
" Yang, masih tetep mau kerja?"
Sholeh tengah memperhatikan istrinya yang sedang mengenakan kerudung.
" Tanggung Mas, habisin ajaran ini aja. Boleh ya, kan tiga bulan lagi" kata Sholeha menatap sang suami dari kaca.
Sholeh masih tetap diam, hal ini sudah mereka diskusikan berhari-hari. Tetapi tak kunjung ada hasilnya, Sholeha tetap dengan keinginannya dan Sholeh yang masih terus merayu istrinya agar berhenti bekerja.
Selain perkara gaji, Sholeh juga tak ingin membuat istrinya itu lelah. Apa lagi dia sedang hamil muda. Ya, Sholeha baru saja mengetahui jika ia sedang hamil dua Minggu. Sholeha bahkan tak menyadari kehamilannya, jika saja Sholeh tak bertanya tanggal haidnya.
" Kamu bisa capek loh Yang, di rumah aja Mas khawatir " kata Sholeh lagi.
Sholeha berbalik dari kaca, menghadap suaminya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sholeh.
" Sholeha janji akan lebih pelan-pelan, hati-hati dan tidak akan capek. Kasih izin ya Mas, Leha ndak bisa keluar gitu aja dari sana" ucapnya begitu pelan.
Sholeh terdiam seraya berpikir.
" Mas ?"
Cup
Sholeha mengecup bibir Sholeh pelan, dia ingin meminta jawaban dari sang suami yang masih membisu.
" Ya, Mas..... boleh ya?"
Sholeha masih terus berusaha.
" Bener ya hati-hati, apa Mas bantu aja kerjaan kamu ?"
" Mas ih, aneh. Mana bisa gitu. Sudah ah jangan terlalu khawatir, sayang mu ini pasti lebih berhati-hati lagi. Kita berangkat sekarang ya " Sholeha menurunkan tangannya.
Sholeh mengalah, dia dengan berat hati harus membiarkan istrinya tetap beraktivitas seperti biasa. Kabar kehamilan Sholeha memang belum di ketahui banyak orang hanya Sholeh dan ibu Nur. Mereka berniat mengatakannya jika usianya sedikit lebih besar.
Sholeh menyiapkan motor, menunggu istrinya berpamitan pada ibunya.
Sholeha tersenyum pada ibu mertuanya, masih pagi begini ia telah mendapat doa baik untuk sesuatu yang hidup di dalam perutnya.
" Kita memang harus menjaganya tetapi tidak perlu memanjakannya. Bekerjalah Nduk, jika kamu masih menyukainya, tetapi ingat dia ini masih sangat kecil, lemah dan harus berhati-hati. Berdoa saja agar lebih tenang" ucap ibu Nur, sembari mengusap lembut perut datar menantunya.
__ADS_1
" Leha berangkat ya Bu, Assalamualaikum" Sholeha mencium punggung tangan mertuanya dengan begitu hormat.
Sholeha segera menyusul suaminya yang masih saja lesu, wajahnya tak bersemangat. Sholeha bahkan ingin tertawa melihat tingkah suaminya yang mirip dengan Al.
Sholeha tak begitu menggubris, dia memang seperti itu akhir-akhir ini. Terkadang dia juga bisa mengubah mood nya secara tiba-tiba. Sedih hanya karena tak bertemu dengan istrinya, marah hanya karena tak di balas kecupannya. Sholeh memang seperti itu, mungkin karena calon anaknya, atau dia saja yang berlebihan.
" Kalau Mas ndak bisa jemput, biar Leha pulang sendiri saja. Ada Irma, dia bisa kok antar" kata Sholeha pada suaminya.
" Kata siapa ndak bisa, Mas jemput nanti. Jangan pulang dulu, tunggu di sini"
" Mas kan sibuk, "
" Ya Allah Yang, sibuk apa, lagian usaha milik sendiri, aku kan bosnya ndak ikut kerja bentar ya ndak bakal di potong gaji. Dah tunggu aja pokoknya. "
Sholeh bersiap melajukan motornya, menuju sekolah anak-anak yang telah akrab dengannya beberapa bulan terakhir.
Sholeha masih diam, berpikir dengan teliti agar tak beradu pendapat lagi dengan Sholeh. Dia hanya sedang bersikap perhatian semaunya, memaklumi itu cara teraman agar suaminya tidak tersinggung.
Ketika mereka sampai di depan gerbang, Sholeha lekas turun dan berpamitan. Tangannya di tahan Sholeh saat lepas bersalaman. " Tuh, di panggil Irma" kata Sholeh.
Sholeha menoleh, ternyata benar ada Irma yang di antar juga oleh suaminya. Dia tersenyum dengan bahagia.
" Aduh, aduh manten baru, kamu ndak libur dulu. Bulan madu " kata Sholeha.
Irma tertawa, " Besok saja jika ada waktu, " jawabnya malah tambah terbahak.
Sholeha memukul pundak sahabatnya pelan, "Gimana, enak ndak?" Sholeha mengedipkan sebelah matanya.
" Belum lah Ha, masih sibuk. Penasaran sebenarnya, ha ha."
Sholeha menggeleng pelan " Dasar kamu, habis nyobain sekali jangan-jangan ketagihan kamu Ir" Sholeha sedikit berbisik.
Sedangkan Irma malah terbahak. Mereka sampai di ruang kerja, tentu saja dia akan menunda obrolan mereka hingga selesai nanti. Sesekali Irma masih tak sabar ingin bercerita banyak hal, terutama tentang suaminya yang baru saja di kenalnya.
" Ha, kamu inget ngak aku taruh catatan pembayaran baju di mana?" kata Irma.
Dia sedang sibuk mencari , " Bukannya sudah di ambil Bu Risma, terakhir dia yang meminta ?"
Irma tampak mengingat, " Apa iya yah, aduh aku lupa ada satu nama yang belum aku tulis deh kayaknya"
__ADS_1
" Kok bisa, udah temuin Bu Risma nya, nanti jadi masalah. Banyak loh itu uangnya, sekarang aja kayaknya dia berangkat hari ini" kata Sholeha ikut khawatir.
Irma bergegas ke kantor, menemui ibu Risma. Dia menyesal mengapa tidak memeriksa kembali dengan teliti. Semoga saja tidak terjadi masalah, kata Irma dalam hatinya.
Jika terjadi sesuatu di data itu, bisa saja Irma yang akan di tegur sangat keras. Apalagi ibu Risma yang begitu ketat dan tak suka kelalaian. Tetapi Irma tidak sengaja.
Di kantor, Irma segera menjelaskan apa yang sedang terjadi.
" Kenapa bisa lupa, untung saja belum ku periksa catatannya. Uang nya tidak salah atau kurang kan?" ucap Risma.
Dia mengeluarkan kertas dari tumpukan berkas lainnya. Di berikan kembali pada Irma.
" Maaf ya Bu, kemarin agak sibuk " Jawab Irma sembari menuliskan satu nama yang tertinggal.
" Oh iya kamu kan baru saja menikah ya, wajar jika sampai lupa begini. Selamat ya, maaf loh kemarin saya tidak sempat datang. Keponakan saya juga sedang lamaran, ndak enak jika di tinggal"
Irma menyerahkan kembali kertas itu pada Risma.
" Keponakan, apa itu Mbak Rahma Bu?" kata Irma memastikan.
Dia tersenyum, " Iya, siapa lagi jika bukan Rahma. Kemarin, barengan dengan acara kamu. Maaf ya "
Irma juga tersenyum " Sama siapa Bu, kalau boleh tau?"
Tentu saja pertanyaan itu pasti keluar dari mulut Irma. Karena memang ia sangat penasaran. Sholeha juga tidak membicarakan ini atau dia tidak tahu sama sekali.
" Tentu saja pria tampan, orang nya usahanya banyak, ndak kalah saing kok sama suaminya Sholeha. Kalau jodohnya orang baik ya pasti dapetnya yang baik juga kan ya, " jawab Risma .
" Hah, apa sih Bu." Irma kebingungan sendiri mendengar jawaban tak nyambung dari pertanyaannya.
Irma tak lagi mendengar Risma mengatakan apa, dia memilih kembali. Meninggalkan Risma yang sibuk menyombongkan diri.
" Apa sih Bu Risma ini, " ucap Irma saat sampai di ruangannya.
" Kenapa, ?" tanya Sholeha dengan heran.
Irma menatap Sholeha, kemudian mendekati Sholeha. " Mbak Rahma sudah lamaran, "
***
__ADS_1