Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Seluas daun kelor


__ADS_3

" Sholeha Nduk, bangun yuk antar Ibu sebentar!" ibu menepuk pelan pipi Sholeha.


Sholeha berusaha membuka matanya.


" Kamu juga belum sholat Dzuhur ya? ayo bangun dulu!" ibu kembali menggoyang lengan Sholeha yang terlihat tidur lagi.


" Iya Bu" Sholeha bangkit dari tidurnya. Dia terduduk menatap ibunya, yang tidak kunjung pergi.


" Antar Ibu ke Puskesmas sebentar ya, Ibu mau periksa sekalian ke rumah Mas mu!"


" Ibu sakit?" Sholeha terkejut.


" Cuman agak pusing, sudah sana sholat dulu Ibu tunggu ya"


Bu Fatma keluar dari kamar putrinya.


Dia adalah orang dewasa yang cukup sadar akan kesehatannya, jika ada yang dikeluhkan sedikit pada tubuhnya ia akan segera memeriksakan kesehatannya.


Sesegera mungkin Sholeha bersiap setelah sholat tadi, dia takut ibunya menahan rasa pusing karena menunggunya terlalu lama.


Dalam sebulan ini ibunya sudah dua kali meminta ia mengantar periksa. Setiap hendak pergi ke Puskesmas selalu saja menunggu Sholeha pulang dari bekerja ia tidak ingin bapak yang mengantar. Sholeha merasa ibunya tidak ingin membuat bapaknya khawatir.


Bu Fatma selalu mencari waktu saat suami tidak berada di rumah, baru ia pergi memeriksakan dirinya mengajak Sholeha.


Karena Sulaiman selalu terlalu khawatir jika istrinya mengeluh ada yang sakit.


" Beneran ndak usah kabarin Bapak dulu?"


Sholeha kembali bertanya pada ibunya.


" Tidak usah Nduk, Bapak mu ngomel sepanjang jalan nanti"


" Naik apa kita?"


" Motormu kan ada, tadi Bapak pergi pake motor sendiri"


" Oh sudah jadi, tadi pagi masih rusak"


Sholeha pergi ke arah yang sama dengan arah saat menuju rumah Rizal, mengendari motor dengan kecepatan sedang ia menembus siang hari yang tak begitu cerah, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Anginnya berhembus kencang namun perlahan, Sholeha sedikit mempercepat laju motornya dia memperkirakan agar tidak kehujanan ditengah jalan.


Benar saja ketika ia sampai di parkiran Puskesmas hujan turun dengan deras.


Mereka berlari kecil masuk ke teras Puskesmas. Terlihat kursi tunggu yang sepi, hanya beberapa orang saja sedang duduk di sana.


Sholeha segera mendaftarkan ibunya ke petugas di sana. Sholeha mengajak ibunya duduk menunggu antrean, mereka memilih kursi panjang yang tak jauh dari ruang periksa.


Nomor bu Fatma segera dipanggil, hanya menunggu dua orang saja. Sholeha kembali menanyakan pada ibunya haruskah ia mengabari sang ayah.


Bu Fatma tetap menolak dan kekeh nanti saja kalau sampai rumah saja memberi tahunya.


Tidak sampai setengah jam Sholeha mengantar ibunya masuk menemui dokter. Seperti biasa dia selalu cemas ketika ibunya mulai ditanya keluhan dan menjelaskan dengan begitu gamblang.


Ibunya tidak pernah mengeluh pada siapapun saat di rumah, dia secara jelas mengeluhkan semuanya pada dokter seperti saat ini. Bahkan Sholeha tak bisa memikirkan mengapa ibunya memiliki sifat yang begitu bijak dan mandiri.


"Apa yang dikeluhkan Ibu?"


tanya dokter perempuan yang sangat muda, dia tersenyum ramah pada keduanya.


" Pusing Bu dokter, tapi tidak sakit kepala hanya ber kunang-kunang, dan sedikit lesu akhir-akhir ini"


Banyak lagi yang ia tanyakan dan dijawab dengan jelas oleh ibu, dokter memberikan saran dan menganjurkan agar ibunya banyak istirahat. Setelah menerima resep keduanya keluar dari ruangan. Sholeha menuju apotek yang juga berada di sana, meminta ibunya menunggu sebentar.


" Ibu duduk sini aja ya!" Bu Fatma mengangguk.


Secara bersamaan pintu berbahan kaca terbuka, terlihat pria yang sangat Sholeha kenal bersama dua wanita, satu setengah baya seperti ibunya, dan satunya seorang nenek duduk di kursi roda. Mata mereka bertemu, tanpa saling mengalihkan Sholeha terlebih dahulu memutus pandangannya. Dia mendengar nama ibunya di panggil untuk mengambil obat dari apotik.


Bu Fatma tak menyadari kedatangan Sholeh, namun Sholeh justru menghampirinya terlebih dahulu. Sholeha melihat Sholeh yang sudah duduk bersama ibunya, ia juga berusaha mencari keberadaan kedua orang yang datang bersama Sholeh tadi.


Ah itu dia, mereka sedang mengantri mendaftar.

__ADS_1


Sholeha berjalan menuju ibunya, tidak berniat kembali duduk ia hanya menyapa Sholeh dengan sedikit senyuman.


" Bu, kita pulang ya!"


" Iya nak sebentar" Dia menghadap pada Sholeh," ibu pulang ya nak"


" Iya Bu hati-hati ya" dia mengangguk membiarkan keduanya pergi.


Sholeha menggandeng ibunya keluar, sampai di luar dia kembali menengok kebelakang memeriksa Sholeh di tempat tadi. Dia sudah beranjak menghampiri nenek yang duduk di kursi roda tadi, dia terlihat berbincang dengan santai padanya.


Sholeha kembali meneruskan langkahnya.


Entah kemana turunnya hujan yang sangat deras tadi, setengah jam sudah hilang tak bersisa. Langit pun kembali terang meski tak secerah biasanya saat sore menjelang petang. Sholeha diam tak berniat bertanya pada ibunya tentang Sholeh. Dia sibuk berpikir siapa mereka?


Atau mungkin kerabat jauhnya?


Tapi dia tidak mengenalnya?


Atau mereka....


Lamunannya bubar kala ibu menarik tangannya yang menggandeng lengan ibunya.


" Nduk, kamu ini diajak ngomong kok ndak nyahut " Bu Fatma menghentikan langkahnya.


" Ah apa Bu, leha ndak denger" dia kebingungan.


"Nak Sholeh antar keluarga temannya, kasian kan nenek tadi pake kursi roda" jelas nya mengulang perkataanya.


Sholeha hanya ber oh tanpa suara.


Dia segera menghidupkan mesin motornya, siap melaju ke rumah kakaknya.


Kehidupan mereka yang begitu sempit dan terkesan itu-itu saja, memudahkan semua orang saling bertemu di manapun dan kapan pun di tempat yang sama.


Seperti kebiasaannya yang suka diam-diam banyak memikirkan banyak hal sendiri, seperti saat ini. Mendengar kata teman yang disampaikan ibunya tadi oleh Sholeh ia teringat dengan Bu Risma. Ya dia menyebut keponakannya yang hampir jadi istri Sholeh. Bahkan Sholeha telah melebihkan ucapan Bu Risma sepertinya, dia tidak ingat lagi tadi pagi Bu Risma menyebut calon istri atau bukan.


Jika dilihat dari kepribadian Sholeh yang sangat baik juga pria tampan pandai mengambil hati para ibu-ibu itu, tak heran dia pasti biasa melakukannya kan. Menolong. Itu saja, Sholeha tidak heran.


Tidak disadarinya rumah Rizal sudah di depan saja, Sholeha mengurangi kecepatan motornya sebelum benar-benar berhenti di depan rumah. Kebiasaan melamun Sholeha memang sangat buruk, tapi kesadarannya sangat tinggi akan hal yang sedang ia kerjakan.


Sholeha mengikuti di belakang ibunya, menunggu pintu rumah yang belum terbuka sepenuhnya. Nampak lah keponakan Sholeha si tampan Fatih, dia masih mengenakan seragam sekolahnya.


" Ya Allah Fatih, sudah sore begini kamu masih pakai seragam sekolah" omel Sholeha ketika masuk dan melihat Fatih.


" Pulang sekolah tadi Fatih ketiduran Bi "


sahutnya lesu dan cemberut.


"Mana mama mu Le?" tanya bu Fatma.


" Di dapur Nek" jawabnya berlalu meninggalkan kedua wanita yang sangat bawel menurut Fatih.


Tanpa menunggu di sambut, Sholeha langsung mencari Ayu yang katanya sedang di dapur. Baru saja ia masuk ke area perdapuran, hidung Sholeha sudah mencium aroma lezat gurih yang menggoda. Sholeha mencari sumbernya, benar saja satu kuali rendang ayam yang siap disajikan.


" Eum .... menggoda sekali ayam rendangnya, boleh bungkus ya Mbak " tanya Sholeh cengengesan.


" Loh, Ibu dari dokter lagi?" Ayu menghampiri ibu mertuanya yang duduk di meja makan dengan menenteng kresek obat.


Ayu mengabaikan Sholeha.


"Cuman pusing sedikit, ndak papa Nduk"


" Syukurlah, Ayu kira ibu sampai demam"


Ayu melihat Sholeha yang tidak jadi mengambil rendang ayam dari kuali.


" Kenapa Dek?"


" Nanti lah Mbak, belum lapar"

__ADS_1


Disusul Al dan Fatih yang ikut mengisi dapur, ruangan itu bertambah riuh. Al yang sibuk berlarian dengan Fatih merebutkan satu bungkus es krim ditambah tangisan Al yang mengiringi lari-lari kecilnya.


Sholeha hanya tertawa melihat Fatih yang kemudian diceramahi Ayu, dan melihat lucunya Al merajuk pada kakaknya. Salah satu alasan Sholeha sangat terhibur jika melihat tingkah anak-anak kakaknya. Melihat mereka ribut secara bersamaan di waktu yang sama.


Masih dengan tergugu Al memeluk erat Bu Fatma, bocah kecil itu mencari perlindungan dari sergapan kakaknya yang jahil. Bahkan Fatih sudah berlari menghindar dari ocehan mamanya yang mulai kesal. Sholeha terus saja tertawa melihat Ayu kesal tak karuan arahnya.


Setelah suasana dapur yang begitu pecah belah, semua orang berpindah ke tempat yang lebih kondusif dan tenang. Di ruang tamu Al ikut bergabung dengan para wanita dewasa yang sibuk berbicara apa saja yang tidak ia mengerti.


" Nduk kata Bapak, Fatih sudah minta sunat" tanya ibu tiba-tiba.


"Oh iya Bu, sudah lama dia minta sunat tapi mas Rizal belum kasih izin katanya masih kecil, Mas Rizal juga sibuk akhir-akhir ini "


"Kalau anaknya minta ya malah bagus toh yu, mumpung mau libur juga kan?" kata ibu.


" Kan Mas Rizal harus renovasi dapur Ibu, bentar lagi Sholeha juga nikah nanti takutnya repot loh bu"


" Bisa ditunda kok Nduk, kamu bicarakan lagi sama Rizal. Tapi kalau nikahannya Sholeha ya ndak bisa ditunda" ibu memberi saran.


" Ih Ibu di tunda juga ndak papa loh, Sholeha juga ikhlas" Sholeha kontan dapat pukulan kecil di lengannya oleh Bu Fatma.


" Ngawur kamu" bentaknya.


Sholeha manyun dan mengusap kasar lengannya.


" Mungkin hanya acara syukuran aja kok Dek ndak sampai menunda kamu nikah juga" Ayu menambahkan.


Fatih yang beberapa kali merengek pada ayahnya ingin segera disunat itu tak bisa lagi menahan. Apa lagi teman sebayanya yang sudah khitan semua. Bahkan Fatih mengancam kalau tidak segera disunat tahun ini dia tidak mau naik kelas. Rizal pun sampai pusing dibuatnya.


Sangat keren kan keponakan Sholeha?


*****


Hari semakin sore bu Fatma memaksa Sholeha agar segera pulang. Sholeha yang sangat betah bermain dengan Al itu enggan pulang. Padahal dia berjanji tidak akan pulang lama jika berada di rumah Rizal tadi. Dengan berat hati Sholeha pergi meninggalkan keponakannya yang lucu namun tak mau diajaknya pulang.


" Ibu ndak usah mampir ya" Sholeha merengek ketika ibunya meminta berhenti di rumah Sholeh.


"Sebentar saja ya Nduk!" bujuk ibu.


" Bu,Leha kan baru dari sana tadi pagi"


" Ya sudah kita terus aja ndak usah mampir"


Sholeha tersenyum, mendengar jawaban ibunya. Setidaknya dia bisa menghindar dari Sholeh kali ini. Sungguh mengapa hidupnya seperti di atas daun kelor, kesana dan kesini selalu bertemu dengan Sholeh.


Di berbagai sudut dan ruang ada saja sosok dirinya, jika tidak orangnya langsung kadang namanya pasti masih disebut-sebut.


Haduh bikin repot hati Sholeha saja.


Senyum Sholeha belum menghilang, laju motorpun belum sepenuhnya lancar muncul sosok yang baru saja ia sebut dalam hatinya. Dia baru saja keluar dari rumahnya, Sholeha tidak mau melirik pria itu, dia bertekad dalam hatinya. Mengapa pula jalan menuju rumah hanya ada satu, Sholeha sangat tidak suka situasi ini. Mengapa pula motor ini begitu lambat memutar kedua rodanya, Sholeha semakin tak nyaman dibuatnya.


Ibu meminta memperlambat motornya, terdengar ibu menyapa calon menantunya itu. Entahlah apa yang mereka saling katakan Sholeha tak begitu mendengar. Dasar mata ini, bisa-bisanya malah melirik pria yang sedang menyapu teras rumahnya, dia mengenakan kaos lengan pendek hitam dengan celana santai selutut. Lumayan tampan.


Coba lihat, hanya melirik saja katanya.


Hanya melirik Sholeha sudah mengamati berbagai hal kecil yang dikenakan dan dilakukan pria itu.


Sholeha gagal !


Dia ini lebih dari sekedar melirik.


Sudah. Itu saja sedikit cerita Sholeh nyapu di depan rumahnya Sholeha kembali meneruskan motornya dengan tenang, berusaha lebih tenang tepatnya. Baru beberapa hari belajar move-on, nyatanya hatinya mulai sibuk menyiapkan tempat baru untung orang baru pula.


" Jangan sambil melamun Nduk!" tegur ibu.


" Eh iya ndak kok," suaranya teredam udara


terbawa terbang angin jalanan.


*******

__ADS_1


__ADS_2