
Siang itu terasa sangat sejuk, sebab senyum wanita impian Dito yang tak henti-hentinya terpancar dari wajah ayunya. Kemarin malam Dito menghubungi Sholeh lagi, meminta alamat rumah Rahma yang ada di kota selama ini. Dito cukup kebingungan saat melihat rumah bersegel sitaan Bank.
Untungnya Rahma juga baru saja sampai, dan di sana lah mereka, Dito bersiap membawa banyak barang Rahma pulang, Dito tak menyangka jika kehadirannya sangat membantu Rahma saat ini.
Dengan memendam banyak pertanyaan pada wanita yang paling ia pedulikan saat ini, tentang apa yang telah terjadi selama perpisahan jarak dan hubungan yang telah mereka lalui. Tak menyangka hingga separah ini, Dito hanya bisa menyesali perjuangan sempat ia akhiri. Sedih dan iba pada Rahma tak bisa di pungkiri, namun yang teramat membelenggu dirinya adalah sebuah penyesalan.
" Apa kita langsung pulang?" Dito bersiap mengemudi kan mobilnya.
Rahma membenarkan posisi kakinya perlahan, dia sangat berhati-hati takut terbentur sesuatu. " Jika tidak, kemana lagi. Aku tak punya tujuan" dia tersenyum.
" Baiklah, dengan senang hati akan ku antar sampai tujuan."
Rahma tertawa kecil, menikmati nada bicara Dito yang tak pernah lelah menghiburnya. " Apa kabar Ibu, lama tak bertemu dengannya. Apa dia sehat?" .
Dito sedikit menghadap Rahma, mencari mata yang terdengar begitu sendu" Dia baik, lain kali aku ajak menemuinya" jawab Dito bersungguh-sungguh.
" Jangan buru-buru, nanti Ibu mengira kita masih pacaran. Aku ingat sekali dia memarahi mu waktu itu" Rahma tersenyum kecil, penuh sesal.
" Maaf kan Ibu ku, dia-,
" Untuk apa, dia memang benar Dit, semua orang juga tau itu. Aku tidak marah." Rahma merebut pembicaraan ini dengan cepat.
Keduanya terdiam sejenak, mencoba memilih kata selanjutnya untuk membuka cerita.
" Ah iya, aku lupa bercerita. kemarin aku bertemu dengan adikmu. Dia sudah besar sekarang" ucap Dito tiba-tiba.
" Andy, di mana. Iya dia sudah melebihi tinggi dari ku. Dia tidak mirip sama sekali dengan ku kan Dit?"
" Iya, dia tampak lebih tinggi. Sepertinya dia memiliki bengkel ya?"
Rahma bahkan tampak terkejut dengan cerita Dito. Tak menyangka jika adiknya telah bekerja. Tak lama dari itu, Rahma juga menceritakan banyak hal tentang Andy yang mandiri dan hampir tak pernah meminta uang darinya.
Dengan setia Dito mendengarkan hal-hal kecil yang terus mengalir dari pembicaraan ini. Dia tak bosan atau risi dengan kehidupan Rahma yang jelas sudah ia pahami sejak dulu. Sesekali Dito mencuri senyum yang selama ini ia rindukan. Ah jika saja tak terhalang restu saat itu, mungkin ia tak lagi merindu seberat ini.
" Apa kamu tidak menyesal, membiarkan Sholeh menikahi orang lain?" pertanyaan tiba-tiba itu datang dari Dito begitu saja.
Rahma tampak menghela nafas, seolah sangat berat dan membebaninya " Menyesal atau tidak, tidak akan ada gunanya. Sekarang aku tetap seperti ini seperti dulu, dia tidak akan mengubah ku, "
" Apa kamu pernah mencintainya?"
"Cinta, seperti apa jika ada padanya. Aku sedikit pun tak bisa menemukan pada dirinya, dia itu terlalu sempurna untuk diriku yang seperti ini, pada dirinya saja aku malu. Mana mungkin aku bisa hidup terus bersembunyi darinya. Aku tidak bisa mencintainya"
Dito melambatkan laju mobilnya, lampu merah menyita perhatiannya.
" Aku tau kamu tak bisa mengakui cintamu padanya, tetapi jika kamu bersedia jadikan aku di posisinya. Kamu mencintainya terlalu dalam selama ini. Teramat takut melukai dan mengecewakannya. Rahma aku bisa berjuang berkali-kali untuk memetik hatimu. Aku minta beri aku kesempatan"
Dito dengan lembutnya menyentuh jemari lentik Rahma di pangkuannya. Sejak tadi dia begitu tak tahan lagi, jika bisa Dito akan merengkuhnya erat saat ini.
" Aku..... Tak bisa berjanji. Kamu harus tau Dit, sejak dia mengatakan akan menikahi orang lain, aku telah menyerah dengan segenap hati. Dia memang tak pantas menemani diriku yang seperti ini. Tetapi bukan berati bisa memilihmu menjadi pengganti. Beri aku waktu jika kamu sudi"
Dito melepas tangannya dari Rahma, kembali mengendalikan kemudi dengan serpihan rasa yang tak bisa ia cerna. Dito kembali terdiam, berusaha mengatakan sesuatu yang tak melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
" Aku akan menunggu" jawabnya tanpa ragu.
Perjalanan mereka tak terhenti hingga tujuan akhirnya, keduanya saling membuka cerita dan mengizinkan hati untuk saling terbuka dan menyapa, siang yang mulai bergulir dengan senja tiba pada petang. Sampai di kediaman Rahma dengan hati yang begitu riang, Dito menikmati semua perjalananya kali ini.
***
Kedua insan yang saling bertukar rasa dengan sentuhan melalui dekapan itu mulai terengah, saling tersenyum enggan mengakhiri permainannya. Sunyi dini hari tak mengurungkan niatnya untuk saling berbagi cinta. Tak perduli rasa dingin di luar sana mereka tetap menembus rasa yang begitu bergelora dan menggebu penuh canda dan damba.
Sholeh tak ingin pergi dari atas tubuh sang istri, menikmati hangatnya cinta yang telah tercurah di malam yang hampir berakhir ini. Dia terpejam namun tak tidur, mengatur nafas yang begitu memburu, begitu kasar di telinga Sholeha. Wanita yang masih begitu menikmati hangat rasa cintanya sampai di puncak kesadarannya, mengusap lembut punggung polos nan halus sang suami.
Beradu kasih, bergumul kembali saling mengecap rasa cinta dan buaian sentuhan lembut nan indah, di balik remang lampu kamar keduanya menuntaskan segala hasrat yang seolah tak kunjung mereda dari dari jiwanya yang terus saja ingin mencoba.
" Semoga jadi ya Yang.... Mas sangat bekerja keras kali ini" ucap Sholeh mengecup kening istrinya.
" Semoga saja ya Mas, aku juga sangat menikmatinya dan berharap cinta kita tumbuh secepatnya"
Setelah saling melepas dalam kehangatan, Sholeha berpindah memeluk erat suaminya di sisinya. Menatap wajah berpeluh Sholeh, ia tersenyum dengan menyentuh bibir yang juga tersenyum ke padanya. " Apa perlu sekali lagi?" ucapnya parau.
Sholeh tertawa, " Kamu ini, besok lagi ya. Ini hampir subuh. Atau kita sambung setelah sholat?" Sholeh mengedipkan mata.
" Tidak Mas, Mas ada kerjaan sama Mas Rizal kan hari ini. Tidak bisa" jawab Sholeha dengan tegas.
" Bisa di tunda Yang, lagi ya" Sholeh penuh harap.
Sholeha mencubit dada suaminya dengan pelan " Ih, ayok mandi. Lima belas menit adzan loh. " Dia hendak beranjak, berusaha meraih dasternya yang entah di mana.
" Aduh masih dingin Yang, nanti aja" Sholeh menarik Sholeha dalam pelukannya pagi.
Benar-benar tidak baik jika di biarkan seperti ini, bersinggungan dengan tubuh liat suaminya hanya akan menimbulkan rasa lain menjalari dan menyita hasrat yang telah tenang ini. Sholeha berusaha keras, melepaskan diri, mencoba mengingatkan sang suami jika waktunya tidak bisa di tunda lagi.
Sholeh tergesa dan berusaha tak perduli dengan kegiatan kecil sang istri, ia bahkan terburu-buru keluar lalu menutup pintu dengan sangat keras, menimbulkan suara yang membuat Sholeha terkejut.
Sholeha hanya menggeleng, sedikit menduga tingkahnya itu pasti berkenaan dengan dirinya yang seperti ini. Sholeha tersenyum, dan ikut tergesa menyelesaikan mandinya.
***
Masih pagi sekali, Rizal telah menemui Sholeh. Bapak pemborong itu menagih janji Sholeh yang tentu saja akan menemui klien, ah keren sekali bahasanya, maksudnya panitia penyelengara masjid yang akan di garapnya.
Setengah tujuh pagi, kakak iparnya itu telah menyita waktu bermesraan nya dengan sang istri. Dengan sedikit kesal Sholeh keluar dari kamar dan menemui Rizal.
" Ya ampun Leh, masih aja di dalam kamar. Ini sudah siang, teruskan nanti saja." tawa Rizal menguar begitu keras di ruangan.
Sholeh diam saja membenarkan apa yang di katakan Rizal. Sholeh duduk di depan Rizal yang masih sangat asik tertawa.
" Sampean sudah sarapan Mas, ini masih pagi. Mau berangkat sekarang?"
" Ya belumlah. Aku juga harus antar Fatih sekolah dulu, niat ku mau ajak kamu pergi agak siangan aja."
" Oh. Ya sudah ndak papa. Sekalian nunggu Agus, dia harus kirim barang dulu"
" Ya sudah. Aku pulang dulu"
__ADS_1
Sholeh mengantar Rizal sampai di teras, masih dengan tawa meledeknya, kakak ipar itu seolah tau jika Sholeh sedikit kesal dengan kedatangannya.
Sholeh kembali ke kamar, mencari istrinya yang tadi masih sibuk meminta dirinya segera bangun. Setelah subuh tadi Sholeh tidur lagi, niatnya ingin bermanja-manja dengan sang istri, ternyata Rizal datang sedikit mengganggu.
Katakan saja pria ini sedang sibuk menikmati gejolak asmaranya, tak menjalin kasih di masa mudanya itu membuat ia sangat tergila-gila dengan istrinya saat ini.
Tak ada di kamar, Sholeha sedang sibuk menyiapkan sarapan bersama ibu mertuanya. Sholeh menyusulnya, dia duduk di meja makan memperhatikan dua wanita tercintanya sekarang ini. Mereka berbincang santai dan sesekali saling tersenyum.
Seolah apa yang telah ia impikan sejak pertama terbesit nama Sholeha dalam hatinya dulu, pemandangan indah ini begitu menenangkan hati dan pikirannya. Selama ayahnya pergi, Sholeh telah berubah menjadi pria yang begitu sederhana dan tak banyak mimpi.
Baginya bisa menemani masa tua sang ibu saja sudah cukup sampai sempat melupakan jika ia juga harus bahagia dengan orang terkasihnya. Untung saja Sholeha mampu menembus rasa kenyamanan Sholeh melajang, datang dan mengingatkan jika hidup bersama akan lebih menyenangkan. Itulah dia menerima perjodohan ini.
Kedua wanita yang sedang asik di pandangnya, tak sedikitpun merasa terganggu, mereka tetap asik bertukar cerita dan mengomentari rasa.
" Ini kalau untuk Mas mu, pasti ke asinan nduk, lain kali kurangi aja. Dia itu cerewet kalau soal rasa." ucap Bu Nur saat mencicip masakan menantunya.
Sholeha sedikit merengut, tentu saja dia kecewa, karena selera suaminya ternyata tak sama dengan dirinya " Menurut Sholeha ini pas Bu, " ujarnya jujur.
Bu Nur tertawa kecil, " Ibu juga suka, ini pas dan tidak keasinan. Biar kan saja seperti ini, Sholeh kan tidak suka dengan sayur ini" hibur sang ibu pada menantunya.
Sholeh penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, dari suara istrinya dia begitu kecewa dan setelahnya tertawa. Sholeh mendekat, melongok kuali yang sedang mereka perhatikan dengan sangat serius.
" Aku suka, kenapa memangnya?" celetuk Sholeh saat melihat terung balado yang begitu merah warna cabainya.
Sholeha terkejut, tak menyadari ada suaminya tepat di belakang dirinya. Dia hampir saja melempar spatula yang sedang di pegang nya.
" Mas, ngagetin aja. " Ucap Sholeha.
Bu Nur semakin melebarkan tawanya, melihat wajah Sholeh yang tak jujur sama sekali. Jelas sekali dahinya mengernyit tak menyukai masakan istrinya.
" Ya sudah, kita sarapan. " Bu Nur meninggalkan sepasang kekasih itu berdebat kecil dengan masalahnya sendiri.
" Yakin suka ini?"
" Iya, kan masakan kamu. Siapa yang ngomong aku ndak suka, ngawur itu " Sholeh membantu membawa sepiring terung balado.
" Ibu yang ngomong, " Sholeha tersenyum, melihat suaminya mendelik, tak menyangka ibunya telah membongkar rahasianya.
Olahan terung sederhana itu tersaji di tengah meja, bersanding dengan dadar telur dan ikan goreng tepung. Sepagi ini dapur itu telah menyajikan menu berat yang tak menjadi masalah bagi penikmatnya, mereka sarapan ala orang desa yang tak memakan roti dan susu di pagi hari.
Dengan penuh cintanya, Sholeh berusaha menghibur dirinya sendiri, karena telah memaksa memakan sesuatu yang tidak ia sukai. Jiwa lelakinya di gunakan saat ini, setidaknya menghargai. Tetapi dia tidak bisa memaksa.
" Maaf istriku..... Mas ndak bisa makan ini" ucapnya menyisihkan terung di piringnya. Matanya terlihat berair, seperti hendak menangis.
Sholeha heran, mengapa ada orang yang seperti ini, jika tidak suka mengapa memaksa, " Iya ndak usah di makan Mas, Leha ndak marah kok. Jangan nangis gitu" ucap Sholeha sembari tertawa.
Bu Nur kembali tersenyum, menikmati kedekatan keduanya yang sangat sederhana, " Nduk, dia itu takut pedas, ndak suka terung, dan yang paling penting dia itu kecewa karena terlalu asin. Ibu sudah katakan tadi " Ia menepuk pundak Sholeha lembut.
" Maaf.... " Sholeha nyengir tanpa merasa bersalah. Di bahkan tertawa dengan sang ibu mertuanya.
Bu Nur beranjak setelah selesai makan, memberi waktu untuk dua orang yang masih saja asik berdebat masalah terung dan rasa asinnya.
__ADS_1
" Mas, aku dengar Mbak Rahma sudah pulang, kita jenguk ya" ucap Sholeha tiba-tiba.
***