
Sholeha terkejut, mendengar pintu kamar yang terbuka. Tampak wajah Sholeh yang berpeluh masuk dan menghampirinya.
" Sudah bangun toh, kita sarapan kalau gitu", ajak Sholeh tanpa basa-basi.
Sholeha merasa linglung, telinganya merespon lebih cepat, suara siang hari mulai terdengar. Sholeha celingukan mencari letak jam dinding yang terasa tiba-tiba berpindah.
" Allahuakbar...., Mas kok ndak bangunin sih", Sholeha melompat dari ranjangnya, menggulung rambutnya asal dan meraih hijab instannya.
" Kamu kenapa, jangan buru-buru", cegah Sholeh yang belum memahami situasi mencekam bagi istrinya.
" Mas, ini jam setengah sembilan. Aduh, Ibu pasti marah ini aku bangun siang", jawabnya menahan tangis.
Sholeh menguatkan cekalan tangannya, ia berusaha menjelaskan dengan singkat dan cepat.
" Tidak Sholeha, Mas sudah katakan jika kamu akan bangun siang, Ibu pasti paham kamu sedang kelelahan" jawabnya dengan jujur.
Sholeha terkejut, " Mas, kamu tuh aneh-aneh, masa iya saku ndak bantu ibu, di luar kan masih repot juga."
" Sudah selesai istriku, Mas yang bantu mereka. Kamu bisa tenang, mereka paham kok" tangan Sholeha mengendur, dia kembali terduduk dengan pasrah.
" Mas, ah Mas kok ndak bangunin aku. Sholeha malu bangun se-siang ini", dia bahkan tampak akan menangis.
" Maaf ya, niatnya tadi cuman lebihin setengah jam habis itu Mas tinggal, Ndak tau nya mas keasikan di luar, sampai lupa", Sholeh setengah tertawa dan ada rasa bersalah juga, dia memang sengaja tidak membangunkan tetapi tidak menyangka dia juga tidak bangun sendiri sampai hari beranjak siang.
" Aku malu mau keluar, ndak usah sarapan." Sholeha kembali naik ke kasur merebahkan tubuhnya yang merasa tak berguna.
Sholeh menggeleng, dia tau apa yang di maksud sang istri, dia hanya diam menunggu beberapa menit agar gejolak emosi Sholeha mereda.
***
" Kamu tuh ya nduk, malu-malu in Ibu aja, baru nikah gini suamimu malah tau buruknya kamu. Dah Ibu ndak banyak omong, terserah suamimu aja mau di apa kan." omel bu Fatma pada Sholeha.
Setelah berdiam dengan berpikir sikap yang seperti apa yang akan ia berikan pada sang ibu jika marah, akhirnya Sholeha keluar dari kamar dengan di temani suaminya. Dia bersiap mencari perlindungan jika badai datang berkelanjutan.
Sholeha duduk menyiapkan makan untuk Sholeh, sembari mendengar ibunya berkhutbah ke sana kemari entah sambil apa. Dia tampak tak bisa lagi menahan rasa geramnya pada Sholeha, tidak perduli lagi dengan anggapan menantu yang turut diam saja sejak tadi.
" Bangun siang ya wajar toh Buk, kayak ndak tau penganten baru saja" celetuk Sulaiman dengan santai.
Pasangan baru halal itu terdiam seketika, saling berpandangan berusaha menerjemahkan ucapan Sulaiman dengan sangat sederhana.
" Yo masak ndak ngerti wayah toh Pak, dulu Ibuk meski lesu males dan capek ya tetep bangun pagi, layani suami di lain sisi",
jawaban sang ibu yang sedang mengomel sejak tadi, memberi makna lain kali ini.
Sholeha mendelik, menelan saliva dengan sangat kasar, matanya beradu pandang dengan sang suami. Mencoba menyepakati dugaan bersama, mereka tersenyum sedikit kaku dan malu.
Apa yang sedang mereka bicarakan? tanya keduanya kompak dalam hati.
" Sudah sini, duduk sini temani Bapak makan, biar ndak cemburu sama manten baru" jawab Sulaiman mencairkan suasana.
Bu Fatma menurut, mendekati sang Suami yang semakin romantis akhir-akhir ini.
Sudut bibir Sholeh terangkat, menyaksikan perdebatan kecil yang baru saja ia nikmati, ada tawa dan juga rasa bahagia. Sholeh melirik sang istri yang juga tersenyum padanya, wajar saja dia merasa malu. Jika pemikirannya sama dengan sang ibu, dia tidak salah.
***
Dari ruang yang penuh bahagia dan cinta, terlihat lara di sudut yang berbeda.
Sepulang dari acara pernikahan Sholeh kemarin, Rahma tak habis-habisnya berdebat dengan ibunya, masih sama soal Sholeh yang tiba-tiba memilih orang lain dari pada dirinya.
Rahma berulang kali mengatakan jika dia tak sampai hati melukai Sholeh, dia tak tega harus memerasnya seperti apa yang di perintahkan oleh ibunya. Setidaknya demi menolak keinginan sang ibu dia berkali-kali menerima makian dan hardikan selama bertahun-tahun ini.
Kisah pilu ini bermula, saat ibunya harus berjuang menghidupi dirinya sediri sejak muda, tak sengaja ia menikah lagi dengan pria buruk mental yang membuatnya menjadi lupa kebajikan.
Semakin hari semakin menebal rasa benci pada hidup yang tak bisa ia andalkan nikmatnya, dia berlari mengejar judi, ia bersembunyi karena banyak melanggar janji. Tak sedikit pengaduan dari orang bahwa ibunya telah menipu dan berhutang tiada henti. Semua di tutupi dengan rapi dari satu pria yang dianggapnya paling setia.
Rahma tak kecewa, dia juga tak merasa di khianati tetapi luka tak bisa di salah artikan, tak menyangka jika ia sangat merasa kehilangan.
" Jadi apa yang akan kamu lakukan setalah ini, Ibu sudah bosan menasihatimu ini itu tak di turuti. Nikahi saja pria yang selalu mengejar mu tempo hari, dia banyak uang dan usahanya juga banyak. Ibu tidak bisa menunggu Minggu depan rumah kita ini juga jatuh tempo. " cerocos ibu jahat yang terus saja memaksa.
Rahma tak berkata, dia melanjutkan berkemas akan pergi ke kota, tempat dirinya menjadi wanita perih yang meratapi diri. Ibunya ini selalu mengulang kata-kata yang sama saat ia marah.
" Rahma, dengar Ibu, kali ini kamu tidak boleh berlari lagi" Rani mengancam.
" Terserah saja, aku tak perduli, lunasi saja hutang Ibu, kembalikan semua uang yang hasil Ibu tipu, kembalikan semua Bu, rupa ibu yang seperti ini masih saja menginginkan menantu sebaik Mas Sholeh, malaikat pun tak kan membantu" bentak Rahma frustasi.
Jika hari ini Rahma boleh menyerah menjadi anak dari wanita dihadapannya ia akan melakukannya, tak akan menyesali semua derita meski tiada orang tua.
Dia sendiri yang selalu menentang niat ibunya menikahkan dirinya dan Sholeh, tentu saja sebab tak rela jika ibunya menyakiti orang yang sangat ia pedulikan.
Wajar saja, jika Rahma terkesan membuat Sholeh menunggu dia sedang berusaha memperbaiki jalan yang telah di rusak oleh ibunya sendiri.
__ADS_1
" Hei Rahma, kamu mengatai rupa ku yang jahat, tetapi kamu juga harus menyadari mengapa ibunya Sholeh juga tidak menyukai diri mu, sebab di juga melihat separuh diriku ada pada mu. Itu fakta"
Rahma tak lagi mendengar ibunya berbicara, toh perdebatan ini tiada akhirnya dia juga akan tetap mengejar kemanapun ia pergi, ia melangkah pergi melepaskan diri dari kepenatan hati.
***
Bu Nur bersuka cita menyambut menantu yang baru saja tiba, sekitar sepuluh menit tadi Sholeha mengajak suaminya boyong ke rumah sang ibu mertua. Bukan alasan lain ia hanya tak tega membuat bu Nur sendiri. Mereka datang dengan sepeda motor kesayangan Sholeha, kali ini dia duduk di belakang, melingkarkan tangan di pinggang suaminya.
Wajah bahagia bu Nur begitu terpancar, dari sudut matanya yang mulai keriput itu tergambar jelas rasa rindu yang tak bisa ia ungkap dengan kata-kata.
" Padahal Ibu bisa menunggu jika hanya satu Minggu saja nak, tau nya kamu yang datang terlebih dahulu sebelum ibu rindu", ucapnya sambil memeluk sang menantu.
" Ah Ibu, Leha juga sangat rindu",
Keduanya saling berpeluk mesra, menyalurkan rasa yang telah lama ia pendam, entah mengapa Sholeha juga sangat mendambakan momen ini.
" Kita masuk dulu, " ajak bu Nur kepada Sholeha.
Sholeh menenteng tas yang kemarin ia bawa, mereka hanya menukar isinya. Kali ini baju Sholeha yang berada di dalamnya.
Sholeha mengikuti suaminya ke kamar, ada rasa yang berbeda dari sudut ruangan yang mereka tuju. Ruang yang dua kali lipat lebih luas dari kamarnya, nuansa lelaki masih begitu terasa. Rapi dan bersih kesan pertama Sholeha dapat kan.
" Kita istirahat sebentar, atau mau tidur lagi ndak papa. Di sini tidak akan ada yang mengomeli mu, " goda Sholeh sambil tertawa.
" Jangan bahas itu Mas, semua juga karena mas yang kurang paham sama situasinya, orang berpikir aneh pada ku tadi", Sholeha duduk di ranjang, ia memandangi lemari besar yang menarik perhatiannya.
" Mas, aku rapih kan baju di mana?"
" Terserah saja, lemari itu masih sedikit isinya. " Sholeh membaringkan tubuh tingginya santai.
Sholeha beranjak membongkar semua isi tas nya, dia tidak suka jika harus mencari saat hendak di gunakan.
" Mas jangan liatin ah, tidur aja" tegur Sholeha saat melirik suaminya yang malah menatapnya tak berkedip.
Sholeha bingung hendak membongkar isi tas nya yang begitu pribadi ini, tetapi Sholeh malah tak mau mendengar apa kata sang istri.
" Belum ngantuk, tanggung juga udah sore. Mending liatin istri, dapat pahala." Sholeh memiringkan tubuhnya memusatkan pandangan pada Sholeha kini.
" Malu Mas, ntar kelihatan semua barang-barang aneh nya" Sholeha masih saja berusaha membantah.
" Barang aneh, yang seperti apa?" tanya nya dengan polos.
Sholeha menurunkan baju-baju nya perlahan, dia menatap Sholeh dengan tajam. " Mas ndak akan punya, udah lah kepalang tanggung juga," sebutnya tak sabar.
" Ya ampun Sholeha, mas pikir barang aneh apa", dia bahkan mencoba mengambil salah satu bentuk yang sangat menonjol.
Sholeha refleks memukul punggung tangan Sholeh dengan keras,
Plak....
" Aduh", kata Sholeh.
" Jangan Mas, malah di pegang." Sholeha segera menyingkirkan jauh dari jangkauan suaminya.
" Kan penasaran, " dia menjawab sekenanya.
" Penasaran apa, besar atau kecil. Mas ya ampun, suka ndak jelas gitu loh" Sholeha melotot, menahan rasa kesal sekaligus malu.
" Ya ndak juga, lucu aja"
" Udah ah, keburu sore. Mas jangan ganggu!"
Sholeha buru-buru memasukan semua nya ke lemari, Sholeh hanya santai sambil tertawa kecil menikmati wajah istrinya yang tak kalah lucu dengan benda tadi.
Ha ha ha.
Saat Sholeha hendak menyimpan kembali tas, tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu di hadapan Sholeh. Dia bahkan tak menyadarinya.
" Yang ini bersayap kan?" tanya Sholeh tiba-tiba.
Sholeha menoleh, melihat Sholeh memegang pembalut yang sengaja ia bawa tadi. Kebetulan hanya satu, dia berpikir haidnya akan selesai besok atau sore ini. Dia mendelik.
" Ndak, dia udah mandiri bisa tanpa sayap" jawabnya menanggapi godaan Sholeh yang nampaknya sudah paham.
" Ada ya yang begitu, Mas kira semua butuh sayap agar tidak jatuh kemana-mana", dia masih saja membolak-balik kan satu biji pembalut itu.
" Maksudnya jatuh ?" tanya Sholeha.
" Ndak tau, trus fungsinya sayap untuk apa?"
Sholeha juga ikut berpikir, tetapi malas untuk menjelaskan dan meneruskan obrolan kecil ini.
__ADS_1
" Sini simpen aja, Mas malah banyak mikir ndak karuan gitu " Sholeha merebut benda itu dari tangan Sholeh.
Sholeh menarik dengan erat, berusaha menahan di tangannya.
" Masih lama?" tanya Sholeh pelan.
" Apa nya?"
" Pakai ini, berapa hari lagi?"
Sholeha tersadar, ada hal lain yang perlu ia katakan sekarang, suaminya terlihat sangat menunggu dengan wajah yang sendu.
" Em.... Ndak tau, mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi" jawabnya bohong.
Sholeh melepas tangannya, membiarkan benda tak bersayap itu ke tangan Sholeha.
" Sakit ndak ?"
" Tidak. Sakit bagai mana?"
" Waktu itu kamu sakit karena datang bulan kan?"
Sholeha tampak mengingat, " Oh, itu kadang-kadang saja kok",
Sholeh terdiam sejenak.
" Padahal bentar lagi Ramadhan" ucapnya sangat pelan hampir bergumam tak jelas, namun Sholeha bisa mendengar sekaligus bisa menebak apa yang ia katakan.
Senyum jahil terbit di wajah cantik Sholeha, dia tak berniat berbohong hanya berniat mengerjainya saja.
" Mas ngomong apa?"
" Ndak, ....."
" Tadi bilang sesuatu, "
" Em.... Tidak sayang." jawab Sholeha dengan senyum di paksakan.
" Sudah, Sholeha mau temui ibu. Jangan tidur kalau begitu, ini sudah sore !"
Sholeha kabur dari rasa yang memabukkan hatinya, ia sampai terasa terbang melayang-layang, mendengar panggilan sayang dari suaminya itu.
Pintu kamar tertutup, menyisakan pria dewasa yang sedang murung entah apa penyebab nya. Dia berbaring, menatap langit-langit kamar sebagai tempat bercerita tanpa kata.
***
Dapur yang sebelumya pernah ia kunjungi beberapa bulan lalu terasa sangat nyaman dan rapi, Sholeha tau ibu mertuanya pasti sedang memasak. Tanpa ragu ia menapaki ubin granit yang begitu kinclong dan dingin terasa.
Benar saja wanita yang katanya mencintainya lebih dari putranya sendiri itu sedang sibuk dengan dua tunggku kompor yang menyala. Dia tampak fokus, tak teralihkan meski Sholeha sedang mendekatinya.
" Ibu, masak apa?"
" Ah... Putri Ibu, masak kesukaan Sholeh. Ayam kecap ala-ala Ibu", ia tersenyum.
" Leha bantu apa, kayaknya telat ke sini nya", katanya tak enak hati.
Bu Nur tersenyum, mematikan salah satu kompor. " Temani ibu saja, ini sudah selesai Nduk",
Sholeha mengangguk, mengambil piring saji untuk ayam kecap buatan sang ibu mertua.
" Sholeh tidur Nduk?"
" Tadi tidak Bu, ndak tau sekarang",
Bu Nur mengajak Sholeha duduk sebentar di meja makan. Memberikan ia sepiring onde-onde yang masih hangat.
" Ini juga kesukaan suami mu, dia bisa habiskan semua ini sendiri, makan lah sebelum dia datang." Bu Nur tertawa kecil.
Sholeha juga tertawa, " Marah Ndak ya Bu kalau Leha habiskan?"
Keduanya kembali tertawa, sama-sama membayangkan wajah Sholeh yang merasa kehilangan dan kesal jadi satu.
" Kamu pasti di suruh minta ampun ", kata bu Nur masih dengan tawanya.
" Siapa yang ndak di kasih ampun?" sahut Sholeh ketika baru saja tiba.
Tangannya langsung saja mencomot onde-onde hangat yang tak mungkin ia biarkan saja.
" Ndak ada. " kata Sholeha menutupi.
" Le, Ibuk masih penasaran soal Rahma kemarin?" bu Nur membuka obrolan yang tampaknya Sholeha juga perlu mendengarkan.
__ADS_1
Lagi-lagi di tempat ini, ada nama Rahma di sebut di saat suasana hati Sholeha sedang bahagia.
***