Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Bulir kecemburuan


__ADS_3

Sholeh meninggalkan semua lamunannya di lorong rak - rak yang semakin kosong. Mungkin ia akan mempertimbangkan saran Agus untuk mengisi kembali stok cat meski sedikit. Ia kembali melanjutkan aktivitas nya yang semakin penuh dengan bayang - bayang Sholeha nya.


***


Setelah pulang dari rumah kakaknya Sholeha bingung hendak melakukan apa. Satu jam lagi baru ia pergi mengaji, jadilah ia masih rebahan santai di atas sofa depan tv. Kerudungnya saja masih rapih terpakai di kepalanya, tiba-tiba notifikasi pesan ponselnya berbunyi. " Lupa kalau bawa hp" ucapnya. Ia merogoh saku kulot nya.


" Dari Mas Sholeh, tumben" gumamnya, membaca sedikit lebih seksama. Sholeh tersenyum begitu lebar hingga ke ujung pipinya, merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba terasa semakin meningkat. Padahal hanya pesan yang begitu kaku dan sederhana, entah mengapa dia malah tersentuh hingga ke lubuk hatinya. " Berasa udah jadi istri nya hihihi" ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan. Jangan sampai ada yang mendengar tawa girangnya yang begitu sepele ini.


" Ih kok ndak di bales lagi, di tungguin loh mas" ucapnya pada ponsel yang tak kunjung menyala layarnya. Sholeha meletakan ponselnya asal. Tangannya berpindah menyalakan televisi yang hampir tak berguna di hadapan Sholeha.


" Tinggal dua hari aja, lama banget liburnya" keluh Sholeha merasakan kebosanannya.


Dia teringat bakso langganannya, jika sore nanti pulang mengaji bisa pergi ke sana sepertinya sangat menyenangkan. Sholeha berpikir hendak mengajak siapa yang bisa menemani kebosanannya yang sangat-sangat melekat. " Ajak Irma, tapi dia masih harus mengontrol makan nya agar tetap sehat. Kapan-kapan saja kalau begitu, malas kalau sendirian."


Menghabiskan waktu satu jam setelah sholat Dzuhur, tak lama dari itu Sholeha bersiap pergi ke majlis ustadzah Aisyah. Sudah sejak tadi ibunya mengingatkan dari luar kamarnya, takut Sholeha ketiduran. Sekali lagi ia meneliti penampilannya di kaca, kalau-kalau ada yang kurang. " Cantik kok, ndak kumel" pujinya pada dirinya sendiri, yang sebenarnya sangat biasa seperti biasanya.


Tunik maroon dan rok hitamnya yang berpadu dengan kerudung lebar menyentuh belakang pinggangnya, tampak sangat anggun, Sholeha keluar dari kamarnya berpamitan pada ibunya yang sejak tadi sudah mendumel tak karuan.


" Dandan aja se-taun, keburu bubar pengajiannya". celetuk ibunya saat menerima uluran tangan dari Sholeha.


" Ndak lah Buk, ini belum telat. Leha berangkat ya, Assalamualaikum." pamitnya pada bu Fatma.


" Ya sudah hati-hati, di dengar baik-baik, ustadzah ngomong apa. Biar ndak kaget kalau sudah nikah nanti !"


" Iya buk, iya. Sholeha nya mas Sholeh ini insyaAllah jadi istri sholeha beneran kok." jawabnya sebelum menarik gas motornya. Sebelum ia mendengar jawaban dari sang ibu, Sholeha telah melesat ke jalanan. Ia sendiri tersenyum tak berkesudahan mengingat ucapannya itu.


Lajur jalan yang masih sama hanya sedikit bertambah jauh dari rumahnya, ia lalui dengan rasa girang bertabur senyum. Sampailah ia di bundaran majlis, yang tak begitu banyak jamaah nya, hanya ada lima orang bersama dengan sholeha kebanyakan pengantin baru dan calon pengantin.


Setelah saling menyapa, dan sedikit berbincang. Ustadzah Aisyah datang dan memulai pengajiannya, senyumnya yang begitu sejuk bak embun pagi, membuat Sholeha begitu semangat sejak awal ini. Salam dan kata sambutannya yang begitu menenangkan, tidak kaku atau terlalu serius. Nadanya berbicara begitu tentram di telinga para Hawa yang semakin haus ilmu menuju hari bahagianya. Bahkan baru terucap kata pernikahan saja semua jamaahnya sudah tersipu malu menanggapinya. Tak terkecuali Sholeha yang ikut tersenyum sampai ujung pipi tembemnya.


" Ingat, pernikahan adalah ibadah. Bukan untuk yang lainnya termasuk yang sering kalian sebut apa itu istilahnya, em penyatuan dua cinta, penyatuan dua keluarga, atau dan sebagainya. Menikah adalah untuk ibadah, jika hanya karena cinta, siapa yang akan tau isi hati manusia selanjutnya, boleh saja sekarang mencintainya tapi besok? tentu kita tidak tau. Apa lagi sifat cinta yang begitu semu, mungkin saja bisa luntur terkikis usia, atau mungkin tersingkir oleh rasa baru yang baru saja hadir. Maka dari itu, menikahlah karena ibadah, saya pikir konsep yang satu ini bisa di pahami secara sederhana ya. Jadi jika yang sekarang ini belum ada cinta tidak perlu merasa paling menderita, yang terpenting niatkan semua karena beribadah. Lalu yang sekarang sudah saling cinta, seperti mbak yang baru menikah ini, tetap berdoa semoga semakin cinta sampai akhirat nanti" Ustadzah Aisyah berpaling dengan senyuman kepada dua wanita yang di sebut pengantin baru.


Mereka tampak senang dan mengaminkan doa baik itu. Sholeha turut berdebar, dan tentu saja ikut bahagia atas doa yang di ucapkan Ustazah Aisyah.


Para jama'ah yang saling melempar senyum itu begitu berbunga, merasakan nuansa damai nan penuh cinta. Tidak tau kah para pria, kaum wanita sangat bersiap dengan mengawali segalanya dengan senyuman dan hal-hal manis. Bukan mereka yang terlalu berharap, tetapi mereka memang selalu memilih untuk bahagia sejak awal. Meski fakta pahitnya kehidupan selalu nomor satu di zaman ini.


" Ustazah, bolehkah saya mencintai suami saya melebihi cinta saya kepada ayah saya, saya pikir mencintai laki-laki yang baru saya kenal ini terlalu sulit, belum lagi perbedaan keduanya yang selalu memacu saya untuk membandingkan keduanya, mohon Ustadzah jelaskan"


" Walau bagai manapun, suami akan tetap terluka hatinya jika di bandingkan dengan siapapun. Kalau belum bisa mencintainya jangan kau abaikan dia, jangan bandingkan dan sandingkan kedudukannya dengan ayahmu, dia bukan laki-laki biasa yang boleh kau singgung perasaanya. Dia adalah suami mu, seseorang yang begitu tinggi kedudukan nya dalam perjalanan hidup kita ini, paham ya, sederhananya jangan ya tidak boleh itu tidak baik " jelas Ustadzah Aisyah dengan begitu sabar.


Wanita di samping Sholeha ini hanya mengangguk, senyumnya sedikit masam. Sepertinya problem ini begitu nyata dalam kehidupan rumah tangganya. Sholeha jadi sedikit prihatin, dan menimbulkan rasa penasaran yang melanda dasaran hatinya.

__ADS_1


" Mbak, Mbak di jodohkan ya?" bisik Sholeha begitu pelan, nyaris tak bersuara.


Dia hanya tersenyum, senyum yang tercampur rasa getir yang sangat mudah di tebak oleh banyak orang. " Iya dek " singkatnya.


Sholeha turut tersenyum ragu, " Sudah lama?" Malah timbul pembicaraan kecil di tengah majlis yang masih panjang pembahasan perkara nikah ini.


Hampir saja ia jatuh dalam gelombang ghibah yang begitu menggiurkan ini, untung saja Sholeha tersadar dengan pertanyaan ustazah pada dirinya.


" Bagaimana Mbak Sholeha, sudah mantap dengan niatan menikah karena ibadah, karena di antara calon pengantin yang terdekat waktu akadnya adalah mbak Sholeha?" pertanyaan yang kontan membuat Sholeha terdiam. Sesaat kemudian ia tersenyum.


" Insyaallah, Ustadzah." jawabnya begitu sederhana.


Tawa riuh yang setengah berbisik itu mulai memenuhi kisaran majlis, semuanya sembari mengaminkan doa ustazah Aisyah kepada Sholeha. Tentu saja Sholeha sangat bersyukur atas nikmatnya hari ini.


Majlis di tutup dengan lantunan doa terbaik dari segala doa, di sambung dengan indahnya sholawat penyejuk jiwa. Semua wanita yang begitu bahagia itu telah pergi meninggalkan majlis, dengan ribuan ilmu yang baru saja mereka dapati, di tambah ada hati yang terus berbunga menikmati nikmat Tuhan yang begitu membahagiakan. Tak terlewat juga sang calon pengantin, Sholeha yang begitu tenang menikmati perjalanan pulangnya dengan garis senyum yang sedikit pun tak memudar dari wajah manisnya.


" Ya Allah, hamba ikhlas menerima takdir yang engkau garis kan hari ini, semoga beribu hari ke depan dapat ku jalani karena mu Aamiin." dia mengatakan semua itu dengan lirih sejak perjalanan motornya mulai melaju ke rumah.


***


" Loh kamu kok ada di sini?" tanya Sholeh kepada calon istrinya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


Sholeha tersenyum sangat malu, tidak menyangka akan berpapasan dengan Sholeh di sini, padahal ia sendiri sudah sangat berhati-hati agar tak terpergok. Bukan mengendap-endap, setidaknya ia berjalan cepat menuju dapur menemui ibu Nur. " Anu mas, antar titipan dari ibu" seraya mengangkat wadah yang di jinjingnya.


" Iya Mas, kata ibu lagi pengen banget"


" Ya sudah, kita antar bersama," Sholeh memimpin langkah menuju meja makan.


Melihat Sholeh yang sudah rapi, Sholeha kontan melirik jam. Ah benar saja dia pasti bersiap pergi seperti yang ia katakan kemarin padanya. Lagi-lagi Sholeha melihat mode formal dan tampannya Sholeh, membuat hatinya tidak kokoh di tempatnya, mungkin saja kembang kempis seiring dengan jantungnya.


Sholeha menyodorkan bubur pada bu Nur yang telah menyambutnya dengan gembira. " Maaf merepotkan ya Nduk, ibu sudah sangat lama tapi ndak sempet beli. Sholeh ndak mau ke sana" ucapnya sambil menggiring Sholeha duduk di salah satu kursi, bergabung bersama putranya.


" Kita sarapan ya, sekalian. Belum kerja kan hari ini?" tanya bu Nur lagi.


Sholeha menggeleng, kemudian ia tersenyum. Hendak menolak tapi tak sampai hati. Sholeha hanya menurut mengikuti situasinya dan berusaha santai.


" Sholeh kalau di mintai tolong memberi bubur, jawabnya malu buk." ibu sambil mengekeh mengatakannya dengan santai.


Sholeh langsung mengambil atensi dengan meletakan kembali sendok yang hampir masuk ke mulutnya, " Malu lah buk, banyak anak gadis nya pak Salam". Sholeh memang sering sekali di goda pak Salam untuk jadi mantunya, tidak sedikit anak gadis penjual bubur langganan bu Nur itu memiliki tiga anak gadis yang semua cukup umur untuk menikah.


" Loh kan kamu udah punya calon istri, tinggal jawab aja saya udah mau nikah" sahut bu Nur begitu semangat.

__ADS_1


Sholeh hanya terkekeh, " Nanti di pikir bohong, Pak Salam suka ndak percaya" tambahnya kemudian.


" Ya makanya, sesekali ajak Sholeha jalan, biar orang juga tau kalian akan menikah. Beliin ibu bubur atau buah" terlihat sekali ibu yang satu ini mengajarkan agar keduanya akrab sebelum menikah, yah meskipun sepertinya tidak akan ada niatan dari keduanya.


Mereka terlihat begitu anteng dengan posisinya saat ini. Yang satu fokus bekerja, yang satu fokus mengaji tetapi pilihan ini lebih bagus.


Kedua insan yang saling terdiam tanpa merespon perkataan bu Nur, mereka malah asik menikmati sarapan. Bu Nur tak lagi melanjutkan kata-katanya, ia ikut menikmati bubur Ayam yang begitu ia rindukan rasanya akhir-akhir ini.


Tadi pagi, Sholeha buru-buru di bangunkan oleh ibunya, katanya bu Nur minta tolong di belikan bubur pak Salam yang tak jauh dari rumahnya. Sholeha hanya berpikir mungkin saja calon ibu mertuanya itu sedang tidak enak badan, ia sampai cemas dan khawatir.


Ketika sampai, dia menyadari bu Nur yang begitu sehat, Sholeha juga menyadari jika kedatangannya seolah sengaja di atur untuk melihat Sholeh pergi pagi ini. Sholeha tidak melebihkan perasaannya, ia hanya sedikit berbunga merasakan kehangatan di pagi ini.


" Mas lama di sana?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Sholeha yang sedikit lama terkunci.


" Sore sudah pulang, kalau ndak ada halangan. " Sholeh sedikit mencuri pandang pada wanita sederhana dengan penampilan ala kadarnya khas Sholeha. Bibirnya tetap ranum, wajahnya sedikit mengkilat mungkin sedikit berminyak, Sholeh sangat nekat untuk menatapnya meski beberapa detik.


Sholeha merasa di perhatikan, menunduk sedalam-dalamnya adalah bentuk rasa malunya yang begitu tak tertahan.


" Leha pikir akan lama, kalau begitu hati-hati di jalan ya mas, em jika tidak keberatan kabari Sholeha lewat pesan ya" Suara lembut tertelan senyum malu-malu yang begitu kentara di wajah manisnya, membuat Sholeh ikut senyum melihat tingkah sederhana itu. Mengapa dari sekian tingkahnya yang begitu random itu, kali ini terlihat begitu lucu dan sangat manis bagi Sholeh, dia sampai berusaha keras untuk tidak menertawakannya.


" Iya, jangan lupa di balas ya. Mas kadang sampai kedutan nunggu pesan kamu", Sholeh sendiri sampai ingin memukul mulutnya yang terbawa suasana manis ini.


" Masa iya, segitunya?" jawab Sholeha tidak percaya.


Meja makan yang canggung mulai terasa, keduanya saling diam kehabisan bahan obrolan, bu Nur yang katanya dari kamar itu kembali bergabung.


" Katanya jam tujuh, ini sudah jam berapa kok masih asik ngobrol. Rahma jadi barengan kamu berangkatnya?"


Ada hal yang belum Sholeha ketahui, pertanyaan bu Nur seolah informasi yang sebenarnya tidak ia dapatkan dari Sholeh secara langsung. Sholeha menghela nafas, untuk menyiapkan diri mendengar jawaban yang mungkin membuatnya terkejut.


" Iya Bu, baru saja dia kirim pesan. Sebenarnya aku ndak tau jika dia akan ke kota hari ini" jawab Sholeh dengan tenang.


" Sendiri, atau bersama Ibunya?"


" Sendiri Bu, kan ada mas Rizal juga nanti. Jangan berpikir aneh-aneh ya". Sholeh mengatakan itu dengan sangat lembut, matanya melirik Sholeha yang diam tak berpendapat sedikit pun.


" Biasanya juga pergi sendiri, ndak ngerepotin kamu. Tumben sekali ?" ucapnya sembari menatap Sholeha yang berusaha tersenyum tipis.


" Mungkin sekalian Bu, kan ndak jauh dari tempat Sholeh kerja, mas Rizal juga tau tempatnya, ya sudah Sholeh pergi dulu ya, " ucapnya mengakhiri perdebatan kecil yang Sholeha saksikan dengan kediaman.


Sholeh menyalami ibunya dan hanya tersenyum pada Sholeha yang masih sibuk menata hatinya yang terbolak-balik secara acak dalam waktu yang sama. Sholeha tidak langsung membalas senyuman itu, dia hanya ikut menggiring langkahnya menyaksikan kepergian Sholeh hingga pintu depan. Di sana terlihat Rizal juga sudah bersiap untuk pergi.

__ADS_1


" Mas." panggil leha tiba-tiba.


***


__ADS_2