Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Saling Terjaga


__ADS_3

Sholeh tersenyum menatap istrinya yang semakin membaik hatinya, dia juga tak terlihat murung atau menangis lagi. Tentu saja ia sangat bersyukur, mungkin karena ia semakin menyadari dan mengiklaskan semuanya. Mungkin juga karena kehamilannya, apa pun itu Sholeh sangat bersyukur.


Tujuh hari sudah kepergian ibu Fatma, selama itu juga Sholeha dan suaminya tetap di sana, menemani ayahnya yang masih terlihat sedikit murung. Sholeh memaklumi dan menemani istrinya disana. Jika Sholeh selesai dengan pekerjaannya di menyempatkan menemani ibunya. Saat malam ia menginap di rumah mertuanya, dia juga kembali meminta buleknya menemani sang ibu jika ia bisa.


Saat ini Sholeh tengah menemani istrinya makan, sejak tadi dia hanya memandangi Sholeha. Dia menikmati semangkuk soto yang baru saja di beli Sholeh, di tengah rintik hujan. Sholeha selalu saja menggerutu jika tak ada soto. Katanya, soto itu seger bisa menambah selera makan.


" Mas, ini lupa ndak ada bawang gorengnya ya ?" kata Sholeha tiba-tiba.


Sholeh terkesiap, ia segera memeriksa bungkusan soto tadi. " Lupa kayaknya, kenapa ndak enak ya ?"


Sholeh berdecak sebal, " Kurang enak lah Mas, tapi ya sudah ndak apa-apa" ucap Sholeha meneruskan makan.


Sholeh sedikit merasa bersalah, dia juga lupa memeriksa tadi. " Mas minta sama Mbok yang jual mau ?" tanya Sholeh, ia tak tega melihat istirnya yang sedikit lesu.


Sholeha menggeleng, dia tak mengatakan apa pun pada suaminya. Tidak mungkin jika harus meminta suaminya kembali dan meminta bawang goreng, tempatnya lumayan jauh dari sini. Belum lagi sekarang sudah malam.


" Maaf ya, Mas ndak teliti " ucap Sholeh, dia juga menyentuh pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Sholeha hanya tersenyum, merasa tidak perlu mempermasalahkan hal ini. Sesekali ia menyuapi suaminya, tetapi calon bapak dari anaknya itu selalu menggeleng katanya tidak suka soto.


Selama tujuh hari di rumah mertuanya, Sholeh rutin membelikan soto mbok Jum. Warung yang jauh di dekat pengkolan ke arah rumah ini, entah mengapa Sholeh jadi bosan dan mendadak tak menyukai soto.


" Yang, cuti kerja kamu mau di tambah atau berhenti saja ?" tanya Sholeh.


Sholeha menatap suaminya, kemudian menghabiskan sesendok suapan terakhirnya, dia juga minum terlebih dahulu. " Leha kerja aja ya Mas, di rumah terus bosan. Bentar lagi selesai kok, Leha janji berhenti kerja setelah itu, boleh ya " katanya dengan sangat pelan.

__ADS_1


Sholeh menghela nafas, selain sudah menebak jawaban sang istri, dia juga sedikit kesal karena Sholeha ngeyel. Tentu saja dia hanya mengkhawatirkan dirinya, tetapi tetap saja kekeh bekerja.


" Kamu yakin bisa, Mas akan sibuk bulan ini. Kemungkinan tak bisa jemput kamu pulang, " Sholeh berdecak, kemudian dengan cepat berkata , " Sudahlah Yang, kamu di rumah saja. Terserah kamu mau di sini atau di tempat Ibu. "


" Mas, Leha bisa pulang kesini, biar Irma yang mengantarku. Nanti Mas jemputnya ke sini. Lagian Leha pulang kerja masih sangat pagi, bisa beresin rumah dan masak buat Bapak. " Ucap Sholeha dengan tenang.


Sholeh tampak diam saja, tak menyangka jika rasa kesal karena khawatir ini begitu menyebalkan. Dia tidak bisa menemani Sholeha dari dekat, apa lagi ia harus bolak-balik kota setiap Minggunya.


" Sudah ya Mas, besok lagi kita bahas ini, aku ngantuk banget. Tidur aja yok" ajak Sholeha, dia beranjak dan menarik lengan suaminya dengan mesra.


Sholeh tak bisa meneruskan pembicaraan ini, sejak istrinya mengandung, ia tak tega harus berpendapat keras kepadanya. Hal-hal seperti ini juga yang membuatnya banyak menahan pendapatnya.


Keduanya masuk ke kamar, dengan Sholeh yang masih tak tenang hatinya. Sholeha mematikan lampu, bersiap tidur seperti apa yang di katakan tadi.


" Yang, ...."


Lagi-lagi Sholeh menghela nafas, sedikit pun Sholeha tak memberikan kesempatan untuk menyampaikan apa yang sedang di pikirkan nya saat ini. Tangannya mengusap punggung Sholeha dengan lembut, seperti yang selama ini ia lakukan.


Dalam dekapan sang suami, Sholeha mudah sekali terlelap. Biasanya begitu juga dengan Sholeh, dia akan tertular istrinya tidur dengan cepat. Entah mengapa malam ini Sholeh sangat gelisah, ada banyak hal yang harus ia pikirkan, yang juga harus di bagi. Tetapi, Sholeha tak mengerti.


Dalam gelap kamar itu, mata Sholeh masih terjaga. Dengan mengusap punggung istrinya yang terasa berisi, berat badannya juga bertambah akhir-akhir ini. Sholeh jelas bisa merasa perubahannya.


Satu masalah Sholeha yang tak ingin berhenti bekerja, masalah di mana seharusnya mereka tinggal, masalah bagaimana cara mengingatkan istrinya jika dia juga harus menemani ibunya.


Sholeh sangat pusing, jika di lihat dari wajahnya, istrinya itu seperti tak ingin lagi tinggal bersama ibunya, di rumahnya. Bukan merasa tak rela, tetapi Sholeh bingung dengan situasi seperti ini.

__ADS_1


Sejak ibu mertuanya meninggal, istrinya ini belum sekali pun pulang ke rumah, meski sekedar menjenguk ibunya. Ibunya juga bisa memaklumi, tetapi Sholeh tak sampai hati membiarkannya sendiri.


Sedangkan Sholeha juga pasti sangat tak bisa meninggalkan bapaknya sendiri. Terlebih sikapnya kini lebih posesif padanya, seolah tak ingin terjadi seperti ibunya lagi. Sholeh mengerti, tetapi dia juga harus bisa membagi peran ini.


Sholeh mengecup pucuk kepala Sholeha, dia sangat ingin merundingkan semua hal ini, tetapi Sholeha seolah menutup diri.


Sholeh berniat bangun, ingin duduk sebentar saja, rasanya sangat tak nyaman karena tak bisa tidur. Baru saja akan menurunkan tangan istrinya, dia malah terkunci dengan kaki Sholeha yang erat mengapitnya.


Bibir Sholeh sedikit terangkat, betapa sedang bingungnya ia mengapa istrinya ini bisa menghiburnya dengan tingkah kecilnya. Dalam gelap, Sholeh mengandalkan rasa menatap wajah Sholeha. Berharap dia selalu baik-baik saja.


Sholeh mengurungkan niatnya, terpaksa mendekap istinya, hembusan nafasnya sudah sangat terasa di dada Sholeh. Rasa-rasanya ia tak bisa lagi mencoba beranjak dari sana, berharap rasa kantuk segera hinggap di matanya, dan tidur secepatnya.


Betapa Sholeha tau jika suaminya tak bisa tidur, sejak tadi ia belum mendengar suara dengguran seperti biasanya. Dalam dekapan eratnya, Sholeha tetap terjaga meski terpejam. Dengan sabar mendengar detak jantung suaminya, Sholeha yakin dalam pikiran dan hatinya sedang bercengkerama.


Jika menahannya agar tetap di pelukannya bisa membuatnya tertidur, maka Sholeha akan melakukannya.


" Mas, istirahat lah sebentar. Besok kita bisa bicarakan lagi." ucapnya dalam hati.


Telah berbagi cinta dan segala rasa bersama, Sholeha sangat memahami suaminya hanya lewat sorot matanya. Dia tau sikapnya sedang membuat suaminya pusing banyak pikiran, tetapi ia tak bisa memutuskan dalam waktu dekat ini.


Sholeh tertidur, sedangkan Sholeha membuka matanya kembali dalam dekapan sang suami. Mengecup bibir suaminya dengan lembut, menyalurkan kata maaf yang belum terucap darinya.


Seperti ini kah dua hati yang saling berbicara, meski tak saling berkomunikasi. Rasa cinta yang saling mengikat di keduanya, menjadi saksi untuk saling mengerti.


Sholeha tertidur, setelah merasa tenang telah mengecup bibir kesukaannya, seolah cinta telah membantunya menyampaikan kata maafnya.

__ADS_1


***


__ADS_2