Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Menemui Dito


__ADS_3

Sholeh menuruti permintaan istrinya, meminum wedang jahe yang begitu tidak enak menurutnya. Setelah itu, Sholeh menyempatkan waktu untuk berbincang dengan sang istri.


Sholeha sedang membereskan tempat tidur, sedangkan Sholeh asik memandang keluar jendela di kamarnya. Sembari mendengar istrinya bernyanyi kecil menikmati kegiatannya. Sholeh sedang berpikir, bagaimana cara menyampaikan semua masalahnya dengan baik kepada Sholeha.


Sholeh bergeser dari jendela, mendekat pada sisi ranjang, menggoda istrinya yang masih mengenakan daster bolongnya dengan nyaman. Sesekali tangannya meraih dada Sholeha yang terlihat menggoda. Meski menolak tak terima, istrinya itu terus bersemu menikmati perlakukan suaminya.


" Mas ah, kenapa sih. Tumben banget, jahil " omelnya, sembari menumpuk bantal dan guling.


Sholeh tak menjawab, ia menuntun istrinya untuk duduk di tepian ranjang.


" Mas ingin bicara, duduk sebentar ya " ucapnya, saat Sholeha berusaha menolak.


Merasa ada hal penting, Sholeha menurut dia juga teringat masalah kemarin yang membuatnya sedikit penasaran.


Di tatapnya sang istri, wajah cerah aura ibu hamil itu begitu damai. Sungguh membuatnya merasa tenang, dia tak ragu lagi jika mengatakan semuanya. Perlahan, Sholeh mengatur nafasnya, ada rasa tak enak jika bercerita, tetapi ia juga perlu jujur kepada istrinya.


" Mas, katakan " ucap Sholeha. Dia tak sabaran melihat suaminya yang malah melamun sejak tadi.


Sholeh meraih tangan Sholeha, menciumnya sekali agar ia memiliki keberanian lebih, " Ada masalah di usaha kita, kerugiannya lumayan besar atau sangat besar, karena kemungkinan usaha Mas bisa terjual "


Sholeha tak menyela, dengan sabar menunggu suaminya menyelesaikan ceritanya. Dia hanya mengusap punggung tangan besar suaminya.


" Mas merugi besar, tidak cermat dalam hitung dan memperkirakan. Niatnya, Mas akan menjual ruko cabang kita. Selebihnya meminta bantuan dari Dito "


" Banyak ya Mas ? "


Sholeh mengangguk, menatap sang istri dengan rasa sesal yang kian menjelma. " Menurutmu bagaimana ?"


Sholeha berpikir sejenak, dia tau pendapatnya mungkin tak seberapa pentingnya. Tetapi tak salah jika ia menyampaikan nya. " Bagaimana baiknya, Mas tau yang terbaik untuk hal ini, kita bisa memulainya lagi nanti. "


" Kamu tidak keberatan, jika semua usaha mas di hentikan demi menghidupi usaha Ayah ku. Bagaimana pun Mas ndak bisa membiarkan itu ambruk gara-gara kecerobohan ku. "

__ADS_1


" Mas, Sholeha tau jika masa depan kita masih terlalu dini di bicarakan. Apa lagi menghitung anggarannya, kita selesaikan masalah yang terjadi saat ini saja. Lakukan apa pun yang terbaik untuk impian Ayah Mas "


Sholeh tersenyum, dia tau istrinya pasti mendukung penuh semua keputusannya. Sholeh tak sabar, langsung saja ia memeluk Sholeha dengan erat. Membagi rasa tenang yang baru saja ia dapatkan darinya.


" Makasih ya Sayang, aku tau ini yang akan kamu lakukan untuk ku. Dan, satu lagi. " ucapnya melepas pelukannya, " Mas ada uang pribadi, tetapi sudah di niatkan untuk Haji Ibu, apa kamu tidak keberatan ?"


Sholeha tersenyum begitu lebar, " Keberatan bagaimana, Sholeha tetap akan menyetujuinya. Ini cita-cita Mas sejak dulu, Ibu juga menginginkan Haji kan ?"


" Tapi, jangan ceritakan soal usaha Mas yang ndak karuan itu ya. " Sholeh terlihat sangat memohon pada istrinya.


Sholeha mengangguk, " Tentu saja, biarkan Ibu kusyuk dalam do'a nya. " Kata Sholeha memeluk suaminya lagi. Dia begitu bahagia dengan kabar baik ini, terlebih ada sisi yang menyedihkan soal pekerjaan.


Pagi-pagi suami dan istri itu semakin mesra dengan segala masalah yang seolah tak seberapa besarnya. Sholeh begitu terhibur dengan semua yang di katakan oleh istrinya, nasihat dan sarannya sudah sangat menenangkan dirinya.


***


Sholeh tiba di kediaman Dito, setelah menghubunginya terlebih dahulu teman nya itu benar-benar meluangkan waktu. Meskipun belum tau apa hasilnya, Sholeh tetap berkeyakinan jika ini jalan yang terbaiknya.


" Jadi, kau akan menikah dengan Rahma bulan depan ?" tanya Sholeh, merasa tak yakin.


Sedikit mengendur keyakinannya, Sholeh berpikir jika Dito akan menikah kemungkinan uangnya akan terpakai, rasa tak enak hati kembali merayapi hatinya.


" Iya Leh, aku pikir kamu sudah tau." Ucap Dito.


Sholeh menggeleng, merasa tak bersemangat melanjutkan pembicaraan.


" Jadi, ada apa ?" Tanya Dito, seperti tau ada hal lain yang di bawa Sholeh jauh-jauh dari rumahnya.


Meski ragu, akhirnya Sholeh mengatakannya, " Aku butuh bantuan Dit " ucapnya begitu saja.


" Aku bisa membantu, katakan saja." Secercah harapan yang mungkin saja tidak semua orang mendapatkannya.

__ADS_1


" Usaha ku kemungkinan bangkrut, aku telah merugi besar Dit, aku berniat menjual satu ruko cabang ku. Dan meminjam uang pada mu "


Dengan cukup tenang Dito menjawab" Aku usahakan ya Leh, semoga saja aku bisa membantu. Aku janji tidak akan lupa, kita bicarakan saja jika sudah ada uang nya, berapa lama ?"


" Satu bulan, aku harus melunasinya " jawab Sholeh begitu yakin, " Tetapi, apa tidak menggangu pernikahanmu ?"


Dito tertawa, " Menikah, ya menikah saja. Meski ratusan juta, akan aku usaha kan Leh. Kebun Ayahku sangat luas, tenang lah "


Sholeh tau Dito bukan sombong, tetapi ia masih saja ragu dan tak enak hati, karena memang hutangnya mendekati ratusan juta. " Dit, memang ratusan juta yang ku butuhkan " Kata Sholeh menyela tawa Dito.


Dito memang menyembunyikan rasa keterkejutannya, Sholeh sadar itu. Tetapi dia tetap memberi keyakinan padanya dengan tetap tersenyum, " Percayakan pada ku, aku akan mengusahakannya, memang kamu ini kenapa tipu atau di bohongi orang ?" tanya Dito tak percaya.


" Begitulah kiranya Dit, aku sendiri tak menyangka sudah terperosok dalam kerugian itu. Jangan tertawa kan aku " ucapnya begitu ketus. Sholeh merasa jika Dito sedang mengejeknya terang-terangan.


Dito menghela nafas, merasa tak percaya juga hal ini menimpa pada Sholeh, pemuda yang katanya pandai mengolah usahanya. Tetapi, ceroboh sekali jika tidak di sadari, sama saja akan merugikan sepanjang masa.


" Kita berdo'a saja, penghasilan kita bertambah dalam sebulan ini " Meski nada bicaranya sangat serius, Sholeh bisa melihat jika Dito masih bercanda dengannya.


Merasa sudah ada kesimpulan dalam perbincangan bisnis ini, keduanya berganti topik dengan masalah pribadinya. Sholeh siap mendengar semua curhatan Dito tentang Rahma, sekali lagi demi merasakan kelegaan setelah bercerita.


" Kamu yakin kan Leh, jika dia tidak lagi mencintai mu ?" tanya Dito tiba-tiba.


Mata Sholeh mendelik begitu sempurna, tak terima jika pertanyaan itu berpusat pada dirinya, " Ngawur kamu, jelas-jelas dia mau menikah dengan mu. Ya, berarti mencintai mu, bukan pada ku " kata Sholeh berapi-api.


" Aku hanya bertanya, jangan marah seperti itu. Aku juga melihat ketulusan dari matanya, sesuatu yang tidak berhasil kau lihat dari nya " ucapnya dengan serius.


Sholeh berdecih, tak menyangka jika Dito memang se-cinta itu pada Rahma. Meski begitu, Sholeh percaya jika Dito adalah pilihan terbaik untuk nya.


" Bagaimana dengan Ibunya ?"


***

__ADS_1


__ADS_2