Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Ibu...


__ADS_3

Sholeh ikut terkejut melihat istrinya yang berderai air matanya, tersedu-sedu sampai tak bisa bicara. Di belakang Sholeha juga ada Ayu yang berlari kecil dengan wajah sedih pula. Sholeh berlari semakin mendekat kepada keduanya.


" Ada apa?"


" Mas, Ibu. " Sholeha tak kunjung menjawab, ia malah ambruk di pelukan suaminya.


" Ibu kenapa?" tanya Sholeh pada Ayu.


" Ibu terjatuh, Mas Rizal sedang membawanya ke Rumah sakit." Jawab Ayu sedikit terbata.


" Astagfirullah, kapan. Apa kita perlu menyusul?"


" Iya, kita susul Mas" rengek Sholeha dengan tangisnya.


Dengan tergesa Sholeh bersiap, mengambil kunci mobil begitu juga dengan Sholeha yang mengambil tas dan perlengkapan penting lain.


" Ayu dan kamu ikut Nduk?" tanya Ibu Nur.


" Iya Buk, semoga saja ndak lama. " Jawab Sholeha masih dengan sisa tangisnya.


" Ibu ingin ikut"


" Ibu di rumah saja, nanti kalau kami Ndak langsung pulang Sholeh telpon Bulek." Jawab Sholeh pada ibunya.


" Ya sudah, kalian hati-hati "


Tak butuh lama, Sholeh, istrinya dan juga Ayu pergi. Mereka benar-benar terburu-buru. Ibu Nur hanya mengusap dadanya yang berdebar begitu kencang, sesekali mengucapkan istighfar untuk menenangkan diri.


Tadi, Sholeha baru saja masuk ke kamar. Tak lama dari itu Ayu datang dengan tergopoh-gopoh menceritakan jika ibunya terjatuh di kamar mandi, dan tak sadarkan diri. Untung saja Rizal sedang ada di sana, hingga bisa di bawa ke rumah sakit secepatnya.


Bu Nur ikut cemas, dia pernah mengalami hal yang sama, khawatir seperti mereka. Ketika suaminya dulu tiba-tiba tak sadarkan diri, hingga tak lama meninggalkannya .


" Segera sembuh Fatma, kamu harus tau jika Sholeha akan segera melahirkan cucu kita, perpaduan wajah kita berdua" ucapnya lirih.


Berkali-kali ia merapal kan do'a agar sahabatnya bisa kembali sembuh dan sehat. Ibu Nur menenangkan dirinya, dia beranjak dari depan pintu.


***

__ADS_1


" Tenang Dek, jangan gelisah. Ibu baik-baik saja" Hibur Ayu pada adik iparnya yang tak bisa berhenti menangis.


" Mas belum kasih kabar Mbak?"


Ayu menggeleng, dia sendiri tak berani menghubungi suaminya terlebih dahulu.


Sholeh beberapa kali menekan klakson, meminta kendaraan lain agar mau menepi, ia sedikit tak sabaran ingin segera sampai. Dia tak tega melihat istrinya itu cemas dengan terus menangis.


"Leh, hati-hati. Pelan-pelan saja, kita juga harus selamat" ucap Ayu, ketika menyadari Sholeh terlalu terburu-buru.


Sholeh beristigfar mendengar kata-kata Ayu, seketia ia tersadar setidaknya ia sedang membawa dua bayi yang masih sangat muda dalam kandungan. Sholeh menarik nafasnya, mengurangi kecepatan dan berusaha lebih tenang.


Ayu juga berkali-kali melihat ponselnya, tak sabaran menunggu kabar dari suaminya. Mereka sampai saling terdiam tak satupun saling bicara, terutama Sholeha yang tak berkesudahan berdoa.


Tak lama, mereka sampai. Semua orang segera menemui di mana Rizal, begitu juga dengan Sholeh yang harus lebih waspada kepada kedua wanita hamil muda yang sedang di landa cemas dan gelisah, mereka pasti lupa jika sedang hamil. Langkahnya begitu lebar, apa lagi Sholeha yang tak mau berhenti berlari.


" Bagaimana Mas?"


" Alhamdulillah sudah di tangani, tetapi Ibu belum sadarkan diri"


" Astagfirullahhaladzim" ucap mereka kompak.


Para suami menarik istrinya satu persatu, menyandarkan kepala wanita rapuh itu di dadanya, saling menenangkan lewat kata-kata untuk sementara ini.


Jangan tanyakan bagaimana Sulaiman sekarang, Kakek dua cucu itu hanya diam saja tak tau harus bagaimana. Melihat kedua putrinya bersedih, dia hanya bisa memaklumi, dia sendiri sedang tak baik-baik saja, rasa gelisah dan cemas begitu kuat memenuhi hatinya.


Sulaiman berusaha mengingat, apa hanya karena terjatuh di kamar mandi saja atau ada hal lain yang mengakibatkan istinya itu tak sadarkan diri. Sudah hampir satu jam berada di rumah sakit, dokter belum memberikan penjelasan apa pun padanya.


Banyak hal buruk yang melintas di otaknya, rasa keterkejutan yang belum bisa hilang dari hatinya. Sebelum istirnya terjatuh mereka baru saja makan siang setelah sholat Dzuhur. Rasanya masih baik-baik saja, mengapa ia terbaring tak sadarkan diri di dalam sana.


" Pak, minum dulu. " Sholeh memberikan botol mineral pada Sulaiman.


Sulaiman menerimanya, ia juga duduk dan menyandarkan sejenak punggungnya.


" Fatih jaga adik sebentar ya, Mama juga tidak akan lama. Jangan nakal sama Nenek ya"


" Ya sudah, Mama tutup ya Nak"

__ADS_1


Suara Ayu menenangkan kedua putranya yang menangis di rumah. Ayu menyempatkan untuk menelfon sebentar. Ayu bahkan tak sempat berpamitan pada mereka tadi.


Semua orang ikut mendengar, tangis Al yang memilukan dan suara Fatih yang kebingungan, sungguh memilukan hati. Ditambah mereka yang sedang tak sabar menunggu kabar baik dari dokter.


" Kamu belum makan, makan roti ini ya" ucap Sholeh pada istrinya.


Sholeha menggeleng, bibirnya terkatup rapat. Tak berselera hanya sekedar berbicara.


" Sedikit saja, kamu harus sehat" ucapnya sangat pelan.


Sholeha menatap suaminya " Nanti ya Mas, aku belum lapar" jawabnya begitu pelan.


Sholeh menatap sendu istrinya, dia tak tega melihat keadaanya yang begitu memilukan. Jika mengingat tadi siang bagaimana ia dengan konyolnya mendiamkannya hanya karena masalah sepele. Sholeh mendekat, merangkul Sholeha .


Tak beda dengan Rizal yang juga tak diam saja, dia sibuk merayu istrinya agar mau mengisi perutnya, setidaknya air putih. " Mah, minum dulu. Takutnya kamu dehidrasi, " ucap Rizal pada Ayu.


" Iya Mas, Iya. Aku pasti ingat kok. Dah tenang ya kita fokus pada Ibu" jawab Ayu dengan tegas.


Ternyata ibu hamil ketiga itu cukup santai dan terlihat lebih sehat. Ia bahkan meminta suaminya itu untuk tetap tenang dan tidak berpikir berlebihan. Terutama saat ia bertanya tentang anak-anak.


" Mas, yang tenang. InsyaAllah Ibu baik-baik saja" ucap Ayu merangkul suaminya. Ketika Rizal berapa kali mendesah resah.


Tak lama dokter datang menjelaskan apa yang terjadi pada Ibu Nur. Dokter berbincang dengan Rizal dan Sulaiman lebih detail. Semua orang hanya bisa melihatnya sedikit lebih jauh dari mereka.


Sholeha menggenggam erat tangan suaminya, dia sangat takut, wajah cemas ayahnya semakin bertambah saat mendengarkan penjelasan dokter.


" Mas, Sholeha takut"


Sholeh hanya mengeratkan genggaman tangannya, menyalurkan rasa aman untuk istrinya. Dia sendiri setidaknya bisa menebak apa yang sedang terjadi, bukan ia berpikir buruk tetapi kejadian ini sama dengan yang di alami nya dulu.


Saat ayahnya tiba-tiba tak sadarkan diri, kemudian pergi. Semoga saja, masih ada kesempatan lain untuk ibu mertuanya.


Rizal dan Sulaiman mendekat pada mereka, " Kita harus menunggu, Ibu mu masih koma" jawab Sulaiman dengan lesu.


Sholeha semakin lemas, tak memiliki kekuatan lagi. Koma, apa itu, dia tidak menyukainya. Ibunya sangat sehat dan tak pernah terbaring sakit selama ini.


" Ibu......"

__ADS_1


Sholeha kembali menangis


***


__ADS_2