Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Satu bulan dari sekarang


__ADS_3

" Sekali lagi maaf kan saya ya, harusnya saya lebih tegas dan tidak membuat Sholeha kecewa!" ucapnya dengan penuh memusatkan pandangannya pada Sholeha yang kembali menunduk.


" Sholeha bisa mengerti, tapi lain kali jangan lagi ya, jika tidak bisa bersama Sholeha jujur saja, katakan dengan jelas . Sholeha agak trauma di bohongi, hehehe" Sholeha tertawa kecil dengan seribu keluguannya yang begitu terlihat oleh Sholeh.


" Kamu selucu ini, kenapa harus patah hati lagi. " Ucapnya lirih, tak terdengar Sholeha.


Sholeh melihat sekitar, belum menemukan tanda-tanda kedatangan orang tua Sholeha, kemudian ia melirik teh hangat yang ada di meja samping kanannya.


" Teh manisnya ndak seperti biasanya" celetuk Sholeh tiba-tiba.


Sholeha ikut memperhatikan satu cangkir teh manis di atas meja, Sholeha mengerutkan keningnya . Dan melihat Sholeh yang belum mau meminumnya.


" Ndak ada lemon nya Sholeha ". Sholeh, kemudian tersenyum dan sebelum meminum teh itu.


Sholeha tidak menggubris, dia kembali mengalihkan pandangan, kemudian mengerucutkan bibirnya samar.


" Udah ndak kepikiran, "


Sholeh bahkan meletakan kembali cangkir ke atas meja dengan agak tergesa, hingga mengeluarkan suara denting yang sedikit keras. Sholeha kontan menoleh ," Pahit" dengan mengerutkan seluruh dahi dan mukanya, Sholeh mengatakannya.


" Masa sih?" Sholeha tak percaya.


" Pasti kepikiran terus ingin menyerah ini" Sholeh tertawa kecil.


Sholeha tambah merengut.


Di tengah tawa Sholeh yang tertahan, terlihat kendaraan Sulaiman menepi di depan rumah. Terlihat keduanya baru saja pergi ke suatu acara. Sholeh berdiri menyambut mereka, mengikuti Sulaiman yang terus melangkah kan kakinya ke ruang tamu. Tak menghiraukan Sholeha yang tampak mengomel, karena tehnya di abaikan begitu saja.


Sulaiman dan Fatma duduk di ruang tamu menemani calon mantunya yang sudah lama tidak bertamu.


" Sudah lama Le?" tanya bu Fatma pada Sholeh, seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


" Belum Bu, baru saja" jawabnya berbohong, padahal ia sudah banyak berbincang dengan Sholeha di luar tadi. Dia tersenyum .


Sholeha bahkan tak lagi mendengar apa saja yang mereka obrolkan, ia memilih masuk ke kamarnya. Malas nimbrung dengan semua orang di ruang tamu.


Entah apa yang selalu mereka obrolkan kan jika sedang bersama seperti itu, setau Sholeha, dari dulu laki-laki yang bernama Hamdan Sholeh itu sangat tidak mengenal waktu jika duduk santai bersama bapaknya, mereka bisa berlanjut ngobrol meski kopi atau tehnya sudah tandas dan mengering.


Pantas saja jika bapaknya itu semakin suka pada anak sahabatnya itu, pertemuan mereka terlalu sering untuk se-ukuran hubungan mereka yang biasa atau sekedar dekat. Mungkin saja ini yang jadi pertimbangan Sholeh untuk tetap meneruskan hubungan ini, ya Sholeha sadari itu. Karena soal cinta dan perasaan mereka saling mengaku dan masih belum kelar dari masa lalu. Niatnya pengen bahagiain orang tua aja dulu.


Sholeha terbenam dalam selimutnya setelah sholat tadi, dia benar-benar tidak keluar dari kamar. Malam ini Sholeha mengalami kantuk yang terlalu ekstrim, dia bahkan melupakan makan malamnya. Gadis satu ini emang tidak bisa mendisiplinkan kebiasaan atau kegiatannya sendiri, kadang rajin kadang juga sangat pemalas, apa iya usianya tak berpengaruh pada kebiasaannya ini?, dia dua puluh tahun tahun ini.


Perutnya yang kosong tidak akan mungkin jika ia bisa tertidur nyenyak.

__ADS_1


Sekitar setengah sebelas malam, Sholeha menuju dapur membuka tudung saji yang tidak lagi hangat. Dia tahu ibunya tidak akan mengosongkan meja makan rumahnya. " Telor balado, Alhamdulillah" ucapnya dengan riang. Sholeha memang sangat tidak pandai mengatur pola makanya dia akan makan ketika sudah tidak nyaman dengan suara perutnya yang terus keroncongan. Tidak lagi perduli dengan jam yang terus berputar ke angka dua belas, Sholeha masih asyik duduk di tengah dapurnya yang sepi.


Tidak ada pikiran aneh, buruk atau baik sangka kali ini, dia hanya merenung sembari menurunkan isi dalam perutnya.


Setelah ia merasa nyaman tidak terlalu kenyang, Sholeha berniat mensucikan diri dengan berwudhu, sepintas bayangan sholat malam ingin ia tunaikan.


Mungkin juga karena tidur terlalu cepat, Sholeha bisa terbangun tengah malam, besar kemungkinan ya karena lapar juga .


Seingatnya sholat malam bebas di laksanakan jam berapa, dari pada ia habis makan langsung tidur lebih baik absen dulu pada sang pencipta bahwa ia juga ingin di sebut sebagai hambanya.


Rangakaian doa disertai Sholawat terus terucap dengan lirih, ia menambahkan juga berapa ayat Al Qur'an sebagai pelengkap ibadah malamnya ini. Sedikit dari banyaknya permohonan ia ajukan, memohon petunjuk dan keikhlasan nya dalam menjalani hubungannya dengan Sholeh.


" Jika Engkau meridhoi, permudah lah Ya Allah, " ucapnya di ujung doa.


Keheningan malam yang begitu dekat mendekap ketenangan hatinya, Sholeha tidak ingin banyak berkeluh kesah, sepenuhnya ia berserah dengan menghabiskan malam kembali tertidur dan semoga hari esok jauh lebih baik dari kemarin, ucapnya pada dirinya sendiri.


****


" Waalaikumsalam, Ya Allah besanku !" jawab bu Fatma sedikit bersorak ketika membuka pintu.


Ketika itu Sholeha dan Ayu ikut terperanjat mendengarnya, mereka turut melongok ke ruang tamu yang mulai terisi beberapa tamu.


" Ibu ngagetin aja, kayak ndak pernah bertemu ibu Nur" seloroh Sholeha .


Ayu benar, Malam kemarin ketika Sholeha tertidur anteng di kamarnya, ternyata Sholeh meminta izin pada Sulaiman agar segera menentukan tanggal pernikahan secepatnya. Dan malam ini Sholeh dan Bu Fatma kembali datang dengan formasi keluarga Sholeha yang juga lengkap termasuk Al dan Fatih.


Sholeha juga terkejut, bahkan bapaknya mengatakan jika Sholeh berinisiatif juga karena usulan darinya. Sholeha sampai terkejut dan melongo mendengar bapaknya mengatakan itu. Sekali lagi Sholeh terlalu nekat dan memaksanya ikut serta dalam keputusannya. Sholeha hendak mengelak juga tidak mungkin, jika namanya saja telah di daftarkan sebagai pihak yang pemilik ide.


Jadilah mereka semua berkumpul, saling mengusulkan pilihan hari terbaik untuk pernikahan ini.


" Gimana, kita ajukan satu bulan dari sekarang saja, yang terpenting beres dokumen dan persyaratannya" Sulaiman mengusulkan.


" Ndak terlalu cepat Pak, kan kita perlu renovasi dapur ?" Sholeha berusaha memberikan pertimbangan.


" Sudah kita tunda saja, dari pada nikahnya yang di tunda." jawab ibu Fatma.


Rizal segera menambahkan " Bisa kok nduk, jangan pikirkan itu urusan mas gampang lah" ia tersenyum.


" Ya sudah terserah saja," Sholeha mengangguk kecil, ia tersenyum pada bu Fatma yang sejak tadi menatapnya.


Sholeh, dia terus saja tersenyum menanggapi Rizal yang terus saja mengoloknya, tampak menertawakan satu hal yang mereka rahasia kan sejak tadi.


Bahkan Sholeha bisa mendengar Rizal tertawa beberapa kali. Sholeha menyipitkan matanya meneliti tawa Rizal yang begitu memunculkan tanda tanya baginya. " Mas kenapa?" ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


Rizal menoleh, menatap Sholeha yang terlihat terganggu dengan tawanya, " Yakin mau tau kenapa?" tanya Rizal balik pada Sholeha.


" Bibi sepertinya Om Sholeh kentut, Al denger tadi" tiba-tiba saja suara lucu itu menyela di antara obrolan orang dewasa.


Langsung saja Sholeha tertawa dan Fatih yang juga mengikutinya, Al juga menambahkan sedikit tawa yang tertinggal.


Suasana jadi riuh, ada Ayu dan ibu Fatma yang kemudian memarahi anaknya masing-masing. Ayu bahkan memarahi Al, sedang Bu Fatma tampak menepuk pelan pundak Sholeha." Hus, ndak sopan kamu nduk". Sholeha seketika menghentikan tawanya.


Terlihat Sholeh yang wajahnya memerah, entah karena malu di tertawa kan atau merah karena marah pada kejujuran Al yang tidak bisa di kontrol, tentu saja Sholeha merasa terhibur, dia sangat lucu.


" Wong Al aja di percaya, Sholeh ndak kentut kok" ucap Rizal membela.


Sholeh tampak menunduk dan kemudian melirik Sholeha yang masih setengah tertawa. " Oh ya jadi tanggal berapa ini pastinya?" ujar Rizal mengalihkan pembicaraan.


Sholeha memandang Rizal, kemudian bergeser pada Sholeh yang berada di samping kanannya.


" Tanya Mas Sholeh aja, dia sudah putuskan bersama bapak kemarin malam" Sholeha menekankan ucapannya, seolah menunjuk Sholeh untuk bicara.


Sebenarnya dia hanya merasa kesal tidak di ajak rundingan sama sekali, kedua orang itu selalu saja menyampingkan pendapatnya, yah meskipun pasti Sholeha juga tetap manut apa kata bapaknya saja.


Menurut Sholeha perlu kan walau hanya sekedar mendengarkan, tetapi Sholeha juga tidak paham pada calon suaminya itu yang tiba-tiba meminta memajukan tanggal pernikahan, sebelumya Sholeha mengira dia akan membatalkan lamaran ini dan kembali mengejar Rahma untuk memenuhi keinginan almarhum neneknya.


Untuk sekian kalinya, Sholeha di tempatkan pada posisi yang sama, selalu menjadi pihak yang terima beres. Jalani saja adalah kalimat yang sekali lagi ia tanamkan dalam hatinya.


Bedanya kali ini Sholeha tidak merasa keberatan seperti saat di lamar dulu, mungkin karena ia tak ada kesempatan menolak lagi.


Sholeh yang di tatap oleh semua orang, sampai bingung ingin mendengar ucapan Sholeha yang begitu mendominasi, bahkan Sholeha terlihat sedikit kesal padanya.


Dengan penuh sopan ia tersenyum, perlahan menjauhkan pandangannya dari calon istri yang masih sedikit marah itu.


" Ah itu, sebenarnya bapak juga yang memberi saran, akadnya di laksanakan tanggal dua puluh lima bulan depan."


Sontak saja Sholeha beristigfar, ia terkejut bukan main, " Ya Allah, kok ndak lebih sama sekali sih, satu bulan dari sekarang?" dengan logat menangis nya yang terlihat bohongan." Ok, ndak usah resepsi kalau begitu, Sholeha ndak suka buru-buru soalnya" tawarnya dengan tegas.


Bapak ibunya ingin membantah, namun suara Sholeh begitu tenang menjawab keputusan Sholeha.


" Resepsinya kita tunda saja, mungkin satu bulan kemudian atau nunggu habis lebaran saja, kita harus undang teman-teman kita untuk mengumumkannya." Sholeh menatap Sholeha begitu lekat.


Ada saja bahasa Sholeh untuk menolak segala permintaannya, Sholeha sampai kesal dan menyerah begitu saja.


" Ya sudah terserah," Sholeha merendahkan suaranya yang hampir saja meledak tadi.


****

__ADS_1


__ADS_2