
Jam setengah sepuluh, kegiatan di taman belajar dan bermain itu mulai sepi, beberapa murid sudah dijemput pulang.
Setelah selesai mencetak soal bergambar untuk besok, Sholeha mematikan komputernya, kemudian ia membereskan beberapa kertas di atas meja, menyapu ruangan itu dan membereskan beberapa buku.
Pulang, yang ada dalam pikirannya adalah rebahan santai sambil nonton drama, uh sungguh menyenangkan kegiatan bermalas -malasan seperti itu pikirnya. Untuk menghilangkan rasa lelah yang begitu lekat di badannya. Lelah berkepanjangan yang sangat tidak baik untuk kesehatan tubuh.
Tetapi nampaknya masalah tadi pagi belum cukup tuntas, terbukti Irma yang kembali bersiap melayangkan pertanyaan pada Sholeha.
"Kita lanjutkan yang tadi pagi, ya Ha." Mencegat Sholeha yang sudah hendak melangkah pergi.
"Masih kurang jelas ya Ir, kan aku udah jawab tadi" desahnya mengeluh.
" Kamu belum jawab cemburu atau tidak, ingat Ha kamu juga sudah lamaran kan sama orang lain?" tebaknya sangat akurat
tepat, entah dari mana mengetahui semua ini.
Apa pedulinya dengan perasaanku, batin Sholeha, terlalu kejam dia memaksa Sholeha mengakui sesuatu yang wajar-wajar saja jika terjadi.
" Seharusnya kamu juga bisa simpulkan sendiri kan, perlu aku perjelas lagi, aku juga sedang kacau dengan urusan hati, bahkan kamu tidak bisa memahami aku yang seperti ini Ir, jika aku katakan tidak cemburu apa kamu bisa percaya, kadang kamu sendiri yang sering mengatai ku terlalu cuek, kadang juga meledek ku terlalu bucin dan sebagainya, belum lagi kamu mengatakan hubungan ku itu sudah terlalu lama pasti alangkah baiknya jika aku segera mengajaknya menikah, sekarang baru saja aku ditinggalkan kamu membujuk ku menerima lamaran pria lain, kamu juga yang saranin aku agar segera move on. kemudian kamu masih tanya, menurutmu sepantasnya aku cemburu atau tidak?. Kamu tuh ngeselin banget, aku ngak paham sama kamu" Sholeha menatap Irma dengan segala ke marahan yang tersisa sejak pagi tadi.
" Ya maaf Ha, aku kan cuma ingin jawaban pasti dari kamu. Ya sudah aku ngak ganggu kamu lagi, kamu mau pulangkan, hati-hati di jalan kalau begitu" jawab Irma enteng dan menggeser tubuhnya dari hadapan Sholeha.
" Maaf in aku juga, dari tadi ngomongnya pake nada tinggi " menjauh lah ia dari pandangan Irma yang masih diam di tempat.
Seperti itu lah Sholeha, selalu berusaha mengucapkan kata maaf di setiap ucapannya yang terasa membuat dirinya sendiri kesal. Terlalu lembut hatinya, begitu perasa dengan sikapnya sendiri. Bahkan ia tak bisa membedakan ini salahnya atau justru orang lain yang bersalah lalu menyalahkannya. Tak heran jika dia sering pusing sendiri menghadapi sikapnya sendiri.
Sholeha melangkah keluar dari ruang kerjanya, menuju parkiran di samping salah satu kelas, ia melalui sederet bunga-bunga pukul delapan yang hampir layu terkena panasnya matahari. Kemudian matanya berpusat pada kelopak bunga seribu bintang yang kecil berwarna kuning, dia cantik dan ceria, memuji kemudian tersenyum simpul.
Sholeha bertekad, tidak akan mengingat masalah ini saat sampai di rumah nanti. Dia akan melupakan semuanya dan beristirahat dengan baik. Setelah menarik nafas panjang, dinyalakan motornya melaju perjalanan ke rumah.
Sebelum sampai ke rumah Sholeha mampir ke sebuah warung buah langganannya, ia teringat stok buah di lemari es sudah habis. Ini adalah kegemaran gadis cantik masa kini yang bergaya hidup pintar dan sehat, Walupun hanya jeruk, mangga dan semangka yang jadi pilihan kali ini.
"Budhe, biasa ya setengah kg an aja, sama semangkanya satu, yang sedang jangan terlalu besar "pesannya pada ibu penjual dengan perawakan berwajah bulat yang selalu ramah melayaninya.
Di sana, berkumpul beberapa ibu-ibu ada satu diantara mereka sedang membayar belanjaannya, dia melirik pada Sholeha.
" Sholeha sudah lamaran ya?" benar dugaan Sholeha, ibu ini pasti akan bertanya, terlihat dari mulutnya yang sudah menganga dari tadi, tak sabar mengomentari. Bahkan suaranya mendadak tinggi, menjadikan semua orang mendengarkan dan melihatnya menginterupsi.
"Alhamdulillah Buk-
"Dengan Nak Sholeh kan ? " serobotnya secepat kilat.
"Iya -
Belum juga Sholeha melanjutkan, dia kembali menambah perkataannya.
" Kalau nikahnya sama Sholeh kenapa pacarannya sama tetangga saya, kasian si Arman padahal dia juga sudah disuruh nikah nikah terus sama Mamaknya, walaupun dia itu anak orang susah tapi dia rajin loh kerjanya" si ibu
mengatakan dengan mata menelisik, menyalahkan Sholeha.
"Kata siapa Yu, sampean kok sembarangan ngomong di sini ntar jadi kabar bohong loh"
Satu lagi ibu berambut sedikit putih beruban itu juga menyela, awalnya memang membela tapi tujuannya juga sama.
__ADS_1
Sholeha terdiam di tempatnya, apa gunanya dia menjelaskan toh mereka sudah punya jawaban sendiri.
" Masak kamu ndak percaya saya, bu kades yang ngomong. Infonya akurat ini Buk Ibuk " gayanya pandai bercakap, seperti pemandu berita seleb.
Sembari mengulurkan pesanan Sholeha ibu pemilik warung berkata tegas, berniat menyudahi para ibu-ibu. " Kita tunggu saja undangannya nanti ya Nak Sholeha, terserah kamu nikahnya mau sama siapa, Ibu doa kan yang terbaik" sengaja ia menyindir para ibu bermulut pedas yang suka bergosip di warungnya.
Senyum Sholeha kembali terbit, menatap sang ibu bijak di depannya itu.
" Makasih ya Budhe, Sholeha pulang kalau gitu" ucapnya setelah membayar.
Ya Rabb...
Sungguh, ingin menghilang saja Sholeha dari muka bumi ini. Kenapa semua orang menyalakan dia bagaimana bisa mereka berkomentar seringan bulu, padahal Sholeha tidak sekata pun bercerita dan bertanya pada mereka, terlalu banyak yang mencampuri urusannya batinnya menggerutu. Begitu berat perjalanan pulangnya hari ini, membuat Sholeha diam tak berselera, meski melihat ibu sedang memasak sayur kesukaannya.
"Kamu ndak sarapan tadi, ayo makan dulu!" ujar ibu, ketika melihat putrinya kembali.
Sholeha menggeleng, meletakan buah tadi di atas meja makan, berlalu lah ia menuju kamarnya.
***
Siang itu setelah jam pulang sekolah berlalu, Sulaiman melajukan motornya ke rumah Rizal. Entah mengapa ia ingin menjemput cucu bungsunya, terlebih ia sering melihat putrinya sering berdiam dikamar. Jika ada Al, pasti Sholeha sedikit terhibur.
Berlarilah Al menyambut sang kakek yang baru saja turun dari motor. Sulaiman segera menyambut Al, menyalami dan menciumnya penuh sayang. Ia menggandeng bocah berumur 3 tahun itu masuk ke dalam rumah.
Ayu yang melihat ayah mertuanya berkunjung, segera menemui dan menyapa, "Bapak langsung kesini?"
"Iya Kakek kangen sama Al " mengangkat bocah itu ke pangkuannya.
" Ndak usah, Bapak cuma sebentar, kalau boleh Bapak mau ajak Al pulang, biar rame di rumah."
"Al mau ikut Kakek?" tanya Ayu.
Tanpa menjawab iya bocah itu berlari ke arah pintu menuju motor sang kakek.
"Pinter-pinter ya di rumah Kakek" ujar Rizal yang menyusul keluar.
Sulaiman berkendara dengan pelan bersama sang cucu. Al bergumam sendiri menikmati deru suara motor kakek yang sedikit cempreng, menjadi daya tarik kesukaan barunya, terdengar Tut....Tut...Tut.... Dari mulut kecilnya. Maklumlah motor yang dibeli 7 tahun lalu itu pasti hampir menyerah menjalankan tugasnya, dan suaranya pun terdengar sangat aneh.
Sayup-sayup terdengar gelak tawa Al mengusik tidur Sholeha, ia memutuskan tidur sepulang kerja tadi tanpa mengganti baju kerjanya, sungguh kusut dia saat ini.
Beranjak lah ia dan meraih ponsel di atas meja rias jam 13:30. Dia terlalu lama tidur, segera lah ia mengambil air wudhu. Jangan sampai terlewat lagi kali ini, dengan tergesa ia menuju kamar mandi mengabaikan Al yang berusaha mengejar dan memanggilnya.
" Bentar lagi ashar ini mah" dia menggerutu sendiri.
Setelah sepuluh menit di dalam kamar,
keluar Sholeha mencari keberadaan keponakan yang sempat dia abaikan tadi.
Siap dengan hijab instannya, ia tak ragu menyusul Al yang sedang berlarian di teras rumah bersama neneknya.
"Buk, kok bu kades bisa tau Sholeha di lamar mas Sholeh?" ucapnya langsung pada bu Fatma.
" Masa iya Bu kades sudah tau ?"
__ADS_1
" Iya, tadi Ibu-ibu di warung buah
tanya lagi sama Leha"
" Ya ndak papa kalau sudah pada tau " jawab ibu tak ambil pusing.
Andai Bu Fatma tau apa yang terjadi di warung itu, pasti ia akan sakit hati.
Cukup Sholeha yang merasakan, beban ucapan cacian tetangga tak baik di rasakan wanita seusia ibu, yah meskipun wanita muda pun sama punya hati yang mudah tersakiti, ini sangat merusak kesehatan.
Baru satu hari berlalu cincin itu melingkar di jari manisnya, tapi tebusan yang harus ia bayar begitu sulit. Bahkan sampai saat ini, Sholeha belum berkomunikasi lagi dengan calon suaminya itu. Seingatnya nomor telponnya saja belum ia simpan. Sholeha tak begitu perduli pada hal-hal yang menurutnya sangat kecil. Hanya saja dia sering berseliweran di otak Sholeha. Dalam sehari ini, berapa kali sudah dia mengingat wajahnya, apa lagi setiap orang menyebutnya tadi pagi.
Setelah mandi, Al merengek meminta pulang, tidak bisa dibujuk sama sekali.
Suatu hal yang sudah diduga cucu kesayangannya itu pasti tidak bisa lama jauh dari ibunya. Merengek pada Sholeha, ingin diantar pulang segera. Sulaiman sudah membujuk agar mau diantar oleh kakeknya saja, namun masih tidak mau.
Dengan terpaksa Sholeha mengantar Al segera sebelum petang.
" Kan tadi sama Kakek ke sininya, pulangnya kenapa sama Bibi, Al nakal deh" cubitnya gemas pada Al.
" Mau sama Bibi" rengeknya menggoyang tangan Sholeha.
Seperti matahari yang berganti shift dengan bulan, Al pun ingin berganti supir nya saat siang dengan petang. Sepertinya dia tau, suara motor kakeknya tak semulus suara motor bibinya.
Katanya, mau motor bagus sama bibi saja. Astagfirullah, pemilih sekali anak ini.
Dia duduk manis di depan bibinya, sembari menirukan gaya seolah ia pak sopirnya.
Terdengar gumaman kecil menirukan deru mesin motor senada dengan suara mulutnya, Sholeha tersenyum kecil melihat tingkah Al.
Ketika motornya memasuki halaman rumah Rizal tiba-tiba Al berteriak sangat girang dan memanggil seseorang yang sedang duduk bersama Rizal.
" Om.....Leh, motor Bibi bagus " Al berlari setelah di turunkan dari motor, menuju pria yang di panggilnya om.
Siapa pula yang mengajari keponakannya memanggil Sholeh sebutan om, lucu sekali ucap Sholeha dalam hati setelah melihat lebih dekat siapa yang sedang duduk. Dengan sedikit canggung ia tersenyum singkat pada Sholeh.
Dia menanggapi celotehan Al dengan asik, seakan mengerti dan paham semua bahasa anak kecil itu. Semua itu, tak lepas dari pandangan Sholeha.
" Mau langsung pulang?" Rizal membuyarkan lamunan Sholeha.
"Ha, apa Mas?" jawabnya tak fokus.
" Boleh ndak Mas, kalau adiknya tak ajak ke rumah?" Sholeha terdiam, tak paham.
" Ya boleh lah, wong bentar lagi ya punya kamu" jawab Rizal tanpa menghiraukan adiknya yang menggeleng.
" Tanggung mau magrib, biar nanti saya antar pulang" ucap Sholeh kembali meyakinkan.
Mampir ke rumah, mau ngapain mendadak sekali. Sholeha mendadak terserang rasa cemas parah, keringat dingin seketika membanjiri kedua telapak tangannya. Ada apa coba di rumah nya?
Ngajak ngajak dadakan begini, batin Sholeha.
***
__ADS_1