
Sholeha terdiam mencoba mencari kata maaf yang baru saja ia dengar. Apa benar Sholeh yang mengatakan? dia mengamati wajah pria itu lamat-lamat, dan tidak sedikitpun iya terlihat telah mengucapkan sesuatu, ah apa dia hanya berangan saja?
" Sholeha, kamu mau tanya?" ujar Sholeh.
Sholeha menggeleng," Tidak".
" Ada apa?" Sholeh memusatkan pandangan pada Sholeha.
" Mas mengatakan sesuatu?"
" Hah apa ya, saya memang berniat" jawabnya malah kebingungan.
Sholeha kembali terdiam, apa dia yang terlalu berharap, ah sepertinya dia salah dengar. Sholeh memang berada di dekatnya dan dia sedang memakan semangka, semakin masuk akal jika dirinya sedang membayangkan saja sejak tadi. Seolah ada kata maaf dan cemburu yang di ucapkan oleh Sholeh, pria itu mana peka.
Sholeha mendesah panjang, membuang semua pikiran-pikiran aneh yang terus berkeliaran di otaknya. Berusaha tersadar dengan mengembalikan fokus dan menyimak obrolan orang-orang di sekitarnya.
" Fatih ndak usah banyak minta lagi loh, udah gede mamah ndak mau!" ucap Ayu menasehati anaknya yang duduk di samping Sholeh.
Sejak kapan Fatih di situ? batin Sholeha.
" Fatih ndak nakal loh Mah, adik Al yang bandel"
" Masa nyalahin adik sih, kan yang jadi Mas nya kamu" Sholeha menyela.
" Ih Bibi , Fatih ngak nakal" bocah itu mulai marah.
"Kamu nakal Fatih, Bibi tau itu" ledeknya sambil tertawa jahil.
" Ih ngak, Bibi yang nakal, ngak seperti tante Rahma pacar Om Sholeh" Fatih berteriak dan memukul Sholeha kesal .
Semua orang sontak menganga terutama Sholeh, tidak menyangka jawaban Fatih begitu aneh dan tidak nyaman di dengar.
Sholeha membisu, dia menerima pukulan ringan Fatih di lututnya.
" Fatih, he Nak! " Ayu menarik Fatih dari hadapan Sholeha.
" Kamu kok malah nakal begini!" bentak Ayu.
" Ya Allah Mbak, Fatih ndak nakal kok emang Sholeha yang jail, ndak papa " Sholeha berdiri dan mengusap kepala Fatih sayang. Dia bahkan tersenyum pada keponakan kesayangan itu.
Entah mengapa kali ini dia tidak lagi marah, tidak begitu merasa tidak nyaman seperti tadi. Dia bahkan tulus tersenyum merasakan kejujuran Fatih adalah sebuah fakta. Secepat itu hatinya berubah, dia saja tidak bisa pahami semua ini.
" Fatih sini !" Sholeh memanggilnya dengan lembut.
" Fatih, dengar Om, Om Sholeh tidak punya pacar loh, -
Sholeh menatap Sholeha yang masih terdiam.
" Ah aku tau sekarang, mantan pacar ya?" kata Fatih bersemangat.
" Bukan Le !" bentak Ayu.
Semua orang dewasa seolah berusaha menjelaskan pada anggota keluarga muda yang masih terlalu polos dan lugu.
Sholeh tersenyum, " Kamu ini, Om itu hanya punya calon istri, bukan pacar apa lagi mantan pacar, " Sholeh mengusap kepala Fatih sayang. " Coba tanya pada Bibi Leha siapa nama calon istri Om! " perintah dari Sholeh langsung di turuti oleh Fatih.
Dia berbalik menemui Sholeha, dia terlihat penasaran sekali.
" Siapa Bi namanya?"
" Nama siapa ?" tanya Sholeha gelagapan.
" Ih Bibi malah ndak tau" gerutunya,
Fatih melirik Ayu, mencoba mencari jawabannya.
" Namanya, Rahma Nia Sholeha" Ayu tersenyum melihat kepolosan Fatih yang terlihat lucu.
__ADS_1
Semua orang tersenyum, hanya Sholeha yang masih tertunduk malu.
" Bibi Leha, calon istri Om Sholeh. Kok ngak ngaku dari tadi ? Fatih kan tidak perlu menebak-nebak terus" ucapnya sedikit kesal merasa di bohongi oleh banyak orang dewasa di sana.
" Pantas saja Bibi marah, tadi! " Fatih kembali menambahkan.
Sholeha menganga dan memberi isyarat diam dengan telunjuk nya di bibir.
Dia menggeleng pelan, meminta Fatih tidak meneruskan ucapannya.
" Kapan Le?" tanya Ayu kemudian.
" Ndak usah di percaya, Fatih kan suka ngasal kalau ngomong" buru-buru Sholeha kembali duduk untuk mengalihkan perhatian dari semua orang.
" Tadi loh Mah, pas ada Tante Rahma" kali ini Fatih terlihat sudah bosan berada di tengah-tengah orang dewasa, dia melangkah pergi mencari teman-teman nya.
Sholeha terduduk dengan segala perasaan anehnya ada malu dan juga gelisah. Dia tidak ingin banyak berpikir dan berandai-andai lagi.
Cukup diam seperti ini, tidak perlu berusaha menjelaskan banyak hal pada semua orang.
" Maaf ya soal tadi " Sholeh mengatakan dengan lirih, kali ini sungguhan bukan khayalan seperti tadi. Sholeha melihat jelas wajah Sholeh yang merasa bersalah .
Sholeha mengangguk kecil, dia tau tidak perlu memperpanjang masalah ini disini. Nanti saja jika ada waktu dia akan bicarakan secara langsung dengan Sholeh.
" Habis magrib nanti kita bicara lagi, ya!" ucap Sholeh menambahkan.
Sholeha menatap Sholeh singkat, kemudian dia mengangguk lagi.
Karena terlalu berisik dengan suara jantungnya, Sholeha tak sempat lagi bisa walau sekedar tersenyum. Dia kaku di tempat dan terlalu gugup duduk bersebelahan dengan Sholeh.
Suara riuh orang berbincang mulai sepi, semua orang telah berpindah posisi.
Usainya acara sederhana ini masih tengah hari, beberapa barang dan alat-alat tadi sudah di bongkar dan di kembalikan.
Latar yang tertutup tenda sederhana tadi telah lega tanpa penghalang.
Sesuai janjinya tadi Sholeh terlihat sibuk menumpuk kursi-kursi dan banyak hal, guyub nya warga desa memang tiada tanding, acara besar dan kecil pasti di garap bersama dan bergotong royong. Dalam sekejap pelataran Rizal bersih seperti semula.
Sedari tadi Sholeha sibuk menyiapkan sajian makan siang untuk keluarga yang belum mau pulang. Para bocah anak dari saudara Ayu yang terbilang banyak membuat suasana semakin ramai berlarian menemani Fatih dan Al. Mereka tertawa riang saling mengejar dan memanggil, sungguh suasana ramai riuh yang menyenangkan bagi mereka.
" Ya Allah Dek, pelan-pelan dong!" tegur Sholeha melihat salah satu anak itu terjatuh di hadapannya.
Anehnya bocah laki-laki seusia Al itu hanya terkikik tanpa merasa kesakitan, Sholeha menggeleng pelan melihatnya. Untung saja dia terbiasa dengan suasana ramai ini, ahay dia jadi teringat kerjaannya yang tiga hari ini berlibur, sedikit rindu.
" Mbak Sholeha, sudah semua ini ya?" tanya salah satu saudara iparnya dari depan. Dia mengkode semua orang akan masuk mengambil makanan jika sudah siap tersaji.
" Sudah siap Mbak, langsung aja !" jawab leha dia segera berpindah ke ruang tengah, semua orang pasti akan memadati dapur. Dia bergabung dengan para ibu yang sedang bersantai sembari mengawasi para anak.
Sholeha menghampiri adik Ayu yang tengah memangku balita kecil yang sangat lucu, dia sampai gemas sangat ingin menggendong. Sholeha tak berhenti menoel pipi gembul sembari terus tersenyum menanggapi respon dari sang balita itu.
"Ih lucu banget sih Dek" ucapnya gemas.
" Makasih Tante" jawab sang ibu menirukan suara anak kecil pada Sholeha.
" Mbak ini umur berapa?"
" Baru empat bulan Dek"
" Lucunya, boleh gendong ngak Mbak?" tanya leha ragu pada sang ibu, dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya pada balita lucu itu.
" Boleh, dia pakai pempes kok"
Sholeha bergegas mengulurkan kedua tangannya menggendong anak itu.
Awalnya Sholeha terkejut melihat reaksi anak itu hendak menangis, tidak lama kemudian dia tertawa melihat wajah Al yang tiba-tiba mendekatinya.
" Adek, ini Bibinya Mas Al ya jangan di ambil" Al gelendotan manja di tangan Sholeha. Sholeh tak bisa menahan tawanya, keponakan satu ini terlihat sekali tidak ingin bersaing dengan adik kecil yang terlhat menyukai bibinya.
__ADS_1
" Ya enggak lah Mas Al, Dedek cuma pinjam" hibur Sholeha tak tega melihat Al yang menyabik kan bibirnya hendak menangis.
" Kita main ke depan yok!" ajak Sholeha pada kedua anak itu, yang anteng di gendongan dan yang menarik gamisnya erat tak mau di tinggal.
Sholeha keluar dari ruang tengah, dengan Al yang masih membuntuti nya dengan setia. Sholeha tidak menyangka Al se- posesif ini padanya. Padahal ada Ayu yang sedang duduk anteng melihatnya sejak tadi. Bahkan beberapa orang menertawakan sikap Al yang tak begitu biasa.
" Mbak. Lihat nih anakmu, bucin banget sama Leha!" Sholeha tertawa melihat wajah Al yang hampir merengek.
" Sini sama mamah Al!" mencoba menghiburnya.
"Mau sama Bibi, adek nya buat mamah aja ! " jawab Al sembari beralih memeluk erat separuh kain dress yang di pakai Sholeha.
" Ya Allah Nak, kamu kok gitu sama mamah" Ayu seolah menangis yang sengaja di buat-buat.
Al tidak lagi menanggapi mamahnya, dia bahkan mulai menangis dan merengek.
Suaranya pelan terredam tidak terlalu terdengar jelas. Sholeha memanggil nya dengan lembut." Al, Al, jangan nangis!"
Tiba-tiba dari arah belakang ada tangan kekar yang menarik Al dari sisi Sholeha,
" Yok sini sama Om Sholeh yok!" dia menggendong Al yang menangis sedih melihat Sholeha. Al seketika terdiam, memeluk leher Sholeh begitu erat.
Sungguh pemandangan edukasi keluarga bahagia nan menyenangkan.
Ayu sampai tertawa lebar menggoda Sholeha di hadapannya, bahkan sengaja melihat anaknya menangis dari tadi untung saja Sholeh peka dan berjalan ke teras rumah menghibur Al di sana.
" MasyaAllah Dek, adem bener liat kalian ini" puji Ayu sembari meledek adiknya itu.
Sholeha mendelik, dia tidak menyangka Ayu terang-terangan menggodanya di depan Sholeh. Bahkan dia terlihat sangat bahagia itu.
" Mbak ih, udah ah guyonnya. " Sunggut leha sebal pada Ayu. Dia sempat melirik Sholeh yang mukanya terlihat dari kaca jendela ruang tamu. Tampak ada yang harus ia pastikan dari pria itu.
" Tuh ntar gitu, pas udah punya anak sama Sholeh" tawanya meledak memenuhi ruang tamu , puas mengusili Sholeha.
" Mbak ih, udah ah" Sholeha mendelik.
Mungkin kerena terlalu berisik Ayu dan Sholeha mengobrol, membuat si kecil tak betah lagi di gendongan Sholeha, dia merengek mencari ibunya.
Sholeha sampai panik melihat balita itu tiba-tiba mengais dengan kencang.
Dia sedikit berlari mencari sang ibu, takut si kecil frustasi di dekapannya.
Semua ruang masih begitu berantakan, aroma makanan yang begitu beragam menjadi ciri khas usai repot atau hajatan begitu terasa, satu persatu kerabat mulai pamit pulang, suasana ramai pun seketika menjadi sepi. Sholeha juga pamit pulang, dia juga teringat ada janji dengan Sholeh ba'da magrib nanti.
Sebelum meninggalkan rumah Rizal dia merogoh ponselnya dari saku dress nya.
Mas kita bicara di mana?
Pesan terkirim pada Sholeh, sembari menunggu jawaban darinya, Sholeha duduk sebentar di teras. Sholeha melamun lagi, kali ini jarinya memutar cincin di jari manis kirinya. Entah apalagi yang sedang ia pikirkan, sedikit ada raut bahagia namun kembali datar seperti semula.
Terdengar notifikasi kecil dari ponselnya, jelas sekali jika pesan ini yang ia tunggu.
Sholeha langsung menyentuh layar ponselnya.
(Di rumah saja, sekalian ada
perlu sama bapak.)
Setelah membacanya Sholeha mengetik balasan singkat dengan segera.
(Ok)
Sholeha berdiri bersiap pulang menuju rumahnya setelah berpamitan .
Masih ada banyak waktu sampai ba'da magrib nanti, dalam angannya tidur sejenak adalah hal yang menyenangkan untuk saat ini. Setidaknya mengurangi sedikit lelah yang begitu terasa di sepanjang hari ini.
Ia menarik nafas panjang sebelum berkendara dan berusaha fokus tanpa melamun kali ini.
__ADS_1
******