
Suasana kamar Fatih terasa mencekam seketika, dengan tatapan aneh dari Sholeh pada sang istri. Rizal dan Ayu bergeser sampai keluar dari kamar, memahami ada hal lain yang mungkin saja bisa terjadi di antara Sholeh dan Sholeha.
Begitu pun Sholeha yang terlihat tak memahami situasi yang tak baik untuk dirinya saat ini.
" Iya, bu Risma yang mengatakannya pada ku tadi", jawab Sholeha tenang. Tanpa mengadu bagai mana cara wanita itu memakinya tadi di sana.
Sholeh terdiam cukup lama, dia sendiri begitu tak menyangka jika sang istri tak memberitahunya lebih awal.
" Sejauh itu kamu membencinya, hingga tak ingin melihat ku khawatir padanya." Tuduhnya tanpa ragu.
Sholeha terkejut, kata-kata suaminya dengan muka masamnya itu begitu menyakiti hatinya. Sholeh bahkan terlihat sangat marah pada dirinya.
" Apa maksud mu mas, katakan yang jelas apa pertanyaannya agar aku tak salah mengira", suaranya bergetar tak terima dengan reaksi spontan Sholeh.
Sholeh mengacak rambutnya kasar, menatap istinya ini dengan kesal. " Kamu bisa katakan pada ku lebih awal. Bagaimana pun aku masih punya hati untuk seorang sahabat, setidaknya aku bisa membantunya terlebih dahulu dari orang lain", tanpa jeda, Sholeh mengeluarkan semua isi hatinya tanpa ragu.
Sholeha menggeleng tak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari suaminya ini. Matanya tajam menatapnya, seolah ia telah melakukan kesalahan yang begitu besar dan mengkhianatinya.
Sebelum Sholeha menjawab, pria di hadapannya ini berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya begitu saja. Dia terbawa suasana gelisah tanpa menyadari kekeliruan yang telah ia perbuat.
Dengan terburu Sholeh keluar dari kamar dan meninggalkan rumah Rizal begitu saja dengan tergesa. Sedangkan Sholeha hanya diam tak percaya dengan baru saja apa yang terjadi. Hatinya perih, mengetahui peliknya hati sang suami saat mendengar kabar ini. Cemburu, sepertinya lebih dari itu, Sholeha kecewa dengan sikap sang suami padanya.
Air mata terjun bebas begitu saja menyebrangi pipi yang sempat tersipu tadi. Sholeha tak menyangka jika Sholeh akan marah padanya karena sebab ini.
Dia duduk diam pandangannya entah kemana, mencoba menepis rasa ngilu yang tiba-tiba muncul di hatinya.
" Dek,?" Ayu datang menyapa.
Sholeha menghapus sisa air mata, " Iya, mbak?"
" Jangan terlalu di pikirkan, dia hanya sedang panik dan bingung. Jika sudah reda nanti dia akan mengerti apa pun penjelasan mu",
Ayu duduk di samping Sholeha yang masih tertunduk. Meski sedikit Ayu mendengar jelas apa yang keduanya berdebatan tadi. Belum lagi sikap Sholeh yang terlihat begitu marah dan menuduh Sholeha.
" Aku tidak apa mbak, dia juga sudah terlalu tua untuk menghadapi kesalahpahaman kecil ini." jawabnya sendu.
Ayu mengelus punggung Sholeha, tak percaya jika adik iparnya ini bisa berpikir seperti itu. " Ya sudah, sekarang Leha mau buatin apa biar ndak sedih", bujuk Ayu agar tak sedih.
Sholeha menggeleng, " Leha mau pulang aja, kasian ibu pasti banyak tanya jika mas Sholeh pergi gitu aja",
" Ya sudah. Nanti kesini lagi",
***
Sholeh tak terlihat ada di rumah, Sholeha hanya mendapati ibu mertuanya sedang duduk di depan TV sambil merenung.
" Nduk, gimana Fatih. Ibu hendak ke sana nanti habis Dzuhur aja."
Sholeha duduk di sebelah bu Nur, " Sudah baikan bu, dia sedang tidur." Sholeha mencoba memastikan sang suami ada di rumah atau tidak. " Mas ndak kesini buk?", tanya Sholeha.
Bu Nur mengeriyit, " Tidak, dia kan bersama mu toh?"
" Iya, mas pulang dulu tadi." jawabnya singkat.
Sholeha semakin tertunduk lesu, mengapa harus ada masalah ini di tengah-tengah kehangatan masa pengantin baru masih begitu terasa.
Sekitar sepuluh menit Sholeha menemani bu Nur di sana, mendengar obrolan yang sejujurnya tidak sampai ke hati Sholeha. Dia hanya tersenyum dan sesekali mengangguk tanpa menambahkan topik pembicaraan. Tak lama ia pamit beristirahat.
Ponselnya tak berdering sama sekali. Sholeha berharap setidaknya sang suami memberikn sedikit kabar jika memang berniat pergi. Namun satu jam ponsel itu tergeletak di atas nakas tetap sepi.
Sholeha berusaha mengalihkan perhatiannya dengan membereskan baju-baju di lemari, menyusunya lagi agar lebih rapi. Meski hatinya sedang pilu, ia tetap senang hati memandang banyak benda pribadi milik suaminya. Koleksi kemeja, kaos yang hampir hitam semua dan banyak lagi.
Sholeha berhenti di meja rias. Beberapa botol parfum berjajar di sana, sisir dan deodorant pria yang sangat umum di pasaran. Sholeha tersenyum merasa terhibur melihat kebiasaan Sholeh yang cukup menarik.
" Padahal lagi marahan, masih aja suka senyum-senyum sendiri memikirkannya" keluhnya pada dirinya sendiri.
Sholeha sedikit terkejut mendengar ponselnya bergetar. Dia tersenyum, berharap itu panggilan dari sang suami. Dia bergegas, namun ia harus kecewa melihat deretan nomor baru yang muncul disana.
" Iya, hallo?" jawab Sholeha ragu.
" Aku Dito, teman Sholeh. Maaf Sholeh harus menemani ku hari ini, jika tidak berhalangan nanti malam kami kembali", ucapnya pelan di seberang telepon.
" Kemana?"
" Menjenguk Rahma, ".
Sholeha tak lagi menjawab. Ia hanya menarik nafas berat. Dan kemudian pamit menutup panggilan.
" Terserah, " ucapnya setelah panggilan itu benar-benar berakhir.
Sholeha merebahkan tubuhnya ke tengah kasur, menutup matanya sejenak. Berusaha menemukan ketenangan meski sebentar. " Niat banget marahan sama aku, telpon sendiri emang ndak bisa?" ucapnya lagi, menggerutu pada sang suami.
__ADS_1
Sholeha berusaha keras mengalihkan banyak pikiran tak karuan nya, dia sangat kecewa.
***
" Kok, istrimu kayaknya marah Leh?" tanya Dito pada Sholeh.
" Sepertinya iya, " katanya singkat.
Dito melirik Sholeh, memastikan temannya ini sedang mengatakan yang sebenarnya.
" Masalah ini?"
" Hem..."
" Kamu ndak ngomong baik-baik?"
" Entahlah, memang aku yang salah" Sholeh menghembuskan nafas beratnya.
Keduanya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Setelah berdebat kecil dengan istrinya tanpa sengaja Dito juga menghubunginya, tentu saja tentang perihal Rahma. Jadilah Sholeh mengikuti temannya itu.
" Masih baru banget kok malah berantem gini, kenapa dia ndak izinin kamu pergi?" tanya Dito, ingin lebih tau.
Sholeh malah menggeleng saja tanpa kata.
" Wajar kali Leh, kalau dia masih cemburu, apa ndak kamu jelaskan?"
" Nanti sajalah, biar reda dulu ngambeknya", Sholeh tak berniat membahasnya.
" Maaf nih, aku malah ajak kamu pergi. Soalnya aku bingung mau ke sana nya sama siapa, bisa nyasar aku",
" Iya ndak papa. Bilang saja kamu masih malu mau temui Rahma sendiri, kali ini saja ya tak bantu. Kedepannya Ndak bisa aku." Sholeh memperingatkan.
Dito tersenyum, " Iya, nanti tak bantu jelaskan sama istrimu, biar ndak kisruh. Kasian masih belum puas dapat jatah malah berantem gini", godanya pada Sholeh, Dito bahkan tertawa sekarang.
Sholeh makin kesal saja, menatap Dito dengan tajam. " Puas apanya, dapat saja belum", gerutunya pelan.
" Walah, kok bisa ?" Dito terbahak.
" Masih tanggal merah katanya"
" Oh, nyicip belum nih?"
Dito semakin meledakkan tawanya, bukan mengejeknya tetapi tak tahan melihat wajah lucu temannya ini.
Sesekali Dito juga menceritakan keinginannya untuk kembali membujuk Rahma dan kedua orang tuanya, bagai manapun Dito masih menginginkan menikahi Rahma.
Perjalan yang terasa singkat, habis untuk saling menceritakan masalah asmaranya masing-masing, meskipun lebih tepatnya Dito yang banyak berkeluh kesah sepanjang jalan. Mereka sampai di sebuah rumah sakit yang mereka tuju.
Setelah mendapat izin kedua pria dewasa itu masuk ke ruang Rahma di rawat. Tampak Rahma berbaring dalam brangkar dengan tenang. Wajahnya berseri dan terkejut menjadi satu melihat Sholeh dan Dito datang.
" Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sholeh, setelah terdiam cukup lama melihat keadaan Rahma.
Tidak ada goresan di dahi Rahma, sedikit memar di bibir cantik Rahma. Keadaan yang cukup baik dari sebuah kecelakaan.
" Aku tidak mengingatnya, saat aku menyebrang sebuah motor menyerempet ku, lalu aku tak ingat lagi", jawabnya dengan tenang.
Sholeh tampak tak percaya, jika ia telah mengkhawatirkan Rahma hingga bertikai dengan sang istri. Ada rasa bersalah telah meributkan hal kecil tadi.
" Apa kata dokter?" tanya Sholeh memastikan.
" Em, ada tulang kakiku yang retak. Selebihnya baik." jawabnya sedikit riang, merasa di khawatirkan.
" Syukurlah, " Sholeh sedikit mundur, memberikan Dito ruang untuk menyapa Rahma.
Dito juga terdiam cukup lama, terlihat bingung bagaimana cara menyampaikan rasa sedih dan prihatinnya.
" Apa kabar ?" Rahma membuka pembicaraan.
" Seperti apa yang kamu lihat. Maaf aku baru datang, " jawab Dito pelan.
" Ah iya. Tak mengapa, aku cukup mandiri untuk menghadapi hal seperti ini ",
Senyum yang sedikit terbit dari wajah cantik Rahma terlihat oleh Dito. Dito menarik lega nafasnya, melihat ketegaran Rahma yang tak pernah berkurang.
Suasana berubah menjadi canggung saat semua orang saling diam. Sesekali Rahma melirik Sholeh yang tetap terdiam dan tampak gelisah.
" Kalian kembali kapan, menginap kan?" tanya Rahma memecahkan keheningan.
" Tidak." Jawab Sholeh cepat.
Rahma tertawa" Aku lupa, ada pengantin baru di sini." ucapnya santai.
__ADS_1
Sholeh menatap Dito, berusaha meminta bantuan penjelasan. " Dia sedikit sibuk," kata Dito tiba-tiba.
Sholeh diam menyetujui apa yang dikatakan Dito.
Setelahnya terdengar Dito banyak berbincang dengan Rahma, hanya saja Sholeh tampak diam dan menyimak saja. Pikirannya sedang jauh melayang ke arah istrinya yang terlihat menangis tadi.
Sungguh Sholeh tak menyangka jika baru dua hari menikah dia telah berselisih paham dengan istrinya, dia hanya sedikit kecewa karena menyembunyikan kabar ini padahal dia telah mengetahuinya terlebih dahulu. Dalam otaknya yang masih menyimpan kenyataan jika Rahma sering di paksa ibunya yang semua orang tau sebagai penipu, membuat ia khawatir berlebihan seperti tadi.
Terdengar obrolan ringan dari Rahma dan Dito, melihat dari cara keduanya berbicara jelas saling merasakan kenyamanan, terutama Dito. Sholeh tersenyum kecil, dalam hatinya berdoa agar Dito bisa menjadi penolong Rahma di kemudian hari. Atau menjadi teman hidupnya.
Sholeh tetap merasakan jika Rahma adalah gadis baik dan penurut, hanya saja ibunya yang bersikap seperti itu, membuat ia terbebani dan tak berani menatap dunianya sendiri.
" Mas Sholeh, ingat istri ya?" tanya Rahma, membuyarkan lamunan Sholeh.
" Ha, ah tidak. Em sedikit, " jawabnya kikuk.
Dito tersenyum, " Maaf ya, kita tidak akan lama di sini. Kasian kan dia" ucapnya menggoda.
" Ah iya, aku paham".
Sholeh menggeleng pada Dito, sikapnya yang kemarin masih sok benci pada Rahma, hari ini telah luntur oleh senyuman manis Rahma. Entah kemana hilangnya ucapannya yang katanya tidak kuat menghidupi Rahma. Ah sudah lah, Sholeh tak mau memikirkannya.
Terlihat Rahma juga asik terlarut dengan pembicaraan Dito yang sebenarnya sedikit tidak jelas dan tak banyak hanya rayuan gombal Dito. Tak heran jika Rahma terhibur dengan sikap gilanya, yang katanya mantan kekasihnya. Sholeh tak tau kapan itu terjadi.
Di sudut tawa Dito dan Rahma, Sholeh ikut menambahkan beberapa candaan ringan untuk menghibur Rahma. " Aku baru tau, jika ternyata kalian pernah dekat" ucap Sholeh tiba-tiba.
" Dulu, itu pun dia tidak mengakuinya ", kata Dito kemudian tertawa.
" Aku malu, di pacari orang gila seperti dia" jawab Rahma tertawa kecil.
" Hem, padahal saya juga sempat menunggu mu, pantas saja menolak ajakan menikah dari ku", goda Sholeh pada keduanya.
Rahma memandang Dito, berusaha mencari reaksi Dito. Tak menyangka Sholeh akan mengatakan hal ini di depan Dito secara langsung.
" Kenapa?" tanya Dito.
" Saat itu, kamu juga menolak ku"
" Iya, untung saja kamu tidak mau dengan Sholeh. Jadi masih ada kesempatan kedua untuk ku kali ini" jawab Dito enteng.
" Mas Sholeh tau?"
" Dito baru menceritakannya kemarin, dan kamu cukup pandai menyimpan rahasia rupanya. Sampai saya tidak mengetahuinya"
" Sudah lah, Rahma emang jodohku sepertinya. Buktinya kamu malah jatuh cinta dengan tetangga mu" ucap Dito ngawur.
Rahma tampak terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan memanggil Sholeh agar lebih dekat dari jangkauannya.
" Maaf ya mas, jika aku banyak menimbulkan kesalahpahaman sebelum kalian menikah, memang ada beberapa hal yang sengaja aku lakukan, berharap gadis kecil itu mau menyerah dan meninggalkan mu", suaranya sedikit bergetar, kejujuran yang bisa jadi semua orang tidak akan bisa mengungkapkannya .
" Yang telah berlalu, ya sudah. Mau di apakan lagi. Untung Sholeha itu tangguh tak mudah menyerah" jawab Sholeh seadanya.
Rahma tak lagi bisa menjawab, sebab ucapan Sholeh yang begitu terdengar sangat dingin meski tanpa amarah.
" Sampaikan maaf ku padanya, "
Sholeh mengangguk. Dia juga sedang tak karuan dengan rasa bersalahnya pada sang istri. Belum lagi sikapnya yang pergi tanpa pamit seperti tadi.
***
Bu Nur tak terburu-buru mengetuk pintu kamar Sholeh, mencari sang menantu. Karena Sholeha baru saja selesai mandi, jadi ia berdiri cukup lama di depan pintu, bu Nur merasa sungkan jika menerobos masuk meski tak sabar.
" Ada apa buk?"
" Mobil suami mu itu ndak ada, kamu benar ndak tau dia pergi kemana?"
" oh itu, mas Sholeh ada perlu bu", Sholeha tampak bingung harus menjawab apa.
Bu Nur merasakan jika Sholeha juga baru saja menyadari mobil suaminya tidak ada.
" Biasanya dia itu kalau perginya pakai mobil itu kalau ndak jauh ya lama"
Sholeha diam saja, tidak tau harus menjawab apa.
" Apa dia tidak pamit nduk?" bu Nur masih penasaran.
" Pamit bu, lewat telpon tadi." Sholeha mencoba tersenyum.
" Kamu itu bohong nduk, ibu tau kamu habis nangis tadi " kata bu Nur tiba-tiba.
***
__ADS_1