Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Hampir Dua Bulan


__ADS_3

Sholeha sudah selesai membuat sarapan, ia kembali ke kamar. Setelah sholat subuh tadi suaminya itu kembali terbenam dalam selimutnya, dia bahkan tak terlihat sedikitpun benar-benar sempurna tertutup, seolah tak mau terganggu tidur nya.


Sholeha mencuci tangannya sekali lagi, dia juga sangat ingin tiduran seperti Sholeh. Dengan sangat pelan, ia menaiki ranjang segera masuk ke dalam selimut. Memeluk Sholeh dari belakang dengan erat.


Pergerakan Sholeha di sambut hangat oleh sang empu, Sholeh berbalik menghadap sang istri. " Jam berapa ini ?" gumamnya matanya masih terpejam.


" Masih setengah tujuh, kenapa ?" ujar Sholeha berbisik dalam dekapan.


Sholeh membuka mata, menyingkirkan selimut di bagian wajahnya, " Kamu libur hari ini ?" ucapnya pada Sholeha yang bertambah nyaman mendekap suaminya.


" Aku males kerja, kangen banget sama Mas " ucapnya begitu manja mirip terdengar merengek.


Tanpa mengatakan apa pun, Sholeh melanjutkan dekapan hangatnya untuk sang istri. Setelah banyak drama sepanjang malam kemarin, rasa rindunya seolah belum terobati.


" Mas, semalam Mas kemana ? Tengah malam baru pulang." Ucap Sholeha setelah beberapa saat saling diam.


Tak langsung memberikan jawaban, Sholeh malah asik memainkan hidung istrinya dengan jarinya. " Ada kerjaan, kamu pikir Mas kemana ?"


Sholeha menggeleng. Ia sedikit mendongak menatap wajah suaminya, ada banyak hal yang ingin sekali ia katakan, tetapi Sholeha berusaha menahannya. " Kita sarapan, atau lanjut tidur aja ?" Kata nya, setelah mengecup bibir suaminya singkat.


" Yang, kamu nakal ya " Sholeh tak terima.


Sholeha tertawa, bukan bermaksud menggoda, ia hanya ingin menyambutnya dengan sesuatu hal yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini.


" Aku serius, kok malah jawab aku nakal " Sholeha terkikik geli di dada suaminya, dia tak menyangka jika Sholeh bereaksi seperti itu.


" Yang, jadi gimana soal kita. Kamu tetap mau tinggal sama Bapak, atau ,-


" Sama Mas, dan Ibu " Sahut Sholeha cepat.


Sholeh menaikan kepalanya, menyanggah dengan sebelah tangan. Mencari wajah Sholeha yang tampak serius. " Bapak ?"


" Kita nginap di sana, jika ada waktu. Sholeha juga mau berhenti dari pekerjaan itu kalau Mas masih keberatan "


Sholeh tak langsung mengiyakan, dia berusaha memastikan perkataan istrinya terlebih dahulu. Sekiranya ia hanya terpaksa Sholeh bisa mengetahui dari sorot matanya. Apa lagi sebelumnya, ia sangat kekeh ingin tetap bekerja.


" Kita bahas lain kali, Mas ndak memaksa. Hanya saja, Mas khawatir apa lagi ini adalah kehamilan pertama, kata Ibu harus banyak di wanti-wanti. Ini cinta kita, jangan sampai terlewat " Ujar Sholeh mengusap perut istrinya.


Plak...

__ADS_1


Sholeha memukul punggung tangan suaminya.


" Mas ih, sembarangan kalo ngomong. Terlewat bagaimana, ya ndak lah. Sholeha bisa rasakan setiap saat Mas "


" Maaf, " Ucapnya begitu pelan.


Keduanya memutuskan beranjak, setelah ponsel Sholeh berdering dua kali setelah terabaikan. Sholeh merasakan kecurigaan pada panggilan Agus kali ini.


Sholeha juga tak banyak bertanya, ia cepat-cepat mengambilkan handuk dan menyediakan baju suaminya. Ia paham dari raut wajah Sholeh yang tiba-tiba terlihat serius, urusan kerjaan pasti menanti pikir Sholeha.


Sholeha membiarkan suaminya mandi, ia juga keluar kamar menyiapkan sarapan. Sholeha juga melihat ibunya yang baru saja keluar dari mushola. Wajahnya begitu ceria, tak seperti tadi malam.


Sholeha menunggu, sepertinya Bu Nur sedang menuju kepadanya. " Ibu, Ibu sudah enakan ?"


" Ibuk, ndak apa-apa " Bu Nur berjalan menggandeng menantunya, mengajaknya ke meja makan.


Betapa rasa rindu yang tersampaikan setelah lama menanti, Bu Nur begitu bahagia melihat Sholeha berada di rumahnya kembali. Bukan untuk memaksa ia harus menemaninya, tetapi rasa rindu jika ia pergi itu terlalu mengganggu semangatnya. Dia memang begitu mencintai Sholeha, lebih dari putranya sendiri.


" Ini sudah hampir dua bulan, apa kamu sudah periksakan kembali kandungan mu?" katanya.


Wajahnya begitu berseri-seri, merasakan rasa bahagia yang begitu di tunggu-tunggu.


Bu Nur tersenyum, " Setiap hari Ibu mengingatnya, itu sebabnya Ibu selalu saja rindu. Jangan terburu-buru di, apa itu namanya ?"


" USG, " jawab Sholeha.


" Iya itu, yang penting kalian sehat dulu. Nanti saja kalau sudah sedikit lebih besar "


Sholeha tertawa, " Iya Bu, tidak sekarang kok. Kemungkinan barengan aja sama Mbak Ayu"


Obrolan mereka terhenti, ketika melihat Sholeh tergesa sembari menenteng tas kerja, tak seperti biasanya. Wajahnya juga sangat tegang, seperti terjadi sesuatu.


" Ibu, Sayang aku pergi sekarang. " Katanya pada mereka.


" Ndak sarapan dulu Le ?"


" Nanti saja Bu " jawabnya melangkahkan kakinya ke luar.


Sholeha berlari kecil mengekori sang suami, hingga sampai di depan pintu. " Mas, ke Kota lagi ?"

__ADS_1


Sholeh menatap istrinya begitu lekat, " Sebentar, Mas akan kembali setelah selesai, tetap di rumah ya " katanya terburu-buru menuju mobilnya.


Sholeha masih tetap mengekori suaminya, sembari menunggu Sholeh mengulurkan tangan nya, "Sama Mas Agus ?"


" Iya, " Sholeh menyalami istrinya,


" Hati-hati ya " kata Sholeha, sembari menikmati kecupan singkat di keningnya.


Sholeha tetap menatap kepergian suaminya, meski mobil itu melaju kian cepat menghilang di jalanan.


Sholeha kembali kedalam, dengan banyak tanya di dalam benaknya. Tentu saja karena ia tak biasa melihat suaminya gugup seperti itu. Banyak sekali pikiran yang tidak-tidak tentang kepergian sang suami, ia berusaha tetap tenang.


" Ke kota lagi ?" tanya Bu Nur, saat Sholeha sampai di meja makan.


" Iya Bu, " jawab Sholeha dengan lesu.


" Beberapa hari ini, Sholeh memang banyak urusan. Sayangnya Ibu ndak berani bertanya, do'a kan saja di mudahkan segala urusannya"


" Sholeha, kepikiran Bu. "


Bu Nur tersenyum, " Ibu juga Nduk, tetapi tetap harus tenang. Kita hanya perlu berdo'a. Percaya sama Ibu."


Sholeha mengangguk, mencoba menuruti apa yang di katakan ibunya itu. Kedua wanita yang sedang dirundung cemas dan khawatir itu saling diam menikmati sarapan pagi. Sedikit pun, tak ada yang berniat berbincang lagi.


***


Sholeh menghampiri Agus, dia juga sudah siap dengan ala kadarnya. Tampak wajahnya sama tegangnya dengan dirinya. Padahal semalam, Agus sendiri yang memastikan bahwa tidak ada masalah dalam transaksi keuangan selama ini.


Tiba-tiba saja, Agus mengabari jika dia salah memeriksa. Jadilah Sholeh harus segera memastikan segalanya dengan pihak Distributor usahanya.


" Kita harus bagai mana ?" kata Agus, setelah di dalam mobil.


Sholeh menghela nafas, " Kita periksa sekali lagi, semoga tidak benar-benar terjadi " jawab Sholeh berusaha menenangkan Agus, yang terlihat lebih tegang darinya.


" Aduh, bagaimana ini ?" ucapnya masih tetap gelisah.


Sholeh terdiam sejenak, dia sendiri juga tidak tau harus menjawab apa. Kesalahan kali ini cukup besar dan merugikan, tentu saja dia lebih cemas dari pada Agus.


" Sudahlah, kita periksa saja dulu. Paling mentok ya kita bangkrut, ganti rugi dana sebanyak itu Gus "

__ADS_1


***


__ADS_2