
" Sholeha, Dek!" panggil Ayu tanpa menghiraukan suara Al yang semakin terdengar dari ponsel yang baru ia terima. Sholeha terus berjalan seolah tak mendengar panggilan Ayu.
Mengejar Sholeha dengan terburu sungguh tidak mungkin, ada banyak orang di sini. Hanya akan menimbulkan keributan, dan tentu saja tidak pantas di rumah yang sedang berduka ini. Ayu tetap di kamar, dan membujuk Al dari telpon yang tidak lama ia matikan.
" Aku kira Sholeha mendengar semuanya?" ucap Ayu pada Sholeh dan Rahma.
Sholeh terdiam,
" Sholeh, kamu harus menjelaskannya pada adik ku, aku sudah katakan dari awal jika kamu bisa bertanggung jawab dengan semua pilihanmu, aku juga tak menyangka kalian masih saling bergantung satu sama lain tanpa memberi tahu ku. Jika begini, apa yang harus aku katakan pada Sholeha?" Ayu terdengar frustasi dengan kejadian ini.
" Aku tidak bermaksud yu,-
" Jangan jelaskan pada ku !" pangkas Ayu cepat pada Sholeh. Ayu tau ini akan terjadi, tetapi ia tidak menyangka dirinya terlibat dalam masalah hati keduanya. Ayu merasa bersalah, dia segera mencari keberadaan adiknya itu.
***
Sholeha berusaha menyadarkan dirinya, jika sekarang ia tidak berada di tempat yang pantas untuk cemburu dan kecewa. Dia memilih kembali duduk lesehan bersama ibu-ibu tadi. Setidaknya ia bisa menghalau segala rasa yang terus bermunculan dalam hatinya.
Terlihat Ayu terburu-buru menghampirinya wajahnya tampak cemas, ia tau ke khawatirannya. Di belakang Ayu terlihat juga Sholeh yang keluar dari kamar Rahma.
" Dek kita pulang sekarang ya!" ajak Ayu pada Sholeha dengan lembut.
" Loh kenapa?" Sholeha sengaja berpura-pura tidak memahami maksud Ayu." Ah Al rewel ya", tambahnya melihat Ayu yang masih saja terdiam.
" Iya, yok pulang!" jawabnya singkat.
Dia juga melihat Sholeh yang berusaha menjangkau dirinya, Sholeha sengaja menghindar dan segera keluar rumah bersiap pulang. Sholeha akan membawa masalah ini hingga hati nya tenang kali ini, ia harus memutuskan segalanya dengan kepala dingin.
Begitupun dengan Sholeh harusnya, melihat kondisi yang tak begitu baik untuk membicarakan hubungan di sini. Sholeh terlihat tak lagi mengejar Sholeha, dia kembali kedalam rumah.
" Dek, kita makan dulu ya !" Suara Ayu menghentikan langkah kakinya yang sedikit tergesa di depan Ayu.
" Al ndak nungguin Mbak?"
" Sudah anteng tadi, Mas Rizal bisa tenangin kok", jawabnya dengan yakin.
Sholeha tampak berpikir sebentar.
" Ok. Di warung langganan kita kan?" jawabnya dengan seulas senyum.
" Ya udah yok!"
Mereka berkendara dengan diam, menelusuri jalan yang sedikit sepi, tidak seperti tadi pagi yang ramai pengendara. Sampailah mereka pada warung makan yang mereka pilih tadi.
Suasana warung makan yang begitu khas tercium aneka rasa lauk yang berderet di etalase depan. Tampak lezat dan menggiurkan, sayangnya semua itu tidak sanggup menggugah selera makan Sholeha seperti biasanya. Dan anehnya perut yang kosong sejak pagi tidak terasa melilit, atau hanya Sholeha yang terlalu sibuk tidak menggubris suara panggilan cacing di perutnya?.
"Pesan apa Dek?" Ayu bertanya, saat mereka duduk di satu meja panjang dekat tembok.
" Sama in aja lah Mbak!"
" Ya sudah, " Ayu mendekat pada kasir untuk memesan. Ayu kembali duduk bersebrangan dengan Sholeha, dia mengamati adiknya yang tak bersemangat sejak tadi.
" Dek, ada yang salah. Mungkin perlu di tanyakan?" Sholeha menggeleng, tak ingin banyak menggali cerita yang menyakitkan.
" Bertanya? Sepertinya tidak perlu, " jawabnya singkat.
__ADS_1
Di kedalaman hatinya yang begitu sedih, ia tidak akan lagi mencoba mencari penjelasan, toh ia sudah mendengar dengan begitu gamblang tadi. Sholeha bertekad untuk menyelesaikan semua langsung dengan Sholeh nanti. Dia tidak perlu lagi merepotkan orang - orang terdekat mereka, ini tentang rasa yang belum usai tentang urusan pokok dalam hubungan mereka, kiranya Sholeha butuh waktu tenang untuk berpikir dan memutuskan.
" Mbak bisa bantu, dan maaf soal tadi" tambahnya dengan sangat khawatir.
" Maaf untuk apa? bantu apa sih Mbak?" jawabnya kembali dengan pertanyaan seolah tak paham.
Pesanan mereka datang, Sholeha tidak lagi menggubris Ayu yang terus memandangi Sholeha, seolah mencari kegelisahan yang tidak terlihat sama sekali.
Sholeha memang sengaja berpura-pura tidak mendengar obrolan ini, meski Ayu pasti sangat menyadari lewat sikapnya yang mudah terbaca. Sholeha hanya tidak ingin melibatkan Ayu untuk perkara ini, dia akan semakin pusing jika ikut memikirkan.
" Gulai Ayam, wah enak ini" ucapnya mengalihkan pembicaraan. Sholeha menarik piringnya, dan menyedot es tawarnya sedikit. Dia memulai makan dengan nikmat.
" Dek. " Terlihat Ayu masih ingin bertanya "Ya sudah kita makan dulu!" putus Ayu.
Sholeha sangat bersyukur rasa gulai ayam yang begitu enak dan cukup menambah rasa senang di hatinya, setidaknya ia terhibur dan sedikit melupakan masalah tadi. Untungnya Ayu juga tidak terlalu memaksa dan membiarkan ia makan dengan tenang.
" Alhamdulillah, kita langsung pulang ya Mbak!" ajak Sholeha, setelah menyelesaikan makannya.
" Iya, tunggu lima menit ya dek"
Sholeha mengangguk, sembari menghabiskan minumnya hingga tandas.
Di lihatnya sekeliling rumah makan sederhana yang begitu rapi dan bersih, Sholeha tak bisa lepas memandang sepasang suami dan isteri pemilik usaha ini. Kebetulan Sholeha bisa melihat di tempat mereka beraktivitas. Dia tersenyum, sejak pertama kali datang kesini mereka tetap bersama, tanpa ada pegawai lain yang membantu. Mereka saling bahu membahu menyiapkan dan berkomunikasi dengan baik, tanpa sedikit pun memperlihatkan wajah lelah atau menyerah, mereka sangat kompak. Sholeha tertegun, dia mulai memikirkan masalahnya dengan Sholeh lagi. Apa bisa dia saling percaya dan bahu membahu kedepannya?
Sholeha menunduk, dalam lima menit saja dia sudah melamun lagi bahkan banyak berpikir jauh entah kemana.
" Dek, ayok!" Suara Ayu mengagetkan.
" Ha, ah ayok" Sholeha dengan cepat berdiri, dan menyudahi lamunannya.
Setelah membayar, mereka pulang. Bahkan Ayu yang mengambil kendali motor, Ia sempat berebut dengan Sholeha masalah siapa yang akan jadi supir. Ayu bahkan merayu Sholeha dengan begitu manis, " Ayolah Dek, biar kamu bisa melamun dengan khusyuk seperti kebiasaan mu" tawarnya dengan senyum mengejek.
Karena duduk anteng membonceng, benar saja Sholeha jadi banyak berpikir dalam diamnya, kali ini ia hanya bisa memaksa logikanya untuk memberi pendapat. Selebihnya hanya boleh menyimak, apalagi sosok yang iri, curiga, kecewa, cemburu dan bahkan cinta. Semua harus mundur tertib di pojokan hati dan pikirannya. Sholeha butuh ketenangan yang lebih untuk memutuskan semua ini.
Meski berisik otaknya Sholeha tetap kekeh tidak ingin menuruti pikirannya yang sering kali berburuk sangka.
***
Sholeha melepas kerudungnya, ia menghempaskan badannya pada kasur empuknya. Ia memejamkan mata, berusaha mengurai semua pikirannya, menarik nafas dan menikmati ketenangan dalam kamarnya.
Sholeha terpejam begitu lama, namun tak tertidur sama sekali, begitu banyak wajah Sholeh dan Rahma muncul di otaknya, senyum mereka, dan suara mereka yang begitu jelas terdengar kembali di telinganya. Sontak ia membuka matanya dan terduduk menghentakkan kakinya ke lantai. " Huh, menyebalkan !" ucapnya uring-uringan tak jelas.
Di tengah mulutnya yang menggerutu tidak jelas Sholeha mendengar ponselnya berbunyi, notifikasi pesan seperti biasanya.
" Awas aja kalau itu kamu" ancamnya, pada ponsel pintar tak bersalah, sembari merogoh tasnya.
" Tuh kan, benar kamu" ucapnya ketika melihat nama Sholeh yang muncul di layar ponselnya.
Sholeha mencabikan bibirnya, kemudian melempar benda itu ke tengah kasur.
" Terserah, !" katanya sewot.
Ya dia memang Sholeh, yang mengatakan akan datang ke rumah nanti malam. Sholeha bahkan tidak membalas pesan itu. Dia kembali melempar tubuhnya ke kasur, muncul banyak pertanyaan dalam otaknya, dan Sholeha juga harus mempersiapkan jawaban dan pertanyaan yang akan ia berikan pada Sholeh nanti.
" Pasrah aja lah, saingannya berat juga" Sholeha putus asa.
__ADS_1
Entah kemana perginya perasaan tiba-tiba suka dan rasa ingin hidup bersama sampai tua. Semua terbang terhembus angin kenyataan cintanya Rahma ke pada Sholeh. Sholeha tidak boleh terburu-buru merasa cemburu, dia takut membebani Sholeh yang belum bisa keluar dari masa lalunya.
****
" Kamu bisa mencobanya Mas!" ucap Sholeha pada calon menantu idaman ibunya itu.
Dia terdiam memandang Sholeha, dengan mantap Sholeha berniat memberikan kesempatan memilih antara ia dan Rahma.
Sekitar jam tujuh lewat sedikit, tepatnya ketika adzan selesai berkumandang Sholeh datang bertamu ke rumahnya. Ia bahkan terlihat terburu-buru, mungkin saja ia akan pergi lagi setelah ini. Pikir Sholeha.
" Mencoba apa, apa maksud mu?" jawabnya dengan tegas.
Sholeha menarik nafasnya dengan kasar, mencoba mengatakan sekali lagi dengan tenang, " Aku memberimu kesempatan untuk kembali berjuang dan menuntaskan masa lalu mu, aku bisa memba-,
" Tidak Sholeha!" sambarnya cepat, " saya bisa jelaskan dan perkara ini sudah selesai dari dahulu sebelum melamar mu"
Sholeha ternganga, tak percaya malah ia yang di tekan begini.
" Aku mendengar semuanya tadi, jangan pikir aku ini anak kecil yang tidak paham bahasa cinta kalian mas" jawab Sholeha sedikit meninggikan suaranya.
Suasana jalanan yang sedikit lenggang memperjelas semua perkataan keduanya, memang saat ini tidak ada orang lain selain Sholeha di rumah. Bahkan ia sengaja tidak memberi tahu ibu dan bapaknya jika Sholeh akan datang bertamu. Mereka duduk di teras rumah dengan lampu yang begitu terang menyinari keduanya.
" Saya memang salah saat itu, tapi saya tidak lagi ada rasa cinta atau niatan menikahi Rahma saat ini Sholeha, " ucapnya dengan lembut namun tegas menekankan.
Sholeha memalingkan wajahnya, memandang jalanan di depan rumahnya.
"Kamu jelas menyesal tidak bisa menolak ku mas, kalau begitu aku yang menolak mu sekarang dan - ,
" Tidak Sholeha!" potong Sholeh dengan tegas." jangan lakukan itu!" tambahnya.
Sholeha menunduk, dia tidak lagi bisa memahami apa yang di maksud Sholeh saat ini. Jika tidak bisa mengapa masih tetap kekeh menjalani. Sholeha membatin begitu kesal.
" Maksud ku kita belum terlalu jauh melangkah, jika mas tidak bersedia biarkan Sholeha yang katakan pada yang lain,-
Sholeha menggantungkan perkataanya yang begitu lirih itu.
" Dan biar aku yang beralasan tidak mencintai mu itu saja, pasti beres" tambah Sholeha dengan tawa miris di akhir kalimatnya.
Jujur saja, di putuskan Arman jauh lebih ikhlas dari pada mengatakan itu pada Sholeh. Hatinya seolah kembali perih tanpa terluka. Ah mungkin luka yang tak di sadarinya.
"Sholeha, saya memang bersalah. Tapi tolong beri sedikit kepercayaan dan waktu agar saya benar-benar bisa membuktikannya." kali ini Sholeh dengan lembut membujuk Sholeha.
" Entah mengapa aku hanya takut terluka lagi Mas, saya harap mas pahami itu sejak awal" jawab Sholeha lirih dengan menunduk. Tangannya sibuk menggulung ujung jilbabnya pelan.
Sholeh menarik nafas panjang, ia berusaha mengurai semua ketegangan yang sempat memuncak tadi. Sholeha tampak sangat menunggu jawaban Sholeh yang dengan begitu tegang ia bersiap menyimaknya.
Sekitar satu menit Sholeh masih terdiam, tak memberikan tanda-tanda kesanggupannya dalam bertanggung jawab atas ke putusan dan pilihannya pada Sholeha.
" Saya akan berusaha Sholeha, kita tetap jalankan rencana dan impian orang tua kita, saya pikir kamu juga ingat bahwa kita akan berusaha menerima semua ini"
" Kita bisa, jika masa lalu kita sudah beres semua mas" jawab Sholeha dengan jujur.
Sholeh tersenyum, melihat perubahan raut wajah Sholeha yang tiba-tiba tenang dan tampak dewasa.
" Iya, saya bukan tipe yang terpuruk pada masa lalu" sedikit tertawa Sholeh mengatakannya.
__ADS_1
" Aku juga bukan, jangan tertawakan aku!" Sunggut Sholeha padanya.
****