Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Kerinduan Sholeha


__ADS_3

Setelah ribut kecil dengan sang istri, malam itu Sholeh tak sempat lagi pulang ke rumah mertuanya, dengan terpaksa ia menginap di rumahnya. Sholeha tak marah padanya, istrinya itu meminta maaf terlebih dahulu masalah pagi itu. Dan untuk pertama kalinya, Sholeh tidak tidur bersama istrinya.


Tetapi tak di sangka hari demi hari berganti begitu dengan cepatnya. Sholeh dan istrinya semakin sering tinggal terpisah, terkadang hanya bertemu saat siang hari, itu pun jika ia bertandang ke rumah mertuanya.


Seperti saat ini Sholeh sedang risau dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Bulek memberinya kabar jika ibunya sakit. Dengan perasaan yang tak karuan, ia berusaha menghubungi istrinya. Beberapa kali berdering, tetapi tak ada jawaban.


Seperti tak tahan lagi, Sholeh terus saja mengingat masalah-masalah kecil yang selama ini terjadi pada mereka. Sholeh sangat kesal, dia tak mengerti mengapa di saat seperti ini istrinya tak bisa di andalkan.


Perjalanan masih separuh lagi, tetapi rasanya ia ingin terbang agar cepat sampai di rumahnya. Sekelebat bayangan wajah ibunya berkali-kali memecah fokusnya, dia sangat tak tega, dan cemas saat ini.


Sekali lagi ia mencoba, menekan nomor istrinya, berharap akan ada jawaban dari sana. Sholeh harus kecewa, lagi-lagi dering berhenti tanpa jawaban.


" Kemana sih kamu?" gumamnya dengan amarah yang tertahan.


Jika di hitung dengan jari, Sholeha hanya beberapa malam saja selama satu bulan lebih tinggal bersama Bu Nur. Masih dengan alasan yang sama, ia tak tega membiarkan bapaknya sendirian.


Pernah sekali ia di ingatkan Sholeh, tetapi tetap berujung ribut kecil dengan Sholeh yang mengalah. Itu pun karena Sholeh tetap mengingat nasihat ibunya, jika mungkin saja ia bersikap seperti itu karena bawaan jabang bayi.


Sholeh ingin sekali memaki istrinya, rasanya kekhawatiran ini begitu menekan gejolak emosinya. Tiba-tiba ponselnya berdering lagi, Sholeh menyempatkan mobilnya menepi, dia berharap itu sang istri, namun Bulek nya lagi.


" Ndak usah terburu-buru, Ibu mu bilang dia sudah mendingan. Jangan terlalu khawatir, kalau sedang di jalan pelan-pelan saja Leh, "


Ujar Bulek dari seberang telepon. Sholeh menghela nafas, ibunya itu memang sangat mengerti dengan perasaannya saat ini.


" Sholeha belum kesitu Lek, ?"


" Belum Leh, mungkin sebentar lagi. Sudah ya Bulek tutup, lupa lagi masak tuh, hati-hati ya "


" Ya sudah Lek"

__ADS_1


Telpon terputus, Sholeh menarik nafasnya, memeriksa nomor sang istri ternyata belum juga ada perubahan. Sholeh berniat mengetikan sesuatu, tetapi di urungkan nya, tetapi sekian detik ia berubah pikiran lagi.


Sholeh meneruskan perjalanannya, ia sangat tak sabar ingin bertemu dengan Sholeha. Rasanya sudah tak tahan lagi dengan situasi ini, ia segera masuk kejalur menempuh perjalanan pulangnya.


***


Sholeha menyiapkan olahan ayam kecap nya, dia sangat bersemangat menyambut suaminya pulang hari ini. Dua hari telah tinggal terpisah, membuatnya sangat rindu. Kemarin memang sempat bertemu, ketika menemui ibu mertuanya sebentar, suaminya itu cukup sibuk akhir-akhir ini.


Sholeha melupakan ponselnya di kamar, terlalu semangat sibuk di dapur, meskipun terlalu lama di sana membuatnya terus saja teringat sang ibu. Tak jarang ia menangis dalam sepi, rasa sesalnya masih begitu membelenggu, jika saja ia bisa mengingatkan semua hal, seperti saat belum menikah.


Sholeha memastikan ayam bakar kecapnya sudah matang sempurna, tak salah resep dari ibu mertuanya itu, memang sangat lezat.


" Semoga saja Mas Sholeh suka " gumamnya, dia tersenyum berkali-kali sembari menyajikan di meja.


Sholeha melirik jam dinding, hari semakin sore, sebentar lagi Maghrib, sedangkan ia belum menyelesaikan urusan dapur, dia juga belum mandi. Sholeha bergegas, dia tau suaminya akan datang setelah magrib.


Sholeha terburu-buru mandi, dia sangat takut suaminya pulang saat ia belum mandi, selain akan mengomel dia juga bisa memandikannya dengan paksa. Sholeha berlari kecil hingga di kamar mandi, tak sengaja kakinya menyenggol sesuatu, badannya terhuyung hampir saja ia terjatuh.


Sholeha benar-benar membersihkan badannya dengan teliti, menggosoknya di tempat-tempat yang bisa saja di sentuh oleh suaminya. Sholeha tersenyum lagi, ia menyentuh dadanya, " Ih jadi kenceng, dia pasti seneng" ucapnya, sembari mengguyur tubuhnya.


Ibu hamil muda itu sesekali bersenandung kecil, menikmati kegiatannya. Sholeha sangat merindukan suaminya, apa lagi dengan keadaan akhir-akhir ini yang membuat mereka sering terpisah.


Sholeha baru saja selesai sholat magrib, dia teringat belum mengirim pesan pada suaminya. Di raihnya ponsel yang tergeletak sejak tadi, Sholeha mengeriyit saat banyak panggilan dari suaminya.


Sekali saja angkat telponnya


Pesan dari suaminya itu sangat tak biasa, Sholeha langsung menghubungi nomor Sholeh. Tiba-tiba ia mendengar nada dering ponsel suaminya, ia menoleh kebelakang, tampak Sholeh berdiri di depan pintu kamar.


" Mas, ada apa ?" tanya Sholeha.

__ADS_1


Dia bahkan tak tau pertanyaannya itu untuk apa, panggilan tak terjawab, atau untuk suaminya yang tiba-tiba di belakangnya.


Sholeh diam dengan rahang tegasnya, dia diam saja segera meletakan tas bawaan nya, dan segera pergi mandi. Sholeha meletakan ponselnya asal, ia bergegas menyiapkan pakaian suaminya.


Sholeha melihat tas yang tergeletak, dia mulai berpikir tumben sekali suaminya langsung pulang kesini. Tak ingin banyak berpikir ia segera melepas mukenahnya, membereskan kamar meski tidak berantakan sedikitpun.


Pintu kembali terbuka, Sholeh segera mengenakan pakaian dan menunaikan sholat, selama itu juga dia masih diam.


Sholeha dengan sabar menunggu, ia duduk di tepian ranjang. Dengan hati yang sedikit merasa tak enak, entahlah apa sebabnya. Sholeha menatap punggung suaminya, dia sangat ingin memeluknya rasa rindu seolah tak tertahan lagi.


Sholeha bangun dari duduknya, bergegas menyalami suaminya yang baru beranjak dari sholatnya. Dengan senyum yang mengembang, Sholeha mencium punggung tangan suaminya.


" Leha siapkan makan dulu" Ucap Sholeha.


Sholeh menahan tangan istrinya, menatapnya dengan perasaan yang masih sama seperti tadi, " Kita harus berbicara " Katanya sangat datar.


Sholeha sedikit terkejut, tetapi ia bisa menguasai dirinya kembali tenang, " Ada apa Mas ?"


Sholeh melepas tautan tangannya begitu saja, dia melalui Sholeha, memilih duduk di tepian ranjang. Sholeha juga mengikutinya dengan sangat berhati-hati, Sholeha mulai menyadari ada sesuatu yang terjadi.


" Sampai kapan, kamu akan seperti ini?" kata Sholeh dengan tegas.


" Seperti ini, seperti apa maksudnya?" jawab Sholeha kebingungan.


Sholeh menatap istrinya dengan tajam, " Apa kamu tidak menyadari jika kita tidak bisa seperti ini, kamu tidak mau pulang bersama ku lagi ? Atau bagaimana?"


Sholeha tersadar, dia tau suaminya sedang membicarakan hal yang sama seperti sebelumnya. " Kita sudah sering bicarakan kan Mas, aku butuh waktu untuk seperti dulu" jawabnya masih kekeh seperti biasa.


" Apa kamu tak lagi perduli lagi dengan Ibu ku, dia sakit seharian ini. Kamu bahkan tak mengetahuinya kan ?"

__ADS_1


Sholeha tersentak dengan kata-kata suaminya, terdengar begitu kasar dan sangat menyinggung, dan apa katanya? Ibu sedang sakit, sungguh Sholeha tak mengetahuinya.


***


__ADS_2