
Setengah sembilan, Sholeha sudah siap dengan sekotak nugget siap santap di tangannya, ia akan pergi mengantar hasil karyanya ini kepada keponakan tercintanya. Meski tadi subuh ia sempat bermalas malasan bangun dari tidurnya, tetapi lihat lah Sholeha yang begitu riang menenteng bawaannya ke luar dari rumah. Untuk janji kali ini Sholeha tak sampai di tagih oleh Fatih. Selain hatinya yang sedang bahagia ia juga sengaja akan pamer pada Ayu.
Menikmati libur kerja yang hanya tersisa dua hari lagi, Sholeha berusaha mengisi dengan kegiatan menyenangkan. Bermain lego dengan Al atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol ringan dengan Ayu di halaman rumahnya.
Meskipun sebenarnya setelah bekerja pun ia masih akan terus meluangkan waktu untuk datang ke rumah kakaknya itu. Karena apa lagi yang bisa ia lakukan selain itu, oh dia akan sibuk sebentar lagi, mengurusi persiapan akad nikahnya.
"Semoga saja Fatih suka sama nuggetnya" ucapnya ketika baru saja melajukan motornya.
Sholeha gadis berusia dua puluh tahun kurang sedikit itu dengan percaya dirinya mengetuk pintu Rizal yang sedikit terbuka, namun terlihat sepi. " Kok sepi mbak?" tanyanya, ketika Ayu membuka pintu.
" Iya anak-anak ikut Ayahnya keluar tadi, kok tumben bawa apa ini?" ujar Ayu melihat tangan Sholeha.
Sholeha meletakan bawaannya di atas meja, " Nugget buatan ku, hasil coba-coba" tuturnya dengan bangga.
Ayu membuka, di perhatikan dengan seksama irisan nugget yang begitu menggoda," Kayak yang beli di pasar" komentarnya singkat.
" Enak saja, aku buat sendiri Mbak. Tanya ibu bapak kalau ndak percaya" serobotnya begitu cepat pada Ayu.
Ayu tertawa, " Tumben, mau ubek-ubek dapur?" tanya Ayu sambil mengambil satu potong nugget buatan perdana itu. Sholeha begitu menantikan sekali komentar selanjutnya dari seniornya ini. Terlihat sekali jika ia dengan sabar menunggu Ayu menghabiskan kunyahan pertamanya.
" Gimana Mbak, udah mirip sama buatan mbak Ayu yang katanya koki paling enak di kediaman mas Rizal?" tanya Sholeha tidak sabar.
" Enak, percobaan pertama seenak ini. Udah pas ini jadi kokinya kang mas Sholeh" tawa Ayu meledak seketika.
Sholeha malah cemberut di ledek di tengah keseriusannya " Ih Mbak, Sholeha ini butuh komentar yang mendukung bukan malah di ejek gini" sunggutnya merasa sebal.
" Beneran loh Dek, Mbak tidak bohong. Emang kamu belum nyicip?"
" Em takut ndak enak, jadi tak tahan sampai mbak konfirmasi rasanya" jawab Sholeha malu-malu.
" Lah emang iIbuk ndak nyicip pas goreng tadi, enak loh ini?"
" Ibu kan ndak ada di rumah"
" Kemana?" tanya Ayu dengan mengambil satu potong nugget lagi.
" Katanya hendak pacaran di sawah, santai-santai dulu sebelum bapak nugas lagi" Sholeha menepuk tangan Ayu. " Mbak habis loh, ini punya Fatih" ucapnya sambil menarik kotak nuggetnya.
Ayu tertawa, " Iya, iya. Seriusan ibu ngomong gitu sama kamu?"
" Iya Mbak, malah sengaja pamer tuh sama Bapak, gandengan, pelukan di depan leha sambil pamitan tadi." Sholeha nyengir lucu membayangkan tingkah ibu bapaknya tadi pagi.
" Mereka lagi kasih edukasi sama kamu dek, biar akur terus, romantis sama Sholeh besok" ucap Ayu begitu riang.
" Ye, mbak juga harus dong. Mas Rizal tak lihat-lihat cuek banget. Apalagi pada udah anak dua ini" Sholeha tidak ingin di gurui Ayu yang belum berpengalaman.
" Mas mu ya emang gitu Dek, kalau dia bisa romantis bisa terbang Ibu anak dua ini. Mas mu hampir kayak mumi kakunya" ucapnya sambil tertawa.
Sholeha mengiyakan perkataan Ayu, " Kok bisa ya Mbak, Mbak ndak bosan ?"
" Emang gitu modelnya dek, tapi kadang ada sih manisnya dikit. Yang penting dia pengertian aja sama kita ndak masalah"
" Uh istri yang baik deh, ndak neko-neko" Sholeha bertepuk kecil memuji Ayu.
"Apa sih dek, biasa aja. Kalau dulu Mbak yang ndak cinta duluan sama Mas mu mana bisa nikah kita. " jawab Ayu, dan tersenyum kecil.
Sholeha mengangguk," Mas Rizal emang ndak ketulungan cueknya, dulu pas hendak nikah aja yang pilih mbak kan Ibuk. Dia mah iya-iya aja ndak banyak omong" Sholeha tertawa, seolah kembali terlintas masa itu.
" Kalau saja Ibuk ndak gerak cepet, mungkin mbak ndak jadi istri mas mu waktu itu" ucapnya mengenang masa lalu.
Sholeha sedikit terkejut, sepertinya kisah ini belum sempat Ayu ceritakan padanya , " Loh, kenapa Mbak. Leha ndak paham?"
Ayu tersenyum," Emang Mbak belum cerita sama siapapun selain mMas mu dek, jadi ceritanya dulu setelah ibuk dan bapak datang ke rumah melamar mbak, ada satu orang lagi yang berniat menikahi ku. Mbak kenal baik sama dia, mungkin jika belum di lamar mas mu ya Mbak terima orang itu. Untung udah pakai cincin dari Ibuk" jelasnya tersenyum kecil.
Sholeha sempat terdiam, " Bukan Mas Sholeh kan?" tanya Sholeha begitu saja. Wajahnya sedikit murung menandakan kecemasan yang datang begitu saja.
__ADS_1
" Ya bukan lah Dek. Kamu ini ada-ada saja" Ayu tertawa begitu lebar. " Kenapa, ndak siap cemburu lagi dengan masa lalu Sholeh?" imbuhnya masih tertawa.
" Ya kan aku takut nanti, pas udah nikah baru tau teryata ipar ku mantan suami ku, gitu kan ndak enek banget loh kayaknya" jawab Sholeha bersungguh-sungguh.
Ayu menambah tawanya " Kayak judul sinetron aja, ya ndak lah dek. Kita udah janjian mau ipar-an saja, dapetin anaknya bapak sama Ibu" hibur Ayu pada Sholeha.
Sholeha tersenyum, " Emang kapan kalian janjiannya, suka ngarang Mbak mah. Sengaja nyenengin leha gini"
" Ya ndak janji sih, tapi ujungnya kan iya. Ya malah ndak nyangka juga Mbak kalau bakalan sama-sama jadi mantunya Bapak Sulaiman yang dulunya guru kita pas SD. Kayak, ya masih ndak percaya aja loh Dek"
Sholeha tertawa, " Eh iya ya Mbak, kebetulan ya?"
" Kayaknya Bapak udah pilih kita dari kecil ini, mungkin pas sering lihat kita belajar di kelas dulu ya Dek" kata Ayu sambil memegangi perutnya yang keram karena tawanya yang belum bisa reda.
" Mungkin iya Mbak. Mana ya kok Fatih ndak pulang-pulang?" Sholeha beranjak dari duduknya, keluar dan duduk di teras.
Begitu juga dengan Ayu yang turut berpindah posisi. " Bentar lagi kali dek"
" Mas ndak kerja Mbak?"
" Libur, besok rencananya mau keluar cari material bareng Sholeh. Tapi ndak tau jadi apa ndak"
Kemudian muncul lah tiga pria yang serupa dalam usia yang berbeda dengan menaiki motor yang sedikit usang, mereka tampak riang menikmati perjalanannya. Terlihat Al yang tak berhenti menggoyangkan tangannya seiring laju kedua roda kendaraan yang di kendalikan ayahnya, dari dekat mulutnya terlihat sambil bernyanyi dengan asyiknya.
" Bibi Leha pasti antar nugget ku kan?" tanya Fatih sambil turun dari motor, ia berlari segera mendekati Sholeha.
Sholeha tampak berpikir hendak berbohong, namun sebelum ia menjawab Fatih kembali berlari menghampiri kotak makanan di atas meja ruang tamu yang ternyata terlihat dari luar. " Yes ada nugget" teriak Fatih kemudian.
Sholeha mengikutinya, ia sengaja ingin melihat ekspresi wajah keponakannya itu." Enak ndak tih, bibi buat sendiri loh ini" tanya Sholeha tak sabar.
Fatih tersenyum, " Enak. Tapi Fatih belum sampaikan pesan bibi ke om Sholeh, dia sibuk. Fatih ndak bisa ganggu". logat Fatih yang terkesan di buat-buat membuat Sholeha tersenyum kecil.
" Iya bibi tau, om Sholeh mu itu emang ndak suka di ganggu. Bibi sudah tau "
Sholeha hanya mengangguk berpura-pura menyetujui pendapat keponakannya. Namun tiba-tiba Rizal ikut menyahuti perkataan Fatih. " Wong Fatih habis ketemu Sholeh tadi nduk, mana ada Sholeh sibuk" selorohnya sambil berlalu ke dalam.
Sholeha menatap Fatih yang nyengir memamerkan gigi kelincinya, " Kamu ngomong apa sama om mu itu?" tanya Sholeha bernada mengancam. Fatih berusaha kabur dari cekalan tangan Sholeha yang tiba-tiba menyergapnya. " Fatih lupa, tapi om Sholeh bilang I love you to katanya, " dengan polosnya Fatih tertawa girang. Sholeha melotot dengan apa yang di sampaikan oleh bocah nakal ini, mengapa jawabannya aneh dan tidak nyambung. Ah tentu saja ini salahnya telah ikut-ikutan dalam permainan mereka.
" Loh, kok gitu jawabnya, kamu salah denger pasti em atau kamu ini bohongin bibi ya?" Sholeha memaksa Fatih untuk mengatakan yang sebenarnya, dia terus saja tertawa cekikikan dan berhasil terlepas dari tangan Sholeha.
" Bibi, Fatih lupa, jadi sembarangan sebut pesan bibi sama om Sholeh " dia berlari ke dalam.
" Ada apa dek?" tanya Ayu yang mendengar setengah pembicaraan mereka. Sholeha menatap Ayu gugup, tak menyangka ia akan mendengarnya.
" Oh anu, halah Fatih itu loh ndak jelas" ucapnya beralasan.
Sholeha meneruskan langkahnya mengikuti Ayu menuju ke meja makan. Fatih sudah duduk anteng menikmati nugget buatan Sholeha bersama sepiring nasi. Terlihat juga Rizal yang duduk santai memainkan ponselnya.
" Mas jadi pergi sama Sholeh?" tanya Ayu.
Rizal mengangguk, " Besok pagi jam tujuh berangkatnya." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel.
Sholeha diam memperhatikan Fatih, ada rasa bangga pada nugget buatannya yang terlihat enak dan sesuai selera keponakannya itu. " Lain kali Bibi buatkan lagi deh tih, yang penting abisin dulu yang itu" tutur Sholeha yang begitu senang melihat Fatih makan dengan lahapnya.
Fatih mengangguk, " Kalau bisa yang banyak ya bi, nanti Fatih kasih om Sholeh separuh deh" ucapnya tiba-tiba.
Rizal tiba-tiba tertawa, mendengar anaknya itu merayu Sholeha," Pantesan ya kamu tadi bisik-bisik sama om Sholeh mu itu" katanya menatap Fatih.
Fatih nyengir dengan mulutnya yang masih setengah mengunyah, dia lalu mengangguk.
" Ada-ada saja kalian ini, bilang apa sama om Sholeh?" tanya Ayu penasaran.
" He he he, I love you dari Bibi "
Sholeha langsung mendelik, " Pantesan aja jawabannya I love you to. Kok gitu sih tuh?" kata Sholeha gemas dengan ponakannya itu.
__ADS_1
" Kan Fatih lupa, pesan bibi terlalu panjang" jawabnya tanpa rasa bersalah.
Rizal dan Ayu hanya tertawa kecil, melihat tingkah keduanya yang saling beradu pendapat. Bahkan Fatih sedikitpun tidak mau mengalah atau mengakui kesalahannya. Sholeha sampai terlihat sedikit kesal.
" Lagian kamu percaya aja sama Fatih, dia kan pelupa" kata Ayu pada Sholeha.
" Iya juga sih, tapi kan kalau dianya mikir Sholeha ngajarin Fatih gimana Mbak?"
" Sholeh itu sudah tua dek, mana dia ada pikiran kayak gitu. Dia juga sudah kenal fatih sejak bayi pasti lebih paham sama tingkahnya yang jail itu." kata Ayu, sambil menuangkan air putih untuk Fatih.
Sholeha hanya mengangguk, tidak begitu tertarik untuk meneruskan obrolan ini.
" Kamu jadi ngaji di ustadzah Aisyah ?" tanya Ayu kemudian.
" Iya Mbak, kata ibu mulai hari ini"
" Ya bagus deh, biar tambah siap kan persiapan jadi istri yang Sholeha untuk mas Sholeh" kata Ayu sedikit tertawa.
" Belibet banget dengarnya" ujar Sholeha.
Sholeha memutuskan pulang dari rumah saudaranya itu, ia teringat ada jadual mengaji hari ini. Jika ia tidak pergi hari ini takutnya ibu akan mengomelinya sampai hari H pernikahannya.
***
Pukul delapan tadi pagi Rizal datang bersama kedua anaknya dengan girang ke rumah Sholeh. Saat itu Sholeh baru saja bersiap akan ke rumah Rizal, tentu saja ia urungkan. Fatih dan Al segera berlari menemuinya yang sudah siap duduk di ruang tamu. Mereka begitu bersemangat seolah ingin sekali berebut tempat duduk di samping Sholeh.
" Padahal aku mau ke rumah mu loh Mas, malah sampean kesini duluan" kata Sholeh ketika Rizal berhasil melalui pintu.
" Ndak papa, sekalian ajak Al jalan-jalan" jawab Rizal sembari duduk di seberang Sholeh.
Meskipun keduanya saling berebut dan berbisik sendiri, Al dan Fatih tetap anteng tanpa menggangu ayahnya bicara pada Sholeh. Apa lagi Al yang sekarang sudah berpindah posisi duduk di pangkuan Sholeh, pria kecil itu sedikitpun tidak akan terabai dari Sholeh.
" Jadi besok keluar ?"
" Iya Mas, sekalian pilih bahan yang bagus. Mas kan lebih paham dari pada aku, biar ndak keliru"
" Jadi buat rumah toh?"
" Bukan mas, setelah tak pikir-pikir, nanti saja lah buat rumahnya mau tak beresin dulu tokonya. Dirapihkan dulu, sumpek mas lihatnya. Sempit campur baur gitu"
" Owalah, ya sudah. Kok berubah pikiran ?" tanya Rizal sedikit penasaran. Karena setau Rizal rumah yang selama ini di impikan Sholeh itu sudah berproses cukup lama mikirnya.
Sholeh tersenyum," Mepet sama nikahannya mas, repot ah ndak kelar - kelar"
" Kalau di pikir emang iya sih leh, ndak asik ya penganten baru jika harus bersibuk ria. Ha ha ha" goda Rizal.
" Ya ndak gitu juga Mas, lagian tokonya udah darurat gitu. Kemarin saran Sholeha juga lebih bagus renovasi dulu" jawabnya pelan.
" Loh sudah sempat ngobrol toh kalian, emang bisa bocah cilik itu ngasih saran ke kamu?" Rizal tampak menahan tawa sedikit tak percaya.
Sholeh tersenyum menanggapi Rizal, " Dia itu sudah besar Mas, cilik dari mana. Dia cukup pintar kok jawab semua pertanyaan ku meskipun jawabannya tetap saja terserah."
Rizal terdiam, " Iya leh, ndak nyangka aku adik kecilku itu sudah mau jadi istri orang, kemarin perasaan masih kecil, bawa botol susu kemana-mana" ucapnya mengenang masa kecil Sholeha kala itu.
Sholeh ikut tertawa, kembali teringat sosok Sholeha yang masih kecil saat itu. " Pas kecil sering tak gendong ya Mas, pas udah besar hampir ndak pernah ketemu, sekali ketemu tak ajak nikah" Sholeh menggelengkan kepalanya kecil.
" Wajar ndak pernah ketemu, kamu sibuk masa remaja, sibuk masa kuliah, dan sibuk masa bekerja sekarang giliran ndak sibuk baru bisa lihat kembali bocah itu yang ternyata sudah gadis" tutur Rizal seadanya.
Sholeh mengangguk, " Dia sampai lupa dan merasa ndak kenal ya mas sama aku?"
" Nanti dia akan jadi orang yang paling mengenalimu Leh" jawab Rizal sekenanya.
" Iya kah Mas?" tanya Sholeh terlihat kurang paham.
***
__ADS_1