
Seperti apa yang direncanakan oleh Bu Fatma, setelah sholat ashar mereka pergi mengunjungi bu Nur. Lalu lalang kendaraan memadati jalan, apa lagi di jam seperti ini banyak orang kembali sepulang dari berpergian kerja dan sebagainya. Waktu sore yang yang dikatakan bu Fatma adalah waktu yang sangat pas untuk berkunjung santai dengan jarak tempuh yang tak begitu jauh.
Sampai lah keduanya di depan rumah Sholeh, terlihat sepi dengan keadaan toko juga sudah tutup. Biasanya toko ini tutup jam sembilan malam, apa mungkin karena bu Nur sedang tidak sehat jadi ditutup saja? Sholeha berpikir sendiri di dalam diam. Atau jangan-jangan Bu Nur sudah sakit dari lama, sedangkan ia tidak tau? tidak bisa diam otaknya terus berpikir ini itu sebelum ia sampai ke depan pintu.
Di saat bersamaan Sholeh membuka pintu hendak keluar, dia terlihat sangat rapih menggunakan setelan celana panjang berwarna hitam di padukan dengan kemeja polos berwarna maroon berlengan pendek.
Sholeha hanya diam tidak menyapa, tidak ada yang tau apa arti diamnya itu, mungkin saja dia sedang terpesona atau dia yang sedang sibuk berpikir ini itu seperti biasanya.
Mau kemana dia?
Satu pertanyaan besar itu sudah pasti ada dalam otaknya di tengah diamnya itu.
Salam bu Fatma langsung di jawab oleh Sholeh, dia sedikit terkejut melihat keduanya namun sedetik kemudian dia bisa mencerna maksud kedatangan Sholeha dan ibunya, wajahnya spontan tersenyum menyambut kedatangan bu Fatma dan Sholeha.
" Mari Ibu saya antar kedalam " Sholeh berputar arah kembali masuk kedalam rumah. Setelah di persilahkan duduk, Bu Fatma langsung menanyakan calon besan nya itu.
" Bagai mana Ibumu, saya dengar sedang tidak sehat?"
"Ah iya Bu, ibu sedang demam tapi sudah mendingan" jawab Sholeh seadanya.
"Ya sudah, antar Ibu menemui Ibu mu dimana dia? " bu Fatma memaksa, dia bahkan sudah beranjak hendak mencari keberadaan bu Nur.
Melihat ibu Fatma yang tampak tak sabar, Sholeh langsung mengantarnya hendak ke kamar. Namun terlihat ibu Nur keluar dari kamarnya dengan terkejut melihat ada Sholeha dan ibunya.
" Loh Sholeha ada disini?"
Dengan bergegas Sholeh menghampiri ibunya dengan sigap memapahnya seolah takut ibunya akan terjatuh jika berjalan sendiri.
Sholeha melihat semua itu, kemudian dia mendekat dan menyalami bu Nur.
" Bagai mana keadaan Ibu?" tanya Sholeha lembut.
Binar matanya yang sayu, tak mengurangi aura cantiknya bu Nur, yang nampak tak ingin lelah tersenyum padanya, membuat Sholeha sangat ingin memeluknya. Masih erat di genggam tangan Sholeha dia mengusap pundak Sholeha lembut.
" Ibu baik-baik saja Nduk, hanya sedikit lelah saja."
Tidak ingin ibunya berdiri lama, Sholeh langsung menggiring semuanya ke ruang tengah. Dipapah nya ibu Nur dengan pelan, di dudukan lah ibu Nur di sofa panjang. Sholeha dan ibunya mengikuti dari belakang.
"Kata ibu kepalanya sakit, kok ndak istirahat?" tanya Sholeh dia duduk bersimpuh dilantai memegangi tangan ibunya yang berada di pangkuan.
" Ibu mendengar ada tamu, jadi ibu coba keluar" bu Nur kembali memandang Sholeha yang masih berdiri di sebelah ibunya yang sudah duduk di sampingnya.
Kemudian Bu Nur kembali menatap Sholeh.
" Katanya kamu mau berangkat, kok ndak jadi ?"
" Jadi Bu sebentar lagi, Sholeh mau ke rumah Paklek dulu ya"
" Ibu sendiri saja ndak usah minta Bulek mu kesini"
" Sholeh ndak tega kalo Ibu sendiri"
Sholeh beranjak hendak pergi namun Sholeha menahannya.
" Maaf Mas, apa Sholeha bisa membantu?"
Dari pembicaraan ibu dan anak itu, Sholeha memahami situasi dan kondisi mereka saat ini, dengan gugup ia pun menawarkan bantuan. Meskipun dia tidak tau bantuan apa yang harus ia berikan.
" Tapi apa ndak merepotkan, besok anak paud akan ujian kan?" jawab Sholeh dan kembali bertanya.
Sholeha jadi gagal paham saja, dia yang ingin membantu kenapa malah dia yang merasa diperhatikan. Sebab Sholeh yang cukup tau masalah pekerjaannya " Ini bukan waktunya untuk gila rasa seperti ini Sholeha" katanya dalam hati.
Sholeha menyadarkan dirinya yang sedikit tersanjung. Bahkan dia sempat menggelengkan kepalanya kecil.
" Iya, tapi apa maksud Mas ?"
" Saya butuh bulek menemani ibu saat saya pergi"
" Saya bisa "
__ADS_1
" Menginap disini, kamu bisa?"
Percakapan mereka tidak ada yang menyela, para ibu tau jika anak nya sedang mencoba berdiskusi. Keduanya hanya diam dan memperhatikan.
Sholeha tampak menimbang keputusannya kemudian ia tersenyum.
" Sholeha bisa Mas, setelah antar ibu pulang nanti Leha balik lagi kesini"
" Kamu harus berangkat pagi kan? " Sholeh berusaha mengingatkan kesibukan gadis itu.
" Sholeha bisa bangun lebih awal, lagian rumah kita tidak terlalu jauh kan ?"
Sholeh kembali terdiam, dia melihat anggukan dari ibunya.
" Baiklah, tapi biar saya yang antar Ibu Fatma pulang, sekalian izin sama Bapak" jawabnya sebagai persetujuan akhir.
" Maaf ya Fatma saya malah ngerepoti Sholeha padahal saya bisa sendiri di rumah" ucap bu Nur memegang punggung tangan bu Fatma yang duduk di sebelah nya.
" Tidak, saya tidak merasa keberatan sama sekali" keduanya tersenyum hangat.
Karena Sholeh tak bisa menunggu lama, bu Fatma segera berpamitan setelah menyerahkan sekantong jeruk dan apel yang ia bawa dari tadi.
" Maaf ya Bu, Sholeh merepotkan" ucap Sholeh menambahkan.
" Tidak Nak, sudah dari pada kelamaan kamu kan hendak pergi, ayo kalau begitu antar Ibu. Eh atau Rizal saja yang antar Ibu, kamu sudah rapi begini pasti buru-buru"
" Tidak Bu, biar Sholeh yang antar ya, sekalian pamit sama Bapak dan Sholeh masih ada waktu kok" kali ini Sholeh memaksa pada bu Fatma.
" Ya sudah terserah kamu saja" bu Fatma mengakhiri keputusannya.
Mereka saling menatap, Sholeha pun merasa ada hal yang harus ia tanyakan kepada Sholeh, sedang kan Sholeh juga merasa harus ada yang ia sampaikan pada Sholeha.
" Bisa bicara sebentar?" ajak Sholeh pada Sholeha yang juga sedang melihatnya, dia hanya mengangguk.
Keduanya bergeser sedikit menjauh dari dua ibu yang sedang sibuk saling berbicara sebelum berpisah.
" Ibu biasa minum di tengah malam -
" Ah itu Sholeha pasti bisa urus semuanya Mas, jangan khawatir"
Sholeh mengangguk tak lagi mengatakan apa pun. Dia terlihat lebih tenang dari pada sebelumnya, Sholeha bisa merasakan ke khawatirannya sejak tadi.
" Ibu, Mas Sholeh harus segera pergi" Sholeha mengingatkan ibunya yang masih sibuk membahas ini itu dengan Bu Nur.
" Iya, iya, ya sudah saya pulang ya, jaga kesehatannya kita punya janji momong putu bersama loh"
Perkataan ibunya itu kontan membuat Sholeha mendelik kan mata dan ditanggapi senyuman kecil dari Sholeh.
Sedang bu Nur tanpa tertawa dia menyahuti "Aku tidak sedang sakit parah Bu besan" tapi tetap dengan nada yang bergurau.
Oh Ya tuhan
Sholeha ingin sekali mencubit ibunya sendiri dihadapan Sholeh, bisa-bisanya dia mengucapkan itu di situasi seperti ini.
Mendengarkan mereka membicarakan cucu membuat Sholeha tidak tau harus bersikap seperti apa. Ditambah Sholeh dari tadi masih saja memperhatikan dirinya.
Setelah menyudahi pandangannya pada Sholeha, Sholeh keluar bersiap akan mengantar ibu Fatma pulang. Begitupun dengan Sholeha mengantar ibunya keluar untuk pulang. Sambil menggandeng tangan ibunya entah mengapa ia merasakan keraguan akan keputusannya untuk menginap di rumah Sholeh. Tetapi tidak mungkin dia mengatakan itu pada ibunya, yang ada dia akan di omeli sepanjang malam hingga pagi.
Ketika di depan pintu Sholeha mendapati Sholeh tengah turun dari mobilnya, ia bahkan mengendari mobil, sungguh ia berpikir jika pria itu akan pergi jauh dan entah kapan kembali.
Atau sebenarnya dia hanya ingin bertanya kemana dan berapa lama Sholeh akan pergi?
Sholeh mendekati pintu.
" Sebentar ya Bu, saya ambil tas dan sekalian pamit sama Ibu biar ndak mampir lagi kesini." ucapnya hanya pada bu Fatma, dan ibu mengangguk singkat padanya.
Hem Sholeha di lalui begitu saja...
Di tengah lamunannya yang entah kemana, ibu melepas rangkulan tangan Sholeha.
__ADS_1
" Nduk nanti kalau Bu Nur minta apa-apa , bantu ambilkan ya. Oh iya kalau sekiranya Bu Nur belum sehat kamu jangan pulang dulu, nanti Ibu yang bantu izinkan kamu ke kantormu sama Bapak" pesannya singkat.
" Iya bu, Leha manut Ibu aja"
Sholeha membiarkan ibunya masuk ke mobil Sholeh, sedang sang empu masih belum keluar dari rumah. Ketika Sholeha menoleh memeriksa pintu rumah muncul lah Sholeh dengan satu tas berukuran sedang di tenteng nya.
Berapa lama dia akan pergi?
Nah Sholeha sudah bertanya lagi dalam hatinya.
" Saya titip Ibu ya, saya janji tidak akan lama" ucapnya ketika sampai dihadapan Sholeha.
" Iya Mas, Mas hati-hati di jalan ya" ucapnya sangat lirih.
Sholeh masih berdiri di tempatnya, sedang suasana sore yang semakin menggelap menyadarkan satu hal.
" Mas ndak nunggu habis magrib aja!"
Ya, Sholeha berusaha mengingatkan waktu sholat yang tak begitu panjang itu.
Terdengar Sholeh terkekeh, Sholeha mengamati wajah itu, ya benar saja dia sedang tertawa degan pelan.
" Kamu ini, makanya saya tidak sempat mampir lagi, pasti setelah sampai di rumahmu saya akan Sholat maghrib di sana belum lagi pasti ngobrol sebentar dengan Bapak, tenang saja Sholeha, saya akan berangkat sehabis magrib nanti." dia tersenyum pada Sholeha.
Sedang Sholeha masih mencerna apa kata Sholeh tadi apa begitu kentara jika dia sedang mengkhawatirkannya, sampai ia tak menyadari jika Sholeh sudah mulai melajukan mobilnya, dia terkejut saat mendengar klakson berbunyi.
Sholeha hanya tersenyum melihat kaca mobil Sholeh yang masih terbuka, dia tampak melempar segaris senyuman.
Benar saja lima menit setelah Sholeh pergi, azan berkumandang, ia yang sedang duduk menemani bu Nur di ruang tengah segera beranjak mengambil wudhu.
Berjalan beriringan dengan bu Nur, menuju kamar mandi.
Mereka saling melempar tanya dan tawa dengan ringan untuk mengisi kesepian di ruang tempat mereka tinggal. Wajar saja jika Sholeh begitu mengkhawatirkan ibunya, Sholeha bisa merasakan senyap yang begitu menyerap di rumah sebesar ini.
Jika kemarin Sholeha datang tak ada persiapan berbeda dengan hari ini, meskipun ini di luar rencana namun Sholeha sudah cukup siap menjadi teman calon ibu mertuanya itu. Yang pertama dia tidak melupakan buah tangan tadi, yang kedua saat ini tidak ada Sholeh di rumah, dia hanya merasa cukup leluasa melakukan banyak hal jika tanpa pria itu.
Akan tetapi dia tidak menyukai momen ini karena bu Nur sedang tidak sehat itu saja.
Suasana hatinya juga sedang tenang hari ini, dia berharap kehadirannya saat ini bisa sedikit membantu bu Nur.
Sholeha mencium tangan bu Nur setelah keduanya selesai sholat Maghrib, seolah keduanya sangat menikmati suasana tenang di ruang kecil itu sampai tak ingin segera beranjak dari sana. Bu Nur yang terlihat sedikit lebih riang dari sore tadi, mengajak Sholeha duduk bersandar di dinding tanpa melepas mukenah nya.
" Kita tunggu sampai isya ya Nduk," ia menepuk pelan lantai di sebelah kiri ia duduk, tangan kanannya sembari menggulir biji tasbih dengan sangat pelan.
Sholeha menurut, duduk lah ia di sana dengan sedikit lebih dekat dari bu Fatma,
Wajahnya memancarkan kedamaian, dengan bibir yang terus tersenyum padanya.
" Terimakasih ya Nduk sudah mau temenin Ibu, sebenarnya Sholeh ndak mau pergi tadi tapi ibu melarang nduk, ibu tau dia ada pekerjaan penting toh Ibu ini hanya lelah tidak sedang sakit tapi dia repot-repot mau jemput Bulek nya segala, tapi kalau kamu yang ada di sini Ibu senang"
" Wajar Mas Sholeh khawatir Bu, kalau ibu sendirian kan ndak tenang jadinya, oh iya Sholeha juga senang bisa di sini dengan Ibu " jawabnya seadanya.
Sholeha merasa tidak perlu bertanya banyak hal tentang kepergian Sholeh dia sudah cukup puas mendengar penjelasan dari bu Nur.
" Ibu benar tidak ada yang dirasa sakit ?
Sholeha bisa bantu pijit mungkin, atau Sholeha ambilkan makan ya lalu minum obat" Sholeha kembali memastikan keadaan bu Nur.
" Sholeha Cah ayu, kamu duduk saja dengan tenang kita habiskan waktu magrib di sini saja ya, Ibu sehat kok jangan percaya sama ucapan Sholeh, dia suka berlebihan pada Ibu" ucap nya lembut .
Akhirnya Sholeha menurut, dia duduk tenang menemani ibu Nur berdzikir.
Terdengar lirih beliau menyebut Asma Allah dengan kusyuk, sungguh pemandangan yang menyejukkan, hati Sholeha yang terkadang berantakan dengan hal-hal remah duniawi. Dia yang terlalu lupa kepada sang pencipta hanya bisa menangis dan meraung disaat penuh cobaan yang sebenarnya pun tak seberapa.
Niatnya menemani bu Nur yang sedang sendiri tetapi Sholeha justru merasa dirinya yang sedang butuh ditemani dalam kesendirian. Duduk bersama, dan melihat
bu Nur Sholeha menyadari banyak hal yang tertinggal dalam hidupnya selama ini, dia tidak bersyukur atas hidupnya yang penuh nikmat dan keberuntungan.
Sholeha terus berdo'a dalam hatinya semoga sosok di depannya tetap sehat dan bisa membimbingnya dalam kehidupan panjang yang akan ia jalani dengan putra kesayangannya nanti,
__ADS_1
Insyaallah....
******