
Sholeha meluruhkan pundaknya, dia menyesali tingkahnya yang selalu ingin tahu seperti ini.
Tidak lama setelah mereka saling bertukar kabar, Rahma, yah dia bernama Rahma.
Dia masuk melewati dirinya, menjenguk Fatih si bintang acara kali ini.
Dari ujung kakinya hingga ke ujung rambutnya yang begitu hitam indah tergerai, tak lepas dari pandangan Sholeha.
Dia tetap saja terlihat cantik menurutnya, belum lagi Sholeha mendengar Rahma dengan ramahnya menyapa ibunya, cara dia menghibur Fatih agar lekas sembuh dari khitannya. Dia sangat ramah secara sempurna.
Oh Sholeha, mengapa begitu jeli matamu kali ini.
Nampaknya dia akan segera berpamitan, entahlah Sholeha tak ingin mencari tau apa yang terjadi selanjutnya. Sholeha akan pura-pura tidak mendengar kali ini, sungguh dia tidak akan mencuri dengar lagi.
Sholeha lupa, dia masih berada di satu ruang yang sama saat ini. Bahkan Sholeha hanya berdiam diri di pojokan, berarti dia masih bisa mendengar.
" Ayu aku pulang dulu ya" Rahma mulai berpamitan.
" Mengapa terburu-buru?"
" Iya, aku berencana menemui Bu Nur habis ini, lama ndak ketemu."ucapnya sangat lembut.
Dan apa katanya? Bu Nur?
Dia akan menemui Sholeh juga?
Sholeha semakin menggenggam erat ujung hijabnya, entah apa sebabnya dia memang membutuhkan pegangan saat ini.
" Ya sudah, aku tidak bisa menemani" jawab Ayu pada Rahma yang kemudian keluar dari ruang tengah.
Sejak tadi dia diam tak banyak berbicara membuat ibunya curiga, dia nampak memperhatikan Sholeha. Sholeha menyadari itu, dia segera beranjak beralasan dari duduknya, hendak ke depan sebentar kilahnya.
Sholeha benar-benar menuju pintu depan rumah kakaknya, di sana masih ada Ayu yang tampak belum bisa melepas kepergian sahabatnya itu.
Sholeha mendekat berdiri di samping Ayu berdiri, matanya turut menyaksikan laju motor metik yang benar saja berhenti di rumah calon suaminya.
Huh.... apa yang sedang ia pikirkan?
Dengan lesu ia menutup pintu setelah Ayu kembali masuk.
Sholeha ingin tau apa yang sedang terjadi di sana, dan dia mulai gelisah saat ini.
Sholeha hanya meneruskan diamnya tidak berusaha bertanya pada Ayu.
Semua orang kembali bergabung di ruang tengah, duduk lesehan mengitari Fatih yang biasa-biasa saja tak merasakan sakit sedikitpun. Entah mengapa? tidak seperti anak habis di khitan pada umumnya.
" Dia teman mu Nduk?" ternyata ibu juga penasaran. Sholeha ikut menyimak.
" Iya Bu, udah lama ndak pernah ketemu"
" Sudah nikah?"
" Belum Bu, belum ada yang pas katanya"
" Oh, kenal juga sama Sholeh?"
" Iya lah Bu, teman dari kecil"
" Ibu kok ndak pernah tau ya?"
" Oh itu rumahnya emang agak jauh, dia juga di kota sekarang, kebetulan sedang berkunjung saja" Ayu menjelaskan pada ibu mertuanya.
Bu Fatma melirik Sholeha, seakan dia merasakan keadaan hati Sholeha, sehingga ia bermaksud membantunya mencari tau.
Sholeha menunduk sembari menyimak Ayu menjelaskan. Tidak satupun ia berani menanyakan semua yang ada di kepalanya sekarang.
"Mah, Om Sholeh belum kesini ya"? tanya Fatih pada Ayu, secara tiba-tiba.
Sholeha mengangkat sedikit dagunya, menatap Ayu, memastikan apa yang hendak ia katakan.
" Mungkin sebentar lagi Nak" hiburnya pada Fatih.
Hem jawaban apa itu? dia sedang berbohong.
" Mungkin sedang ada tamu di rumahnya" timpal Sholeha pada Ayu.
Sholeha sengaja tersenyum, yang justru menambah kesan sebal dari wajahnya.
Semua orang terdiam, tak ada yang menyahuti perkataanya, membuat Sholeha merasa canggung.
Dia berdiri dari duduknya, memilih keluar mencari udara segar. Duduk di ayunan yang ada di samping rumah menjadi pilihan Sholeha.
Dia butuh mengurai segala kekusutan otaknya di sepanjang hari ini. Berayun pelan seolah tertiup angin malam, kakinya bergerak bersamaan dengan gerak ayunan.
Tiba-tiba air matanya luruh ke dasaran pipi mulusnya, dia menangis? Tidak sampai ber-derai-derai, ia segera mengusap air mata lancang yang keluar tanpa izin.
Sholeha membenci itu, dia tidak ingin menangis seperti ini.
Tidak ada yang boleh tau akan kesedihannya, sedih di khianati, sedih di sakiti, sedih di salahkan dan sedih......
Mungkin sedih karena cemburu? bisa saja.
Ah dia pusing.
Hatinya yang yang tak seberapa luas ini, semakin remuk tak jelas di hantam masa lalu, dan semilir angin malam semakin membuat hatinya ngilu dan kedinginan.
Huh terlalu berlebihan,
Oh ya Rabb....
Betapa tidak nyamannya perasaanya saat ini, Sholeha sangat ingin di hibur dan di temani. Dia sangat kesepian saat ini. Dia benar-benar menyendiri tenggelam dalam kesunyian.
Hingga hanya terdengar bunyi
kriet...... kriet...... kriet ......
Dari besi tua ayunan itu.
Sholeha tersadar, dia mengusap wajahnya kasar, kemudian menutup dengan kedua telapak tangannya sejenak. Untuk apa ia berdiam diri disini? percuma tidak akan ada solusi sama sekali.
Jangan sok berharap ada yang begitu pengertian datang menghibur seperti yang sering ia lihat di drama-drama Korea. Ini realita.
Ia menarik nafas dengan sangat dalam, mengembuskan sangat perlahan agar tercampur dengan udara malam pedesaan yang begitu dingin. Di pandangnya bulan setengah sabit di langit, matanya menerawang jauh ke sana. Dengan lirih ia berdoa,
__ADS_1
" Aku berserah diri kepada mu Ya Allah"
Sholeha tidak bisa membagi ke galaunya dan kegundahannya kepada siapapun malam ini. Dia tidak ingin membuka luka lama di hadapan banyak orang, terlalu basi menurutnya. Percuma, sudah terlanjur sakit untuk apa di ceritakan kembali.
Sholeha menyudahi lamunan dan ratapannya, ia meninggalkan ayunan tua kesayangan Al kedalam rumah, dibiarkan saja benda itu sedikit terayun.
Waktu itu, masih menunjukan pukul delapan kurang sedikit. Berniat mengajak ibunya pulang, Sholeha melangkahkan kakinya ke ruang tengah.
Tanpa ia sadari sudah ada Sholeh yang duduk manis di samping Rizal dekat dengan Fatih. Sholeha sedikit terkejut, apa dia tadi terlalu dalam ketika melamun tadi?. Sampai tak mendengar sedikitpun suara Sholeh di sini.
Sejak kapan? apa sudah dari tadi?
Sholeha tidak terlalu perduli, ia segera duduk dan berbisik pada ibunya.
" Pulang yuk Bu!"
"Nginap aja ya Nduk" tawar ibu.
" Eng - , pulang aja yuk" ia sedikit merengek.
" Kasian Fatih " Bu Fatma menekankan.
Sholeha tak lagi menjawab, dia hanya sedikit memanyunkan bibir kecilnya.
Dia sudah lelah hati seharian ini, mana bisa dia tidur nyenyak jika tidak di kamarnya sendiri.
" Biar Mas antar pulang, kalau ndak mau nginep!" ucap Rizal kemudian.
Sholeha menatap kakaknya, dia tampak berpikir sebentar, kemudian menggeleng.
" Ndak usah Mas, Leha manut Ibu saja" ucapnya lesu.
Pria yang di panggil om Sholeh oleh Fatih itu hanya diam dan memperhatikan.
Wajahnya tidak secerah biasanya, kali ini dia nampak kusut dan tiada senyuman sedikit pun. Terlalu kentara jika dia sedang menyembunyikan keresahannya. Apa pedulinya, Sholeha juga sedang kacau tak berbentuk hatinya. Paling-paling dia sedih tidak bisa menemui teman lamanya itu dengan cukup banyak waktu.
Sholeha bahkan bisa menebaknya dengan cepat, bohong kan jika dia tidak bahagia seperti Ayu tadi saat bertemu Rahma?
Dalam diamnya, Sholeha membayangkan keduanya saling tertawa dan menanyakan kabar dengan bahagia.
Ah sudahlah, mengapa begitu menyebalkan sekali.
" Ya sudah, Leha mau istirahat dulu" ucap Sholeha, ia masuk ke kamar Fatih yang kosong tanpa penghuni.
Semua orang hanya diam tanpa merespon, begitu juga dengan Ayu yang tak menyadari perubahan mood adik iparnya. Mungkin dia terlalu larut dengan kondisi Fatih saat ini.
*****
Sholeha berguling dan duduk berkali kali.
Dia menyadari sakit perut bulanannya datang menyerang saat ini.
Dia semakin ingin menangis saja saat ini, mengapa semuanya datang secara kompak seperti ini?
Hatinya yang terlalu sensitif, moodnya yang berubah-ubah tak karuan, dan perutnya turut membuatnya meringis tak berkesudahan.
Oh ya tuhan .....
Terlalu banyak rasa mencampur aduk di perutnya, ia harus segera membuang segala penyebabnya. Cukup lama ia berada di dalam kamar mandi, sampai Ayu mengetuk pintu toilet dengan khawatir.
" Dek kamu kenapa?"
" Biasa Mbak, datang bulan" jawab leha suaranya teredam bilik toilet .
" Perlu cari obat ndak dek?"
" Ndak usah Mbak, leha minum air hangat saja" ia keluar dengan kondisi wajah yang berantakan dan lesu.
" Benar ndak usah?" Ayu kembali memastikan
" Ngak papa ko, bentar lagi sembuh"
Sholeha kembali ke kamar dengan segelas air hangat di tangannya.
Ia kembali duduk di sisi ranjang, kamar Fatih itu memiliki kasur yang cukup besar untuk seukuran anak kecil.
Sholeha bersyukur bisa sedikit beristirahat dengan nyaman.
Dreet.....
Ponselnya bergetar, ada pesan masuk.
Yang kasih cincin
(Kamu ndak papa?)
(Perlu ke dokter?)
Sholeha tersenyum. Dia belum pulang? gumamnya dalam hati, dia tidak sempat melihatnya tadi.
(Ndak perlu mas,)
(Sholeha ndak papa)
Dia tau pesannya langsung terbaca, namun Sholeha tak menunggu balasan dari Sholeh. Di letakan begitu saja benda pipih itu di atas kasur. Sholeha merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, kali ini ia ingin tertidur walau sebentar.
***
POV Sholeh.
Saat di ruang tengah
Sholeh berusaha menanggapi celoteh Fatih yang sedari tadi sibuk menanyakan mengapa omnya itu baru datang, dan menagih berbagai janji yang akan di berikan jika ia sudah di khitan.
" Om, Fatih kapan ya sembuhnya?"
" Besok juga sembuh kok"
" Kata ayah satu Minggu"
" Gak selama itu dong "
" Bi Ha, juga ngomong gitu"
__ADS_1
" Iya dong, ngak lama kok"
Sholeh terus mendengar Fatih yang terus bertanya ini dan itu namun mata Sholeh tak lepas dari wajah Sholeha yang nampak murung.
Sholeh juga melihat bagaimana dia memanyunkan bibirnya karena ingin pulang, dan ibu melarangnya.
Semakin di pandang, semakin terlihat jika wajahnya terlihat mendung tak sebahagia seperti biasanya.
Sedikitpun Sholeha tak menyapanya, sejak ia kembali dari luar tadi, ia sangat murung dan sedikit sembab matanya. Sholeh hanya tidak ada kesempatan untuk bertanya, Sholeha buru-buru pamit istirahat terlebih dahulu.
Malam semakin larut, niatnya setelah Fatih tertidur ia akan pulang. Baru saja hendak pamit, ia melihat Sholeha keluar kamar dengan berlari, wajahnya terlihat kesakitan.
Sholeh mengurungkan niatnya, ia sedikit khawatir melihat Sholeha, dia akan memastikan terlebih dahulu sebelum pulang.
"Buk, Sholeha kenapa?" Ayu panik melihat adik iparnya itu lama berada di toilet.
" Ndak tau juga ibu"
" Sebentar tak susul"
Entah apa yang mereka katakan di dapur tadi, Sholeh hanya melihat Sholeha kembali dengan membawa segelas air putih. Wajahnya masih sama tampak lesu dan pucat.
Di belakangnya, Ayu mengikuti Sholeh..
" Kenapa katanya Nduk?" sergap ibu.
" Biasa katanya, datang bulan bu"
" Biasanya ndak gitu kok"
" Banyak pikiran mungkin Bu"
Bu Fatma terlihat agak khawatir, kemudian ia sedikit menceritakan kondisi Sholeha hari ini.
" Dia juga anaknya gak suka ngerengek, kalau sakit sukanya diem, sampai sembuh sendiri baru mau cerita" Bu Fatma terkesan mengomel pada sikap Sholeha.
" Dari tadi pagi dia murung loh Bu" tambah Ayu pada ibunya.
" Ndak tau Ibu juga kurang paham"
" Bawaan datang bulan kayaknya Bu"
Pintu kamar tertutup rapat, Sholeh tidak mungkin mengetuk pintu itu dan masuk menjenguk. Terpikirkan untuk mengirim pesan saja.
Dengan cepat Sholeha membalas, namun menolak bantuannya, dan mengatakan baik-baik saja.
(Jika butuh sesuatu)
(Kamu boleh meminta bantuan ku)
Pesannya terkirim, namun tak kunjung mendapat balasan. Sepertinya dia sudah tertidur.
Dengan sedikit khawatir, akhirnya Sholeh berniat memutuskan akan pulang, namun dia menunda.
Mendengar cerita Ayu dan Bu Fatma tadi, Sholeh semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Sholeha.
Di tambah saat dia datang tadi, ia melihat Sholeha duduk sendiri dan sepertinya menangis.
Sholeh tidak bisa bertanya secara langsung padanya, belum lagi ia juga masih terkejut dengan kedatangan Rahma yang mendadak. Sholeh terlalu bingung. Hatinya sedikit terombangambing tergulung harapan yang sempat menepi kini kembali muncul kembali. Sekitar setengah jam dia duduk kembali, memastikan jika Sholeha tidak keluar
Sedikit mengobrol dengan Ayu, membahas kedatangan Rahma yang terkesan mendadak.
" Oh iya Leh, sepertinya kamu harus jelaskan tentang Rahma kepada Sholeha, sepertinya dia perlu tau" kata Ayu, ketika di ruang tengah hanya ada dirinya dan juga Rizal. Bu Fatma sudah beristirahat lima menit yang lalu.
" Harus ya Yu?" Sholeh bahkan tidak terpikir ke sana sama sekali.
"Harus Leh, sepertinya adik ku itu merasa tersaingi oleh Rahma, dia bisa berkecil hati nanti" timpal Rizal. Kakak yang satu ini sangat mengerti sifat Sholeha, apa lagi adiknya itu terlihat murung sedari tadi.
" Nanti jika ada kesempatan" jawab Sholeh sedikit ragu.
" Oh iya Leh, kamu juga harus tau jika Sholeha itu tidak akan bertanya sedikitpun tentang ini, percaya padaku. Dia seseorang yang begitu pintar memendam semua rasa curiga dan segala prasangka dalam hatinya, jadi jika kamu ingin mempertahan kan hubungan ini kamu harus menyelamatkan Sholeha dari sifat diamnya ini. Dia terlalu membatu soal rasa, dia angkuh dan selalu mengira dirinya mampu menanggung sendiri." Rizal dengan tegas mengatakan, kali ini ia memperlihatkan kepedulian kepada adik tersayangnya di hadapan Sholeh.
Sholeh tersenyum getir, dia tau menghadapi rintangan di hubungan ini akan begitu berat, terlebih pada Sholeha dia harus rela mengorbankan segala harapannya, dia tidak marah pada siapa pun, Sholeh hanya sedikit perlu waktu untuk kembali berjuang dan memilih dengan hatinya sendiri.
" Jika di lihat-lihat, sepertinya Sholeha juga sedang banyak masalah, apa kamu tau kenapa?" tanya Ayu pada Sholeh.
Sholeh menggeleng pelan, dia menyadarinya jika selama ini hubungan mereka belum bergerak maju sama sekali.
Padahal keduanya telah berjanji akan saling mengenal, dan memperbaiki keputusan yang mereka buat .
" Dia juga terlihat menangis di luar tadi" Tambah Ayu.
" Aku tidak bermaksud melimpahkan semua tentang Sholeha kepada mu Leh, aku hanya merasa kamu harus diberi kesempatan untuk mengenal adikku secara jelas mulai dari sekarang."
Rizal dengan jujur, ingin memberikan kesempatan pada pria yang telah berjanji kepada keluarga dan dirinya. Walau bagaimanapun Sholeh juga menyanggupi segalanya dari awal.
Sholeh lagi-lagi hanya bisa terdiam, entah apa yang sedang membuatnya gamang seperti ini. Dia juga memahami sikap Rizal yang terkesan memaksa, dia tau Sholeha adalah satu hal yang sangat berharga bagi Rizal, wajar jika dia bersikap seperti ini.
" Ah aku bisa mengerti Mas, beri kami waktu untuk semua ini, jangan berpikir terlalu jauh dan berlebihan tentang hubungan kami ya..." Ucap Sholeh pada Rizal.
Dengan sisa-sisa ketenangan yang sudah banyak terbuang di hari ini, Sholeh harus menunjukan kesanggupannya sekali lagi pada Rizal. Dia tau Sholeha adalah keutamaan dalam hidup semua orang kini, terutama ibunya sendiri.
" Em sudah malam Mas, Fatih juga sudah tidur, aku pamit pulang ya" ujarnya pada Rizal sembari menyalami tuan rumah itu.
"Oh iya Leh, terimakasih ya sudah jenguk anakku " mengantarkan Sholeh keluar dari rumah.
Di keheningan malam yang semakin larut, Sholeh terdiam dalam kamarnya.
Berbagai rasa sedang menyatu dalam hatinya, dia tidak bisa menerjemahkan satu per satu apa yang sedang ia rasa.
Gundah gulana, tak kenal arahnya kemana segala perasaan di hari ini, semua terjadi begitu menggeruduk mengepung hatinya. Sebelum memutuskan tidur, dia ingin berbuat sedikit kebaikan setidaknya kepada Sholeha, wanita muda yang sedang begitu ia pikirkan sekarang ini.
Sholeh mengirim satu pesan remahnya kepada Sholeha, setidaknya dia mencoba perduli.
Sholeha
(Semoga lekas sembuh ya.....)
Hanya itu saja, dia tidak berniat mengirim pesan lain, Sholeh merasa sedang bingung dan pusing saat ini. Di lemparnya asal ponsel tadi, dia memaksa tubuhnya beristirahat, dia lelah seharian ini.
" Ya Allah, berat rasanya" gumamnya sebelum dia benar-benar tertidur.
******
__ADS_1