Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Praktekkan Saja Langsung


__ADS_3

" Mas dari mana?" Ayu heran dengan suaminya yang baru saja tiba dengan wajahnya yang berseri-seri.


Rizal tidak menjawab, dia malah merangkul istrinya dari samping dan mengecup pipi dengan singkat.


" Habis pamer sama adik ipar." Jawabnya bersemangat.


Ayu mengerutkan keningnya, " Pamer apa?"


Rizal menatap istrinya dengan gemas, " Pamer kamu hamil lagi."


Ayu tersipu kemudian menimpuk dada Rizal dengan centong nasi yang sedang di pegang nya. " Ndak bisa jaga rahasia" ucapnya.


Rizal duduk di depan Ayu, melihat apa yang sedang di lakukan sang istri di meja makan. " Ndak apa, buat motivasi mereka agar lebih giat lagi, prosesnya"


Ayu menambah tawanya, menggeleng dan menatap wajah jahil sang suami.


Padahal ketika mereka pulang dari bidan kemarin sore, sudah sepakat untuk tidak memberitahu banyak orang sebelum empat bulan. Eh ternyata, mulut suaminya ini sangat lebar tak bisa jaga rahasia.


Ayu jadi membayangkan wajah Sholeh ketika mengetahuinya, sejak dulu dia yang pertama akan mengakui anaknya sebagai keponakannya. Tak di sangka kehamilan ketiga ini malah sudah jadi adik iparnya sungguhan.


" Mas, Sholeha pasti sudah tau ini" celetuk Ayu tiba-tiba.


Rizal mencomot dadar telur dengan tangannya, " Pasti. Mana bisa Sholeh merahasiakan sesuatu pada istrinya itu".


Ayu tampak berpikir, terlihat dari gerakan tangannya yang terhenti menyendokan nasi pada piring Rizal. " Mas, Sholeha ndak akan sedih kan?".


" Sedih, kenapa harus sedih?"


" Yah, Mungkin saja, karena dia juga pasti ingin hamil tentunya?"


" Mah, dia baru nikah satu Minggu mana langsung jadi, kita saja buatnya udah tiga bulan yang lalu kan. Ndak usah pikir yang aneh-aneh ah, dia itu anak baik, "


" Iya juga. Lagian kalau dia langsung hamil yang ada di kaget. Belum juga asik pacaran malah udah hamil " Rizal tertawa.


Orang yang pertama kali di beri tahu adalah Sholeh, entah mengapa Rizal begitu ingin berbagi kebahagiaannya kali ini. Apa lagi status Sholeh yang telah berubah menjadi adik ipar, dia merasa semakin dekat.


***


Sedangkan Sholeha berteriak kegirangan, memeluk suaminya dengan erat. Dia tak menyangka jika Ayu telah hamil lagi, reaksi yang sama saat kehamilan Fatih dan Al dulu.


" Yang.... Kamu se-senang ini?" Sholeh melepas pelukan istrinya.

__ADS_1


Bu Nur yang baru saja ke dapur sampai terkejut melihat suami istri itu tertawa dan berpelukan di sana, tidak biasanya.


" Ada apa?" ucapnya bu Nur.


Sholeha melepas pelukan, dia berbalik menatap ibu mertuanya yang sedang kebingungan. Dia duduk di hadapan sang mertua, " Buk, Mbak Ayu hamil lagi"


" Alhamdulillah, kata siapa kamu?"


" Mas Rizal yang kasih tau. Baru tiga Minggu " jawab Sholeh pada ibunya.


Sholeh mengamati wajah bahagia istrinya, berseri dan melupakan pertengkaran tadi. Ajaib sekali hati wanita, lain kali Sholeh akan mencari berita bagus jika sedang bertengkar. Terbukti ampuh mencairkan kemarahannya.


" Semoga saja sehat dan selamat, Ayu pasti menginginkan anak perempuan " kata Bu Nur.


" Aamiin ya Buk, uh Leha seneng banget "


Sholeha melirik suaminya yang diam saja, dia kembali teringat jika sedang kesal dengannya. Dia tak perduli lagi, Sholeha segera mengambilkan nasi untuk suaminya.


Pantas saja jika Sholeh dan kakaknya tertawa begitu lepasnya, dia pasti sedang membicarakan hal ini. Sholeha kembali tersenyum, ingin sekali segera menemui Ayu dan mengucapkan selamat padanya.


" Kamu jadi pergi, ?" tanya Bu Nur pada Sholeh.


Sholeh berjanji pada Agus akan mengantarnya melihat lahan yang hendak di belinya. Kegiatan sederhana yang seringkali di lakukan oleh keduanya.


" Mas pergi jam berapa, ?"


" Sembilan mungkin, lihat saja Agus datang kesini jam berapa"


Untung saja kemarin dia langsung bercerita pada istrinya, jika tidak dia akan bertambah kesal padanya. Mengenal Sholeha lebih dekat seperti ini, Sholeh semakin menyukai sifat positif dari istirnya meskipun terkadang sedikit berlebihan.


Contohnya saja seperti malam tadi kan, di tegur saja dia sudah marah. Meskipun tidak marah yang seperti apa, dia tetap menjawab meski ketus jika di tanya, tetap melayani apapun keperluan Sholeh meski tidak dengan senyum manisnya, wajar saja di sedang marah.


Sholeh hanya sedang menandai sifat dan kebiasaan istrinya secara perlahan. Pernikahan yang masih begitu panjang ini dia tentu akan bersiap lebih cepat untuk menghadapi banyak hal yang mungkin saja terjadi.


Memang suatu keharusan, tetapi mengingat dirinya lah yang harus membimbing istrinya sepenuh hati, Sholeh akan berusaha keras membimbingnya.


" Mas, mau telor nya ndak?"


Sholeh tersenyum, lamunan jauhnya buyar seketika. Wajah istrinya yang begitu damai ini menambah selera makannya. Dia terlihat sudah tidak marah lagi.


" Boleh, " Sholeh mendekatkan piringnya pada Sholeha.

__ADS_1


Porsi sarapan Sholeh sedikit bertambah, sebab rasa senangnya karena istrinya tidak lagi marah padanya.


***


" Mas, hari ini Leha libur, boleh ya pulang, kangen sama Bapak dan Ibu. " Kata Sholeha pada suaminya.


Mereka berdua sedang berada di kamar, Sholeh bersiap pergi.


" Ndak nunggu Mas dulu, sore pasti sudah pulang kok Yang, Ndak enak kamu pulang sendiri gitu," Sholeh merapihkan rambutnya dengan sisir.


" Mas ndak capek, ya ndak papa lah Mas, kan dekat ini wajar dong kalau Leha pulang sendiri " Sholeha mendekati suaminya yang sedang berkaca.


Sholeh merangkul istrinya, menatapnya lewat kaca di depannya. " Tunggu Mas sebentar ya, kita jenguk Bapak dan Ibu barengan. Kalau ke tempat Ayu Mas izinkan, kamu pasti ingin sekali ngerumpi dengan nya kan?"


Pandai sekali Sholeh menghibur istrinya yang tampak murung, dia bahkan menghadiahkan kecupan singkat di pipi kiri Sholeha.


" Iya deh nurut. Jangan lama-lama perginya ya. Leha kangen banget sama Ibu" ucapnya membalas kecupan Sholeh.


" Kalau ndak sempat sore, kita ke sana malam, nginep juga boleh."


Sholeha tersenyum, " Iya deh. "


cup cup


Kecupan singkat dari Sholeha semakin menyenangkan Sholeh, apa lagi di bibir yang menurut sang istri tebal dan membuatnya kewalahan.


" Yang... Udah ah, Mas mau pergi ya" Sholeh melepas rangkulannya.


Jika diteruskan bisa gagal rencana dengan Agus, ah istrinya ini pandai sekali mempermainkan jantungnya. Berdebar karena ingin melebihi kegiatan sekedar kecupan.


Sholeha menjauh dari suaminya, " Ok, hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari jika sudah sampai " ia mengulurkan tangan, menyalami suaminya yang sudah rapi.


Mencium punggung tangan Sholeh telah menjadi kegemaran Sholeha saat ini. Seperti yang biasa ia lihat dari bapak dan ibunya di rumah, benar saja Sholeha menerapkannya dengan begitu cermat pada kehidupannya.


" Mas, pergi ya. Jangan banyak nonton drama loh, Mas tau semalam kamu nonton orang ciuman, kalau pengen ngomong aja langsung. Dari pada nonton enak praktek langsung kan?"


Sholeha menganga, apa yang di katakan suaminya ini cukup membuatnya terkejut, ternyata dia hanya pura-pura tidak tahu.


" Mas, ih. Awas ya ...."


***

__ADS_1


__ADS_2