Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Kehujanan


__ADS_3

Sholeha berjalan sedikit dekat dengan Sholeh, mereka menyebrangi jalan yang tak seberapa luas itu dengan bersama tanpa bergandengan. Matahari yang masih bersembunyi di balik mendung yang mulai sangat menghitam itu tak terlihat lagi. Membuat Sholeha sedikit cemas takut kehujanan di jalan. Tiba-tiba ia menambah kecepatan langkahnya mendahului Sholeh, dia kemudian berhenti di hadapan Sholeh secara mendadak. Membuat Sholeh terkejut dan sedikit limbung hampir menubruk tubuh kecil di depannya.


" Kenapa ?" tanyanya pada Sholeha.


" Kunci, kita perlu menukar motor kan" Sholeha menyodorkan kunci pada Sholeh.


" Hem, kenapa buru-buru?"


" Takut kehujanan" jawab Sholeha dengan cepat menghampiri motornya.


Sholeh hanya diam, dan ikut mempercepat langkahnya tertular terburu-buru. Sholeha kembali menoleh Sholeh yang terlihat berjalan dengan santai, kemudian mendekatinya. Di ulurkan kantong bening berisi putu ayu yang di belinya tadi.


" Mas, bisa kasih ini ke Ibu?" ucapnya datar.


" Apa ini?" menerima dengan sedikit bingung.


" Putu ayu, udah ah yok pulang!" putus Sholeha cepat. Dia bersiap melajukan motornya, dan dia menengok Sholeh kembali, dia tersenyum.


" Makasih ya Mas" ucapnya kembali.


Sholeha buru-buru menghidupkan motornya, dia malu sendiri melihat tingkahnya yang tidak jelas di hadapan Sholeh. Dia hanya berniat membalas kebaikannya hari ini, dan sebenarnya ucapan terima kasihnya untuk kejujuran nya tadi. Meskipun ia tidak menemukan sedikitpun penjelasan dari pria itu.


Ah sudah lah....


Kali ini Sholeha tak sempat melamun di sepanjang perjalanan, dia ingin cepat sampai menghindari guyuran hujan yang terlihat tidak lama lagi akan turun.


Lagian kebiasaan melamun nya ini sangat tidak baik untuk keselamatan apa lagi sedang berkendara seperti ini. Bahkan kecepatan laju motornya pun sedikit ngebut, dia benar-benar terburu-buru.


Terburu-buru menghilang dari pandangan Sholeh, lebih tepatnya. Sepertinya hujan bergerak lebih cepat daripada laju motornya, baru separuh perjalanan menuju pulang hujan turun. Turun sangat deras dan menggelapkan pandangan seketika, Sholeha terpaksa melipir ke emperan ruko pinggir jalan.


Hufh.....


Nampak Sholeha berkali-kali mengerakkan kedua bibirnya menghalau rasa kesal dan dinginnya air hujan secara bersamaan.


Dia melirik ruko yang masih ramai pengunjung, karena memang hari ini masih di jam padatnya kegiatan di siang hari. Tidak lama, Sholeh juga berteduh.


Bajunya setengah basah, terlihat pula rambutnya sudah basah kuyup tak berbentuk lagi, bibirnya sedikit memutih kedinginan.


Sholeha sampai berpikir mengapa dia tidak berteduh sebelum basah seperti itu.


Dengan sedikit berteriak, Sholeha menyambutnya dengan pertanyaan yang ketus sedikit jengkel.


" Kenapa ndak neduh dari tadi, emang ngak ada tempat selain di sini, malah hujan-hujannan " ia mengulurkan tisu untuk Sholeh.


" Ngak papa biar barengan aja" Sholeh masih sedikit tersenyum.


" Gara-gara mampir dulu sih tadi" gerutu Sholeha pelan.


Banyak sekali cerita hari ini, Sholeha membatin. Ban kempes, makan bakso dan terakhir malah kehujanan di sini.


Sholeha memperhatikan laki-laki yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah terkena hujan. Rasa kesal yang menggulung hatinya tadi, kini muncul rasa aneh yang kemudian membuatnya terkejut, seperti tiba-tiba ada angin yang bertiup semilir menyentuh hatinya. Dia terpesona, meski hanya sedikit, dia bahkan sedang membayangkan aktor-aktor Korea dalam adegan yang sama persis dengan Sholeh saat ini. Sebelum terpergok oleh Sholeh, dia cepat-cepat menundukkan pandangannya. Astagfirullah......


Guyuran air hujan semakin berkurang, hanya tersisa rintik lembut yang tak begitu terasa jika membasahi tubuh. Sholeha memandang Sholeh, sekiranya apa dia akan mengajaknya pulang sekarang atau meninggalkan dia begitu saja.


" Masih mau di sini?"


" Pulang aja yuk" jawab Sholeha santai.


" Pelan-pelan aja, licin jalannya!"

__ADS_1


Sholeha tak begitu menggubris Sholeh, dia segera bersiap menembus rintik hujan yang tidak terlihat akan reda. Dengan berhati-hati ia melajukan motornya, dia takut terjatuh di depan Sholeh, akan sangat memalukan. kepalanya yang selalu saja menimbulkan prasangka buruk itu sedikit menyebalkan. Sholeha bahkan ingin memukul kepalanya yang berisik itu, apa sedikitpun tidak bisa berpikir baik kepada segala hal.


Rintik hujan itu tetap membuat bajunya basah, sampai di rumah Rizal dia segera mandi dan beristirahat. Niatnya akan pulang ke rumah saja, tetapi dia tidak akan bisa lagi menahan rasa dingin yang menembus tulangnya, di tambah dia yang juga sedang berhalangan, ah sudah terlanjur buruk keadaannya. Sholeha ingin segera tidur di sore hari nanti.


***


Berselimut tebal kali ini dia meminjam ranjang kamar Fatih lagi, dia sempat memohon pada ponakannya tadi, bocah yang sedang di manja itu sempat marah tidak memperbolehkan Sholeha tidur di kamarnya. Beruntung ada Ayu yang membantu menjelaskan pada Fatih dan dia sedikit mengalah, jangan lama-lama katanya tadi pada bibinya itu.


" Kamu ndak ada gejala demam toh Dek?" tanya Ayu memastikan.


Sholeha menggeleng, " Maaf ya Mbak lama tadi perginya" ucapnya kemudian.


" Yang penting kamu ndak demam tidak masalah Dek, Mbak nyesel ngerepotin kamu " Ayu meletakan teh manis hangat di meja belajar Fatih.


" Sholeha cuma capek Mbak, ndak akan demam kok, makasih ya teh nya" Sholeha tersenyum pada Ayu yang tampak cemas kepadanya. Tiba-tiba Sholeha teringat sesuatu, dan ingin sekali mencari tau dari iparnya itu.


" Mbak, Leha boleh nanya?"


Ayu tampak diam dan berpikir.


" Em..... pasti tentang Rahma ya Dek?" dengan sedikit ragu akhirnya Sholeha mengangguk.


Ia tidak ingin banyak bertanya dalam diam tanpa menemukan jawaban. Ayu membenarkan posisi duduknya sedikit lebih santai, dari cara adiknya bertanya dia tau jika akan menceritakan banyak hal kepadanya. Ayu terlihat berusaha memilih kata pertamanya dengan sangat hati-hati.


" Kamu boleh tanyakan apa saja tentang dia Dek, sebisa mungkin Mbak akan menjawabnya!" ucap Ayu kepada Sholeha.


" Ceritakan saja dari awal Mbak, biar ndak ada yang terlewat." Ayu melebarkan tawanya.


"Ok, kamu memang sudah sangat penasaran dari kemarin malam kan, dengarkan saja kalau begitu. Sejak dulu kita SMP, maksudnya Mbak, Sholeh dan juga Rahma itu teman sekelas, kebetulan sejak itu kita memang sangat dekat, sampai kita lulus SMA juga masih dekat tetapi Mbak kan ndak kuliah, sedangkan mereka sampai berkuliah bersama. Memang sejak dulu Sholeh sering mengatakan jika dia akan menikahi Rahma, tetapi yang Mbak lihat Rahma tidak menganggap Sholeh sungguhan, Mbak juga tau sifatnya Rahma yang sangat berambisi akan pendidikannya, Sholeh tidak akan bisa mengganggunya. Dan Mbak juga ndak tau kelanjutan hati mereka Dek, mungkin saja Sholeh sudah lupa, apa lagi dia sudah menerimamu, tapi jika kamu masih ragu kamu boleh tanyakan pada Sholeh langsung Dek!" Ayu menjeda ceritanya. Melihat reaksi Sholeha yang terlihat datar tak begitu terkejut.


" Dek, Sholeha?" panggil Ayu menyenggol lengan Sholeha.


" Kamu tanyakan saja pada Sholeh selebihnya ya!" Ayu merasa tidak enak hati jika harus melanjutkan lebih panjang lagi.


" Apa Sholeha sudah menggangu ya Mbak?ucap Sholeha dengan sangat pelan.


" Menggangu bagaimana, Sholeh sendiri yang menerima kamu Dek, lagi pula itu kan dulu" Ayu menenangkan Sholeha yang nampak ragu dengan posisinya sekarang ini.


"Ya sudah, kamu tiduran aja dulu!" Ayu kemudian meninggalkan Sholeha sendiri.


Di raihnya teh manis hangat yang cukup menarik perhatiannya saat ini, segera di seruput dan merasakan manis dan kehangatan untuk tubuhnya yang sedikit menggigil. Ia memejamkan sejenak matanya dia tiba-tiba teringat wajah Sholeh yang basah kuyup kehujanan tadi.


Segera di carinya nomor telepon Sholeh, dia ingin memastikan keadaan laki-laki itu.


Ketika iya akan menekan tombol hijau, dia memandang nama kontak yang begitu aneh baginya, seketika dia mencari cincin di jari manisnya kemudian dia tersenyum.


Sholeha mengubah nama kontak dengan cepat, agar tak begitu aneh saat di lihat.


Mas Hamdan


Segera ia melakukan panggilan.


Berapa saat melewati deringan terdengar suara Sholeh di seberang telepon dengan lembut dan menenangkan. Sepertinya Sholeha cukup lebay menanggapinya. hehehe


" Assalamualaikum,


"Waalaikumsalam, Mas sudah sampe rumah kan? " pertanyaan basi, tentu saja sudah dari tadi Sholeha, kamu tidak cukup pandai beralasan.


" Sudah, kenapa?" jawabnya pelan.

__ADS_1


" Oh itu, em - , ndak flu kan?"


" Ah tidak kok, tapi sepertinya belum" Sholeh bahkan sempat tertawa pelan, dan kemudian dia bersin.


" Tuh langsung kena kan" jawab Sholeha ketus. Sholeh bahkan menambah tawanya semakin keras.


"Besok juga sembuh, Sholeha sehat?" tanya Sholeh kemudian.


" Sehat, aku sehat kok" jawab ia buru-buru.


" Tumben telpon saya, ?"Sholeh meledeknya terang-terangan.


Terkejut dengan pertanyaan Sholeh, Sholeha mulai kebingungan sendiri akan menjawab apa.


" Em anu ah ya udah mas istirahat aja" suara Sholeha semakin terbenam kegugupan, dia sengaja menjauhkan ponselnya agak jauh dari telinganya.


Tidak lama kemudian dia mengucapkan salam dan menutup telponnya. Ya sesingkat itu.


Sholeha yang pernah pacaran sampai satu tahun lamanya dengan Arman tidak pernah bertingkah se-konyol ini. Bahkan dia tidak sampai tergagap seperti itu pada Arman dulu, sungguh Sholeh emang sangat mendominasi dan mengubah sikap Sholeha menjadi lucu dan banyak tingkah.


" Semoga saja tidak demam" ucapnya berharap.


Tebalnya selimut Fatih yang begitu lembut mampu membungkus tubuh Sholeha yang begitu kecil dan ramping, dia meringkuk memeluk tangannya dengan nyaman, meski sempat bersin beberapa kali dia yakin tidak akan demam hari ini.


Sholeha terpejam dengan sendirinya, wajahnya yang begitu kaku seharian ini, terlihat rileks dan sangat nyaman. Tidak sedikitpun menyisakan guratan kekecewaan dan kegalauan seperti kemarin, dia tampak berseri untuk mengakhiri panjangnya hari yang melelahkan ini.


Sayup-sayup suara banyak orang ngobrol di luaran kamar Fatih, Sholeha mengerjap kan matanya pelan, belum dia terbangun sempurna berkali-kali ia bersin. Di pegang kening dan lehernya terasa hangat, Sholeha bergumam sangat pelan pada dirinya sendiri." Yah demam deh" ia melirik jam yang tergantung di atas pintu, jarumnya mengarah pada angka 5 sempurna tidak bergeser sedikit pun dari sana, Sholeha memijit pelipisnya yang terasa pening. Sholeha mengaduh, dia tau terlalu lama tidur, membuatnya jadi seperti ini.


Sholeha kembali berbaring, semoga saja setelah beberapa menit semua rasa pening di kepalanya sedikit berkurang.


Dengan berusaha agar tidak tertidur lagi, Sholeha memijit pelan kepalanya, dengan sangat lesu ia memaksa bangkit dari kasur, dia akan pulang saja, sebelum benar-benar ambruk disini, tidak nyaman berada di sini, merepotkan saja pikir Sholeha.


" Ibu mana ya Mbak?" Sholeha bertanya pada Ayu setelah ia keluar dari kamar.


Ada banyak orang berkerumun hendak bersibuk ria, padahal acaranya masih besok malam, sebagian besar masih kerabat Ayu dan tetangga mereka datang dan berkumpul di sini.


" Oh ada Dek, di depan sama Al! " jawab Ayu yang sebelumnya celingukan mencari keberadaan mertuanya.


Sholeha berjalan menghampiri ibunya, ia bermaksud ingin berpamitan pulang.


"Bu, Sholeha pulang saja ya"


Bu Fatma menoleh putrinya uang berada di sampingnya.


" Ya sudah, bareng Bapak mu Nduk, dia juga mau pulang!" dia segera keluar mencari suaminya.


Sholeha menyusul ibunya, dia tidak ingin berlama-lama berdiri di sana. Di lihatnya Bapaknya sedang menuju motor dan bergegas ia menyusulnya. Setelah berpamitan dengan ibu Sholeha pulang bersama bapaknya. Kali ini tidak lagi ada hujan, hanya ada sisa-sisa rintik yang menjadi genangan di berbagi tanah yang berlubang, hujan kali ini benar-benar membuatnya harus minum obat dan beristirahat, padahal Sholeha juga sering hujan-hujannan ketika pulang bekerja, biasanya tidak sampai demam seperti ini, ia mengeratkan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri, sangat dingin dan panas menyerangnya secara bersamaan.


*****


Membelah tetes hujan bersama mu


Menambah kenangan indah dalam


Sepanjang hidup yang singkat ini.


Aku tau ini hal biasa, namun tetap saja


Terima kasih telah bersedia di sisi ku saat

__ADS_1


ini.


__ADS_2