Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Nikahan Irma


__ADS_3

Kalimat ijab dan qabul terdengar dengan lantang, begitu juga para saksi yang menjawabnya dengan kata Sah. Semua memanjatkan doa, mengucapkan Aamiin dengan penuh khidmat, sepasang pengantin baru tersenyum dengan begitu lebarnya.


Di sini, di pelataran kediaman Irma, Sholeh tengah bergandengan dengan istrinya hendak mengucapkan selamat langsung pada sahabat karibnya.


Jodoh Irma seolah turun dari langit, setelah malam Nuzulul Qur'an Ramadhan kemarin ia di lamar anak pak ustadz di kampung sebelah. Irma yang memang begitu suka dengan sosok pria manis sedikit gemuk itu, tak menunda waktu baik hingga kini telah sah menjadi istrinya.


" Selamat ya, manten baru" ucap Sholeha memeluk Irma.


" Kamu juga masih baru" jawab Irma tak mau di goda.


Keduanya saling tertawa, saling menggenggam tangan dengan begitu erat. Kemudian mereka berfoto untuk mengabadikan cerita ini untuk hari esok.


Irma menerima lamaran suaminya dan bersedia menikah hari ini, sehabis lebaran menjadi pilihan kedua mempelai itu untuk melaju ke kehidupan baru. Sholeha bahkan sempat merasa di bohongi dengan kabar yang di berikan Irma waktu itu, karena tak percaya.


Sholeha terlihat sangat bahagia, tawanya tak berkurang sedikitpun dari wajahnya. Begitu juga dengan Irma, pengantin baru itu terlihat lebih akrab dari pada Sholeh dan Sholeha hari ini.


Bukan perkara drama-drama kejahilan Sholeh yang sering membuat istrinya itu merajuk, kali ini Sholeh lah yang sedang merengut dari tadi. Sholeha hanya bisa menebaknya saja, apa lagi jika bukan cemburu karena sosok Arman yang juga ada di sini.


Arman menjadi sosok yang tegar, menyaksikan kedua wanita masalalu nya saling menggandeng pria pilihannya dan melupakan dirinya. Herannya, Sholeh masih sempat iri pada Arman, katanya karena lebih muda darinya.


Sholeha bahkan tak habis pikir, mana ada yang cemburu hanya karena melihat mantan kekasih istrinya, Sholeha juga tidak berdekatan apalagi ngobrol dengannya. Begitu mudah rasa cemburu itu timbul di hati suaminya.


" Mas ih, di tanya malah dicuekin?" Sholeha menyenggol lengan suaminya pelan.


Mereka baru saja pamit pulang pada Irma, Sholeha terlihat kesal melihat Sholeh yang melamun sejak tadi.


" Ha, apa, kenapa?" jawab Sholeh kaget.


" Mau pulang ke rumah, atau tempat Bapak dulu. Mikirin apa sih, masih cemburu?" tanya Sholeha, pelan dan menggerutu.


" Terserah lah, " jawabnya ketus.


" Ih, kan Mas yang nyupir, di tanya malah terserah. Kebiasaan deh marah-marah ndak jelas" ucap Sholeha bertambah kesal.


Sholeh mengeluarkan motornya dari parkiran, masih tetap diam tak mau mendengar istrinya yang memajukan bibirnya sedari tadi.

__ADS_1


Ketika motor sampai di depan Sholeha, suaminya itu masih menampakan muka masamnya. Seolah tak terganggu dengan Sholeha yang sudah merengut juga.


Sholeha merasa malas di bonceng suaminya itu, ikut kesal karena sikap Sholeh yang terlalu sepele jika di bahas di tengah jalan seperti ini. Tetapi tidak mungkin jika ia harus pulang jalan kaki hanya karena suaminya yang mendiamkannya.


Sepanjang perjalanan yang begitu kaku, keduanya semakin tenggelam dalam diam. Sholeha bahkan tak lagi protes hendak pulang kemana pun.


Rupanya Sholeh memutar arah, dan menuju kerumahnya. Sholeha diam saja, padahal tadi ia sudah mengemas sedikit bajunya. Tetapi tampaknya suaminya ini tak mengingatnya akibat merajuk.


Kedua pasangan suami istri itu turun dari kendaraan kesayangannya, berjalan saling mendahului menuju kamar. Mereka benar-benar tak saling sapa sejak tadi.


Sholeha yang kesal di diamkan, dan Sholeh yang kekeh dengan rasa cemburunya tanpa sebab.


Sholeha melepas kerudungnya, menghapus riasan wajah, santai di depan kaca. Sesekali melirik apa yang di lakukan suaminya yang sedang bertingkah seperti anak kecil. Sholeha tetap diam.


Sholeh mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana kolor. Dengan santainya ia merebahkan tubuhnya di tengah ranjang sembari memainkan ponsel, mengabaikan istrinya yang ia sadari sedang meliriknya.


Begitu juga dengan Sholeha yang semakin santai dengan kegiatan kecilnya, dengan rasa kesal yang sudah begitu menumpuk di dalam dadanya. Sholeha hanya sedang menunggu, sebatas mana suaminya itu tetap diam.


Bedak dan lipstiknya sudah selesai di bersihkan, hanya tinggal mengganti dress nya dengan daster. Sholeha menarik daster tanpa lengan yang tergantung. Panas hari seperti ini, semakin nyaman jika mengenakan pakaian yang tipis tanpa lengan.


Tanpa di sadari Sholeh melirik istrinya, namun enggan menggoda seperti biasanya yang ia lakukan selama ini. Dia hanya membuang muka berusaha tak melihat istrinya berganti baju.


Sekitar sepuluh menit, akhirnya terdengar suara Sholeh memanggil istrinya.


" Yang..."


Sholeha tak menyahut.


" Yang, maaf" kata Sholeh.


Belum ada pergerakan dari sang istri, Sholeh bahkan memeluk Sholeha dari belakang.


" Yang, dengerin dong"


Sholeh semakin mengeratkan pelukannya, agar sang istri mau meresponnya.

__ADS_1


" Tadi kesel aja, ndak bermaksud marah sama kamu" ucap Sholeh di telinga istrinya.


Sholeha masih nyaman dengan posisinya, berusaha menahan agar tidak bersuara.


Tiba-tiba Sholeha berbalik dengan perlahan, setelah tak mendengar suara suaminya merengek seperti tadi.


Sholeha terkejut, saat berhadapan dengan wajah suaminya yang tersenyum lebar, merasa berhasil telah merayunya.


" Mas ih, ngapain sih pake cemburu gitu. Kan Leha tadi cuma jawab sapaan dia, emang berlebihan. Sampai cemberut berkepanjangan seperti ini. Minggir ah Leha ngantuk"


Sholeha menyingkirkan tangan Sholeh dari perutnya.


" Iya maaf, ndak bisa sembunyikan dengan baik cemburunya, lain kali jangan senyum gitu sama dia. Sakit banget hari Mas" jawab Sholeh begitu cepat.


" Mas ini, cemburu terus. Sama Al cemburu, sama Fatih apa lagi. Aneh banget, Leha tuh kesel juga ngadepin Mas yang kayak gini"


Sholeha memejamkan mata, tak ingin banyak lagi berdebat dengan suaminya.


" Maaf, Mas juga ndak tau "


Sholeha menepuk punggung tangan suaminya lembut. Benar-benar tak tahan lagi dengan matanya yang sangat berat.


Keduanya terlelap dengan pelukan hangat di cuaca terik saat ini. Seolah tak perduli keadaan bumi di luar sana. Tak merasa salah meski berpelukan dan berbuat lebih dari ini.


Kalau saja tau istrinya ini akan bertingkah seperti ini, mungkin saja Sholeh akan menikahinya sejak lama. Dia begitu pemaaf dan peka. Selalu bertingkah dewasa, daripada dirinya yang lebih seperti anak remaja yang sedang berpacaran pertama kali.


Sholeh tersenyum, mengecup kening Sholeha begitu pelan. " Makasih ya sayang.... Kamu emang beda" Sholeh bergumam.


Satu bulan kiranya, Sholeh menjalani kehidupan rumah tangga yang masih begitu manis, semakin hari semakin jatuh cinta pada sosok Sholeha yang begitu sederhana dengan segala pesonanya.


" Yang...." Panggil Sholeh lagi.


" Hem..."


" Di maafkan ndak nih ?"

__ADS_1


" Jangan sering-sering gitu ya Mas, Leha ndak suka di diemin "


***


__ADS_2