Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Penyesalan Sholeh


__ADS_3

Sholeha bingung, bagaimana bisa ibu mertuanya ini menebak secara akurat tentang apa yang sedang ia tutupi.


Bu Nur meraih tangan menantunya, mengajaknya duduk di dalam kamar sang putra. Matanya teduh memandang Sholeha. Sholeha tak bisa lagi berpaling.


" Ibu, jangan marah pada mas Ham, dia salah paham. Dan Leha juga sedang marah padanya, jika dia datang nanti jangan katakan Leha sempat nangis ya, " ucapnya sangat pelan, terlihat sedang merengek.


" Kalau dia salah ya ibu marah nduk, kenapa, apa karena Rahma lagi?"


Sholeha menggeleng tetapi mengangguk setelahnya, merasa tak bisa lagi berbohong.


" Tunggu saja, ibu akan menegurnya nanti. Dari dulu dia ini tidak bisa menegaskan hatinya sendiri, kalau menyangkut Rahma terus saja seperti ini" omel bu Nur.


Dia menepuk punggung tangan menantunya, menenangkan kerisauan Sholeha.


" Tidak buk, sepertinya mas Ham hanya panik dan tidak sempat mendengarkan Leha ",


" Ya sudah, kamu selesaikan saja dulu. Dia itu memang suka salah berbuat baik, dia tidak peka dengan perasaan orang di sekitarnya, kamu harus lebih banyak belajar lagi, sampai kamu hapal sama tingkah buruknya itu."


Sungguh hati Sholeha menghangat, ibu mertuanya ini tak sedikit pun menyalahkan atau sekedar bertanya mengapa putranya itu bisa marah. Sholeha tersenyum, merasakan kenikmatan yang mungkin saja orang tak mendapatkan dari sosok ibu mertua.


" Iya, Leha akan belajar langsung dari ibu, biar sama persis pahamnya",


" Tidak nduk, kamu harus lebih tegas melebihi ibu, kamu ini memiliki hak penuh untuk cemburu, marah dan hak memilikinya. Jika dia sedikit saja melakukan salah jangan ragu untuk mengingatkan, setidaknya menegur dengan semua hak mu, tegur dengan cinta, marah padanya dengan cemburu dan akui dia sebagi milikmu sepenuh hati. Jangan sampai lepas dari genggaman", ujarnya begitu bersemangat, mengajarkan pada menantu kesayangannya ini.


Sholeha tertawa cukup lebar, " Ibu, ibu ini sedang mengajariku bahasa cinta dengan cara yang sangat keras. Sholeha harus begitu ya buk?"


" Iya nduk, ibu dulu seperti itu pada ayahnya Sholeh".


" Hem, mas Ham pasti geleng-geleng jika mendengar ini"


Sholeha tersenyum lagi, nasihat ibunya ini di sampaikan dengan sangat menggebu. Dia bahkan belum tentu bisa menerapkan pada Sholeh, belum lagi sifatnya ini yang mudah menangis dan tak bisa marah.


" Sudah jangan nangis, sebentar lagi dia pasti pulang", kata bu Nur.


Di rasa sang menantu telah baikan, bu Nur keluar dari sana. Melanjutkan aktivitasnya di dalam mushola.


Begitu pula dengan Sholeha yang kembali masuk, ia terduduk di depan kaca, memandang wajahnya yang terlihat kusut akibat menangis tadi. Meski tak ingin dia kembali menangis saat mandi tadi, pikirannya berpusat pada hatinya yang perih karena Sholeh. Seperti tercubit kecil tanpa sengaja, rasanya benar-benar ngilu.


Sholeha juga menyentuh bibirnya yang sedikit membengkak, akibat terlalu lama menahan tangis yang sebenarnya tak usah terjadi. Dia masih terlalu dini merasakan pertikaian ini, sakit hati di caci bu Risma tak seberapa mengena, tetapi saat sang suami yang berkata meski sedikit dan lembut jika tak percaya ya seperti ini lah, dia tak berdaya.


" Sudahlah, biarkan saja apa maunya" ucapnya pada dirinya sendiri.


Sholeha beranjak, merapihkan ranjang yang berantakan karena tangisnya tadi. Jika kembali di pikir mengapa harus nangis guling-guling hanya karena suami yang pergi tanpa pamit?, tetapi dia pergi menemui seseorang yang pernah dia cinta di masa lalu, boleh kan jika cemburu.


" Tidak Sholeha, dia itu sedang sakit. Wajar saja suami mu itu merasa cemas, ah sudah lah", monolognya lagi.


Bantal dan guling yang sempat malang melintang di atas ranjang itu telah tersusun rapi, begitu pula dengan hatinya yang sedikit tertata kembali. Semoga saja suaminya itu pulang hari ini meski malam hari.


***


Dito dan Sholeh meninggalkan kamar Rahma, mereka tidak bisa lama-lama di dalam sana. Sholeh juga sudah pamit, akan pulang setelah ini. Keduanya duduk di ruang tunggu saat melihat seorang ibu paruh baya yang sepertinya kerabat Rahma. Dia menyapa, ternyata mengenal Sholeh, dia bu Risma yang mengaku bulek Rahma. Sempat berbincang kecil, sebelum akhirnya dia masuk ke kamar Rahma.


Dito terus saja menggerutu pada Sholeh, sebab yang tak sabaran mengajaknya pulang. Sepanjang koridor rumah sakit, dia berapa kali berhenti, mengajak Sholeh untuk kembali.


" Setengah jam aja Leh, habis itu kita pulang. Belum pamit secara langsung nih sama dia", katanya merayu Sholeh.


" Dit, kalau mau disini lebih lama, saya pulang dulu. Kan gampang", jawab Sholeh sedikit kesal.


" Ndak enak lah, ya sudah kita pulang sekarang saja, dah kangen banget sama istri kayaknya",


Sholeh menatap Dito kesal, " Ya sudah, kita balik lagi ke sana, setengah jam ya Dit !" Sholeh tak tega melihat wajah bujang tua yang menyedihkan itu.

__ADS_1


Tanpa kata Dito telah berbalik arah, berjalan lebih dulu menjauhi Sholeh. Namun di berbalik lagi, dengan senyum konyol yang tak jelas.


" Kenapa?"


" Ke toilet dulu deh, duluan aja"


Sholeh meneruskan langkahnya, dengan sedikit tertawa kecil melihat tingkah Dito yang salah tingkah karena proses rujuknya dengan Rahma. Sholeh tak menyangka temannya yang kadang gila itu bisa memimpikan Rahma seperti ia dulu.


Sholeh bermaksud mengetuk pintu yang sedikit terbuka, tanpa sengaja terdengar perbincangan kecil bu Risma yang menyebut nama istrinya.


" Bulek tegur dia, dia pikir dengan merebut Sholeh dari kamu bisa menang gitu saja,"


" Bulek kok begitu, jangan bilang bulek marah-marah sama dia ?" tanya Rahma.


" Iya lah, lagian dia ini kemayu, ndak mau sama Arman yang miskin malah rebut Sholeh dari kamu, bulek ndak tahan. Pas denger kamu kecelakaan ya langsung tak labrak, pasti gara-gara dia kamu bisa celaka", ucapnya ngotot.


Sholeh mengurungkan niatnya, mendengar obrolan yang begitu membuatnya marah, kembali teringat wajah sang istri yang nampak terluka dua kali lipat karena sikapnya. Sholeh tak jadi pergi, dia meneruskan masuk ke dalam kamar Rahma, membuang rasa sedih yang menghinggapi hatinya.


" Katakan sekali lagi pada ku, agar aku bisa memarahi ibu seperti Sholeha yang tak tau apa-apa kamu marahi !" suara Sholeh begitu berat, sampai kedua wanita yang sedang berbisik itu terkejut bukan kepalang.


" Apa, apa maksud kamu?" tanya bu Risma berlagak lupa.


" Menegur seperti apa yang ibu maksud ", Sholeh masih saja mencecar dengan banyak pertanyaan yang bernada sangat marah.


Rahma sampai bingung ketakutan, " Mas, jangan seperti itu. Aku minta maaf jika bulek menyakiti Sholeha. Maaf mas." Rahma mencoba menenangkan Sholeh.


Sholeh enggan mengatakan apapun, ia tak lagi menunggu Dito yang katanya hendak menyusulnya, bahkan jika dia tidak terlihat olehnya, Sholeh akan meninggalkannya sendiri.


Langkahnya terburu, seirama dengan nafasnya. Menahan rasa kesal yang begitu menyadarkan dirinya, jika ia sedang melukai hati istrinya sendiri.


Koridor rumah sakit habis terlewati, Dito tampak mengejarnya sekuat tenaga. Tampaknya ia menyadari sesuatu telah terjadi pada temannya ini. Setelah berhasil berjalan di sisinya, Dito tak banyak bertanya. Terus berjalan menuju parkiran, dia tau Sholeh akan pulang saat ini juga.


Sholeh memberikan tanpa menolak, dia sadar sedang marah dan tak bisa fokus mengamati jalanan yang mulai petang. Mobil hitam itu bergerak perlahan menempuh jalanan sekitar satu jam setengah, Sholeh dan Dito banyak diam. Sesekali Dito bertanya dan hanya mendapat jawaban iya dan tidak saja dari tadi. Dito penasaran, tetapi tak berani bertanya, sebisa mungkin dia menahannya hingga Sholeh mau bercerita sendiri.


" Kamu ndak jadi pamit sama Rahma Dit?" tanya Sholeh saat sudah dekat dengan rumahnya.


" Yo ndak lah, kan langsung nyusul kamu tadi. Untung saja aku tau kamu keluar, kalo ndak paling aku di tinggal di sana"


Sholeh diam saja. Dia sendiri baru menyadari jika dia tadi terlalu emosi dan terbawa suasana. Memang tidak berniat meninggalkan Dito, tetapi kekesalan dalam hatinya melupakan temannya ini tadi.


" Ndak sempat cari kamu tadi," jawab Sholeh pelan.


" Dah aku pulang sendiri saja, temui istrimu. Jangan cemberut gitu", ucap Dito, saat mobil telah sampai di garasi.


Dito tidak tau apa yang telah terjadi di kamar inap tadi, wajar jika dia menyangka Sholeh cemberut karena rindu istrinya. Dia bahkan tak enak hati karena memaksa Sholeh menemaninya pergi.


***


Ketika Sholeh membuka pintu, bu Nur kebetulan baru saja keluar dari kamarnya. Tau Sholeh yang datang ia segera menemuinya. Pukul sembilan, Sholeh duduk di meja makan bersama ibunya. Setelah meminum satu gelas air putih, ia menarik nafas, memandang sang ibu yang terlihat menunggunya bercerita.


" Ibu belum tidur?"


" Terbangun le, hendak ambil minum",


Sholeh terlihat mencari sesuatu, mencoba mengalihkan pikirannya yang sedang tak karuan. " Sholeha sudah tidur bu?".


" Mungkin saja sudah, ibu tidak melihatnya sehabis isya tadi. "


Tak lama bu Nur kembali ke kamar, meninggalkan Sholeh seorang diri. Menikmati suara jarum jam yang terdengar semakin nyaring. Dia terdiam segan akan masuk ke kamarnya sendiri. Lama berpikir, akhirnya ia meninggalkan dapur.


Perlahan ia membuka pintu, dia merasa istrinya sedang menunggu karena pintu yang belum terkunci. Sangat pelan, dia melangkah perlahan agar tak menimbulkan suara. Benar saja di lihat dari cara ia terlelap, istrinya ini ketiduran. Lampu yang menyala, dan posisi tidurnya tak seperti biasanya ia tertidur, bahkan ia masih mengenakan jepit rambutnya.

__ADS_1


Di pandangnya wajah tenang sang istri, di usap dengan sayang pipi berisi nya, lembut tanpa skincare yang biasa ia pakai sebelum tidur. Rasa bersalah semakin merayap di hatinya, membayangkan betapa sedihnya sang istri melihat sikap suaminya yang bodoh ini. Belum lagi rasa sakit hati yang di maki ibu Risma. Andai saja Sholeh mengetahuinya dan tidak terburu-buru menuduhnya sembarangan.


Sholeh bercengkerama sendiri dengan pikirannya, tak sadar mata Sholeha telah terbuka. Menatap dirinya dengan sayu.


" Mas, ngapain?", gumam Sholeha pelan.


Sholeh sedikit terkejut, setelahnya tersenyum meneruskan membelai wajah sang istri.


" Maaf, membangunkan mu",


Sholeha menggeleng, dia bangun duduk di hadapan sang suami. Seolah lupa apa yang telah terjadi di siang hari, Sholeha bahkan tetap tersenyum pada Sholeh.


" Tidur yok dah malem, " ajaknya seraya menyembunyikan mulutnya yang terbuka karena menguap.


" Mas belum mandi, "


" Jam berapa ini, kok belum mandi?" saat Sholeha melihat jam, seketika ingatannya pada perselisihan kecil yang siang tadi terjadi. Wajahnya cemberut seketika.


Tanpa ada kata-kata lagi, Sholeha berpaling dari Sholeh dan kembali merebahkan tubuhnya. Memunggungi Sholeh yang masih terduduk dalam diamnya. Tak ingin kembali berdebat, Sholeh juga segera pergi mandi.


Sholeha yang sudah terbangun dari tidurnya, menjadi gelisah tak bisa terlelap lagi. Seharusnya dia senang suaminya pulang, tetapi ia malah kembali marah karena sikap Sholeh yang berlebihan tadi siang.


Sholeha masih setia dengan posisinya sekarang, membelakangi Sholeh. Menahan rasa penasarannya pada kegiatan kecil sang suami di balik punggungnya. Mendengar pintu kamar mandi tertutup hingga terbuka lagi, pura-pura terpejam saat Sholeh mengambil baju di hadapannya. Dan menahan sekuat tenaga rasa geli dan aneh saat Sholeh langsung memeluknya dari belakang. Dia merapatkan tubuhnya pada Sholeha, melilit kan tangan besarnya itu di perutnya. Sangat terasa dagu Sholeh berada di pucuk kepalanya. Sebuah rasa yang sangat ia sukai akhir-akhir ini. Sementara dia lupa akan rasa marahnya.


Sholeha tak bisa lagi mengatur detak jantungnya, rasa ini sangat menggangu. Dia sedang marah saat ini, mengapa suaminya ini malah tak merasa salah sama sekali. Diam-diam mulutnya mengerucut, bosan menunggu Sholeh yang tak kunjung membuka suara.


Di tengah cengkerama Sholeha dalam hatinya, tiba-tiba saja tangan besar itu naik ke tempat yang lebih tinggi dari perutnya. Belum sempat mendarat di suatu tempat hangat, Sholeha spontan menahan pergerakannya. Matanya terbuka sempurna.


Terdengar Sholeh tersenyum " Belum tidur ternyata, hem...?" tanya Sholeh kemudian.


Sholeha terkejut, dia kontan berbalik mencari wajah pelaku jahil di tengah malam ini. Matanya mendelik, tak percaya jika Sholeh sedang menjahilinya.


" Iseng banget, " katanya sangat pelan, dan berpaling dari Sholeh.


Sholeh tersenyum, meraih wajah sang istri untuk kembali menghadap dirinya.


" Maaf, mas salah", ucapnya pelan.


Sholeha terdiam, menyelami binar mata sang suami yang begitu terlihat lesu dan kuyu. Apa saja yang telah terjadi sepanjang hari ini, Sholeha sendiri tak ingin mengingatnya. Matanya tadi sangat marah dan kecewa padanya, pergi begitu saja tanpa pamit. Tidak sedikit pun berniat mendengar penjelasan atau sekedar cerita mengapa istrinya ini tak mengatakan yang sebenarnya. Dia tadi membuat Sholeha menangis sendu di kamar ini sendiri.


Sholeha cukup lama terdiam, kemudian menggeleng. " Apa sebabnya?" tanya Sholeha lagi.


Sholeh mengecup lembut kening sang istri, menyadari maafnya yang tak mudah di terima begitu saja. Dia menyadari wanita pilihannya ini benar-benar sedang marah, meski tak tergambar dari wajahnya, satu pertanyaan sederhananya ini, ia membutuhkan sebuah alasan.


" Maas.... ?"


" Hem...."


Sholeha tak lagi bertanya, dengan sabar menunggu suaminya mengutarakan semua isi hatinya.


" Dia memaki mu, kenapa tidak cerita dengan mas ?"


Sholeha terkejut, mengapa suaminya ini malah balik bertanya. Apalagi soal bu Risma. Sholeha dengan hati-hati mencoba memilih kata untuk bercerita.


" Leha belum sempat, sedikit lupa karena keadaan Fatih yang seperti itu",


" Kamu boleh marah padaku sayang......"


Sholeh memeluk erat Sholeha....


***

__ADS_1


__ADS_2