Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Maaf, menggangu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sholeha terbangun dari tidurnya, setidaknya sebelum adzan subuh berkumandang. Entah mengapa dia bisa terbangun sepagi itu. Semalam setelah Sholeh pergi dengan terburu, ia sangat terganggu dengan wajah Sholeh yang sangat terlihat khawatir dan penuh penyesalan itu.


Dia menekankan agar tidak berpikir aneh-aneh terhadap Sholeh saat ini, pada dirinya yang selalu saja banyak prasangka.


Dia hanya ingin melayat seperti layaknya orang telah kehilangan kerabatnya. Tidak pantas jika dia melebih - lebihkan sikap Sholeh meski terlihat sangat berduka itu.


Sholeha beranjak, dia juga akan memulai sholat pertamanya setelah bersuci pagi ini, menembus dinginnya embun pagi dan air mandi yang bercampur dalam satu waktu membuatnya tak berhenti mengusap kedua lengannya. Untuk menghangatkan diri yang tengah menggigil.


"Huh.... Dingin MasyaAllah"


Dia telah bersiap di atas sajadah kesayangannya masih ada sepuluh menit sebelum adzan, dia ingin duduk terlebih dahulu meluangkan waktu menambah bacaan Alquran nya meski satu lembar.


Sholeha selalu melakukannya setidaknya satu kali dalam sehari setelah sholat.


Untuk hari ini ia begitu bersemangat ingin segera berjumpa dengan kalam indah yang selalu saja menambah ketenangan dalam hatinya. Dia bukan ahli Alquran atau penghafal, dia hanya orang awam yang berusaha berkomitmen penuh dalam ke Istiqomahnya.


Lima menit ia membaca Alquran, Sholeha tampak berhenti di salah satu ayat yang sangat ia sukai, doa nabi Musa ketika hendak menuju kota madyan, menurut kesimpulannya yang di ajarkan nabi Musa ialah memohon perlindungan dan petunjuk kepada Allah adalah suatu keharusan bagi seorang hamba kepada Tuhan Nya. Maka Allah akan mempermudah segala urusannya terutama dalam hal kebajikan.


Sholeha menyudahi bacaan nya ia teringat membangunkan orang tuanya. Belum sampai ia keluar dari kamar, ia terlebih dahulu mendengar ibunya memanggilnya.


" Subuh Nduk, ayo bangun!" ia mengetuk pintu kamarnya.


Sholeha tersenyum, " Leha udah bangun Buk" sembari membuka pintu, memastikan pada sang ibu jika dia bahkan sudah bersiap untuk sholat.


" Alhamdulillah, anak Ibu udah tobat" ucapnya seraya meninggalkan Sholeha.


Sholeha tertawa, mungkin karena kebiasaanya yang selalu terbangun di penghujung waktu subuh, membuat ibunya sangat bersyukur melihat anak gadisnya sudah lengkap dengan mukenah nya ketika di bangunkan.


Suatu kemajuan yang bagus.


Bahkan terdengar sayup-sayup suara ibunya memuji dan menceritakan pada bapaknya yang juga tengah bersiap pergi ke masjid. " Tumben anak gadismu itu Pak" katanya. Jawaban bapak tak begitu terdengar, atau hanya bergumam saja menanggapi ibunya.


Keluarga Sulaiman yang tak begitu pandai agama namun selalu menjaga imannya itu, telah melahirkan wanita lembut penuh kasih seperti Sholeha. Sikapnya yang terlalu berhati-hati dan hatinya yang begitu lembut dan begitu perasa, hanya kebiasaan berprasangka buruk pada otaknya yang terlalu merepotkan dirinya.


Hobinya yang melamun ini yang sangat berbahaya.


Setelah banyak kegiatan pagi di lakukan, sesuai dengan rencana sekitar setengah tujuh pagi Sholeha bersiap melayat bersama Ayu. Sholeha menunggu Ayu seperti janjinya, tidak perlu di jemput ke rumahnya.


" Yok Dek, keburu siang!" ajak Ayu saat baru saja tiba dan segera menemui Sholeha di kamar.


" Loh Mbak ndak sarapan?" tanya Sholeha yang berencana sarapan terlebih dahulu, dia sedang mengenakan kerudung saat itu.


" Nanti aja ya, kita kejar jenazah sebelum di makamkan" jawabnya terburu-buru.


Sholeha mempercepat sesi berdandan di depan cermin nya, dia melihat Ayu yang sudah tidak sabaran menunggu. Memasang bros kecil pun ia urungkan, ia benar-benar di desak secepat mungkin.


" Ya udah, yok!" ia menarik satu tas kecil di atas meja, dia bergegas keluar menyusul Ayu.


Jam tujuh lewat sepuluh menit, keduanya melaju di atas kendaraan yang sama, tujuan mereka menemui keluarga yang tengah berduka. Menjadi supir pribadi Ayu jika saat genting seperti ini adalah hal yang biasa, terkadang Sholeha sampai enggan menuruti Ayu yang hobi berpergian kemana - mana. Tidak hanya pasar, kondangan pun selalu mengajak Sholeha, alasannya mas mu itu suka ribet dan cerewet kalau di ajak berpergian. Sholeha ingat itu, namun kali ini mas nya memang sedang sibuk, ada kerjaan yang tertunda semenjak Fatih sunat.


Perjalanan yang begitu asing, karena Sholeha belum pernah ke desa itu sebelumnya. Terlihat sama saja, namun sedikit berbeda bentang alamnya yang lebih indah dari tempat tinggalnya.


Sekitar setengah jam berkendara, Sholeha di arahkan pada satu rumah besar yang terlihat banyak orang. Benar saja ini rumah duka keluarga Rahma, tampaknya almarhum adalah orang yang baik, terlihat suasana rumah keluarganya ini begitu padat dengan pelayat, dan memang benar Sholeha sempat mendengar dari salah satu pelayat meyebutnya" Bu Haji emang dermawan, pasti Allah mengampuni segala dosanya".


Sholeha mengekori Ayu, ia berjalan membelah deretan pelayat yang berbisik mengucapkan tahlil, Ayu begitu cepat bisa menemui Rahma dan keluarganya.


Tanpa banyak bertanya Sholeha hanya menyalami para keluarga dengan senyuman meniru Ayu berputar mengelilingi keluarga besar Rahma.


Sholeha duduk tetap di samping Ayu, kali ini mbak iparnya memilih duduk di samping ibu paruh baya, Sholeha menebak dia adalah ibu Rahma, wajahnya memiliki garis cantik yang sama persis.


Sholeha diam mengamati , acara yang hampir usai sepertinya. Jenazah yang telah di mandikan dan segera di sholatkan . Sebagian keluarga dan kerabat bersiap sholat, hanya ibu ini yang tetap terdiam di dekat Ayu, ia nampak sedih dan begitu lesu.


Sholeha tidak ikut sholat, ia tetap berdiam di dekat Ayu. Jujur saja tidak ada satu pun orang yang ia kenal, bahkan Rahma pun tak terlihat keberadaannya. Atau Sholeh yang katanya melayat sejak malam tadi, tidak juga terlihat olehnya.


" Ibu ndak nyangka Nduk, nenek pergi sekarang" tangis ibu itu terdengar, ia berkeluh pada Ayu yang ada di sampingnya.

__ADS_1


" Yang sabar ya Bu, " balas Ayu begitu dalam.


Sholeha jelas melihat kedekatan keduanya yang begitu nyata, pada dasarnya Ayu yang begitu penyayang tidak heran dia bisa memiliki hubungan dekat dengan ibu sahabatnya itu. Sholeha jadi iri, bahkan sahabatnya saja tidak se-akrab itu pada keluarganya.


Sholeha menghembuskan nafas, mengalihkan pandangan matanya dari mereka, tak sengaja matanya menangkap sosok Sholeh yang bersiap ikut mensholati jenazah. Dia terlihat sangat tenang, dan begitu berbaur dengan keluarga besar ini.


Sholeha tak menyangka, sosoknya yang begitu ramah itu memang berlaku untuk siapa pun dan di mana pun.


" Rahma di mana Buk?" tanya Ayu kemudian, Sholeha ikut beralih menyimak ibu yang duduk di samping Ayu.


" Dari tadi dia belum mau keluar kamar, ibu juga tidak bisa memaksa nduk. Dia yang banyak merasa kehilangan, ibu tau itu."


" Ayu lihat nanti ya bu!" hiburnya pada ibu itu.


Sholeha masih diam menyimak, dia juga bisa merasakan bagaimana perasaan keluarga yang di tinggal kan.


Sebaik apa pun perpisahan, tetap saja butuh waktu untuk mengiklankan. Itu benar nyatanya, tidak ada yang menyangkal.


Terdengar imam telah menutup doanya, menjadi tanda telah usai tahapan kali ini, mengantarkan Jenazah ke makam adalah keharusan yang selanjutnya. Semua orang berdiri dari duduknya mengantar keberangkatan sang nenek , atau ibu bagi semua kerabatnya itu ke peristirahatan terakhir.


" Kita di rumah saja Dek!" tarik Ayu pada Sholeha ketika ia turut berjalan keluar.


Sholeha mengangguk, ia kembali mendekat pada Ayu. Iringan tahlil semakin menggema seisi ruang dan pelataran mengikuti yang sedang berpulang, ada tetes air mata juga menghiasi suasana itu.


Begitu pilu hari yang berduka ini, semoga keluarga segera bisa mendapatkan ketabahan dan keikhlasan segera mungkin.


" Kita temui Rahma sebentar ya Dek!" ajak Ayu kemudian.


Keduanya menelusuri beberapa ruang sebelum berhenti di salah satu kamar.


Tanpa melupakan salam, Ayu masuk menemui sahabatnya itu. Sholeha ikut ke dalam, menyapa Rahma yang terlihat begitu kuyu dan mata sembabnya.


Sholeha mengira, wanita ini sedang menyesali sesuatu di hari ini. Tangisnya yang begitu terisak dan sorot matanya begitu kuyu. Sholeha juga menyadarinya kehilangan memang hal terberat dalam jalan hidup ini.


Ayu hanya memeluk dan memberikan ketenangan, sebentar lagi. Berikan waktu sebentar lagi Rahma pasti akan bercerita tanpa di tanya. Sholeha bersedia menyimak, karena ia juga berada di sana.


Setelah mereda tangis Rahma, Ayu melepas pelukan. Memandang wajah sahabatnya dengan penuh ketegaran meski matanya sendiri sudah bergelayut air mata, satu kedipan saja pasti tumpah ruah membanjiri pipi. Dia juga bersedih.


" Kamu harus kuat, ini adalah takdir!" kata Ayu memberi kekuatan.


" Aku bersalah padanya," kembali lagi ia katakan itu. Sholeha menyadari mungkin saja ia butuh ruang pribadi bersama Ayu, terlihat begitu banyak hal yang ingin ia ucapkan namun tertahan. Walau bagaimanapun Sholeha adalah orang lain di antara mereka.


Sholeha berdehem kecil, merebut perhatian dari keduanya.


" Mbak Rahma saya ikut berduka, semoga mbak bisa segera mengikhlaskan ya" ucapnya lembut dengan sedikit senyum kecil. Agar tak terlihat kaku.


Rahma memandang Sholeha, ia menyambut ucapan itu dengan sedikit tersenyum. Dia bahkan mengangguk.


" Terimakasih ya sudah mau datang" ucapnya kemudian.


Sholeha kembali tersenyum, kemudian menatap Ayu . " Mbak aku keluar aja ya" Sholeha sedikit berbisik.


" Ngak papa - papa kamu sendiri?" Ayu memastikan.


Sholeha hanya mengangguk, ia keluar memilih ruang yang sekiranya ada banyak orang saja. Tak apa lah merasa asing hanya sebentar, dia merasa mengganggu jika terus di dalam tadi. Sholeha juga bisa menemani ibunya Rahma yang jelas di rumah sejak tadi.


Dia melihat dua orang ibu duduk lesehan di ruang tengah, Sholeha memilih bergabung bersama mereka.


Dengan sedikit kata sapaan yang ia berikan Sholeha bisa membaur di ruang itu dengan nyaman. Di lihat dari gesturnya mereka adalah kerabat terdekat keluarga ini, salah satu ibu itu ramah sekali mau menyapa Sholeha dengan lembut.


" Kamu teman Rahma?" dengan ragu ibu berwajah lebar itu bertanya.


Wajar saja ia penasaran, karena Sholeha juga belum pernah kesini dan jika di katakan teman sebaya juga tidak mungkin, Sholeha terlihat sangat muda di bandingkan dengan Rahma dan Ayu.


Dengan sopan Sholeha mengangguk." sebenarnya mbak ipar saya yang teman mbak Rahma, tapi saya juga kenal kok bu" jawab Sholeha sedikit menjelaskan.

__ADS_1


" Oh begitu, udah lama Ayu ngak kesini jadi sedikit lupa juga"


Dari jawaban ibu ini, Sholeha tau jika mereka memang saling bertemu sejak dulu. Sholeha tak berani banyak bertanya ia hanya tersenyum menanggapi.


" Dulu anak-anak sering disini, pas jaman SMA. Sama siapa itu, ah ya Ayu, Rahma dan satu lagi anak laki-laki siapa ya? " dia tampak berpikir dan mencoba mengingat.


" Oh iya nak Sholeh, mereka sering ngumpul di sana tuh! " tunjuk nya pada satu pohon jambu yang begitu rindang." pas itu pohonnya belum terlalu besar" tambahnya lagi.


Sholeha ikut menanggapi cerita masa lalu yang terdengar seru dari ibu ini. Dia sampai begitu dalam mengenang seolah kebersamaan mereka adalah hal yang begitu membahagiakan dirinya.


" Sholeh anaknya Bu Nur yang punya toko bangunan kan?" ibu satunya ikut terhanyut dalam cerita itu.


" Iya Mbak yu, anak baik yang di idam-idamkan kan calon cucu mantu almarhum bu haji" jawabnya sangat bersemangat, seolah lupa hari duka yang masih berlangsung ini.


Sholeha masih diam menyimak saja, memperhatikan sekiranya apa saja yang hendak mereka ceritakan kembali.


Satu lagi, tentang Sholeh dan Rahma yang baru ia ketahui hari ini, ternyata mereka memang begitu dekat lebih dari apa yang di ceritakan oleh Ayu waktu itu. Sholeha tak perlu iri, karena memang mereka saling kenal terlebih dahulu daripada ia yang belum lahir kala itu.


Sholeha mengikuti cerita yang masih asik jadi topik pembicaraan dua ibu-ibu yang kini mengubah posisi kakinya berselonjoran.


Sholeha sedikit terkejut, kala matanya melihat Sholeh masuk di antar ibunya Rahma ke dalam kamar. Sholeh berjalan di belakang sang ibu, ia sempat menyadari ke beradaan Sholeha, dan sedikit tersenyum padanya.


Mungkin ada penting, Sholeha menduga. Matanya mengikuti kepergian Sholeh,yang berhenti di kamar yang terbuka lebar pintunya. Jelas terlihat ada banyak orang di sana. Tetap saja Sholeha penasaran, dan ikut bergabung. Namun, ia berusaha menahan diri. Hatinya semakin gelisah ketika melihat ibu Rahma keluar dari sana, apa yang sedang mereka bicarakan?


Kembali lagi, rasa yang berusaha ia tahan sekuat tenaga itu tetap bercokol dalam hatinya . Sholeha sangat membenci dirinya yang seperti ini.


Sholeha berkali-kali mengucap istighfar dalam hatinya, sedikit pun ia tidak ingin berpikir buruk ke pada mereka.


Sedikit demi sedikit, hatinya mendapat ketenangan. Sholeha sempat terhibur dengan obrolan para ibu yang terdengar tidak lagi membicarakan Sholeh dan Rahma. Tiba-tiba terdengar ponselnya berdering, ia merogoh tas kecilnya memeriksa siapa yang menghubunginya.


" Halo Mas, ada apa?" Sholeha menerima panggilan dari Rizal. Terdengar juga suara Al yang menangis tak karuan dari seberang sana.


" Mana Mbak mu, ini Al nangis nyariin dari tadi. Ponselnya malah di tinggal" suara Rizal sedikit menggerutu.


" Ah, sebentar Mas!"


Dengan terburu Sholeha menuju kamar Rahma, mencari Ayu yang begitu di butuhkan oleh anaknya di rumah. Berniat mengucap salam terlebih dahulu sebelum menerobos masuk, Sholeha malah terdiam mendengar suara Rahma .


" Aku pikir, kita bisa menikah seperti harapan nenek, ternyata kamu sudah melamar orang lain mas, " Suara itu sepenuhnya mengandung penyesalan.


Sholeha mengabaikan seberang telepon


yang terus menunggunya.


" Maaf, aku tidak bisa menolaknya saat itu" kali ini Sholeha jelas sekali mendengar suara Sholeh yang juga merasa bersalah.


" Tidak Mas, seharusnya aku yang bisa menurunkan ego agar mau sedikit saja berkorban demi kamu"


" Tidak Dek, aku yang terlalu terburu-buru memutuskan waktu itu"


Sepenggal kisah yang berhasil ia curi hari ini sedikit membuat hatinya tersungkur ke dasaran tak beralas, sungguh gemang takut akan kenyataanya.


Sholeha tertahan di daun pintu diam tanpa bersuara, namun tangisan Al yang menyadarkan akan tujuannya berada di sana, spontan Sholeha menaikan suaranya.


" Sebentar ya Al!"


Tiba-tiba pintu terbuka lebar, Sholeha terkejut melihat ketiganya terdiam melihat dirinya.


" Sholeha?" mereka kompak menyebut namanya.


" Ah maaf menggangu. Ada telpon dari Al Mbak" buru-buru Sholeha menyodorkan ponsel pada Ayu.


Dengan terburu Sholeha keluar dari sana, tak perduli pada wajah mereka yang terlihat begitu terkejut, Sholeha bahkan kebingungan harus bersikap seperti apa sekarang.


***

__ADS_1


__ADS_2