
Usai sholat isya bersama, Sholeha dan bu Nur makan malam bersama. Setelah saling membujuk untuk makan, awalnya bu Nur yang tidak ingin makan karena tidak berselera dan Sholeha yang menolak karena beralasan sudah makan. Namun keduanya sepakat makan bersama biar pun sedikit. Ada sepiring ayam kecap dan semangkuk tumis kangkung, keduanya makan tanpa berbicara. Bu Nur menyelesaikan makannya lebih dulu dari Sholeha, setelah ia meminum obat nya bu Nur tetap duduk menemani Sholeha.
" Ayo ditambah nasinya Nduk, Ibu temenin makan ya" bu Nur tersenyum melihat Sholeha yang terlihat makan dengan lahap.
" Cukup Bu, Leha kan tadi juga habis makan" jawabnya sambil membereskan piring kotor, dia tidak lupa menerbitkan senyum manisnya.
" Sebenarnya Inu kurang suka sama ayam, tapi berhubung tadi Sholeh mau pergi jadi Ibu masakin ayam kecap buat dia, dia suka bawa bekal dari rumah katanya masakan Inu membuat dia semangat kalau kerja." jelasnya pada Sholeha,dia tersenyum bahagia.
" Mas Sholeh suka ayam kecap Bu?"
" Dia apa aja suka Nduk, ndak pemilih yang penting dia makan katanya"
" Oh begitu ya Bu, "
" Tapi Ibu tau jika dia tidak terlalu suka dengan sayur terong, tapi dia tetap memakannya jika Inu memasaknya."
" Mas Sholeh ndak ngomong Bu?
" Sholeha, dia terlalu perduli dengan Ibu, jadi dia tidak suka mempermasalahkan hal-hal seperti ini, kadang Ibu yang bingung menghadapi Sholeh yang seperti itu, dia terlalu penurut pada Ibu"
" Ibu ada-ada saja, Mas Sholeh anak yang baik loh Bu, " Sholeha tersenyum.
" Nanti kamu juga tau dia itu seperti apa" Bu Nur menatap Sholeha lekat, menyalurkan rasa bahagianya pada Sholeha.
"Ibu selalu berdoa agar Sholeh bisa membahagiakan kamu seperti dia membahagiakan Ibu, dia orang yang kadang suka diam tak mau berbicara jika banyak masalah, dia terlalu merasa sendiri selama ini nduk, "
Terlihat kesedihan tiba-tiba saja datang di sela senyumnya itu.
Sholeha menyentuh punggung tangan Bu Nur menepuknya dengan lembut. Sholeha hanya tersenyum tak berani menjanjikan sesuatu apa pun pada bu Nur, terlalu dini jika harus menyatakan siap berjuang bersama, tetapi ia baru sembuh dari lukanya, takut semakin perih jika terlalu memaksa.
" Ibu doa kan yang terbaik saja ya Bu" Sholeha berusaha menenangkan.
Melihat dari sikap ibunya yang begitu menyayangi Sholeh, ia jadi merasakan bagai mana Sholeh sangat menjaga perasaan bu Nur.
" Kamu pasti bisa menemani Sholeh kelak Nduk, Ibu sangat berharap kalian bisa saling berbagi dan berbahagia bersama."
Sholeha mengaminkan doa Bu Nur.
Karena malam semakin larut Sholeha mengantar bu Nur istirahat. Sesampainya di dalam kamar, bu Nur kembali meminta Sholeha duduk sebentar bersamanya.
" Nduk Ibu ndak apa-apa, kamu bisa istirahat di manapun, ada kamar tamu di sebelah kamar Sholeh Nduk tapi belum ibu bereskan sudah lama kosong, bagaimana kalau kamu tidur di kamar Sholeh yang lebih bersih-,
Sholeha dengan cepat memotong ucapan bu Nur
" Ibu, Sholeha mau tidur sama Ibu jika Ibu mengizinkan". Sholeha menunduk."
Sebenarnya Sholeha tidak bisa tidur sendiri di tempat yang asing" tambahnya.
Sebenarnya Sholeha sudah sejak tadi gelisah memikirkan bagaimana ia bisa tidur di rumah Sholeh yang sangat besar ini. Jangan lupakan jika dia adalah gadis penakut.
Bu Nur tersenyum,
" Ibu kira Sholeha yang ndak bisa tidur dengan Ibu, Ibu tentu tidak keberatan jika Sholeha maunya seperti itu, kemari lah Nduk ibu bisa menemanimu "
Sholeha kembali menatap Bu Nur
" Maaf ya Bu, Sholeha malah ndak bisa diandalkan seperti ini,"
" Sholeha, Ibu ini sehat, tidak perlu diurusi ini dan itu, lebih baik kita segera istirahat ini sudah malam!"
__ADS_1
Sholeha mengangguk, kemudian mengisi sebelah ranjang dan bersiap untuk tidur.
Keduanya sama-sama terlentang menatap langit-langit kamar yang menggelap. Ternyata Sholeha tak kunjung bisa tidur seperti bu Nur padahal sudah cukup lama setelah bu Nur sedikit bercerita sebelum benar-benar terlelap.
Selain menceritakan Sholeh yang sering pergi seperti ini, dia juga sedikit menceritakan sosok ayah Sholeh yang sangat mencintainya.
Bu Nur sampai sedikit meneteskan air mata ketika bercerita tadi, dia mengatakan sedikit rindu. Suaminya yang pergi saat terbilang masih muda membuat bu Nur sangat kehilangan. Bu Nur bahkan menceritakan jika sebelum suaminya itu sakit mereka telah berencana pergi haji setelah Sholeh selesai kuliah, namun apalah hendak dikata jika Allah telah berkehendak. Sampai sekarang angan-angan pergi haji bersama masih sangat teringat dengan jelas, ketika Sholeh mengatakan akan mengantarnya pergi namun bu Nur masih belum bersedia.
Dia tidak menceritakan lebih jauh, mungkin ada keinginan tersendiri yang tidak harus Sholeha dengar saat ini.
Bu Nur juga mengatakan jika Sholeh tak pernah sekalipun mengenalkan seorang wanita kepadanya, menurut bu Nur hanya dia yang langsung pas di hati Sholeh.
Meskipun cerita di bagian ini sedikit membuat Sholeha merasa senang tapi entah mengapa dia tidak mempercayai jika Sholeh tidak pernah menyukai seseorang. Bahkan dia sendiri belum merasakan jika Sholeh menyukainya.
Sejauh ini mereka saling menyadari tujuan dari hubungan ini adalah untuk membahagiakan orang-orang tercintanya.
Sholeha belum bisa terpejam, kamar yang temaram oleh lampu tidur, membuatnya sedikit berani membuka mata. Dilihatnya bu Nur yang tertidur membelakangi dirinya, punggung yang begitu terlihat tenang membuat Sholeha ingin memeluknya andai jika itu ibunya sendiri.
Ditengah berbagai lamunan Sholeha terdengar dering notifikasi dari ponselnya di atas meja rias, diraihnya dengan pelan ia bangkit dari kasur agar bu Nur tidak terbangun.
Muncul nama, Yang kasih Cincin di layar ponselnya. Dia juga melihat jam yang masih menunjukan pukul sepuluh.
(Bagai mana keadaan ibu?)
Sholeha tersenyum, dia sangat tersentuh melihat sikapnya yang penuh kasih pada ibunya.
(Ibu sehat mas, dia sedang tertidur)
Setelah pesannya terkirim Sholeha meletakan ponselnya, hendak tidur tetapi terdengar kembali notifikasi pesan kali ini terdengar sampai dua kali berulang.
(Terimakasih sudah mau menemani
(Besok saya sudah kembali.)
Sholeha merasa jika Sholeh terlalu mengkhawatirkan Bu Nur, dia memaklumi sikap Sholeh. Tak ingin menunda ia segera membalas pesan Sholeh.
(Mas tenang saja ya, ibu baik, dan
yang penting mas hati-hati saat
pulang nanti)
Dirasa Sholeh tidak akan membalas pesannya lagi ia kembali menaiki ranjang bersiap untuk tidur. Semoga dia bisa tidur dengan nyenyak dan tidak kesiangan seperti biasa di rumahnya. Sebelum ia benar-benar memejamkan mata Sholeha kembali memastikan ibu Nur dengan menyentuh dahinya, dia teringat Sholeh mengatakan jika ibunya itu sedang demam. Suhu tubuh bu Nur normal, setelah Sholeha yakin tidak ada gejala demam ia memutuskan segera tidur.
****
Seperti terpasang alarm di kepalanya,
Sholeha terbangun ketika azan subuh berkumandang. Dia mencari bu Nur yang ternyata sudah bangun terlebih dahulu.
Memang tidak kesiangan sih, tapi dia masih kalah cepat dari calon ibu mertuanya. Dia menyalakan lampu, berjalan keluar kamar. Sholeha melihat bu Nur keluar kamar mandi, terlihat wajahnya yang basah oleh air wudhu.
" Mau Ibu temani Nduk? " Bu Nur memang terlalu peka pada Sholeha yang penakut.
" Ndak usah Bu, Sholeha berani kok" senyumnya terlalu dipaksa, dia cukup dewasa untuk pergi ke kamar mandi sendiri.
Dia tersenyum simpul
" Ibu duluan kalau begitu" meninggalkan Sholeha sendiri.
__ADS_1
Dinginnya air wudhu membuat matanya terbuka sepenuhnya. Menghilangkan jejak kantuk yang begitu bergelayut pada kelopak matanya. Sholeha menyegerakan urusannya di kamar mandi. Sebelum pikiran buruknya semakin menebal dalam otaknya dan menakuti dirinya sendiri.
Ketika sampai di ruang sholat Bu Nur sedang duduk tahiyat akhir, Sholeha menggelar sajadah di samping kanannya.
Menunaikan sholat subuh ditengah sepinya dan keheningan rumah besar ini menambah ke khusyukan dalam sholat subuh yang sangat berbeda bagi Sholeha.
Tidak lama kemudian ia mengakhiri rangakaian dzikir dan beberapa doa singkatnya di pagi itu, Sholeha bergegas menyusul bu Nur yang sudah berada di dapur. Sholeha menghampiri bu Nur yang sedang mengiris bawang dan cabai.
" Ibu mau buat apa? biar Sholeha saja yang teruskan" Sholeha hendak merebut pisau dari tangan bu Nur.
" Ibu buat kan nasi goreng sebentar ya Nduk, masih keburu kan kalau nunggu lima belas menit saja!" ia melirik jam yang tergantung di atas pintu masuk dapur.
" Ibu ndak usah repot-repot, Sholeha ndak sepagi itu berangkat kerjanya, dan Sholeha masih ada waktu bantu Ibu kok" ia tersenyum penuh kasih pada sosok ibu yang sangat memperhatikannya itu.
Setelah saling berpendapat, keduanya memutuskan menyelesaikan bersama dan sarapan bersama setelahnya. Dibumbui dengan sedikit obrolan ringan, bu Nur juga menceritakan sedikit tentang Sholeh yang sering pergi ke kota meskipun jarang sampai menginap seperti hari ini. Dia tidak akan menyangka bisa mengetahui jika Sholeh ternyata juga seorang pria manja yang tidak suka makan pedas. Dan sering menangisi peliharaan ikannya mati.
Bu Nur menceritakan, jika dulu Sholeh sering meminta ayahnya memelihara ikan hias kecil-kecil, terkadang ikan kecil itu sering mati, sebanyak ikannya mati sesering itu juga ia menangis. Saat itu usia Sholeh sudah sepuluh tahun. Sholeha sempat menertawakan sikap konyol Sholeh, dia pasti sudah besar saat itu. Selembut itu hati Sholeh ujarnya dalam hati.
" Mas Sholeh cengeng ya Bu" tawanya sedikit tertahan.
" Iya semudah itu dia menangis, padahal ikannya kan banyak, mati satu aja ditangisi" ibu menambahkan dan Sholeha meneruskan tawanya hingga terdengar memenuhi seluruh ruangan dapur.
" Pasti mukanya lucu ya Bu" dia masih saja terkekeh.
Kemudian terdengar suara Sholeh, seketika Sholeha terdiam kaku tanpa menoleh ke belakang.
" Ibu ndak bisa cerita yang bagus-bagus aja ya" ia mendekat dan mengulurkan tangan menyalami ibunya.
" Ya Allah Nak kok ndak ngomong pulangnya sepagi ini?" bu Nur juga terkejut.
" Ternyata Sholeh ndak bisa jauh sama Ibu, jadi Sholeh segera pulang" jawabnya sambil memeluk ibunya seperti anak kecil.
Sholeha sedang menyendokan nasi goreng kedalam piring itu hanya diam tidak berani melihat adegan mesra yang membuatnya juga ikut bahagia dan sedikit deg-deg kan.
" Kita sarapan kalau gitu!" ajak bu Nur.
" Iya Sholeh cuci tangan dulu" dia menghampiri kran air di samping Sholeha berdiri.
" Kita sarapan ya...." Sholeh mengajak Sholeha. Sholeha hanya mengangguk.
Semua orang telah duduk mengitari meja makan, dengan satu piring nasi goreng masing-masing. Tanpa cerita lebih panjang mereka diam menikmati nasi goreng buatan Sholeha.
Sholeha berubah jadi pendiam sejak Sholeh tiba di rumah, entah kemana larinya tawa yang terdengar sangat renyah tadi.
Sholeha pamit pulang setelah selesai sarapan, namun Sholeh memaksa akan mengantar Sholeha pulang. Namun Sholeha dengan keras menolak tanpa mau dibantah.
" Ini sudah terang benderang Mas, Leha bisa pulang sendiri. Mas ndak usah meremehkan Sholeha begini dong, saya bawa motor sendiri dan juga mas itu baru pulang nyetir mobil sendiri kamu lelah Mas, Sholeha ndak mau merepotkan."
Jawaban Sholeha tegas bahkan terkesan ketus kali ini, Sholeh hanya bisa terdiam dan mengiakan saja.
Setelah berpamitan dengan bu Nur Sholeha pulang ketika jam setengah tujuh.
Bahkan wajahnya sedikit cemberut karena sempat beradu pendapat dengan Sholeh tadi. Diakuinya jika Sholeha pagi ini sedikit malu karena menertawakan Sholeh tadi, tapi dia juga marah dan tersinggung dengan sikap Sholeh padanya.
Hem
Sepertinya Sholeha hanya sedang malu pada pria yang tiba-tiba muncul dan menggangu tawanya.
****
__ADS_1