Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Ribut kecil


__ADS_3

Suasana berkabung di rumah Sulaiman masih terasa, hanya saja jejak kesedihan semakin berkurang dari sana. Jika tujuh hari sudah terlalui, InsyaAllah semua akan tetap seperti dulu, meski tak ada istrinya. Sulaiman menerima batas cinta kasihnya di dunia, ia tetap meneruskan sisa usia dengan hati yang lapang.


Sholeha menata sarapan pagi, hari ini ia akan kembali bekerja. Begitu juga dengan Sholeh, setelah pulang dari masjid ia memberitahu Sholeha jika akan ke kota. Dengan lauk buatan Sholeha seadanya, kedua pria di hadapannya, sarapan dengan nikmatnya yang ala kadarnya.


Setelah sarapan, Sholeha kembali ke kamarnya. Dia perlu memoles sedikit warna bibirnya, saat mencari lipstik di meja Suaminya terlihat masuk. Dia berdiri di belakangnya, " Cari apa ?" tanya Sholeh.


" Lipstik ku di mana ya Mas. Mas bawa ke sini kan?" tanya Sholeha.


Sholeh duduk di tepi ranjang, melihat istinya yang sibuk membongkar barang-barang kecilnya.


" Kayaknya masih di rumah, " jawab Sholeh datar.


Sholeha menatap sang suami " Mas, kok ndak di bawa sih. Mas kan tau itu pasti penting, mana ndak ada lagi di sini" gerutunya sedikit kesal.


" Mas mana tau, lagian kamu ndak ikut Mas pulang. " Kata Sholeh sedikit ketus, tak suka ia di salahkan.


Sholeha diam saja, dia masih berusaha mencari siapa tau ada yang masih tertinggal di lacinya. " Lagian, kita kan ndak lama disini. Sementara ndak usah pakek lipstik dulu" kata Sholeh tiba-tiba.


Sholeha berdiri di hadapan suaminya, dia sedikit berkecak pinggang, " Mas, " ucapnya dengan nada menekan, " Apa kamu ndak betah tinggal disini, ini baru satu Minggu. Aku belum mau pergi dari sini" katanya dengan menahan emosi, dadanya sampai naik turun.


Langsung saja, Sholeh bangun dari duduknya, " Aku tidak mengatakan itu, tapi kamu sendiri yang menganggapnya. Lagi pula aku memang tidak bisa meninggalkan Ibu, " suaranya sangat berbeda dari biasanya, kali ini terdengar sangat tegas dan seolah bergetar di dada Sholeha.


Sholeha sampai terkejut, seketika dia menunduk tak berani menatap suaminya yang baru pertama kali ia melihatnya seperti itu. Memang tak begitu tinggi suaranya, tetapi ia tak biasa mendengarnya.


" Sudah, perkara Lipstik jadi ribut" ucap Sholeh keluar dari kamar.


Sholeha menatap wajahnya, pucat tanpa lipstik dan juga karena suaminya. Sholeha mengabaikannya, dia tau emosi ini memang sudah terpendam sejak malam tadi. Ia memilih menyusul suaminya.


Keduanya berpamitan pada Bapaknya, berangkat dengan saling terdiam. Sholeh mengantar istrinya dengan mobil, memang karena sekalian akan pergi ke kota. " Mas berangkat jam berapa?" ucap Sholeha, setelah saling diam sejak tadi.


" Sekarang" kata Sholeh.


" Sama Mas Rizal ?"

__ADS_1


" Tidak "


Sholeha menghela nafas, dia tau Sholeh kesal padanya. Ia tak terlalu perduli, ia sendiri memang belum mau pergi dari rumah, dan menurutnya itu wajar. Sholeha memandang ke luar jendela, kembali mendiamkan suaminya.


" Aku pulang malam, " ucap Sholeh, saat Sholeha hendak turun dari mobil.


Sholeha hanya mengangguk, ia mengulurkan tangan menyalami suaminya. Tidak minta di kecup keningnya, Sholeha langsung keluar dari mobil.


Sedikit terkejut, tetapi menyadari jika mereka memang sedang berselisih saat ini. Sholeh menatap istrinya yang berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, meski kesal Sholeh tetap menatapnya. Setelah itu baru melajukan mobilnya.


Sholeha berbalik, saat deru mobil sang suami terdengar menjauh. Berselisih paham seperti tadi, rasanya baru pertama kali. Dia berusaha meyakinkan dirinya, jika suaminya bisa mengerti nanti setelah mereda emosinya.


" Kamu kenapa sih, sembarangan " Sholeha menepuk bibirnya pelan.


Apapun permasalahannya, dia tetap salah karena tak sopan. Sholeha meneruskan langkahnya, sedikit mengambil nafas, bersiap untuk bekerja, satu Minggu tak bekerja cukup membuatnya canggung.


***


Ketika turun dari mobilnya, Sholeh langsung di sambut dengan wajah gembira ibunya. Terlihat sekali jika sebenarnya ia sangat rindu, " Loh Le, istrimu ndak ikut?" ucap Bu Nur.


Selalu saja Sholeha yang di tanya, Sholeh sampai tak enak hati untuk menjawabnya. Seminggu saja tak bertemu dengan menantunya itu, ia sudah terlihat sangat rindu sepertinya.


" Dia ke sekolah Bu" kata Sholeh duduk di teras, bersama ibunya.


" Loh, sudah kerja. Ibu dengar kamu tak mengizinkan,"


" Dia memaksa Bu, katanya tanggung" ucap Sholeh dengan lesu.


Bu Nur mengusap pundak putranya, " Tunggu sebentar lagi, semoga saja dia tetap baik-baik saja meski bekerja"


" Bu, Ibu sendiri ?"


Bu Nur menatap putranya dengan senyuman, " Sama Bulek tadi, dia pulang setelah subuh. Kenapa?"

__ADS_1


" Nanti Sholeh bujuk Leha pulang ya Bu, "


Bu Nur tersenyum lagi, " Berikan dia waktu, sepertinya dia memang tak tega pergi dari sana. Dia itu sangat sayang pada Bapaknya, pasti ia masih ragu" ucapnya dengan pandangan menerawang ke depan.


" Ibu sehat kan?"


Bu Nur kembali melihat wajah putranya, " Sehat, Ibu sangat sehat" jawabnya meyakinkan.


Sholeh menyandarkan punggungnya, menghela nafas. Seolah ada beban berat dalam dadanya, sesak sejak tadi.


Bu Nur melihatnya dengan seksama, putranya ini jelas dalam keadaan bingung. Dia tau betul jika Sholeh tak bisa meninggalkan dirinya seperti seminggu ini, memang ada alasan kuat untuk sikapnya yang seperti ini. Sama saja dengan istrinya, saat mereka diam seperti ini, tentu saja hanya sedang berusaha memecah semua masalah.


" Le, jangan terlalu pikirkan Ibu, sekarang ini cukup perhatian istri mu, dia masih berusaha sembuh, belum lagi karena hamil mudanya, maklumi saja dulu. Tunggu sampai ia tenang, jangan terburu-buru marah "


Sholeh menatap sang ibu, sosok yang mudah sekali menembus hatinya. Meski tak bercerita, dia bahkan sudah mengetahuinya. Sholeh berpikir sejenak, apa yang di katakan ibunya memang benar, lagi pula ini baru seminggu, wajar jika istrinya belum mau meninggalkan Bapaknya.


" Kalau orang mengandung memang begitu, siapa tau memang ada keinginan lain dari jabang bayi. Jangan sedikit-sedikit kamu marah padanya lo Leh, Ibu ndak papa, hanya saja kadang kangen sama dia" Bu Nur tersenyum, membayangkan wajah manis menantunya.


" Nanti Sholeh minta ia kesini, " Kata Sholeh dengan menatap wajah ibunya.


" Sebenarnya kemarin kita bertemu, tetapi dia itu terlihat masih sedih, Ibu ndak tega lihatnya. " ucapnya lagi.


" Sekarang ndak lagi, dia doyan makan Bu, apalagi sama soto Mbok Jum. Ya Allah Ibuk, sampe ndak toleh-toleh, " kata Sholeh berapi-api.


" Mosok sudah ngidam ?"


Sholeh memanyunkan bibirnya, " Ngidam dari mana, dasaran aja Sholeha yang doyan sama soto Mbok Jum. Dia sendiri yang ngomong, sebelum hamil aja suka makan di sana"


Sholeh tersenyum kecil, sangking perhatiannya pada sang istri demi tak lagi bersedih apa pun yang di minta akan ia turuti.


" Yang penting dia doyan makan, " ucap ibunya ikut tertawa.


***

__ADS_1


__ADS_2