Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Baru dua poin


__ADS_3

Sedetik kemudian air yang telah menggenang di bola mata jatuh mengalir begitu saja di pipi Sholeha. Dia tidak sengaja dan tidak sedikitpun bermaksud menyinggung perasaan Sholeh. Sholeha jadi kalang kabut melihat Sholeh yang masih saja terdiam tanpa mencoba menjelaskan. " Mas salah paham kali ini, biar Leha jelaskan lebih detail lagi kalau begitu" ucap Sholeha sembari mengusap sedikit air matanya yang tidak sopan ini." Sholeha tidak ingin memberatkan Mas saja, bukan berarti yang lainnya. Sholeha pasti menerima apa pun yang Mas berikan kepada leha, seperti anjuran Rasulullah pada para wanita baik yang tidak di perbolehkan memberatkan perkara maharnya pada calon suaminya, itu saja " jelasnya begitu lugas.


Sholeh menarik nafas, " Maaf aku tidak bermaksud mengatakan itu tadi, saya hanya meminta sedikit permintaan dari mu sebagai calon istri, agar aku bisa memberikan yang terbaik di hari itu" sungguh keduanya saling merendahkan suaranya, berusaha menghindari ketegangan dalam diskusi ini.


Ruang tamu yang seketika hening, dan tak ada lagi keinginan dari keduanya untuk saling menambahkan atau membantahnya, hanya sesekali terdengar tawa kecil bu Fatma yang sedang asik menonton televisi dari ruang tengah.


"Baiklah, Sholeha akan memilih tapi jangan tertawa dengan pilihanku ini, jika keberatan menyerah saja. Bagaimana jika dengan sapi yang melahirkan anak kembar tiga " ucapnya tanpa ragu, Sholeha hanya berniat mencairkan suasana. Dia juga sedikit tegang dan canggung.


Namun dia memperparah keadaan, Sholeh tampak lesu dan meluruhkan pundaknya pada sandaran kursi. Terdengar hembusan nafasnya begitu kasar, dan frustasi. " Apa maksud mu Sholeha, aku jelas tidak akan sanggup menemukannya" jawabnya begitu sedih bercampur emosi.


Lain halnya dengan Sholeha yang malah tertawa sampai ujung matanya tertutup sempurna. Melihat ekspresi Sholeh yang begitu menggemaskan dan lucu.


"Mas Hamdan Sholeh, aku ini bercanda. Jangan putus asa seperti itu" jelasnya sembari menutup mulutnya agar tidak tertawa lebar. Begitu dengan Sholeh yang seketika terduduk sambil mencerna perkataan Sholeha.


"Aku tidak sejahat itu, walau bagaimana pun aku akan sangat sedih jika kita batal menikah." ucap Sholeha bersungguh-sungguh.


Sholeha begitu menantikan jawaban apa kiranya yang akan ia dengar dari Sholeh.


" Alhamdulillah ya Allah, aku kira kamu sengaja mempersulit dan kemudian menolak ku seperti dayang Sumbi" jawabnya dengan gelak tawa, akhirnya kehangatan kembali menguar.


Dari sikap Sholeh yang sebentar saja telah berubah, Sholeha menyimpulkan jika sebenarnya dia pria yang baik dan humoris. " Sepertinya, aku juga tertipu dengan sikap Mas yang sok sedih itu kan?" tanya Sholeha yang menyadari senyum Sholeh yang sedikit ganjal.


Sholeh tertawa. " Maaf, jadi maharnya juga terserah saya nih, ndak ingin menawar lagi?" Sholeh kembali memastikan. Kini wajah Sholeh berubah menjadi hangat dan jauh dari ketegangan seperti beberapa saat yang lalu.


" Mas ndak tanya Bapak saja, Sholeha ndak paham soal ini. Kemarin yang menyarankan sapi anak tiga ya Mbak Ayu" Sholeh berbohong, ia hanya berusaha mengisi obrolan ringan agar tak begitu canggung.


"Dia sampai bertaruh, jika Mas Sholeh pasti akan tertawa terbahak-bahak maka aku boleh memukul kepalanya" tambahnya kemudian.


Sholeh masih tertawa." Oh Ayu rupanya, ada-ada saja. Untung saya tidak tertawa tadi, jadi kamu menang dari taruhan ini." ucapnya di ujung tawa. Sholeh kembali meminum teh yang tinggal setengah.


"Kemarin saya sudah tanyakan kepada Bapak, katanya terserah kamu saja". Sholeh kembali ke inti permasalahannya.


"Iya apa aja, asal jangan yang terlalu berlebihan. Sholeha juga percaya jika Mas ndak mungkin memberiku yang aneh dan buruk, atau yang susah di urus kayak sapi anak tiga " Masih saja Sholeha menertawai kekonyolannya yang sebenarnya juga tak seberapa lucu.


Sholeha melihat cangkir teh yang sudah mengering, tetapi Sholeh nampak masih asik melanjutkan perbincangan. Sholeha berinisiatif membuat kan lagi, namun bingung bagaimana cara berpamitan dari hadapan Sholeh." Mas mau nambah tehnya?" tanya Sholeha.

__ADS_1


Sholeh pun melihat cangkirnya yang kosong, " Ndak usah, saya juga sudah kembung, mana bisa minum secangkir lagi" jawabnya mencegah Sholeha yang sudah beranjak meraih cangkir di hadapan Sholeh. " Kita lanjutkan saja, dan masih ada lagi hal penting yang harus saya sampaikan " imbuhnya.


Sholeh duduk kembali, bersiap mendengar Sholeh berbicara. Terlihat jika ia begitu bersiap juga untuk mengatakan sesuatu, hal yang di sebut penting tadi. " Ya sudah, Sholeha ndak jadi buat lagi" ucapnya.


Sebelum ini, Sholeha tidak pernah melihat sisi Sholeh yang begitu serius dan mendominasi, dia selalu terlihat santai dan tidak banyak hal yang Sholeha ketahui. Jika kedepannya Sholeha harus mempelajari pria di depannya ini mungkinkah ia bisa, sedangkan setahun dengan Arman masih berantakan akhirnya. Bukan menyamakan atau bermaksud berburuk sangka, hanya saja Sholeha sedang menanyakan ini pada dirinya sendiri. Sholeha tetap tidak ingin tersakiti kali ini, apapun alasannya dia juga tidak boleh menyakiti.


" Sholeha, saya harus tanyakan ini. Tidak terlalu penting jika kamu tidak setuju, tetapi saya berharap kamu bisa mendukung saya dalam keputusan ini, saya berencana membuat rumah, dan renovasi toko, menurutmu mana yang harus saya lakukan terlebih dahulu, em bukan apa-apa hanya saja saya ingin kamu sepenuhnya mendukung saya, dan tidak akan menimbulkan perselisihan ketika kita baru saja menikah, karena hal pertama yang harus kamu ketahui adalah cara berpikirku dalam bekerja, dan saya juga perlu keterbukaan kamu sebagai istri yang siap mendukung semua keputusanku dari segala hal" tuturnya begitu gamblang.


Sholeha terdiam mencerna, ini seperti soal ujian sekolah yang di terapkan dalam kehidupan nyata, Sholeha tak menyangka dia akan di uji sedemikian detail oleh calon suaminya ini, seperti yang di katakan di awal ini memang tidak penting, tetapi penting untuk keberlangsungan jalan kedepannya, Sholeha bingung sendiri sikap Sholeh yang terlampau terang-terangan seperti ini sangat sulit di hindari.


Dengan sabarnya Sholeh menunggu Sholeha menjawab, meski ia sempat terdiam beberapa menit. Wajar kan jika Sholeha berpikir terlebih dahulu, ini sejenis tes yang menentukan kualitas etos kerja otak dan hatinya dalam mengambil keputusan.


Sholeha menarik nafas, " Pertama leha juga tau jika sebenarnya Mas pasti ada pemikiran sendiri tentang arahnya kemana, Sholeha tetap memberikan dukungan selagi Mas melakukan semua kebaikan yang tidak merugikan orang lain, ataupun diri mas sendiri. Untuk kasus yang ini menurut Sholeha mas renovasi saja toko terlebih dahulu, karena ini penting dalam berlangsungnya keuangan usaha mas kan, jika rumah bisa nyusul nanti saja. Toh mas juga ndak mungkin berjauhan dengan ibu, tetapi jika Mas masih kekeh membuat rumah lagi juga ndak papa tapi di pertimbangkan lagi ya, yang penting kita jadi akad nikah dulu kan?"


Betapa Sholeha pun tak menyangka jika mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan yang membuat dirinya sendiri melayang terbang. Bahkan jika di perbolehkan Sholeha akan berlari atau bersembunyi dari hadapan Sholeh. Entah dari mana pula jawaban itu muncul dari otaknya, Sholeha sangat malu. Dia takut jika hanya bisa mengatakannya saja, belum tentu bersikap seperti apa yang ia ucapkan barusan. Di tambah lagi, dengan sikapnya yang terlihat siap menikah, membuat Sholeha semakin malu saja.


Sholeh tertawa begitu riangnya, menanggapi jawaban Sholeha yang begitu lancar tanpa kendala, " MasyaAllah, seneng banget saya dengernya, apa lagi poin terakhir, yang penting akad dulu. Sudah sembuh patah hatinya Nduk?" tanya Sholeh dengan terkekeh, dia begitu senang terlihat dari wajahnya yang terus menampakan lesung pipi di sana.


Sholeha bahkan terkejut mendengar pertanyaan Sholeh, dan mengubah panggilan kepadanya. Mungkin ia terbawa suasana saja.


Sholeh tidak tau saja, jika calon istri kecilnya ini sedang kuwalahan mengatur detak jantung karena malu, dia malah seenaknya menertawakan dirinya.


Sholeh kontan terdiam. " Ya ndak gitu, ndak nyangka aja Sholeha juga pengin cepat-cepat nikah" ceplosnya masih berusaha menahan tawa.


Rupanya laki-laki ini sangat berisik jika hatinya sedang berbunga, Sholeha tetap saja terdiam di seberang kursi yang Sholeh duduki. Dia kehabisan kata untuk membela diri, jadilah ia melipat kedua tangan pada dadanya. Meneruskan kekesalannya melihat Sholeh yang menjengkelkan.


" Terserah. Jadi apa lagi ?"


" Apanya?" tanya Sholeh merasa di tekan.


" Ini sudah malam, jika hendak mengejek ku saja, lebih baik Mas pulang" jawab Sholeha pelan tidak bernada marah, dia hanya kalah berpendapat dari Sholeh, membuatnya malas meneruskan obrolan ini. " Bukan mengusir, kita bicarakan lagi besok. Bisa sampai subuh jika di teruskan" tambahnya lagi dengan sedikit senyum di paksakan.


Tidak lama dari itu Sulaiman keluar dari ruang tengah, " Gimana, udah kelar rundingannya. Sholeha suka marah-marah soalnya kalau ndak pas sama pendapatnya" ucapnya pada Sholeh.


" Ndak kok Pak, sudah beres. Cuman Sholeha yang memindahkan semua pikirannya pada saya, dia maunya terima beres pak." jawab Sholeh sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Sungguh, dia sangat bahagia sepertinya.


Sholeha mengabaikan apa yang kedua pria itu katakan, dia ingin segera kembali ke kamarnya. " Mas Sholeh ndak keberatan kok Pak, katanya gampang bisa di atur" timpal Sholeha tidak mau mengalah.


Sulaiman tertawa. Jelas sejak tadi dia juga mendengar apa saja yang di runding kan oleh keduanya. " Ya terserah kalian saja, pesan Bapak yang penting kalian sama-sama sepakat dan tidak saling menutupi, katakan saja semuanya secara jelas agar tidak menyesal di kemudian hari." Sulaiman menepuk pundak Sholeh pelan.


Ini pemandangan yang begitu mengharukan, ternyata sedalam itu bapaknya menitipkan dirinya pada pria lain. Sholeha hampir menangis, tapi tak sampai hatinya benar-benar terharu Sholeh tampak bersiap untuk pamit.


" Kalau begitu Sholeh pulang ya Pak, sepertinya saya kehabisan waktu untuk mengenal Sholeha, baru dua poin yang baru saya dapatkan, sepertinya masih perlu bantuan bapak untuk mengetahui yang lainnya. Sholeha sedikit alot ternyata" bisiknya pada Sulaiman yang kemudian tertawa menanggapi Sholeh.


" Ya sudah, masih banyak waktu lain kali lagi. Kalau sudah sah nanti bapak ndak akan tegur kamu meskipun ngobrol sampai pagi buta pun" candaan Sulaiman menambah seri tawa berkelanjutan dari Sholeh. Sampai akhirnya ia undur diri secara paksa, jika tidak pak RT akan datang menegur karena bertamu terlalu larut. Sholeh akhirnya pulang.


***


" Huh, Alhamdulillah" Sholeha menghela nafas, ketika melihat jam hampir di angka sepuluh. " Heran, betah banget di sini" gumamnya sambil meletakan kepalnya di sandaran ranjang. Ingatannya kembali berputar pada rasa malunya yang berpusat pada jawaban dan pertanyaan yang selalu saja mengejutkan dari mulutnya sendiri, entah apa penyebabnya. Karena teringat lagi dan lagi Sholeha sampai memukul keningnya dengan sengaja. " Banyak hal yang bisa kamu pikirkan dari pada mengingat perkara tadi dan wajah mas Sholeh yang menjengkelkan itu. Lagian kamu ini ndak sopan kalau ngomong seenaknya" ia memukul mulutnya setelah berhenti menggerutu.


Sholeha merebahkan tubuhnya, namun tak kunjung bisa tertidur. Rasa yang begitu campur aduk begitu terasa mengganjal dan sangat menggangu, kadang denyut senang, kadang denyut kecemasan dan ada denyut ketakutan di dadanya. Separuh jalan ia melangkah, menelusuri keputusannya sendiri yang begitu ragu-ragu dan penuh kebimbangan. Rasanya tak pantas jika hatinya masih saja tak bisa yakin sanggup menerima, semua rangkaian cerita ini pilihan terakhirnya hanya bisa pasrah dan ikhlas menjalani. Semoga saja masih ada kesempatan untuk meyakinkan hatinya yang masih begitu lemah dan terombang-ambing di permukaan hubungan ini. " Perlahan Sholeha, pilihan kali ini adalah puncaknya hatimu bekerja, jika masih tak bisa saling berusaha dan mendukung, mana bisa jadi satu" ucapnya pada dirinya sendiri, sambil memegang dada dan kepalanya. Seolah dadanya sama dengan seorang teman yang bisa merespon semua perkataannya. " Kita tidur saja saat ini, malam semakin larut, lupakan semua untuk sementara waktu" masih saja ia berbicara sendiri. Matanya menurut, tidak lama dari ucapannya itu, Sholeha benar-benar tertidur.


***


Sayup-sayup suara adzan subuh menyentuh daun telinga yang masih terbungkus selimut tebal, sang empu masih nyaman dengan pelukan kantuknya yang begitu erat. Sholeha menggeliat berusaha menyingkirkan rasa malasnya, ia cukup lama terjaga malam tadi, sangat mengesalkan dia terus saja terbayang wajah Sholeh yang berkali-kali tersenyum di depannya kemarin.


"Astagfirullah, ya Allah. Eum... Masih ngantuk" ucap Sholeha sambil menegakkan badannya yang masih terasa malas. Sejak Sholeh pulang semalam, ia tak langsung tertidur. Sulaiman sempat mengajaknya berbincang sebentar. Dia masih saja teringat teguran bapaknya semalam yang begitu masih terngiang olehnya.


"Sholeha Nduk kamu ndak boleh ngomong kasar seperti tadi ya, ndak sopan loh Nduk. Sebisa mungkin kalau kesel ya cukup di tahan dulu nanti Sholeh bisa salah arti jika hatinya lagi ndak tenang. " ucapnya kala itu. Benar saja bapaknya ini terus memantau dirinya saat bersama Sholeh tadi.


"Sholeh ndak bermaksud kasar Pak, Mas Sholeh juga pasti ngerti kok. Sholeha kan memang begini orangnya" jawabnya begitu enteng dan tak mau mengalah.


Sholeha tau pesan ini bukan untuk kali ini saja, namun berlaku sampai esok kedepannya. Sholeha juga menyadari jika dia juga merasa kurang sopan menanggapi semua pembicaraan Sholeh tadi malam, meski kelihatannya Sholeh tampak biasa-biasa saja.


" Jangan minta di mengerti terus dong Nduk, ada saatnya kamu juga harus belajar pengertian. Jangan samakan suamimu dengan Ibu dan Bapak" tutur kata yang begitu tegas tak bisa di bantah terucap malam itu, Sholeha sampai bergidik ngeri mendengarnya. Betapa jelasnya jika ia akan segera di pindah alihkan posisinya dari seorang anak menjadi istri seseorang.


" Ya Allah, bisa ndak aku ini?"


***

__ADS_1


__ADS_2