Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Pacaran


__ADS_3

Sepuluh menit, pelukan hangat nan erat Sholeh tak terurai. Hingga ia melepas dengan pelan, meneruskan perbincangan kecil yang harus segera mereka lakukan. Sholeh menarik nafas, melihat istrinya yang masih diam tak mau bercerita.


" Rahma, dia hanya terserempet motor saja, tulangnya ada yang retak selebihnya dia baik " ucap Sholeh sembari kembali memandang Sholeha.


Sholeha hanya menyimak.


" Sebenarnya, Dito yang memiliki kepentingan lebih dari sekedar membesuk. Dia sangat memaksa, dan maaf mas ndak sempat pamit. Jujur saja mas buruk sangka pada mu tadi dan maaf..." Sholeh menggantungkan kata-katanya. Menatap dalam mata Istinya dengan penuh rasa bersalah.


Sholeha tersenyum, kata sesal dari Sholeh yang cukup mengharukan.


" Leha cemburu dan marah mas, tetapi tidak sepicik itu hingga tak mengizinkanmu mendengar kabar seperti ini tentang dia. Mas kan tau aku sedang khawatir dengan Fatih tadi, jangan kan memberitahu mu tentang dia, aku habis di maki saja tak sempat mengadu. Tidak sejauh itu aku benci pada mbak Rahma mas. Lebih sedihnya lagi, mas tiba-tiba pergi tak pamit dan ternyata menemui dia, mas..... Istri mu ini cemburu. Jika hari ini mas tidak kembali entah lah apa jadinya aku", Sholeha menatap langit-langit kamar menarik nafas lalu kembali menatap suaminya.


Dan Sholeh masih terdiam. " Aku menangis karena takut tidur sendiri," kata Sholeha pelan.


Sholeh hampir terbahak, jika dia tidak langsung memeluk erat Sholeha, menenggelamkan ke dada bidang yang sangat berdebar jantungnya. Berkali-kali ia mengecup kening istrinya pelan.


" Mas memang salah sayang, seharusnya tidak seperti itu tadi. Dan soal bu Risma, mas mengetahuinya langsung saat dia bergosip dengan Rahma. Maaf ya sayang, mas ndak tau soal ini. Hati mu pasti sakit ya", tanpa sadar tangan Sholeh menyentuh dada Sholeha memberikan sentuhan hangat dengan mengusapnya berulang kali.


Sholeha menegang, apa yang sedang di lakukan Sholeh kali ini. Tak tau kah dia jika sentuhan sederhana ini telah menjalar rasanya kemana-mana belum lagi telapak tangan besarnya menindih sesuatu yang sangat sensitif di tubuhnya. Wajah polos tanpa sadar suaminya ini semakin membuatnya gelisah, cemas akan suatu perkara besar mungkin saja terjadi setelah ini.


" Maaas.... Cukup jangan di ulang. Sholeha akan memaafkan."


Sholeh menarik tangannya, berpindah pada hidung sedikit tinggi Sholeha. Menyentuhnya gemas, " Terus ingatkan mas, dan makasih sudah memaafkan suamimu yang tak baik ini. "


Sholeha tak tahan dengan sentuhan acak dari suaminya, ia memilih menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sholeh. " Iya, Leha juga tak sebaik yang mas kira, kita belajar terus ya", suaranya tertahan dada Sholeh.


Sholeh membelai Sholeha dengan sayang, begitu bersyukur telah memiliki istri yang begitu jujur dan terbuka kepadanya.


" Bagaimana dengan Fatih, dia baik-baik saja kan?"


" Iya, dia sudah bisa bercerita panjang lebar kok, dia juga sempat mencari mas tadi. "


Sholeh hanya tersenyum, kemudian sempat terdiam menimbang sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.


" Yang..... Masih ada sesuatu yang perlu kamu ketahui "


Sholeha menarik wajahnya dari dada Sholeh, " Masih tentang Rahma?"


" Hem, masih mau dengar?" tanya Sholeh takut-takut.


Sholeha tampak berpikir, lalu menggeleng.


" Besok aja, Sholeha perlu mood lebih untuk membahas tentang itu. Biar kita seperti ini ya mas, Sholeha kangen" ucapnya malu-malu.


Wajah cantik apa adanya sang istrinya itu begitu membuat Sholeh berbunga, merasakan desiran di dalam hatinya. Sikap manja dan manis apa adanya ini tak jauh dari usianya yang jauh lebih muda dari dirinya. Lihat saja gaya merayunya ini sangat menggemaskan.


" Jika sudah mood nya bagus, tanyakan saja pada mas segera." Jawab Sholeh tak tahan ingin mencium bibir ranum istrinya.


Sholeha hanya mengangguk. Sholeh tak bisa lagi menahan, sejak tadi ia ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar memeluk. Telunjuknya tiba-tiba spontan menyentuh bibir Sholeha, terasa lembut dan mengasikan jika bisa di kecupnya. Sholeha tampak terkejut.


" Pengen ini, apa boleh?" tanya Sholeh parau.


Sholeha tak menjawab, matanya perlahan terpejam, sebuah isyarat baik untuk sang suami.


Tanpa kata lagi, Sholeh meneruskan apa yang sangat ingin ia lakukan sejak tadi, perlahan mendekat dan menyentuh bibir ranum sang istri dengan bibir tebal miliknya. Sensasi ajaib yang tercipta tak bisa di ungkapan dengan kata-kata, keduanya tenggelam dalam rasa yang memabukkan, menyita semua kesadaran hingga keduanya melayang menikmati sentuhan cinta yang begitu mendamba.


Perlahan jalinan bibir keduanya terurai, saling mengecup menutup rasa indah yang mungkin saja akan menjadi candu. Keduanya kompak tersipu malu, seolah menyadari kekurangan masing-masing yang jelas masih saling mencoba. Tawa kecil Sholeha terdengar hingga ke ujung lubuk hati Sholeh, seperti hadiah kecil yang ia dapat dari bergumulan pertama ini.


" Kenapa, kok tertawa?" Sholeh penasaran.


Sholeha semakin melebarkan tawanya, menyentuh bibir tebal Sholeh dengan lembut. " Ini terlalu tebal, Sholeha terasa ndak mampu mengolahnya hi hi hi",


Sholeh menggeleng, tak menyangka istrinya ini begitu sederhana menikmati sentuhan intim pertamanya.


" Mau coba sekali lagi, biar pandai mengolah?" Sholeh mengedipkan sebelah matanya menggoda Sholeha.


Sholeha menggeleng dan menutup seluruh wajahnya dengan selimut. Bersembunyi dan tertawa geli, " Mas... Besok lagi ya, tadi mas menggigit punya ku, nanti bisa sariawan". Suaranya terdengar teredam, namun masih jelas terdengar.


" Iya maaf, kita tidur. Ini sudah jam setengah dua belas malam" Ucap Sholeh masih dengan tawanya yang seru.


Sholeha mengeluarkan wajahnya dari selimut, " Matikan lampu, kita tidur", matanya berkedip meminta di kasihhani.

__ADS_1


Sholeh tambah tersenyum semakin lebar, " Iya sayang, kita tidur " dia beranjak mendekati saklar di dekat pintu dan mengunci pintu dengan rapat.


***


Sholeh keluar dari kamar mandi, dia baru saja bersiap hendak ke masjid. Ia melirik sang istri yang tampak menggeliat mencoba terbangun.


" Mas ke masjid dulu, tidur lagi saja jika masih ngantuk" pesannya pada Sholeha yang masih malas-malasan di dalam selimut.


Sholeha tak menjawab, matanya terus mengikuti kemana suaminya itu pergi. Hingga pintu kamar tertutup, Sholeha masih sekuat tenaga mengumpulkan kesadarannya. Matanya mencari dimana letak jam, ia masih sangat ingin memeluk guling saat ini. Namun ia harus kecewa saat melihat jam yang tak berhenti hingga di penghujung waktu subuh.


Sholeha bangkit, mengambil air wudhu. Subuh pertamanya setelah haid, hawa dingin dan rasa malas yang bercampur menjadi satu membuatnya ingin segera kembali ke ke kasur.


Sholeha menunaikan sholatnya, menyelesaikan dengan dzikir dan sedikit doa. Seperti kebiasaannya yang gemar melamun di atas sajadah setelah sholat, membawanya terbuai hingga tak sadar Sholeh telah kembali dari masjid.


" Loh, sayang. Kamu sudah sholat?" tanya Sholeh ketika baru masuk.


" Sudah, dari tadi. Kenapa?"


" Bukan. Maksudnya sudah suci, dari kapan?" tanya Sholeh penasaran.


Sholeha tersenyum, menyadari pertanyaan inti yang di sampaikan oleh suaminya ini.


" Kemarin sore, iya kemarin sore Leha udah sholat",


Seketika wajah Sholeh murung, tak seceria saat hendak ke masjid.


" Kenapa, mas kan ndak nanya", Sholeha tertawa.


" Tau gitu terusin aja semalam, tanggung banget, mana udah di puncak lagi", gerutunya, sambil rebahkan kembali tubuh tegap berisi nya.


Sembari melipat mukenah nya, Sholeha mendekat dan mencoba menghibur sang suami. " Padahal Leha juga menunggu, tapi masih ragu sudah benar-benar bersih atau belum, jadi belum berani mengatakannya."


Sholeh melirik wajah Sholeha yang tampak tak gugup atau pun malu.


" Kita coba sekarang ya, masih pagi ini" ajak Sholeh dengan girang.


Sholeha melotot, bisa-bisanya suaminya ini memiliki pemikiran se-konyol ini.


" Mas..... Ngaco deh, ini sudah siang. Banyak hal yang harus kita kerjakan, nanti malam saja lah ya. Tanggung ndak nyaman nanti" bujuk Sholeha pelan.


" Iya, iya." jawab Sholeha tersenyum.


Tanpa rambu-rambu, Sholeh mengecup singkat bibir Sholeha. Dia terbahak saat Sholeha kontan memukul pelan pundaknya. " Kaget mas, Astagfirullahaladzim", ucapnya setengah berteriak.


Keduanya tertawa menikmati candaan kecil di pagi hari yang cerah ini. Sebuah momen yang begitu di nanti oleh Sholeh selama ini, tak menampik usianya yang sangat matang itu tak jarang ia membayangkan masa depannya dengan istri dan anak-anaknya. Terlebih lagi bayangan bermesraan, melakukan hal sederhana dengan istrinya seperti ini.


Sholeh tak menyangka, istrinya ini ternyata sangat mengasikan dan sangat lucu. Biarlah ia merasakan kehangatan di hatinya. Sholeh terbuai dengan tawa Sholeha yang begitu indah. Menatapnya dalam-dalam seolah tak mampu berpaling walau sebentar saja.


" Mas mau sarapan apa?" tanya Sholeha. Dia bersiap menuju dapur.


" Apa saja deh, hari ini mas mau ke toko cabang. Mungkin siang ndak makan di rumah yang",


Sholeha masih enggan pergi, " Jauh ndak?" .


" Itu loh di sana, masak ndak tau. Dekat toko emas seberang klinik", jelasnya dengan santai.


Tangan Sholeh melingkar manja di perut istrinya. Sekarang ini ia duduk di ranjang sedangkan Sholeha berdiri di depan Sholeh. " Ndak tau. Klinik apa, yang mana?" Sholeha memainkan surai rambut hitam Sholeh.


"Klinik apa ya lupa mas, nanti kita ke sana deh. Mas baru buka sih, satu bulan sebelum di lamar kamu", jawabnya masih betah di perut sang istri.


" Di lamar, aku ndak ngelamar mas. Enak aja, mas lah yang lamar aku",


Sholeh tertawa, " Wong mas Rizal yang pertama minta aku nikahin kamu kok. Tapi ya ndak masalah, sebenarnya emang lagi coba ngelirik kamu waktu itu",


" Ngelirik ?"


" Iya, cuma ngelirik" jawab Sholeh melepas pelukannya.


Sholeha tak menanggapi, dia tergesa keluar dari kamar. Hampir terlarut hingga lupa pergi ke dapur.


Sholeh tersenyum, melihat tingkah istrinya yang sangat lucu.

__ADS_1


***


Sholeha tak menyangka jika ruko yang berada di depan klinik ini, juga usaha milik suaminya.


" Namanya bagus..." ucap Sholeha saat melihat sebuah banner sederhana di atasnya.


" Baru kali ini ada yang muji", jawab Sholeh sambil mendorong rolling door.


" Perasaan dulu ndak ada namanya"


" Ada kok, cuman belum di resmikan aja. Yang dekat di rumah juga ada kan?"


" Leha ndak tau, emang iya ya?" Sholeha berjalan mengitari rak-rak yang berisi jenis peralatan yang tak iya pahami.


" Ada sayang, kamu ndak pernah perhatikan tentang usaha mas kan?"


Sholeha berhenti, dia menghadap sang suami yang sedang merapikan dagangannya. " Ya ndak lah, mana bisa Leha pikirin itu semua".


" Mulai sekarang mau bantu mikir?" tanya Sholeh dengan lekat menatap mata sang istri.


Sholeha tersenyum. " Iya, Leha belajar dikit-dikit yah", dia mendekat menyentuh wajah Sholeh dengan kedua tangannya, " Kita saling berbagi rasa mulai saat ini" ucapnya pelan.


" Yang.... Udah ah." Sholeh menurunkan tangan istrinya pelan.


Sholeha tampak berpikir, " Nanti aja di lanjut pacarannya", ucap Sholeh lagi.


Sholeha tertawa. Dia tidak tau jika sang suami terlalu menikmati perlakuan kecil yang menurut Sholeha sederhana ini.


Awalnya toko yang satu ini rutin di kelola Sholeh sebelum menikah dulu. Sejak dia sibuk mempersiapkan pernikahan hampir satu minggu toko itu tutup. Apa lagi masih terbatas isi barangnya dan begitu juga pelanggannya.


" Mas, ini di biarkan begini saja, tidak ada yang menjaganya?" tanya Sholeha penasaran.


" Ada kok, keponakan Agus. Tapi dia tidak bekerja jika siang, masih sekolah."


Sholeha mengangguk. " Mas ndak capek, ndak pusing ngatur uang dan barangnya ?"


" Lumayan sih, tapi di bawa santai aja. Lagian Agus siap bantu kok, yang di dekat rumah malah dia yang urus",


" Syukurlah, "


Sholeha masih melihat-lihat ruko kecil ini masih sangat terasa barunya. Isi alat dan bahan bangunan nya juga tergolong yang sederhana saja. Tidak seperti yang di dekat rumah lebih lengkap dan luas tiga kali lipat. Di luar sana juga tidak ada stok batu bata, pasir ataupun bahan lainnya.


Sholeha mengambil sapu, membersihkan lantai yang sedikit berdebu. Sesekali ia melirik sang suami yang tengah serius memperhatikan sesuatu di mesin kasir, dan berkali-kali terlihat menghitung.


Jika di lihat-lihat dia ini tampan, manis dan sangat mengagumkan. Sholeha tersenyum berkali-kali, duh jatuh cinta kesekian kalinya untuk hari ini. Perutnya geli seolah gerombolan kupu-kupu berterbangan di dalam sana.


" Yang......." panggil Sholeh.


Sholeha terkejut, " Ya?",


" Ada apa, kok senyumnya gitu" Sholeh mendekati istrinya. Perlahan merangkul dan memeluknya dari belakang.


" Apa, senyum gimana?" Sholeha menahan geli yang semakin menjadi.


Untung saja toko bangunan tak seramai toko sembako, jadi memang ada waktu untuk mereka berpacaran seperti ini.


" Ini kayak gini?" Sholeh menyentuh bibir Sholeha dengan kecupan singkat.


Hampir saja Sholeh di pukul lagi oleh istrinya, untung saja ia memeluk erat Sholeha tangannya tak akan bisa keluar dari dekapannya.


" Aduh,...." ucap Sholeh tiba-tiba.


Ternyata masih bisa mencubit di pinggang dari sisi belakang punggungnya.


" Curang,...." ucap Sholeha pelan.


Sholeh tertawa, melepaskan dekapan dan kecupan curiannya.


" Yang ngak curang, yang gimana?" Sholeh kembali meledek sang istri dengan menoel dagunya. Sholeha menghindar, dia bahkan berlari kecil menjauhi Sholeh. " Udah ah, jahil" katanya. Beralasan menyapu di bagian depan, Sholeha benar-benar menghindar dari Sholeh.


Siang menjelang sore ini cukup syahdu bagi keduanya, berbagi informasi kecil dan melakukan hal kecil yang bisa saja sederhana menurut banyak orang. Sholeha cukup menikmatinya.

__ADS_1


" Pacaran sama suami sendiri, asik ternyata", gumamnya .


***


__ADS_2