
Dengan wajah yang terasa panas, karena ulah Sholeh yang jahil Sholeha sedikit tak fokus dalam melangkah. Jika Sholeh tak menggandengnya bisa saja dia terperosok karena tersandung.
" Hati-hati, " kata Sholeh berhenti sejenak.
Sholeha mengangguk, keduanya berjalan ketengah acara, benar saja banyak orang telah menunggu mereka.
Sedemikian rupa nasihat dan sholawat telah tersampaikan dengan berbagai syair dan tausiah. Sampailah acara khidmat ini di penghujung, kira-kira setengah sepuluh malam. Undangan telah berhamburan meninggalkan keluarga Sulaiman dengan serba serbi doa dan ucapan selamat. Kediaman mereka kembali sepi, hanya beberapa orang yang masih berbenah di sana.
Sholeha kembali ke dalam kamar nya, sebuah ruang sempit yang terus akan mempertemukan dirinya dengan sang pujaan hati, teman tidurnya mulai saat ini.
" Mas mau makan dulu kan?" tanya Sholeha yang melihat akan melakukan sesuatu.
" Nanti saja, Mas belum sholat",
" Oh iya, Sholeha siapkan sajadah nya"
Tak ada jawaban, Sholeh langsung pergi mengambil air wudhu.
Ada rasa yang sangat beragam dalam hatinya sekarang, Sholeha tampak enggan menanggapinya sekarang, sebisa mungkin ia tidak begitu terlarut dalam kebahagiaan ini.
" Mas tunggu, kita sholat barengan ", kata Sholeh ketika kembali.
Sholeha tersenyum, " Sayang sekali, Sholeha sedang libur. Tunggu beberapa hari, setelahnya kita barengan",
" Libur ?" Sholeh tampak berpikir, kemudian mengangguk.
Dia menunaikan ibadahnya dengan segera, begitu pun Sholeha yang bersiap menyiapkan makan.
***
" Suami mu mana, ajak dia makan Nduk", ucap bu Fatma, dia sedang sibuk membereskan banyak makanan di atas meja.
" Lagi sholat dulu Bu, nanti nyusul"
Dapur yang masih berserakan karena hajatan itu terasa penuh, tak se-rapih biasanya. Itu memang biasa terjadi.
" Mas dan Mbak sudah pulang Bu?"
" Baru saja, Fatih besok sekolah mamahnya ndak mau repot kalau pagi" bu Nur duduk di salah satu kursi.
" Iya, apa lagi hari Senin" imbuh Sholeha.
Tak lama datang sang menantu dengan wajah sedikit lebih segar, meski dia jelas terlihat lelah.
" Makan dulu Le, habis itu istirahat"
" Iya Buk, kemana Bapak?" Sholeh tampak mencarinya.
" Sudah pergi tidur, capek katanya"
Sholeh mengangguk, kemudian melihat istrinya yang mengisikan nasi dan lauk untuk nya.
" Sedikit aja, yang penting ke isi" cegahnya pada Sholeha yang terlihat akan memenuhi piring.
" Oh oke."
Tidak sepiring berdua mereka makan, seperti kebanyakan pasangan romantis yang sering di ibaratkan, dengan duduk berdua seperti ini saja sudah sangat bahagia. Mereka menikmati makan malam yang terlalu larut itu dengan begitu tenang.
Ada hal kecil yang sangat menggangu pikiran Sholeha, dia ingin sekali menanyakan hal yang dulu pernah ia simpan dalam hati.
Senyap di dapur saat ini membuat gerak kecil Sholeha tertangkap jelas oleh sang suami. Sholeh melirik sang istri dengan tingkah kecil yang mencurigakan.
" Kenapa hem, perlu Mas tau?" Sholeh mencoba bertanya.
Sholeha tersenyum, malu hendak memulai dari mana. Dia meletakan gelas setelah menghabiskan minumnya.
Begitu pun dengan Sholeh, dia bersiap mendengar cerita dari teman hidupnya yang terlihat sangat tak nyaman.
" Leha masih ingin menanyakan satu hal, tetapi bukan hal penting. Ah sebenarnya ini permintaan, atau sebenarnya ini perlu di diskusikan ah em bagai mana ya-,
Sholeh langsung saja meraih tangan Sholeha, membantu menenangkan wanitanya yang sedang bingung hendak mengatakan apa.
" Bicarakan perlahan, ada apa?"
Sholeha menarik nafas, sejenak berkeluh pada dirinya sendiri. Bibir nya mengerucut sekitar setengah senti dan pipinya mendadak mengembung semua di perhatikan dengan jelas oleh sang suami.
" Leha ingin mengubah, bukan maksud ku menambahkan agar panggilan kita sedikit berbeda dari biasanya", jawabnya dengan lancar.
__ADS_1
Takut-takut Sholeha memberanikan diri melirik wajah Sholeh yang tak terdengar berreaksi.
" Panggilan, seperti apa yang kamu inginkan. Boleh-boleh saja, jika itu keinginan mu?"
Sholeha tersenyum," Mas Ham, ya. Seperti saat pertama kali kita bertemu"
" Mas Ham, saat pertama kali. Di mana?" Sholeh tampak berpikir keras.
" Wajar jika Mas lupa, waktu aku bisa baca nama mu " jelasnya masih terlalu singkat.
" Kapan, ceritakan lagi kalau begitu" pinta Sholeh bersungguh- sungguh.
Kembali lagi pada wajah cemberut yang sempat Sholeh lihat saat pertama mereka mendiskusikan tentang hubungan. Sholeh semakin mabuk kepayang di buatnya.
" Saat Mas pulang sekolah, berlarian merebut aku dari gendongan mas Rizal, padahal aku sudah besar saat itu. Kalian masih memanjakan ku seperti bayi, aku marah dan memanggil nama depan mu saja waktu itu. Ingat-ingat dong mas, masa ndak ingat", paksa Sholeha .
" Aduh Mas lupa, Mas malah ingat kamu sering kencing di pangkuan ku ", Sholeh tertawa, melihat wajah Sholeha yang semakin cemberut tak terima.
" Ih ngarang, mana ada cerita itu. Aku ndak ingat." Sholeha kesal, dia berdiri mengambil piring kotor dan pergi mencucinya.
Sholeh mengekori, berdiri di sebelah Sholeha, sengaja memainkan air yang sedang mengalir dari kran.
" Jadi gimana, masih mau panggil nama itu?" bisik Sholeh pelan, dia mendekat pada telinga yang masih tertutup hijab instan.
" Minggir dong Mas, malah main air. " dia mengabaikan pertanyaan yang menggelikan hatinya.
" Ya sudah, kalau ndak jadi ", Sholeh pergi, dia menuju kamar barunya.
Sholeha melempar sendok pelan, melampiaskan kekesalan yang sangat remah ini. Dia hanya ingin memulai dengan trik manis di awal pacaran halal nya, sayang suaminya itu malah merusak mood baik nya.
" Apa katanya, kencing di pangkuan, ngompol maksutnya, ih jelek banget kesan yang di ingat. Padahal aku dulu lucu kata Ibu, masa iya itu aja yang dia ingat" gerutu Sholeha sendiri sambil mencuci tangan.
Dia menggeleng pelan, berjalan menuju kamar mandi sebentar. Dia perlu melakukan kebiasaan sebelum tidur.
Wajahnya lebih segar sekarang, Sholeha membasuh dan beres membersihkan sedikit sisa make up tadi siang. Mata ngantuk nya sedikit berkurang, karena tersentuh dinginnya air dan kegiatan kecil rutinan skincare malam.
Sholeha masuk ke dalam kamar, melihat sang suami yang sedang asik bermain ponsel. Tubuhnya yang tinggi berisi itu tampak memenuhi ranjang kecil Sholeha, meski cukup untuk berdua, itu hanya badan kecil seperti Sholeha dan Irma bisanya. Sholeha tampak berpikir, dia membayangkan Sholeh yang akan melipat setengah badannya saat tidur nanti.
" Mas belum tidur?" tanya Sholeha, ia duduk di meja riasnya.
Sholeh meletakan ponselnya, memusatkan pandangan pada sang istri yang sedang asik melepas hijabnya.
" Rambut yang belasan tahun aku lihat, sudah sebagus ini ternyata" celetuk Sholeh .
Sholeha sedikit terkejut, dia melihat Sholeh dari kaca, terlihat wajah kagum penuh senyum itu mulai bergerak mendekat.
Sholeha berbalik, menemui Sholeh dari duduknya. Dia juga baru menyadari, tentu saja dia akan terkejut dengan dirinya tanpa kerudung .
" Mas, jangan ejek aku lagi. Ini rambut bagus dan sangat bersih dan harum. " ucap Sholeha dengan tegas. Dia takut akan ada cerita memalukan lagi dari kisah masa kecilnya.
Sholeh mendekat, menyentuh kepala tak tertutup itu, mengusapnya lembut dan membelainya sangat pelan.
" Bagus, Sholeha istriku, Mas kan tadi sudah katakan. Kamu berpikir buruk terus " jawab Sholeh sambil terkekeh.
Sholeha tersipu malu, melihat wajah suaminya dari jarak sedekat ini membuatnya semakin tergoda untuk terus menyelami beningnya mata itu terpancar. Sudut bibir yang selalu menimbulkan lesung di pipi, dan pahatan alis tebal yang ingin sekali ia sentuh. Sholeha berkedip, menyadarkan diri yang semakin jauh berpikir nya.
" Ya, siapa tau?" ia berusaha melepas diri dari Sholeh.
" Mas yang tau, kamu itu lucu dari dulu, " ucapnya kembali duduk di ranjang.
Sholeha mengikutinya, keduanya mengambil sisi yang berbeda. Bersandar sembari meluruskan kaki yang seharian sibuk sebagai raja dan ratu.
" Rambut ku ini banyak yang tidak suka, katanya aneh dan tidak bagus" Sholeha meneruskan obrolan, ia juga belum bisa tidur.
" Kata siapa, Mas suka." jawab Sholeh, berpaling menatap Sholeha dari sebelah kirinya.
" Mas, Ibu sendirian?" tanya Sholeha mengabaikan Sholeh, tentang rambutnya.
" Ada Bulek, kemungkinan Paklek juga"
" Kapan kita ke sana?"
Sholeh tersenyum, meraih Sholeha ke dekapan nya.
" Kapan pun kamu mau, " Sholeh membelai surai yang sangat lama tak bisa ia sentuh.
" Besok, kita bisa pindah. Bapak dan ibu sudah mengizinkan jika aku tinggal di sana" Sholeha mendongak menatap wajah Sholeh dari tengah dada bidangnya.
__ADS_1
Wajah tegas, yang sempat tak dapat ia kenali seiring kedewasaannya tumbuh, dulu wajah ini selalu tersenyum memanjakan dirinya, dia sesekali memberikan ciuman hangat padanya.
Sholeha masih terpesona, tak menyangka dia menjadi sosok tampan yang datang menikahinya.
" Kita pikirkan lagi besok, Mas sangat ngantuk. Boleh tidur seperti ini?" Sholeh bahkan sudah terpejam sambil memeluk istrinya begitu erat.
Sholeha tak menjawab, ia hanya ikut melekat pada dekapan hangat yang begitu mendebarkan ini. Dada bidang nan keras telah menjadi pilihan utama setelah bantal guling nya. Hawa nyaman menyusup begitu saja ke sekujur tubuhnya, dia tak perlu lagi menjawab. Kiranya tubuh ini sudah setuju tanpa berdiskusi dengan jiwanya.
Hembusan halus nafas Sholeha begitu terasa nyata, setelah meminta izin dan Sholeha mengeratkan tubuhnya, bukanya bisa tidur Sholeh malah tak nyaman sekujur tubuhnya. Dia sendiri yang memulai, saat semua terjadi sesuai pintanya mengapa jiwanya merasa tersiksa. Kemana hilang nya rasa lelah dan kantuk tadi?, mata yang terpejam hanya ilusi, hatinya sibuk bercengkrama ingin melakukan sesuatu.
" Mas Ham, tidur ya. Jantungnya berisik" tiba-tiba Sholeh membuka mata, terkejut mendengar suara itu terdengar begitu nyata.
Sholeha menenggelamkan wajah nya di dada Sholeh, menutupi senyum yang masih mengembang dengan sempurna.
" Iya, maaf ya menggangu" ucap Sholeh salah tingkah.
Rupa-rupa nya mereka sama-sama gelisah dan saling menahan deguban jantung masing-masing.
***
Malam yang begitu panjang berlalu begitu saja, lihat sepasang kekasih yang masih hangat tenggelam dalam selimutnya. Sudah terbangun lima menit yang lalu, mereka enggan beranjak sedikit pun. Jalanin tubuh yang telah mengurai tadi, kembali di rekatkan dengan rapat, seolah tak ingin lepas dari salah satunya.
" Subuh keburu habis, mas kan ndak punya tanggal merah seperti ku" tegur Sholeha masih dalam dekapan.
" Baru adzan sayang, minta izin setengah menit untuk peluk istri", jawabnya dari pucuk kepala Sholeha.
" Nanti bisa di lanjut, bangun aja dulu" Sholeha menarik diri, dia menjauh dari tempat nyaman yang membuatnya kecanduan.
Sholeh bangun, beranjak dan membiarkan Sholeha kembali tertidur.
***
Setelah sholat subuh, Sholeh membantu Sulaiman dan juga ada banyak orang yang membereskan sisa-sisa perlengkapan semalam. Meski ada jasa sewa, setidaknya ikut membantu agar lebih cepat selesai.
Dengan kaos oblong dan celana pendek selutut nya, pengantin baru itu tidak sungkan ke sana-kemari mengemasi perabotan. Sesekali memungut sampah dan menyapu halaman.
" Sudah Le, ndak usah bersih-bersih. Yang penting sampahnya di ambil" tegur salah satu ibu-ibu. Kemungkinan dia tetangga terdekat dari Sholeha.
" Iya Buk, ndak apa"
Sebagian orang masih datang untuk membantu wajar jika masih terbilang ramai. Dari arah belakang pundak Sholeh di tepuk dengan kuatnya, ia sampai mengaduh.
" Gimana, enak kan?" kata Rizal ambigu.
" Apa nya ?" Sholeh masih sibuk mengusap pundak yang terasa kebas.
" Masa tak tanya lebih detail, kata kan saja enak apa ndak?" tanya Rizal lagi. Dia mengedipkan matanya tak lucu.
Sholeh menggeleng, meneruskan kegiatannya yang terganggu.
" Kamu ini, isin-isin jangan bilang belum dapat ya?"
Rizal malah kembali memukul pundak sisi satunya, kali ini sempat tertepis.
" Sudah sedikit, dah ah " Sholeh tak meladeni Rizal yang jelas menggoda nya saja.
Rizal semakin gencar tertawa, mengikuti kemana saja Sholeh pergi. Berteman dengannya sejak kecil, dia begitu menanti ada saat bahagia yang saling menggoda seperti dulu.
" Yah, baru nyicip dong", ucapnya begitu keras.
Sholeh terkejut, apa yang maksud dari perkataan kakak iparnya ini. Lihat saja para ibu-ibu di dapur mulai berbisik-bisik membicarakan nya.
***
Di tengah candaan Sholeh dan Rizal di pelataran masih ada ratu yang tertidur nyaman di balik selimutnya. Pintu kamar yang tak terkunci itu masih rapat menutup, setelah kembali dari masjid tadi Sholeh sengaja berpesan pada ibu dan Ayu agar tak membangunkan istrinya.
Sebuah bentuk perhatian yang di sengaja, tak masalah dan wajar-wajar saja. Namun orang berpikir lain dan saling mengartikannya semaunya. Bahkan bu Fatma sempat ternganga mendengar Sholeh mengatakan istri nya belum bangun. Tensinya sudah sampai oktaf jika dua hari yang lalu, berhubung menantu yang sedang membela putri pemalas nya itu ia berusaha menunda amarahnya.
Bahkan Ayu tersenyum tak berkesudahan saat Sholeh mengatakan dengan santai jika istrinya terlalu lelah untuk bangun pagi. Sholeh oh Sholeh, bagaimana orang bisa tidak menertawakan mu?
Ah biarlah, dia tak ambil pusing. Dia hanya tidak tega membangunkan istrinya. Itu saja, dan ia hanya mencoba mencarikan alasan yang pas untuk seseorang yang telat bangun, jika bukan kelelahan.
" Buk, lihat. Baru sehari dia jadi mantu ibu, ibu sudah ndak bisa marahi putri ibu. Emang ndak salah Sholeha milih suami", kata Ayu setengah berbisik pada ibunya, dia juga tertawa kecil.
" Awas aja nanti pas bangun, tak omelin dia. Masa iya rumah masih banyak orang gini bantu-bantu beresan malah dia masih molor, awas aja " bu Fatma geram sendiri dengan tingkah penganten baru yang semaunya.
" Sudah ah Buk, biarkan saja", tawa Ayu mulai mereda.
__ADS_1
***