
Beberapa kali Sholeh mengubah posisi tidurnya, sampai hari semakin siang ternyata matanya tidak bisa terpejam.
Ia terduduk di tengah-tengah tempat tidurnya, memandang ponsel yang tergeletak di atas nakas. Hanya memandang tak berniat mengambil apalagi mencari tau siapa yang menghubunginya. Padahal sudah dua kali ia mendengar dering ponselnya, Sholeh terlalu enggan mengetahuinya.
" Aku tau kamu selalu saja begitu"
Sholeh mengatakan itu pada ponsel yang baru saja berdering lagi.
Bosan hanya terdiam dalam kamarnya, Sholeh memutuskan pergi ke toko. Sudah lama dia tidak menemani ibunya di sana. Meskipun Sholeh selalu mengurus dan bertemu langsung dengan banyak pembeli tapi ia tidak sempat duduk menemani ibunya di kasir.
Bu Nur memang tetap ingin berada di toko meskipun hanya duduk-duduk saja di kasir, bukan untuk mengawasi orang bekerja atau belanja dia hanya sudah terbiasa berada di sana.
Di toko ada dua karyawan Sholeh yang mengurus segala urusan pertokoan. Kata ibunya ia terbiasa menghabiskan waktu berdua dengan sang suami bersama. Dengan berada di sana ia tak pernah merasa merindukan sang suami. Bu Nur akan selalu melamun jika siang harinya hanya di rumah saja.
Ada beberapa pelanggan yang sedang berbelanja, kebanyakan para ibu-ibu yang membeli sembako di jam saat ini. Menjual bahan baku sembako dan material bangunan yang belum memiliki tempat luas toko Sholeh masih terlihat kurang menarik atau berantakan.
Di tambah naiknya persaingan dalam usaha dagang membuat Sholeh harus segera mengubah semuanya menjadi lebih tertata dan rapi. Mungkin Sholeh juga sedang mempertimbangkan antara merenovasi toko atau membuat rumah impiannya.
Ketika Sholeh masuk dan menyapa para pelanggan, salah satu ibu-ibu yang ia kenal dan cukup dekat selama ini. Sholeh menghampiri ibu itu, terlihat dia sedang berada di rak minyak goreng dengan membawa keranjang.
" Ibu apa kabar, kok ada di sini?" Sholeh bersalaman dengannya.
"Sehat Le, Ibu sedang jenguk neneknya Rahma"
" Nenek sedang sakit Bu?"
" Iya, sudah satu Minggu Ibu di sini"
" Ibu sendiri?"
" Iya, oh iya Nak, Ibu dengar kamu hendak menikah dekat-dekat ini ya?"
Sholeh hanya tersenyum
" Ibu kira kamu mau jadi mantu Ibu Le,"
ibu itu tampak kecewa memandang Sholeh.
Sholeh masih diam, tidak membantah perkataannya.
" Mari saya bantu Bu," Sholeh kemudian mengalihkan pembicaraan.
Ibu yang tengah sedikit kecewa itu menerima uluran tangan Sholeh untuk membawakan beberapa botol minyak goreng. Keduanya menuju kasir bersamaan, bu Nur juga masih berada di sana. Wajahnya nampak keheranan melihat Sholeh datang bersama ibu itu.
Bu Nur menatap Sholeh seolah menanyakan mengapa bisa dengan ibu itu? dan Sholeh hanya menggelengkan kepala pelan. Keduanya memang tidak saling kenal, namun bu Nur cukup tau siapa dia. Sholeh membantu menyelesaikan pembayaran kemudian mengantarnya sampai keluar toko.
" Terima kasih ya Bu, hati-hati di jalan"
" Iya, kapan-kapan kamu mampir ke rumah nenek ya, Ibu juga masih ada di sana "
Wanita paruh baya itu menuju motor, tampak laki-laki remaja sedang menunggu. Jika dilihat dari dekat sepertinya dia adalah adik Rahma yang paling kecil.
Sholeh melambaikan tangan.
Sholeh kembali ke toko, segera menghampiri bu Nur yang terlihat sedang menunggunya. Sholeh berlari dengan kecil dan tersenyum menggandeng tangan ibunya.
" Dia sendiri kok Bu ndak sama anaknya"
" Bagus kalau begitu, awas loh macem-macem sama Nak Sholeha"
" Ibu sayang banget sama Sholeha, padahal Sholeh ndak bermaksut buruk pada dia" Sholeh melepas tangannya dari ibunya.
" Ibu sudah cinta sama Sholeha, Ibu ndak rela kehilangan dia"
" Bu.... Harus dia ya, yang jadi mantu Ibu?"
" Nak kamu mikir apa sih? kan Sholeha memang calon istri kamu. Jangan aneh-aneh kamu kalo ngomong!" bu Nur sedikit membentak.
" Iya Bu, iya" Sholeh tersenyum lebar menggoda ibunya.
Untuk kesekian kalinya dia berpikir jika Sholeha bukanlah calon mantu melainkan anak kandung ibunya sendiri. Entah mengapa ibunya bisa seperti ini?
Dulu sebelum ia bertunangan dengan Sholeha ibunya tidak pernah seperti ini pada siapapun. Bahkan ia tak pernah membahas tentang Sholeha atau gadis lain kepada Sholeh. Apa sebenarnya ibunya juga baru jatuh cinta pada Sholeha? dia tidak tau.
__ADS_1
****
Pagi hari ketika Sholeha sampai di rumahnya.
Sholeha menggerutu di kamarnya sembari mengenakan kerudungnya, ia masih tidak bisa melupakan rasa malunya ketika menertawai cerita bu Nur tentang Sholeh . Sialnya dia terpergok oleh Sholeh. Dia bahkan sedikit memarahi Sholeh ketika hendak pulang tadi. Maksudnya memang tidak marah, hanya saja Sholeha bingung harus bersikap seperti apa, dia terlalu malu pada Sholeh.
Wajahnya yang cemberut dari tadi, tampak masam oleh matanya sendiri di cermin. Dia tidak menyukai pagi hari ini, dia bahkan tidak bersemangat seperti biasanya.
" Rahma Nia Sholeha, kamu bikin malu aja bisa kan ndak ketawa sekeras itu, ngatain orang cengeng, pas ada orangnya malah kicep"
Dia menunjuk wajahnya di kaca, harusnya dia tidak harus se-marah itu pada dirinya, dan ya, kenapa dia tidak meminta maaf saja mengapa harus bicara ketus seperti tadi. Tidak sopan, pikirnya. Sholeha menyerah dari rasa kesalnya sendiri, ditariknya nafas sedalam mungkin dan menghembuskan perlahan, berusaha melupakannya dan kembali memeriksa wajah dan kerudungnya .
" Ok Sholeha, kita bekerja hari ini. Dan ...
nanti saja kita minta maaf jika masih ingat, Hehehe " ia bermonolog.
Sholeha keluar dari ruang pribadi kesayangannya, setelah semalam dia tidak tidur di kasur empuknya Sholeha sedikit tergoda jika berlama-lama berada di dalam kamar. Bisa-bisa Sholeha bolos kerja hari ini.
Seperti biasa kegiatan di pagi hari, bapak yang sudah siap dengan seragam PNS nya dan ibu dengan seragam daster kesayangan ala ibu-ibu rumah tangga.
Sholeha segera bergabung mengitari meja makan, terlihat ada nasi goreng dan telur dadar di sana. Sholeha hanya duduk meminum susu hangat, karena tadi sudah sarapan bersama bu Nur dan juga Sholeh.
Sholeha sengaja menunggu bapaknya, mereka akan berangkat bersama.
" Bu Nur sudah sehat Nduk?" tanya ibu.
" Sudah Bu, Mas Sholeh juga sudah pulang"
"Kok cepet?"
" Sholeha ndak nanya kenapa Bu"
" Kamu langsung pulang aja?"
" Iya, kan Leha kerja"
" Kan bisa kamu tanya sedikit"
"Kamu tuh jangan cuek gitu sama Sholeh, dia itu calon suami mu Nak!"
Sholeha menatap ibunya, ada rasa kesal yang timbul di hatinya, mengapa ibu sekeras ini padanya? mood Sholeha sedang naik turun pagi ini.
" Iya Bu, kan Leha hanya lupa nanya, itu saja" ia menghembuskan nafas beratnya.
" Ya sudah, Ibu ndak mau nak Sholeh sampai bosan dan ndak suka sama kamu"
Bu Fatma masih saja mengomeli putrinya.
Sulaiman yang sudah menyelesaikan sarapannya segera bangkit dan bersiap berangkat. Dia hanya diam tidak ikut serta meramaikan suasana di meja makan tadi.
Sulaiman sangat tau jika istrinya itu terlalu perhatian kepada Sholeha tentang
hubungannya dengan Sholeh kali ini.
" Nanti pulangnya ikut Irma ya nduk, bapak kemungkinan pulang siaNg" ucap Sulaiman saat hendak berangkat.
" Iya nanti Leha ikut Irma "
Sholeha lupa jika Irma sedang marah padanya akhir-akhir ini, terkadang Irma juga tidak membawa motor.
Ah sudahlah....
Sholeha tidak terlalu memperdulikan bagaiman dia akan pulang nanti, yang penting sampai dulu di sekolah. Dia terlalu malas berpikir berat pagi ini, andai saja dia boleh berlibur saja hari ini. Nampaknya Sholeha sangat badmood kali ini, mungkin dia akan jalan kaki saja pulang nanti.
Suasana sekolah yang begitu ramai, meski masih pagi terlihat para wali ikut tegang dan sibuk sana sini mengikuti ujian pertama mereka. Sholeha bergegas masuk ke setiap kelas, ia kembali memeriksa perlengkapan dan kebersihan kelas.
Suasana kelas yang begitu riuh, terlihat wajah-wajah ceria yang membahagiakan.
Sholeha kembali ke kantor memeriksa kembali soal-soal yang telah ia print kemarin. Terlihat Irma sedang berada di kelas TK b, dia juga baru saja memeriksa keadaan kelas. Mereka saling bertemu pandang Sholeha tersenyum pada Irma, dia tidak tersenyum namun tidak cemberut juga dia sangat datar tanpa ekspresi.
Sepertinya Irma belum bisa berdamai, Sholeha tak ingin banyak berpikir dia sudah cukup lelah untuk hari ini. Biarlah Irma memahami dirinya sendiri terlebih dahulu, toh Sholeha tidak marah padanya. Sholeha memilih melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan masalah pribadi.
Tidak sampai tengah hari kelas-kelas sudah sepi, Sholeha membersihkan dan menata banyak hal di setiap ruangan itu.
__ADS_1
Menyusun permainan merapikan gambar dan buku-buku ia berharap pekerjaan yang sederhana namun melelahkan ini akan segera selesai.
Sarapan dengan nasi goreng yang berporsi sedikit membuat cacing di perutnya semakin keras berteriak minta tambahan jatah. Bunyi keroncongan perutnya begitu berisik ia hanya bisa menahannya sebentar saja tidak bisa lebih lama lagi.
Dengan lesu, Sholeha mengunci setiap pintu kelas yang sudah rapi dan bersih itu.
Sholeha melangkahkan kakinya keluar dari halaman sekolah. Dia tidak akan lupa jika harus pulang dengan jalan kaki, ia hanya berdoa semoga malaikat datang menolongnya. Irma sudah pulang dua menit yang lalu di jemput oleh bapaknya, tinggallah Sholeha jalan sendiri yang belum jauh dari gerbang sekolah.
Sholeha berhenti dan melihat kebelakang, ketika mendengar suara klakson berbunyi.
" Yok bareng saya"
Nah ini dia sang malaikat, dia ibu Risma salah satu pengajar di sekolah paud ini.
" Alhamdulillah, iya Bu Sholeha ndak menolak" ia tersenyum girang.
Sholeha segera naik ke motor Bu Risma.
"Kita mampir ke warung bakso di depan dulu ya Ha, hanya sebentar kok"
" Iya ndak papa"
Mereka meluncur ke warung bakso, sayangnya antrean begitu panjang, keduanya terpaksa ikut mengantri.
Sholeha dan Bu Risma duduk di bagian luar warung, bu Risma hanya pesan satu di bawa pulang begitu pun dengan Sholeha.
" Sholeha saya bertanya boleh?"
" Boleh dong Bu," Sholeha tersenyum canggung.
" Kamu calon istrinya Sholeh ya?"
" Iya bu -
" Hem dia itu dulu suka sama keponakan ku, tapi ndak tau sekarang dia tau ndak kalau Sholeh sudah punya kamu." ia sengaja memotong jawaban Sholeha.
deg ....
Sholeha merasakan sesuatu nyeri sedikit di hatinya. Sholeha tersenyum singkat.
" Memang kami belum lama lamarannya bu - "
" Nah, itu maksud saya, kenapa mendadak sekali?" ibu Risma kembali memotong.
Sholeha benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Dia terdiam lidahnya terasa kelu, namun pedagang bakso menyelamatkan Sholeha.
" Bu pesanannya, dua satu satu dibungkus semua ya...." kang mas bakso mengulurkan dua kantong keresek pesanan kami.
Sholeha mengulurkan uangnya pada laki-laki bertumbuh dempal itu.
Tanpa harus menjawab pertanyaan Risma tadi, Sholeha melanjutkan perjalanan pulangnya yang melelahkan ditambah dengan hati yang semakin gundah.
Siapa keponakan ibu Risma?
Bu Risma tidak se-desa dengannya membuat Sholeha merasa kurang paham siapa saja kerabatnya. Sholeha berusaha menghalau semua pertanyaan pertanyaan yang semakin bermunculan dalam otaknya. Dia hanya berusaha menyadari jika sebelumnya ia pun memiliki masa lalu yang belum tuntas.
Mungkin saja mas Sholeh tidak sempat bercerita, ucapnya dalam hati. Nanti jika sempat dia akan bertanya padanya, ia berniat dalam hatinya.
Ah untuk apa?
Sholeha bahkan bingung harus bagaimana menyikapi berita ini, dia merasa semakin kesal siang ini.
******
Sholeha mengucapkan banyak terimakasih kepada bu Risma ketika ia sampai rumahnya, bahkan ia meminta bu Risma mampir tapi dia menolak.
Diletakan begitu saja bungkusan satu porsi bakso di atas meja makan. Sholeha tidak berselera lagi, dia ingin segera merebahkan tubuh pada kasurnya. Hari ini begitu menyebalkan dan melelahkan, bernafaspun begitu berat baginya.
Kasurnya yang begitu empuk seakan memeluknya dengan hangat hingga membungkus semua kesedihan dan kegundahan Sholeha menjadi kantuk yang membuatnya tertidur. Sholeha tidak perduli dengan apa kata orang tadi, dia sangat lelah hari ini. Ia menutup mata tak ingin tau lebih banyak masa lalu Sholeh, ah mungkin saja sebuah masa yang belum berhasil Sholeh lalui, dia tidak perduli.
kali ini Sholeha tertidur dengan pulas, tidak lagi hanya terpejam memikirkan banyak hal. Semoga setelah bangun nanti Sholeha tidak lagi ingat dengan banyak prasangka dalam dirinya. Dia pasti hanya memenuhi otaknya dengan banyak pertanyaan tanpa mencari jawaban seperti biasanya.
***
__ADS_1