Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Dia lagi


__ADS_3

Ranjang luas bagi Fatih, malam ini menjadi sempit. Sholeha bersikeras meminta suaminya itu tidur di ranjang Al sebelahnya namun di menolak. Sholeha tak ingin Al tidur sendiri, dari dulu jika menginap Al pasti akan tidur bersamanya. Ada rasa tak tega melihat Al tertidur sendiri.


Dan terjadilah si jangkung yang mending sedikit tersiksa daripada tidur sendiri.


" Mas ih, kalo ndak nyaman pindah aja", kata Sholeha saat merasakan Sholeh yang terus bergerak mencari posisi ternyaman.


" Udah gini aja, malah enak kok", jawabnya santai.


Dia tidur di samping Sholeha dengan memeluk erat Sholeha dari belakang. Sedikit sempit tapi tak mengapa, dia enggan menggangu Al yang sedang memeluk dinding.


" Padahal bentar lagi pagi, masih ndak mau tidur sendiri," gerutu Sholeha, suaranya tertahan merasakan tangan besar melilit perut kecilnya.


" Kalau pagi dingin sayang, enek peluk kamu kayak gini. " bisik nya setengah bergumam.


" Alasan", Sholeha tersenyum, menikmati dekapan hangat di ujung malam.


Setengah malam yang mereka habiskan di penginapan dadakan ini tak mengubah rasa nyaman sang pengantin baru, keduanya sangat menikmati kedekatan yang baru saja mereka mulai.


***


Setelah berdiskusi dengan Ayu akhirnya Sholeha memutuskan untuk mengajak Al ke rumah Sholeh. Tentu saja karena Sholeha harus bekerja hari ini.


Sholeh dan Al sudah berpindah tempat di pelataran rumah, bersiap mengantar Sholeha pergi bekerja. Karena tipuan Sholeh yang begitu meyakinkan si kecil, Al tak mencari dimana kedua orang tua dan kakak nya berada.


" Al mau kemana, kok ganteng?" tanya Sholeha, saat akan menaiki motor kesayangan.


" Antar Bibi", teriaknya gembira.


" Kita berangkat sekarang, ada yang tertinggal ndak yang?" tanya Sholeh.


" Tidak ada, " ia tersenyum. Karena ujung kalimat Sholeh yang cukup mesra.


" Yok berangkat" ajak nya bersemangat.


Kencan mesra pengantin baru, baru saja di mulai. Menelusuri jalanan yang sedikit berkelok dan sapaan embun pagi yang mulai mengering. Sepasang kekasih halal itu berpeluk mesra penuh tawa.


Ah siapa pun akan iri melihatnya.


Sosok lucu Al juga tak berhenti berceloteh menikmati perjalanan singkatnya yang tak biasa. Sholeha berpesan pada Sholeh agar menjaganya sebentar, sekitar tiga jam Sholeha akan kembali secepatnya.


***


" Hai pengantin baru," Sapa Irma, dia tampak gembira.


" MasyaAllah.... Seneng nya sahabat ku. Ada apa?"


" Ada kamu, ketularan aja bahagianya", Irma tertawa.


" Emang kelihatan ya?" tanya Sholeha serius.


" Iya lah, sampai ke sini nih, nular nya," dia menunjuk ujung pipinya sambil tersenyum lebar.


" Gimana rasanya, asik ndak?" tanya Irma tiba-tiba saja berbisik.


" Apa nya?"


" Halah, itu loh Leha. Ah masa ndak paham?"


" Kenapa, mau di saamain lagi?"


" Yo ndak, ini kan cerita kenyataan kalau kamu cerita", dia mesem.


" Apaan toh Ir, enak lah ada yang peluk pas kita tidur", jawab Sholeha tersipu malu.


" Yakin baru peluk aja?".


" Ya ada yang lain, tapi sedikit",


" Hah, kok ada yang sedikit",


" Ya ada, kita baru nyicil",


Irma semakin tertawa heran dengan semua jawaban Sholeha, merasa tidak enak jika harus bertanya lebih banyak, ia mengakhiri rasa penasaran itu.


" Ya udah terserah deh, mau nyicil atau gimana. Yang penting kamu makin cinta sama suami mu itu", Irma menyudahi pembicaraan di pagi yang cerah itu.


Sholeha juga menceritakan jika Fatih sedang di rawat, dan masalah pekerjaan yang belum sempat ia rundingan dengan suaminya.


Keduanya hilir mudik mengerjakan tugasnya seperti biasa, sesekali Sholeha juga menceritakan jika kedepannya Sholeha akan tinggal bersama Sholeh.


Sembari membereskan kelas dan berulang kali memeriksa banyak hal Sholeha menyempatkan memastikan Al baik-baik saja bersama Sholeh di rumah.


Setengah sembilan tadi Ayu mengabarkan jika Fatih sudah boleh pulang. Sholeha merasa lega, dia tak terburu-buru menyelesaikan pekerjaan nya.

__ADS_1


***


Tak lama pulang dari klinik, Ayu menjemput Al di rumah Sholeh. Al bahkan tak menyadari jika Ayu sedang menjemputnya pulang.


" Kata Om Sholeh, mamah pergi belanja. Kok sudah pulang?" Al sempat menolak di jemput pulang.


" Iya, belanjanya sedikit nak. Yok pulang kak Fatih nungguin Al loh",


" Mau ikut jemput Bibi Mah, Om Sholeh sudah janji ",


Dia bahkan merengek tak mau pulang.


Ayu sedikit kebingungan, " Ayok dong nak,".


" Biar lah yu, aku yang akan mengantar dia pulang nanti. Dia ndak rewel kok" kata Sholeh, yang tak tega melihat Al.


" Maaf ya Leh, ganggu banget si Al", ucap Ayu tak enak hati.


" Tidak yu, santai aja. Gimana Fatih?"


" Syukurlah, Sholeha sangat khawatir tadi malam. Sampai ndak bisa tidur dia",


Ayu tersenyum." Dia emang sayang sama keponakan nya Leh, kadang aku yang ibu kandungnya saja ndak gitu",


Karena Al yang benar-benar tidak ingin pulang bersama Ayu, dia kini sedang merengek minta menjemput Sholeha, padahal masih satu jam lagi Sholeha baru bisa pulang.


Al tak lagi diam seperti tadi pagi dengan mainannya, dia sibuk melakukan panggilan vidio bersama Sholeha. Banyak sekali yang ia keluhkan pada bibinya itu, termasuk tidak mau pulang jika bibinya tidak mengantar. Keluhan manja Al tetap di ladeni Sholeha dengan tawa dan anggukan berkali-kali. Sholeh bahkan sampai ketagihan mendengar suaranya saat berbincang kecil Al, terdengar sederhana namun menyenangkan.


" Setengah jam lagi Al, bibi akan telpon lagi jika sudah boleh pulang. Ayo dong kasih om hp nya", bujuk Sholeha pelan.


" Setengah jam lagi itu lama, Al ndak suka nunggu bi. Sekarang aja ya ", dia masih saja merayu.


Sholeh terkekeh, melihat Al yang seolah tak sabaran lagi. Dia mencoba menampakan wajahnya di layar ponsel.


" Ya sudah, Al Mas ajak muter-muter saja dulu. Nanti kamu telpon saja jika sudah waktunya di jemput", ucapnya Sholeh memberi solusi.


" Ya sudah, terserah Mas aja."


" Ok. Sudah dulu ya, " Sholeh hendak mematikan panggilan video nya.


" Ya sudah bibi, dadah," tambah Al ikut berpamitan.


***


Sholeha menggeleng sembari tersenyum, melihat Al yang tak berubah manjanya pada Sholeh, tak di sangka dia akan menuruti semua kemauan anak manis itu. Sholeha tidak akan bisa mengecewakan Al yang begitu dekat dengan nya sejak kecil dan ternyata Sholeh juga melakukan hal yang sama. Em dia memang istimewa.


" Sholeha, kamu ini yah. Menikahi Sholeh saja cukup, tapi mengapa kamu menyakiti ponakan saya dengan menyuruhnya bunuh diri", ucapnya dengan penuh amarah.


Sholeha terkejut bukan main, apa yang sedang di bicarakan dengan wanita di hadapannya ini.


" Apa maksud Bu Risma?" tanya Sholeha kebingungan.


" Rahma hampir mati di tengah jalan, kamu tau dia itu sedang sangat terluka dengan suami mu yang hanya memberikan harapan palsu. Mereka sudah bersama sejak lama, tetapi tiba-tiba menikah dengan mu, pikirkan mana ada wanita yang biasa-biasa saja mengalami seperti itu?"


Sholeha mengepal kan tangannya, dia geram sendiri pada wanita yang sok tau dan bicara semaunya ini padanya. Apa hubungan musibah dengan dirinya.


" Maaf, ibu. Saya tidak pernah melakukan apa pun, apa lagi dengan semua tuduhan ibu pada ku, sangat tidak masuk akal", jawabnya dengan tenang menahan emosinya.


Bu Risma tetap berkecak pinggang menegaskan sikapnya yang seolah benar.


" Kamu itu wanita jahat Sholeha. Memutuskan pacar mu yang miskin dan merebut Sholeh dari Rahma keponakan ku. Setidaknya hargai mereka dengan alasan hubungan yang sudah begitu lama",


Bu Risma melewati batas, dia terlalu lugas mengadopsi kata-kata buruk pemeran jahat dalam sebuah drama, tatapan nya begitu tajam, seolah semua yang di ucapkan adalah kebenaran yang harus di dengar dan dilihat oleh banyak orang.


" Bu, jangan sebut semua masalah hidupku dari sisi cerita terburuk mu. Saya ini tidak sedikit pun merasa melakukan kesalahan, ini pilihan terbaik saya, jangan sangkut pautkan semua dengan musibah yang sedang ibu jalani", Sholeha tampak menahan nafas nya semakin memburu.


Keributan serius itu menimbulkan sedikit kebisingan, hingga beberapa guru juga ikut mendengar dan menyaksikan adu mulut itu secara langsung.


" Ada apa ini?", tanya Irma mencoba melerai pertikaian.


Sholeha berpaling dari wajah bu Risma. Menatap Irma yang baru saja datang, ia menurunkan pandang mata nyalang nya yang sempat terlihat.


" Sifat buruk, yang tak sengaja terungkap mungkin kah kau tak malu ?" pertanyaan memancing dari bu Risma.


" Sudah lah, biarkan saja dia mengamuk tak jelas", imbuh Sholeha pada Irma yang nampak penasaran.


Bu Risma masih terlihat emosi itu mengundang banyak tanya Irma, dia bahkan mendekati bu Risma.


" Buk, jika ada musibah jangan salah kan orang lain dong, bukan nya segera bergegas menjenguk, malah sibuk menyalahkan orang lain", Irma kesal, dan ternyata dia mendengar sebagian keributan tadi.


Tak perduli dengan apa yang di katakan Irma bu Risma meninggalkan Sholeha dengan begitu ketus.


Sholeha menarik nafas, mencoba menghirup udara segar setelah bu Risma pergi. " Sudah lah Ir, jangan berlebihan", ucap Sholeha ketika melihat Irma hendak mengejar bu Irma yang membuatnya emosi.

__ADS_1


" Kayak pemain film deh dramatisnya, suka nyalahin orang tanpa sebab, awas loh bu, kena azab", omelnya tak terima.


Sholeha tersenyum melihat tingkah temannya yang terlalu energik seperti pendukung bola di tribun. Meneruskan pekerjaan nya, Sholeha teringat Rahma yang katanya kecelakaan. Dia hanya berdoa semoga Rahma baik-baik saja.


***


Sholeha mulai berkemas, lima menit lagi tiba waktunya pulang. Dia terheran melihat ponselnya berbunyi beberapa kali. Saat di periksa, Sholeh menelponnya.


" Iya mas, bentar lagi nih",


" Oh, ini Mas sudah di depan sekolah",


Sholeha tersenyum, " iya, bentar lagi...." jawab nya sangat lembut.


Di seberang telepon hanya terkekeh, tak lagi menyahuti suara aneh yang menyapa telinganya.


Pulang kerja kali ini, sangat berbeda. Di jemput sang suami dan keponakan lucu membuat Sholeha sangat riang. Seketika masalah yang baru saja menimpa teralihkan sesaat.


Langkah kecil itu terus berayun mendekat pada pujaan hati, saat mulai mendekat hatinya menghangat. Sholeha mengulurkan tangan, mencium punggung tangan sang suami dengan sayang. Ah rasanya, sangat bahagia.


" Sudah lama nunggu nya?" tanya Sholeha.


" Tidak, sekitar tiga menit",


" Kita pulang, pengen jenguk Fatih mas. Em, sekalian aja langsung dari sini",


" Boleh, ya udah yok yang !" Sholeh tersenyum melihat Sholeha tersipu.


Sholeh tersenyum sangat lebar tanpa suara, ketika merasakan tangan sang istrinya yang melingkar erat di pinggangnya. Rupa-rupa nya istrinya ini sudah tak malu melakukan hal indah seperti ini. Sholeh semakin bersemangat kala Sholeha semakin dekat menyandarkan tubuh pada punggungnya.


Setengah perjalanan, Sholeha tiba-tiba meminta sang suami berhenti. Di sebuah toko buah segar pinggir jalan. Istrinya itu tampak cekatan memilih buah, dan sesekali tersenyum pada ibu penjual.


" Mas, sini !" Sholeha memanggil .


Sholeh turun bersama Al dari montornya, menghampiri Sholeha.


" Owalah, ini toh suami nak Sholeha", ucap ibu itu .


" Iya, Buk. " Sholeh tersenyum.


" Nak Sholeh kan, yang punya toko bangunan. Ibu tau kok, tapi belum kenal", jawabnya dengan ramah.


" Iya, Buk", Sholeh mengangguk.


" Dah, jadi ini aja belinya?" tanya nya sambil menimbang satu kilo jeruk dan satu buah semangka.


" Iya buk, lain kali mampir lagi", jawab Sholeha.


" Iya, seperti biasanya kan. Nak, istrimu ini doyan jeruk, katanya sekilo bisa di habiskan sendiri", kata ibu itu, dengan tertawa.


" Ah ibu bisa aja, kan jarang belinya. Satu minggu baru habis Bu", Sholeha tersenyum.


" Iya ibu guyon. Semoga langgeng ya le, nduk. Bahagia sampai tua, kalau lagi berantem jangan sibuk pengen pisah, sendiri-sendiri setelah bersama itu lebih sulit, tidak akan seperti dulu sebelum menikah. Dah pokoknya meskipun lagi marahan ya tetep bareng ya le, nduk ",


" Iya buk, insyaallah..." Jawab Sholeh dengan yakin.


Keduanya saling menatap, meresapi nasihat dari orang baik yang begitu sudi memberi mereka wejangan. Hati Sholeha menghangat, seperti ada lentera yang menyala dalam dasaran hati yang begitu gelap dan sempat menumpuk benci pada bu Risma tadi.


Setelah membayar mereka bersiap melanjutkan perjalanan. Di bawah mentari yang bertambah terik, Sholeh melajukan motor itu dengan kecepatan sedikit tinggi, agar segera sampai. Begitu juga dengan pegangan yang semakin erat di pinggangnya, tak kalah juga tangan mungil Al yang mencengkeram kuat di perutnya.


Motor berhenti di depan rumah Rizal, Sholeha bergegas menemui Fatih. Dia bahkan meninggalkan Al yang di biarkan dengan Sholeh.


" Mbak, mana Fatih?" tanya Sholeha ketika baru saja masuk.


" Di kamar, habis minum obat dia",


Sholeha mencari Fatih, dia tak sabar ingin melihat wajah keponakannya itu. Memastikan Fatih dengan seksama, kira nya ada yang berubah tidak, atau sedang merasa kesakitan keponakan nya itu. Ia bernafas lega, mendapati Fatih sedang istirahat dengan tenang di atas ranjangnya.


Sholeh dan Ayu tersenyum melihat tingkah posesifnya Sholeha pada Fatih, mereka kompak menggeleng kepala heran.


Tiba-tiba Rizal datang dengan tergesa, merebut perhatian dengan berita yang di bawanya. " Leh, Rahma kecelakaan",


Semua orang berpaling dari Sholeha, mencari keberadaan Rizal untuk memastikan kata-kata nya.


" Dimana, kata siapa?" Sholeh tak percaya.


Wajahnya menegang seketika, dia terpaku pada Rizal di hadapannya.


" Kata Agus, kurang tau kapan dan di mananya." jawab Rizal dengan singkat.


" Sekitar satu jam yang lalu, saat dia baru saja sampai di kota", Sholeha menambahkan dengan tenang.


Semua orang memandang Sholeha tak percaya, terutama Sholeh yang seolah tak percaya dengan kata-kata sang istri.

__ADS_1


" Kamu tau sejak tadi ?" tanya Sholeh dengan datar pada sang istri,


***


__ADS_2