sholeha menarik nafas lega, matanya mengelilingi seluruh penjuru kamar sahabatnya itu, dan ia terhenti pada bingkai tua yang menyimpan potretnya dengan Irma kala masih SD dulu. Sholeha tersenyum mengenang semua kenangan terbahagia waktu itu.


" Serius Ir, kamu marahnya sama dia?" tunjuk nya pada bingkai foto itu.


" He he he, kadang sih. Habisnya kesel banget, apa lagi pas cemburu kan mana kamu nya imut gitu" Irma menjawab dengan muka yang sengaja di tekuk tanda kesungguhan ucapannya.


" Hi hi hi, maaf ya. Aku kan emang gitu mukanya " Sholeha memelas.


" Em, ok. Aku boleh kan tinggi hati dan meminta agar kita melupakan semua ini, meskipun ini sebenarnya tidak sopan jika aku yang mengatakannya, tapi aku satu-satunya teman mu jadi kamu tidak ada kesempatan untuk membenci ku lagi. Dan aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi di masa yang akan datang."


" Aku juga tidak akan bisa membenci mu Ir, kamu sudah buruk sangka kepada ku. Dan aku juga berjanji berusaha lebih peka dan pengertian lagi sama kamu, dan aku akan selalu mendukungmu apapun pilihan mu kedepannya"


Mereka tidak lagi saling menyangkal ataupun menambahkan, keduanya saling mengangguk dan tersenyum.


Di usianya yang masih muda tidak mudah untuk saling memaafkan seperti ini, mungkin ini lah titik terberat yang telah berhasil mereka lalui. Semoga saja sampai nanti tidak akan ada hal-hal kecil yang membuat keduanya salah paham.


***


" Jangan lupa minum obatmu ya Ir, bisa-bisanya kamu ndak cerita kalau selama ini sakit." ucap Sholeha ketika hendak pulang.


" Kata dokter baru gejala ini, kamu kan bisa lihat aku sudah mulai membaik." jawab Irma menenangkan Sholeha.


" Meskipun gejala tapi itu tipes Ir, bukan gejala jatuh cinta. Tetap saja bahaya" Sholeha mengomel.


Irma hanya tertawa ringan, tak menghiraukan muka Sholeha yang sudah berubah menjadi nyai rombeng, julukan lamanya pada Sholeha ketika marah.


"Iya, iya. Besok aku sembuh kok, wong mau jadi pagar ayunya Rahma Nia Sholeha." ia tersenyum.


" Masih lama. Ya sudah aku pulang ya " putusnya kemudian.


Jika di teruskan Sholeha bisa lupa kalau ada janji dengan ibunya, terlalu asik ngobrol sama Irma memang tak sedikit pun bisa membunuh waktu dan tiada habisnya. Setelah mengucap salam dan melambaikan berkali-kali tangannya akhirnya Sholeha pulang.


Dengan perasaan yang semakin membaik ini, Sholeha bersyukur bisa melalui semua masalahnya dengan baik tanpa bermusuhan, hatinya yang begitu lembut itu sungguh berjasa dalam kehidupan ini.


Penuh senyum merekah Sholeha menelusuri jalan ke rumahnya yang terasa begitu singkat. Bahkan kucing peliharaannya sudah terlihat menyambutnya di depan pintu yang terbuka.


Sholeha langsung menerobos ke meja makan, ada ibunya yang sedang duduk entah siapa. " Assalamualaikum, buk " ucap Sholeha ketika sampai di depan ibunya.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, " ternyata ibunya


duduk sendiri.


" Bapak kemana Bu?" Sholeha sedikit melongok ruang tengah yang juga kosong.


" Tadi pamitnya sih ke kebon, tapi jam segini belum pulang. "


Sholeha mengangguk, kemudian melepas kerudungnya bersiap mengambil wudhu. Dzuhur hampir berlalu, Sholeha tak bisa menunda sholatnya lagi.


Setelah sholat, Sholeha melanjutkan dzikir dan doa singkatnya, ketika di akhir doa nya ia sedikit terdiam menitik kan air mata. Ia kembali terharu kala mengingat tiada hal lagi yang begitu mengganjal hatinya. Semua angan kebahagian kembali memenuhi pikirannya, semoga saja semua kebahagian yang ini tidak akan pernah berlalu.


Aamiin...


Di ujung doanya ia ucapakan, Sholeha beranjak dari sajadahnya. Di depan cermin kamarnya Sholeha menatap pantulan wajahnya yang masih sama, hanya saja kini bertambah sedikit senyuman bahagia yang terbesit dengan jujur di sana. Dia tau semua hal pasti akan menemui akhir dan penyelesaian, meski harus sedikit berkorban dan menutupi rasa sakitnya Sholeha tetap berada di jalur kepribadiannya yang berusaha menjadi lebih baik.


Siapa yang tidak sakit ketika terluka, semut pun akan menangisi nasibnya, setidaknya Sholeha harus bisa berkorban sekali lagi untuk menyelamatkan persahabatannya ini. Jangan bandingkan semua salahnya yang begitu tega, sikapnya yang terbuka kali ini jauh lebih berharga dari pada saling melupakan dengan tumpukan luka yang kian mendalam.


Sholeha menggeleng, membayangkan begitu sedihnya jika harus kehilangan Irma sebagai sahabatnya. Mencari teman di mana saja mudah ditemui, tetapi tidak akan bisa terlupa satu sahabat yang menemaninya sejak ia sendiri belum bisa mengenalnya. Sholeha memandang kembali wajahnya dengan seksama, sekiranya ada penyesalan atau kebahagiaan pada dirinya sendiri.


" Aku tau kamu masih sakit, kita obati perlahan ya wahai hati, semangat" tuturnya pada bayang wajahnya yang semakin berseri.


Meski sedikit, masih ada rasa sakit yang tertinggal di dasaran hatinya, tapi tak apalah semua kebahagiaan memang harus ada luka sebelum benar-benar mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya. Mukenah yang masih ia kenakan menambah kesan damai dan manis dalam waktu yang bersamaan.


" Ah Sholeha Nia Rahma, kamu juga akan segera menikah, senangnya" ucapnya lagi, sembari melompat ke tengah kasur, ia tengkurap menenggelamkan seluruh wajahnya yang tengah malu.


Kedua kakinya di ayunkan seirama dengan degup jantung yang semakin tak karuan suaranya. Rasa-rasanya ia belum pernah sebahagia ini, padahal dari kemarin-kemarin ia juga sudah menyadari tentang dirinya yang akan segera menikah, oh mungkin juga rasa senangnya ini juga karena setelah bertemu dengan Irma hari ini.


" Aduh, aduh. kenapa aku ini?" ia terbangun dengan berusaha meredam tawanya yang semakin terasa manis.


Dia beranjak, melepas mukenah nya. Hari yang sudah mulai sore ini sedikit bercuaca redup, kali ini bukan karena hatinya yang sedang murung tapi memang hujan yang akan segera turun. Sholeha merapihkan sedikit rambutnya, dia tidak berniat membungkusnya lagi dengan kerudung, mungkin sebentar lagi pun ia sudah berkelana di alam mimpinya.


" Masih ada waktu kok, Sholeha bisa tidur dulu jika lelah!" jawab sang ibu dengan lembut.


" Sudah ilang kok ngantuk nya, Sholeha siap-siap ya" ia turun dari ranjangnya.


" Nduk, bagaimana kabarnya Irma. kok ndak pernah main kesini lagi?" tanya bu Fatma sembari melihat Sholeha memoles sedikit bibirnya di depan cermin.


Sholeha berbalik menatap sang ibu, kemudian kembali duduk di samping ibunya. " Dia sedang sakit, kata dokter gejala tipes." jawabnya dengan sedih.


" Sudah berobat kan dia, sejak kapan ?" bu Fatma semakin penasaran.


" Sudah Bu. Katanya sejak libur kerja, Sholeha saja tidak tau bu. Tadi sebenarnya Sholeha ke sana untuk memberi tahu tanggal pernikahan, dan ternyata dia sedang sakit. Wajahnya jadi tirus, badannya jadi kurusan bu sekarang."


" Kok bisa, kamu baru tau?" dengan rasa terkejutnya, bu Fatma sedikit mendesak Sholeha.


Sholeha sempat terdiam, tidak mungkin jika ia menceritakan masalah yang telah ia hadapi selama ini, kemudian ia mengangguk. " Sholeha yang tidak sempat berkabar Bu, kan ibu juga tau Sholeha sibuk" ucapnya membela diri.


Terdengar ibunya menarik nafas, kemudian menatap wajah putrinya itu dengan sangat tegas. " Kamu ini yah Nduk, kebanyakan melamun dan berpikir sendiri, bisa-bisanya teman sendiri ndak di kabari kalau mau nikah. Pantas saja tak perhatikan kok dia ndak ada datang pas kamu lamaran, dan kemarin ibu pikir dia akan datang. " sunggutnya pada Sholeha.


Sholeha hanya menampilkan sederet giginya dan sedikit tertawa. Dia sudah bisa menduga hal ini pasti terjadi, sejak dulu ia berteman dengan Irma, ibunya ini lebih suka memarahinya dan selalu membenarkan apa kata Irma, meskipun sebenarnya hanya dalam konteks bercanda saja. " Maaf, bu" ucapnya setengah berbisik.


" Lain kali jangan di ulang Nduk, itu tidak bagus. Sebisa mungkin tanya kan kabar agar temanmu itu merasakan kepedulian mu, jangan bersikap cuek seperti ini apa lagi kamu itu sedang mendapat kebahagian seperti ini, berkabar lah nduk, jangan sombong!" tegur Fatma pada putrinya.


Sholeha menunduk, berusaha menahan agar bibirnya tak bercerita yang sebenarnya.

__ADS_1


" Em iya Buk. Kemarin Sholeha lupa " jawabny asal.


" Ya sudah terusin pakai kerudungnya, ibu tunggu di luar aja!"


Bu Fatma keluar dari kamar, Sholeha menarik nafas lega. Sejak tadi ia sangat berhati-hati agar tidak berlebihan bercerita, karena semua yang di alaminya dengan Irma juga Arman tidak ada yang tau selain mereka. Sholeha juga tidak berniat menceritakan ini, takut ada sisi yang di sangka buruk atau tiba-tiba di benci karena di anggap buruk. Dia sepakat menyimpan semuanya dalam masa lalu saja. Lagi pula penghianatan Arman padanya juga tak membahagiakan Irma atau pun Arman sendiri, entah lah apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka.


" Buk, ayok!" Sholeha sudah bersiap mengantar ibunya pergi mengaji.


Bu Fatma berdiri dari duduknya, " Oh iya Nduk, kamu boleh mengaji sama ustadz ah Aisyah mulai besok. Beliau sudah sisakan dua jam setiap hari untuk mu, ibu sudah diskusikan sama beliau"


Sholeha tersenyum, " Ibu udah temuin ustadzah, kapan?"


Keduanya berjalan keluar bersiap pergi.


" Pas kamu pergi tadi, ibu minta antar bapak sebentar, ibu kira lebih sopan kalau sengaja datang ke sana, daripada sekalian dengan pengajian kayak gini, takut ganggu nduk" ucapnya sembari bersiap menaiki motor.


" InsyaAllah besok Leha ke sana " kemudian tak terdengar lagi mereka saling berbincang, Sholeha mulai melajukan motornya.


Rutinitas ini sudah sejak lama di lakukan bu Fatma dan yang lainnya. Para ibu berkumpul di majelis ustazah Aisyah setiap hari Jum'at sore sekitar jam tiga sampai selesai. Ustadzah Aisyah memiliki majelis rutinan dari tingkat anak-anak, ibu-ibu dan terkhusus para calon pengantin seperti Sholeha meski tidak banyak.


Mentari yang masih sangat bersemangat menyinari bumi ini, padahal hari mulai sore. Terik dan hawa panas yang menyatu membuat semua orang terus saja mengeluh di tengah keterpaksaannya dalam beraktivitas. Termasuk Sholeha yang sedikit menambah kecepatan laju motornya dari biasanya, berharap segera sampai tujuan dan segera meneduh dengan nyaman. Dunia memang sedang berpotensi meleleh sepertinya.


" Nanti Sholeha jemput ya Bu!" ujar Sholeha ketika sampai di halaman rumah yang berdekatan dengan mushola kecil.


" Iya, " bu Fatma menarik tangannya, setelah bersalaman dengan Sholeha.


Terlihat beberapa ibu-ibu juga mulai berdatangan, rata-rata mereka juga di antar oleh anak atau suaminya. Sholeha berputar hendak pulang, namun seseorang memanggilnya.


" Sholeha, " Sholeha mencari dari mana asal suara yang begitu ia kenal itu.


" Mas Sholeh ?" jawabnya ketika melihat sosoknya baru saja sampai bersama bu Nur. Sholeha turun dari motornya, bersalaman kepada bu Nur.


" Ibumu sudah sampai ya Nduk?"


" Sudah Bu, " jawabnya dengan sopan.


Bu Nur melanjutkan langkahnya, ia sedikit terburu karena tampak majelis yang segera di mulai. Tinggallah pria yang masih setia memperhatikan Sholeha sejak tadi, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.


" Kenapa ?" tanya Sholeha.


Sholeh tampak menggeleng, dan sedikit tersenyum. Dia turun dari motor dan mendekati Sholeha.


" Loh kok malah kesini?" Sholeha bergumam sendiri.


Sholeh berhenti sekitar tiga langkah lebih dekat, entah mulai dari mana kini Sholeha terlihat mengamati dengan jeli pria di hadapannya itu. Tampangnya yang begitu santai namun terasa dominan itu, ternyata terlihat dua kali lebih manis saat tersenyum seperti ini. Dengan adanya seujung lubang lesung di pipi yang begitu samar, aura dan pesonanya menguar begitu cepat sampai mata dan hatinya. Semilir angin sore yang tiba-tiba terasa sejuk ini semakin membuatnya tenggelam dalam wajah Sholeh yang tak bisa ia sentuh.


" Sholeha, ?"


Sholeha tergagap mendengar suara Sholeh yang terdengar berulang kali, Astagfirullahaladzim, seketika ia menyebut dalam hati, seiring kepalanya yang menggeleng beberapa kali.


" Iya, apa Mas?" jawabnya begitu malu, dan salah tingkah.


Sedang yang di tanya malah kembali tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya, bahkan sampai terdengar suara tawa kecil di telinga Sholeha.


Sholeha semakin gugup, apa dia terlalu terlihat lucu atau terlihat sangat konyol? Sholeha bertambah bingung sendiri.

__ADS_1


" Mas, ada apa?" harap-harap cemas ia kembali bertanya.


****


__ADS_2