
POV Sholeh,
Berawal dari panggilan Rahma yang begitu tiba-tiba, Sholeh terpaksa menunda pertemuannya dengan Sholeha, meski ia telah berjanji. Kabar meninggalnya nenek Rahma, membuat Sholeh tidak lagi sempat berpamitan pada Sholeha walau sekedar menyapa. Dia tau ini tidak sopan, tetapi Sholeh tak punya pilihan ia harus segera sampai di kediaman orang tua Rahma.
Rasa bersalah pada Sholeha pun tak begitu seberapa, sebab melihat Rahma yang begitu bersedih meratapi kepergian neneknya. Sholeha tetap berpikir jika memutuskan segera kesini adalah hal yang terbaik. Semalam penuh, ia berada di rumah berkabung. Setelah mendapat izin ibunya Sholeh mengikuti prosesi pengurusan jenazah yang tidak langsung di makamkan.
Sholeh dapat melihat kesedihan Rahma yang begitu sedih, ia tahu bagaimana kedekatannya dengan sang nenek yang begitu terlampau dekat, bahkan banyak orang menganggap jika dia itu bukan cucu namun malah seperti anak sang nenek.
Apalagi setelah Rahma berkuliah, jarak telah membuatnya memupuk rindu, hingga Rahma tak bisa lagi menemani dengan baik saat sang nenek sampai di akhir hayatnya.
Malam berlalu dengan masa berkabung, semalam setelah sang anak yang datang dari luar kota telah sampai dan pagi harinya semua orang bergegas memakamkan jenazah. Sholeh mengikuti rangakaian Fardu kifayah secara lengkap, termasuk ikut serta mengantar ke pemakaman. Sebelum pergi ke makam, Sholeha sempat melihat keberadaan Sholeha yang juga berada di sana. Rupanya ia menemani Ayu datang ke sini.
Dia bahkan tak sempat menyapa, Sholeha juga pasti bisa melihat jika ia sedang sibuk, pikir Sholeh pada wanita itu.
Ternyata Sholeha cukup lama disini, mungkin ia menunggu Ayu yang masih menghibur Rahma di kamar, ia sangat paham jika mereka sudah duduk berdua maka akan lupa waktu, apalagi sedang pilu seperti ini. Sholeh sempat terheran, mengapa Sholeha tak iku kedalam malah duduk nyempil di antara para ibu yang sedang sibuk bergosip.
Sholeh ingin berpamitan pada Rahma, maka ia masuk ke kamar dengan di antar ibunya Rahma. Sholeh juga sempat melirik Sholeha yang terlihat berusaha keras mengakrabkan diri. Sepertinya ia tidak nyaman mendengar curhatan Rahma pada Ayu. Sehingga ia memilih keluar dari kamar. Dia memang bukan tipe gadis yang kepo, Sholeha sangat tahu batasan.
Semoga saja Sholeha tidak berpikir buruk padanya kali ini, karena jujur saja Sholeh juga tau jika calon istinya itu sangat pencemburu meski tak pernah ia tampakkan. Sedikit Sholeh belajar dari kejadian di acara khitanan Fatih, Sholeh bahkan dapat begitu jelas melihat raut dan sikap Sholeha yang selalu berubah ubah saat itu, ia menyadari kepedulian Sholeha kepadanya telah mendekati pada hak untuk ingin memiliki. Dengan bahagia Sholeh semakin mantap dan yakin terhadap keputusannya memilih Sholeha.
Meskipun begitu sedikit demi sedikit Sholeh juga harus menyelesaikan masalah hatinya yang belum sampai pada Rahma, setidaknya tidak menimbulkan prasangka buruk dari Sholeha.
Ayu dan Rahma, di ruangan yang lumayan besar untuk seukuran kamar, mereka sedang saling mengutarakan hati dan kesedihannya. Dengan pintu yang setengah terbuka Sholeh ikut bergabung dengan para wanita yang ia kenal dari jaman dahulu. Rahma bahkan menyambut kedatangan Sholeh dengan girang, yah sikap ini lah yang selalu membuat banyak orang percaya jika Sholeh sangat mencintai Rahma, padahal jujur saja Ia bertepuk sebelah tangan. Menurut Sholeh dia telah ditolak sejak dulu, dari sejak Rahma menganggapnya sebagai kakak.
" Ya sudah Le ibu tinggal!" ucap ibunya Rahma, ketika Sholeh telah sampai di kamar. Sholeh hanya mengangguk.
" Aku mau pulang Dek, kasihan ibu sendiri sejak semalam" Sholeh menyampaikan tujuannya.
" Kita duduk sebentar Mas, temenin Ayu dengar curhatan ku sejak tadi dia juga ngeluh ingin pulang kalian ndak melas sama aku?" ucapnya mencegah dua sahabatnya itu pulang.
Ayu dan Sholeh mengangguk,
" Jangan bahas jaman pas kalian cinta monyet loh, aku ndak suka!" ancam Ayu.
Kedua orang di depannya itu malah tertawa dengan keras, mereka juga sangat menyadari jika Ayu adalah pihak yang tidak ingin di rugikan di hubungan ini.
" Aku kadang masih nyesel aja loh, ndak bisa nurutin kemauan nenek yang menjodohkan kita" pundak Rahma sedikit luruh, matanya menggambarkan kesedihan.
Sholeh pun merasakan apa yang terjadi kali ini, atau sebenarnya mereka tidak bertepuk sebelah tangan.
" Aku pikir kita bisa menikah sungguhan seperti keinginan Nenek, tapi kamu sudah melamar orang lain" Rahma tiba-tiba saja menyatakan itu dengan entengnya.
Sholeh hampir saja tersedak air liur nya sendiri, mengapa wanita di depannya ini malah mengatakan hal yang sudah mustahil di lakukan lagi, lagi pula ia juga sudah menyerah sejak itu.
" Maaf aku tidak bisa menolak saat itu" jawabnya dengan mantap, Sholeh sadar mungkin akan ada persepsi lain dari Ayu atas perkataannya ini. Sholeh berniat akan menjelaskan nya nanti.
" Tidak Mas, seharusnya aku yang mau menurunkan sedikit ego ku dan sedikit saja mau berjuang untukmu" jawab Rahma semakin jauh.
Sholeh sangat terkejut, dari dulu ia tidak pernah mengatakan itu kepadanya, meskipun ia mencintai Rahma dulu tetapi Sholeh juga tidak akan mungkin menyakiti Sholeha yang tidak mengetahui apa-apa.
Dari raut wajah Ayu jelas jika ia juga terkejut, dia bahkan sampai menatapku dengan sangat tajam, oh Ya Allah ini akan jadi masalah. Sholeh membatin.
" Tidak Dek, aku yang terburu-buru memutuskan saat itu" ucap Sholeh menggantung. Tiba-tiba dari balik daun pintu yang tak tertutup sempurna nampak lah Sholeha di sana, semua orang menatap wajahnya yang kebingungan pikiran buruk datang bersamaan dari Ayu padanya.
__ADS_1
" Sholeha ?" sebut mereka kompak.
Sholeh mulai tergagap melihat Sholeha berdiri di sana, ia sangat takut jika pembicaraan tadi salah di artikan oleh Sholeha.
Entah apa saja yang Ayu dan Sholeha katakan, ia tak dapat lagi mendengar . Sholeh hanya sibuk memperhatikan wajah calon istrinya yang terlihat tenang dan tidak memberikan tanda marah atau yang lainnya. Justru ia sangat merasa bersalah, namun Sholeh tetap mempercayai Sholeha sebagai orang yang tenang dan dapat berpikir lebih dewasa.
Begitu dengan Ayu yang malah salah mengartikan ucapan Sholeh pada Rahma, dengan meledak - ledak mengungkapkan kekecewaannya. Sholeh tau Ayu seperti itu karena sangat menyayangi adik iparnya , sejak dulu ia juga yang sangat rajin dan dengan tegas mewanti-wanti agar tidak menyia-nyiakan Sholeha.
Hem... mana mungkin ia bisa lakukan itu, pada detik ini saja Sholeh sudah merasa takut kehilangan Sholeha. Entah sejak kapan ada perasaan yang begitu posesif ini ada di hatinya .
Ayu pergi begitu saja, ketika Sholeh ikut keluar mereka terlihat sudah bergegas pulang. Terlebih Sholeh tidak akan mungkin menjelaskan banyak hal di tempat ini, sedang ia juga belum berpamitan dengan keluarga Rahma .
Sholeh memutuskan kembali kedalam dan menyudahi urusannya di kediaman terlebih dahulu. Kembali menemui Rahma yang ikut keluar dari kamar.
" Kenapa?" tanya Rahma.
" Ah itu, saya juga langsung pulang saja ya Dek" jawab Sholeh tak menghiraukan Rahma yang terlihat penasaran dengan kepergian Ayu dan Sholeha.
Sebenarnya Rahma masih ingin menahan Sholeh di rumahnya, namun Sholeh tidak bisa lagi mendengarkan, terlihat jika pria itu sedang khawatir dan cepat-cepat ingin pulang.
***
Sholeh sampai di rumah, ia menyempatkan mandi terlebih dahulu sebelum menemui ibunya. Dia berniat ingin menceritakan semua keluh kesahnya hari ini pada sang ibu, sejak perjalanan pulang tadi Sholeh masih terus diserang rasa takut kehilangan Sholeha, mungkin sedikit berlebihan tapi entah mengapa ia secemas ini .
Setelah di rasa ia tenang dan sedikit lebih segar, Sholeh menemui bu Nur yang sedang menunggunya duduk di meja makan seperti biasanya.
" Ibu, maaf ya Sholeh malah ndak pulang semalam" tuturnya sembari meraih punggung tangannya dan menciumnya.
Sholeh kembali menatap ibunya, " Bu,-" ucapnya terhenti, seolah bingung akan mengatakan masalahnya dari mana.
" Ada apa Hem,?"
" Sepertinya Sholeh terlalu banyak membuat Sholeha salah paham bu"
Ibunya dengan lekat memandang Sholeh, berusaha menyelami kedua mata yang terlihat begitu sendu itu.
" Kamu bisa jelaskan nak, dia akan mengerti!" usulnya dengan tenang.
Sholeh menggelengkan kepalanya pelan, ia kemudian menarik nafas.
" Sholeh kok takut ya bu"
" Takut gimana toh le?"
" Ndak tau, Soleh saja kalau dia salah paham" jawabnya dengan berat
" Percaya sama ibu, dia itu pengertian katakan saja semua yang ada di pikiran dan hatimu Insyaallah di akan mendengarkan dengan baik!"
Setelah mendapat nasihat dan saran dari sang ibu Sholeh sedikit mendapat ketenangan, ibunya memang benar Sholeha adalah gadis baik yang dan pengertian. Cukup mengatakan yang sebenarnya saja ia pasti memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Karena masih tengah hari Sholeh mengisi waktu luangnya pergi ke toko. Dengan mencari kesibukan agar sedikit menenangkan dirinya yang sedang dilanda kecemasan.
Sholeh sengaja melihat-lihat semua rak rak bahan bangunan yang sudah mulai kosong. Beberapa hari ini Sholeh sengaja menghentikan pengisian stok bahan dagangnya, ia berencana menghabiskan yang sudah tersedia di toko.
__ADS_1
Beberapa hari ini ia sudah memutuskan untuk mengubah pilihannya yang semula akan membangun rumah, kini menjadi renovasi toko terlebih dahulu. Pilihan ini berubah karena melihat kondisi tempat usahanya yang begitu berantakan tidak tertata. Di tengah kesibukannya mengalihkan pikiran, terdengar suara Rizal datang mencarinya.
" Sholeh ada mas?" tanya Rizal pada Agus kasir toko ini.
" Ada Mas, itu di lorong rak cat!" tunjuk nya, namun Sholeh malah menghampirinya .
" Cari saya Mas?" ucap Sholeh.
" Saya ada penting!"
Melihat gelagatnya Sholeh menduga laki-laki ini pasti datang untuk menegurnya tentang masalah adiknya tadi. Sholeh bahkan berusaha menyiapkan segala jawaban atas semua pertanyaan Rizal.
" Kita ke teras rumah saja!" jawab Sholeh sembari mempersilahkan Rizal berjalan terlebih dahulu.
Keduanya telah duduk di dua kursi yang saling bersisian, kali ini Sholeh sengaja menunggu apa kiranya yang akan di sampaikan oleh Rizal.
" Leh, gimana rumahmu kapan mulai di kerjakan?" Rizal menghembuskan nafas yang terlihat berat itu.
Sholeh sedikit terkejut, ternyata perkiraannya meleset , " Ada Mas, saya malah berencana menundanya"
" Alhamdulillah, " ucapnya semakin membuatnya berseri.
" Ada apa sebenarnya?"
" Aku dapat proyek bangun ruang kelas sekolah Leh, ini sayang kalau ndak di terima. Saya pikir rencana mu bisa sedikit di geser" Rizal menunjukan wajah jenakanya yang terkesan merayu.
" Tapi ganti renovasi toko, sudah ngangkrak gitu barangnya kurang tempat mas"
" Ya nanti tak coba pikirkan lagi" ucapnya memberi saran.
Rizal kemudian mengamati wajah Sholeh yang terlampau kusut dan lesu, tidak seperti biasa dengan berani Rizal mencoba menanyakan.
" Ada Leh, kok galau gitu?"
" Ah, anu Mas. Lagi banyak pikiran" ceplosnya sembarangan.
" Apa sudah ndak sabar pengen nikah?" Rizal kembali melihat Sholeh yang tampak bingung dalam diamnya." minta di ajukan saja tanggal pernikahannya, kan kalian belum tau kapan pastinya, !"
Sholeh bahkan terkejut dengan saran Rizal yang sebenarnya sangat masuk akal
Sholeh tersenyum seolah mendapat ide cemerlang dari saran calon kakak iparnya ini. " Kayak nya emang gitu harusnya" ucapnya spontan. Rizal hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Sholeh.
Dalam otaknya kini adalah segera menemui Sholeha, menjelaskan pada nya dan meminta maaf terlebih dahulu.
Sholeh mulai tenang, dalam hatinya ia harus segera mendapatkan kepercayaan Sholeha terlebih dahulu.
Sholeh bahkan tak menunda lagi, ia segera merogoh ponselnya mengirim pesan untuk Sholeha, sekali ini dia tidak akan menunda lagi.
(Aku akan datang ke rumah nanti)
Terkirim pesan yang teramat formal dan kaku itu pada Sholeha, semoga saja ia segera membacanya.
***
__ADS_1