
Ruang yang tiba-tiba senyap, hanya terdengar suara kecupan Sholeh yang terjadi secara berkala. Wanita yang sedang meminta waktu untuk mengungkapan banyak hal dalam hatinya.
Lama menunggu sang istri berbicara, Sholeh mencoba memulainya. " Mas tidak akan mengungkitnya jika kamu tidak suka, lain kali jika tidak suka tidak perlu memaksa", ucapnya sangat pelan, tak sedikit pun ada nada kemarahan atau menyalahkan di sana.
Sholeha menenggelamkan wajahnya di dada sang suami begitu dalam, menyembunyikan rasa malu dan tangisnya yang sebentar lagi pecah. Di atas kepala Sholeha tampak ada senyum yang terbit, merasa gemas dengan tingkah lucu sang istri.
Sholeha memukul dada sang suaminya yang terdengar terkekeh. " Ndak lucu Mas, " ucapnya mendongak pada suaminya.
" Aduh.... Maaf, maaf. Benar kan yang Mas katakan, hem?" Sholeh mengeratkan pelukan yang sempat mengendur.
" Iya. Sholeha kan cuma penasaran, tetapi tidak akan lagi " jawabnya cepat.
" Tidak apa, yang penting jangan cemburu, melupakan masa lalu juga tidak perlu. Terlalu mengingatnya juga tidak baik, kita hanya perlu menyesuaikan diri saja istriku, cemburu pada masa lalu apa gunanya ?"
Sholeha tidak lagi menjawab. Menyadari kesalahannya yang membuatnya susah sendiri, ia semakin tenang setelah mendengar tutur kata sang suami yang begitu bijak seperti mutiara hikmah.
" Mau peluk sampai pagi ya Mas" ucap Sholeha tiba-tiba.
Sholeh tampak berpikir, mengangkat sebelah alisnya tanda tak setuju.
" Kita lakukan yang lain ya sayang, Mas pengen. " ucap Sholeh mengiba.
Sholeha tersenyum dan mengawalinya terlebih dahulu, kecupan mesra di bibir suaminya yang telah menjadi kesukaannya.
__ADS_1
Rupa-rupanya Sholeh telah menagih jatahnya untuk sebulan ini. Seperti apa yang telah di rencanakan, pernikahan Sholeh dan istrinya memang di laksanakan menjelang ramadhan. Tentu saja dengan dalih ibadah sepenuhnya selama sebulan, Sholeh membuat Sholeha tak berdaya di malam itu. Dia benar-benar pasrah dan mau-mau saja menuruti permintaan sang suami.
Sholeh merasa kasihan juga merasa senang melihat istrinya tak bisa lagi banyak bicara karena ulahnya, dia tampak ikut-ikutan saja. Semua terserah dirinya, hendak seperti apa cara dan gayanya. Sholeha benar-benar tak perduli lagi.
Demi menghapus rasa cemburu yang terus saja timbul tenggelam dalam benak istrinya, Sholeh sedikit mencari cara baru untuk meyakinkan dan menenangkan istrinya, penyampaian nasehat yang kadang masih tak begitu di pahami istrinya itu, membuat ia terpaksa menggunakan bahasa tubuh yang lebih meyakinkan.
" Sebenarnya apa memang Sayangnya Mas ini mudah cemburu, atau hanya ingin lebih di sayang saja?" tanya Sholeh di sela-sela rehatnya dalam dekapan sang istri.
Rasa penasaran yang ingin sekali ia tanyakan namun takut menyinggung Sholeha, dia memilih waktu nyaman seperti ini agar tak menimbulkan perkelahian.
Dari bawah dagu Sholeh, bergerak bibir mungil yang telah bekerja lebih keras menghibur sang suami, " Aku juga Ndak tau mas, seperti muncul begitu saja saat memikirkan Mas dengannya. Dulu sama Mas Arman tidak seperti ini-,
Sholeh menutup mulut Sholeha dengan cepat, " Jangan sebut namanya, katakan saja dia, oke" ucapnya merebut pembicaraan Sholeha.
Sholeh tampak keheranan, " Maksudnya gimana, coba ceritakan" pintanya pada Sholeha .
Sholeha mengendurkan sedikit pelukan Sholeh, dia bersiap menceritakan sesuatu hal yang ia sendiri telah berjanji tidak akan mengungkitnya pada siapa pun. Tetapi sekarang ini Sholeh bukan orang lain. Dia telah berbagi banyak rasa pada pria dewasa di hadapannya ini.
Sholeha menarik nafas, menatap suaminya dengan begitu dalam, " Sebenarnya aku juga ndak percaya, jika akhirnya menceritakan pengalaman buruk ini pada seseorang. Dan Mas tau, Sholeha mu ini menyimpan sejuta rasa sakit di masa lalu sendiri selama ini. Rela tidak rela, tetapi semua sudah terjadi dan berlalu. Aku percaya jika Mas juga akan berpikiran sama dengan ku, dan janji ya jangan ungkit ini pada siapa pun. Leha menutupnya dengan sangat rapat",
Sholeh semakin di buat penasaran dengan cerita apa kiranya yang akan di bawakan sang istri hingga bahasanya begitu dalam dan serius seperti ini.
" Iya, Mas ini bukan orang lain sekarang. Katakan saja, siapa tau beban itu akan sedikit berkurang,"
__ADS_1
Sholeha tiba-tiba tertawa, " Mas, sebenarnya aku hanya malu. Tetapi tidak sampai terbebani, aku ceritakan sekarang", Sholeha kembali mengeratkan pelukan tanpa penghalang di dalam selimut tebal itu. Mencari kenyamanan dan kehangatan, menghindari tiupan AC yang kadang terlalu mengganggu.
" Sebenarnya aku dan Irma telah terjebak dalam hati yang sama, dia menyukaiku, begitu juga Irma yang menyukainya. Saat berkembang menjadi perasaan cinta kita, Irma hanya diam dan menyimpannya sendiri. Tetapi yang namanya perasaan tidak mungkin tak terlihat tanda-tandanya, aku kan tipe orang yang sangat cuek tak perduli, jarang menanggapi sikap dia yang menurut ku berlebihan, terus dia bosan dengan aku yang seperti ini. Nah, kalau kata Irma, di sana lah cinta mereka beraksi di belakang ku"
" Ha ha, ada-ada saja si Irma" celetuk Sholeh .
Sholeha mencubit dada Sholeh, dia bahkan mengaduh kesakitan. " Lanjut ndak nih?" ucapnya sebal.
" Iya, iya. Aduh sakit Yang..." Sholeh mengusap dadanya kasar.
" Yah jadi gitu, meskipun mereka ndak sampai pacaran, tetapi sudah saling mengakui jika suka. Trus Sholeha yang ndak sabar pengen nikah ini memutuskan menyerah saja karena dia tidak sanggup menikahi ku. Padahal aku juga tidak tau jika ada hal yang begitu buruk terjadi padaku. Tetapi, aku sudah menyadarinya "
" Yang, panjang sekali ceritanya yang simpel aja. Ngantuk nih" Sholeh mengeluh dengan kepalanya yang di jatuhkan di ceruk leher istrinya.
" Ih, Mas ini. Singkatnya ya Irma itu suka sama Arman, eh dia. Tetapi dia pacarin aku, pas di ajak nikah ternyata tidak mau, dah itu singkatnya" Sholeha menggerutu .
Tak ada sahutan lagi dari Sholeh, bisa di tebak jika pendengar yang tak setia ini sudah beralih alam dari kenyataan. Sholeha menyentuh pipi suaminya, mengusapnya dengan begitu lembut, merasakan desiran nafas halus di lehernya.
Sholeha berhenti tak meneruskan ceritanya, dia tau Sholeh tak begitu ingin mendengar cerita darinya hanya saja ia berusaha meluangkan waktu untuk lebih mengenal dirinya. Sosok pria yang begitu dewasa ini telah menjadi idolanya mulai saat ini. Sikapnya yang lembut cukup membut Sholeha nyaman tak ingin pergi darinya.
" Mas, makasih ya telah menerima bocah yang tak tau apa-apa ini. Bocah yang tak bisa memilih dan pencemburu" ucapnya begitu lirih.
Usapan di pipi itu tak lagi terasa, Sholeha juga ikut terlelap dalam remang lampu kamar, begitu pula malam yang juga semakin larut.
__ADS_1
***