
Sholeha terkulai lemas di dekapan sang suami, dengan sigap Sholeh memindahkan ke kamar, ia juga bergegas meminta Agus meminta bidan datang. Ibunya yang sudah berada di sana sejak tadi, dengan sigap menemani Sholeha.
Tak lama di tengah kesibukan kegiatan duka, bidan datang memeriksa Sholeha. Bersama dengan Ayu, Sholeh menunggu bidan memberikan penjelasan padanya.
" Tidak apa Mas, sebentar lagi terbangun. Dia hanya lelah, mohon di pantau saja jangan sampai stres, apa lagi sedang seperti ini. Di hibur ya Mas, " kata Bu bidan pada Sholeh.
" Oh iya Bu, InsyaAllah " jawab Sholeh.
" Nanti kalau masih seperti ini terus, periksakan lagi pada saya, agar bisa di pantau lebih lanjut"
Sholeh mengangguk, dia mengantar Bu bidan keluar. Membelah banyaknya pelayat yang memenuhi rumah ini.
" Leh, bantu saja Mas mu, biar aku yang temani Sholeha di sini" ucap Ayu, saat Sholeh kembali ke kamar, " Leh, apa Sholeha sedang hamil?" tanya Ayu lagi.
Sholeh yang hampir keluar, berbalik menatap Ayu, " Iya, baru dua Minggu Yu" jawabnya begitu pelan. Setelahnya ia keluar dan menutup pintu.
Ayu menatap adik iparnya begitu sendu, mengusap pucuk kepalanya. Matanya begitu sembab, bibirnya juga sedikit pucat. Sesekali Ayu mengusap keringat di keningnya. " Sabar ya Dek" ucapnya begitu pelan.
Semua orang sibuk mengurusi jenazah, hanya Ayu dan Sholeha yang terpaksa berdiam diri di tak mengikuti prosesi. Setelah beberapa saat Sholeha tersadar, dia langsung terduduk dan memanggil ibunya.
Tanpa kata, Ayu hanya dengan cepat memeluknya, " Dek, sabar ya kita jalani bersama-sama" suara Ayu sangat bergetar.
Begitu juga dengan Sholeha yang kembali menangis tersedu-sedu, memeluk erat kakak iparnya. " Ibu belum tau aku hamil Mbak, aku harus kasih tau dulu" ucapnya begitu pilu.
Ayu tetap diam, mendengarkan semua rasa kehilangan dan penyesalan yang tertahan sejak tadi. Sholeha melepas pelukannya," Mbak aku ingin melihat Ibu" ucapnya.
" Dek, Ibu sudah berangkat ke pemakaman. Kita do'a kan saja dari sini"
Sholeha luruh lagi, kakinya lemas tak bertenaga lagi. Air mata mengalir lagi lebih deras. Menyesali semua yang telah terjadi.
__ADS_1
" Sudah ya Dek, kamu juga istirahat. Kita harus berjuang sehat untuk anak kita, apa lagi kamu, ingat Dek Ibu sangat menantikan anakmu lahir. Berhenti menangis ya, " Ayu menyakinkan Sholeha.
Sholeha merebahkan kembali tubuhnya, dia juga merasa sangat lemas dan tak bertenaga. Ia memiringkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya, hanya pundaknya yang tak berhenti bergetar, pertanda belum terhenti tangisnya.
Ayu juga bingung harus apa, selain diam memandangnya. Dia juga sudah sangat letih sejak tadi. Kondisi keduanya yang sama-sama hamil muda itu, tentu saja tak bisa berbuat banyak.
Tak lama ibu mertuanya masuk ke kamar, dia menghampiri Sholeha yang masih tersedu. " Nduk, " panggil ibu Nur.
Sholeha berbalik menatap ibu mertuanya, ia terbangun menyambut pelukannya. Menyalurkan rasa kehilangan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata lagi.
Ibu Mertuanya juga mengerti, menahan air mata yang tak kuasa mendengar tangis kepiluan menantunya. Rasa tak menyangka juga memenuhi hati dan pikirannya, sebagai manusia ia juga hanya bisa mengikhlaskan.
" Sabar ya Nduk, semua ini memang harus terjadi. Jangan salahkan diri sendiri, apa lagi menyesali semua ini. Kamu anak yang sangat kuat, Ibumu akan selalu bangga kepadamu, bersabarlah, ingat anakmu yang masih sangat kecil, kita jaga ia bersama ya" ucap Umi Nur begitu lembut pada Sholeha.
Perlahan Sholeha menghentikan tangisnya, dia tau ibu mertuanya ini telah mengalami hal yang sama jauh sebelum dirinya, Sholeha tersadar apa pun yang terjadi memang begini harusnya.
Ayu dan ibu Nur tersenyum lega. Walau bagaimana pun Sholeha tak boleh sedih berkepanjangan, tak boleh berlarut-larut seperti ini.
***
Sholeh menepuk pundak Rizal pelan, memberikan semangat agar lebih tabah dan tegar lagi. Dia juga tau bagaimana rasanya di tinggal pergi, kehilangan yang sangat menyayat hati.
Dari Rizal, Sholeh beralih memandang ayah mertuanya. Dia tampak tegar dan tenang dari luar, siapa yang tau jika hatinya begitu remuk di dalam sana. Sholeh bahkan tak melihat ayahnya itu menghentikan kalimat tahlil dari bibirnya.
Pemakaman telah selesai, semua orang perlahan pergi, hanya tersisa tiga pria yang masih tertunduk di gundukan tanah merah bertabur bunga. Mereka saling bercengkerama sendiri dengan hatinya, sesekali terdengar suara isak tangis dari Sulaiman. Seolah tak terbendung lagi, pria yang telah di tinggal kekasihnya pergi itu meratapi nasibnya.
Semua orang tau, rasa elu yang sedang di rasa olehnya. Semua juga bisa memahami keperihan hatinya ini. Perpisahan tanpa janji ini telah terjadi tak bisa di pungkiri. Sulaiman kemudian berdiri tegak, mengajak kedua putranya itu pulang.
Terlihat Rizal juga mengusap air matanya, ia menarik nafas menghembuskannya begitu perlahan, rasa sesak dan perih telah memenuhi dadanya, ia harus tegar lebih dari siapin saat ini.
__ADS_1
Dengan Sholeh sebagai sopirnya, Sholeh perlahan melajukan mobilnya meninggalkan peristirahatan ibu mertuanya. Dia juga tak bisa berhenti memikirkan istrinya di rumah, sejak tadi.
Sesampainya di rumah, Rizal dan Sholeh bergegas mandi, seolah tak ingin istrinya terganggu dengan penampilannya yang begitu menyedihkan .
Sholeh bahkan selesai terlebih dahulu, ia sudah tak sabaran ingin memeluk istrinya saat ini. Dia pasti tak berhenti menangis. Sholeh buru-buru masuk ke kamar istrinya.
Saat pertama kali melihat wajah istrinya yang tampak tak lagi menangis, hatinya merasa lega. Ada ibu dan juga Ayu di sana, kemudian mereka undur satu persatu, memberi ruang untuk sepasang suami istri itu. " Yang..." ucap Sholeh memeluk istrinya.
" Mas, Ibu belum tau aku hamil" ucap Sholeha lagi pada suaminya.
Sholeh tak menjawab, ia mengeratkan pelukannya, memberikan kehangatan yang rasanya tak cukup untuk menenangkan istrinya ini.
" Kita do'a kan saja Ibu ya, kita juga harus menjaga anak kita yang sangat kecil ini. Ikhlas kan semuanya, kamu harus sehat." ucap Sholeh dengan terus menciumi kening istrinya.
Dia tau bagaimana rasanya, dia memahami betapa istrinya menyesal mengapa tak menceritakan kehamilannya. Padahal sejak awal menikah dengan Sholeha, Sholeh juga sangat tau jika ibu mertuanya ini sangat mengharapkan cucu darinya.
Ditambah lagi jika mengingat obrolan ibu dan ibu mertuanya yang sering sekali membahas cucu. Ini impian mereka, bahkan sebelum anak-anaknya menikah.
Sholeh mengurai pelukannya, ia menatap wajah sedih istrinya, ia mencium kembali kening Sholeha dengan sangat lembut.
" Kamu harus kuat istriku, ada Mas yang akan menjadi segalanya untukmu, jangan terlalu bersedih ya, kita tau hal ini pasti terjadi, entah kapan saja waktunya tiba."
Sholeha mengangguk, menerbitkan segaris senyum, " Terimakasih untuk semua, Mas" ucapnya kembali memeluk suaminya.
" Lain waktu kita temui Ibu bersama, yang penting kamu sehat" kata Sholeh.
Sholeha hanya mengangguk.
***
__ADS_1