
Suasana ruang tamu kembali sepi setelah keluarga Sholeh pulang. Menyisakan serangkai pengalaman dan kebahagian bagi Sholeha, tidak menyangkalnya ternyata dia cukup bahagia setalah di terima di kelurga Sholeh, hanya merasa lega. Perasaan itu muncul tiba-tiba dan terasa mengalir begitu saja.
Dari awal ia hanya ingin membahagiakan keluarga dan juga dirinya dengan meniti pencapain ini. Sholeha tidak akan menyangka hatinya akan berbalik begitu cepat.
Tinggal lah Rizal dan istri yang sengaja tidak langsung pulang. Ayu dan Sholeha masih mengumpulkan beberapa makanan yang belum disentuh kedalam wadah untuk di sisihkan. Ada satu potong risol tersisa di piring dekat Sholeha, di comotnya dengan semangat. Bahkan dia tadi tidak sempat melihat makanan kesukaannya itu.
Dia tersenyum setelah merasakan lezatnya risol itu, sangking tidak fokusnya Sholeha sampai lapar dan tidak berani makan dan minum tadi.
Apa lagi ketika duduk berdua dengan Sholeh di ruang tengah tadi, awalnya biasa saja lama-lama terasa deg-degan juga.
Di tambah melihat sikap Sholeh yang dewasa dan bijaksana, dia semakin terpesona padanya. Apa ini, aneh sekali dia? atau dia mulai menyukainya.
Sholeha mengibas kan tangan di depan wajahnya sendiri, tanda ia sedang menghapus khayalan melantur memikirkan Sholeh.
Jika dilihat dari jenis makanan dan suguhan malam itu, ternyata keluarganya cukup siap mempersiapkan acara ini. Seingatnya dia hanya ketiduran beberapa jam saja mengapa dia bisa tertinggal banyak hal. Samapai saat ini, dia belum sempat bertanya pada satu pun dari kelurganya.
Ketika Ayu dan Sholeha menyelesaikan pekerjaannya, duduk lah mereka di meja makan bergabung dengan bapak, ibu dan Rizal. Sholeha mengumpulkan banyak sekali pertanyaan di kepalanya bermaksud akan menodong jawaban dari keluarganya itu.
Melihat wajah Sholeha yang penasaran, buk Fatma segera menjelaskan secara singkat kepada putrinya itu. Merasa
Kasihan kepada putrinya yang terlihat bingung dan butuh penjelasan.
"Maaf ya Nduk, ibu juga tidak menyangka kalau lamaran sekalian malam ini, Ibu juga kurang perhatikan, kue dan sebagainya semua dadakan" ia menyentuh punggung tangan Sholeha lembut selembut ucapan yang berhati-hati.
" Bapak juga ndak mengira kalau Sholeh gerak cepat seperti ini, saat itu Bapak hanya berpikir niat baik tidak akan baik kalau ditunda ya sudah langsung saja Bapak setujui dan segera telpon Mas dan Mbak mu untungnya keburu persiapkan ini dan itu akhirnya rampung juga, Alhamdulillah."
"Masa iya gitu Mbak?" Sholeha memastikan.
" Iya Dek, untung keponakan mu lagi pada di rumah kakeknya, Mbak bisa bantu banyak dan sempat pesankan kue tadi"
" Mas aja bingung tak pikir kamu yang pulang dari rumah ku merengek minta di kawinkan " canda Rizal sontak membuat Sholeha mendelik.
Padahal ketika pulang tadi siang, bapaknya pun tidak ada di rumah bagaimana caranya merengek. Atau jangan-jangan Sholeh yang merengek pada ibu nya?.
" Ndak begitu kok, tadi pagi memang Sholeh menemui saya pas di kantor, mungkin dia tau Bapak sudah berangkat ke sekolah, Bapak saja tidak mengira saat itu dia terlihat sungguh-sungguh jadi ndak tega menolak."
Entahlah apa yang di pikir kan pria itu, secepat kilat sudah memutuskan ingin menikah saja. Kemarin malam masih mau sepakat jalan pelan-pelan, eh paginya udah lain lagi maksudnya. Bahkan Sulaiman sampai tidak fokus dengan rapat dewan guru di sekolah tadi. Mengingat putrinya akan segera dilamar.
Ibu menyela, di tengah ucapan sang suami. " Sebentar Pak, ibu ambil titipan dari Ibunya nak Sholeh tadi," dia berlari kecil kedalam kamar.
" Nah ini Nak, coba kamu lihat sendiri!" di sodorkan kotak perhiasan kecil berwarna merah.
Ayu sampai menyenggol bahu adik iparnya untuk menggoda. Sholeha tersenyum simpul menerima pemberian calon mertuanya itu. Dengan sangat perlahan ia membuka kotak perhiasan mungil dan lucu baginya. Teronggok satu cincin emas yang sederhana polos tanpa corak. Sholeha sangat menyukai bentuk dan ukuranya yang juga pas di jari manisnya. Kalau patah hati dihiburnya pakai emas bisa langsung terbit senyum manisnya, kaum hawa memang beda.
" Sepertinya tadi Sholeh kelupaan mau kasih ke kamu jadi di titipkan pada Ibu, untung tidak tertinggal kata bulek Nur " jelas Ayu yang juga mendengar percakapan ibunya tadi.
Sholeha tersenyum mengamati jarinya.
__ADS_1
"Bagus ya Mbak, pas lagi di Leha"
Semua orang juga ikut tersenyum melihat perubahan wajah Sholeha Sedikit kentara jika ia mulai menerima kehadiran Sholeh, atau kehadiran cincin emasnya, hanya Sholeha yang tau.
Dirasa telah selesai hajatan sederhana di rumah mertuanya Ayu mengajak suaminya pulang, dia juga ingin memberikan ruang pada adik iparnya, mungkin ada hal yang harus ia tanyakan secara pribadi kepada kedua orang tuanya.
" Mbak ndak nginap saja, Leha pengen curhat loh?" bisik Sholeha pada Ayu saat mereka sampai di daun pintu.
" Kapan-kapan ya Dek, Mbak luangkan waktu" jawabnya menyentuh bahu Sholeha.
Semenjak Rizal menikah, Sholeha sangat dekat dengan istri masnya itu, terkadang ia merasa bahwa Rizal lah yang jadi ipar, dan Ayu kakak kandungnya sendiri. Di tambah sikap Ayu yang begitu menyayangi Sholeha dan Sholeha juga sangat bergantung pada Ayu, membuat keduanya semakin dekat.
Laju motor Rizal tak lagi terlihat, Sholeha kemudian menutup dan menuju kamarnya berniat segera tidur, malam semakin larut tapi Sholeha belum juga kantuk. Awalnya ia ingin kembali menanyakan lebih banyak pada bapak tentang kejadian ini, penjelasan tadi terlalu singkat menurutnya tetapi entah kemana larinya pertanyaan itu, hilang seketika dari hatinya.
Kemarin yang masih kekeh mengatakan sedang patah hati nyatanya Sholeha mulai menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Secepat itu kah ia mengubah isian dalam hatinya. Soal hati memang siapa yang tau?.
Sholeha mengganti gamisnya dengan daster tadi. Dia duduk di sisi ranjangnya, memainkan ponsel sembari bersandar. Tentu bukan karena ingin menonton drama, tapi dia ingin memastikan sesuatu.
Benar saja belum ada lima menit dia menggulir aplikasi pesan, masuk lah nomor yang belum sempat ia simpan.
(Assalamualaikum Sholeha)
" Ini Mas Sholeh deh kayaknya, "
Belum sempat dibalas muncul lah panggilan dari nomor itu
" Oh itu, saya mau sampaikan kalau cincinnya sudah diberikan pada Leha belum, seingat saya tadi Ibu yang bawa, saya sampai lupa mau kasih ke mau pas acara tadi, saya takut Ibu lupa, "
Dengan cepat sholeha memotong.
" Sudah kok mas, cincinnya ada di Leha" terdengar tarikan nafas lega dari seberang telepon.
" Alhamdulillah kalau gitu, maaf ya saya mendadak telfon kamu, saya bingung tadi Ibu juga sudah tidur, daripada kepikiran saya tanya langsung ke kamu".
Tidak lama setelahnya, Sholeh berpamitan menutup telepon, tidak banyak hal yang mereka obrolkan. Tentu saja masih ada kecanggungan di antara keduanya, Sholeha hanya masih heran dengan sikap Sholeh yang begitu gigih kepadanya. Padahal siapa yang tau kalau hati Sholeha saja belum bisa lepas dari kenangan bersama Arman, mantan pacarnya.
Sholeha hanya butuh waktu untuk menata ulang rencana kedepannya.
Lamaran dadakannya dengan Sholeh tentu saja sedikit membuatnya terkejut. Lagi dan lagi ia tidak ada alasan untuk mundur. Sebab itu lah, tetap manut adalah sikap terbaiknya saat ini.
Menjadi anak bungsu di keluarga itu, Sholeha sangat paham akan sikap orang tua dan masnya yang sangat berhati-hati menentukan pilihan. Memang Sholeha sangat mempercayai keluarganya dan tidak merasa dirugikan hanya saja sedikit dipaksa untuk menerima.
Malam yang semakin terkikis akan segera berubah menjadi pagi, menemani Sholeha terjaga di penghujung doanya di sepertiga malam, bersimpuh memohon ampun atas berbagai khilaf dan kelainan ia sebagai hamba. Memohon bimbingan dan petunjuk atas takdirNya yang sedang ia jalani.
Mentari sedikit naik di ufuk timur, menghangatkan pagi di tengah berbagai aktivitas penduduk desa yang sederhana.
Libur akhir pekan yang tak seberapa lama itu terasa begitu panjang dan melelahkan hati dan pikirannya.
__ADS_1
Berangkat lah ia dengan bermotor membelah jalanan yang tetap sama dengan tujuan yang sama pula.
Baru saja Sholeha melipir ke parkiran tak sengaja matanya menemukan Irma juga baru sampai dengan berlari kecil di gerbang, dilihatnya juga seseorang yang mengantarkan Irma, seperti Arman.
Seolah sengaja menghalangi pandangan, Irma berdiri tepat di hadapan Sholeha.
"Hai Ha, selamat pagi" sebenarnya jarang sekali Irma bersikap ramah seperti ini
Mata Sholeha beralih pada Irma
" Kamu diantar siapa?"
" Oh itu, ngak diantar Ha, kebetulan searah sama Mas Arman jadi sekalian"
Sholeha hanya ber oh tanpa meneruskan pembicaraan itu.
" Jangan bilang kamu masih cemburu"?sergap Irma tanpa ragu. Cemburu? apa maksud pertanyaan Irma. Dia hanya akan mengulik masalah hatinya lagi, Sholeha tak ingin menanggapi Irma, ia benar-benar sedang tidak bersemangat.
" Kamu sudah yakin berakhir dengan Mas Arman Ha? kembali lagi Irma menghentikan langkah Sholeha.
"Kenapa sih Ir, nanti aja ya kalo udah kelar kerja, keburu siang tugas kita banyak hari ini" geram Sholeha.
" Kalau masih cemburu kenapa dilepas"
"Ir, kamu juga tau yang dilepas itu aku, kamu juga tau kan aku yang di tinggalin Ir, aku tidak berniat melepas." Bentak Sholeha tak bisa lagi bersabar. " Maaf, aku lagi ndak ingin bahas itu" ujarnya lagi.
Sholeha melalui Irma tanpa meminta tanggapan darinya.
Suara tawa yang cukup riuh terdengar, anak-anak yang baru bisa bernyanyi dan bermain memenuhi kelas. Saling berteriak, sembari menunggu bel berbunyi mereka terlihat riang berbanding dengan wajah wanita dewasa ini. Hanya ada 3 kelas, 4 guru dan 2 staf di paud ini. Tentu saja Sholeha dan Irma adalah staf nya. Para guru belum terlihat di kantor padahal pagi mulai beranjak pergi.
Memadukan keriuhan kelas dengan hatinya yang sedang begitu kesal, membuat ubun-ubun Sholeha semakin mendidih. Dialihkan perhatian nya dengan berusaha tersenyum pada anak-anak yang dilaluinya. Jangan sampai tiba-tiba dia mengeluarkan taringnya yang sudah ngilu dari tadi.
Canda aja ya teman-teman.
Sholeha gadis yang cukup pandai mengolah rasa dalam hatinya, secepat kilat dia mengatasi segala amarahnya dia sabar dan tidak pemarah.
Sebenarnya dia itu marah kenapa?
Cemburu?
Irma yang berusaha mengejar Sholeha, berusaha menghentikan kembali temannya itu. Ternyata rasa ingin taunya tidak bisa ditunda, dan sikapnya itu cukup mengesalkan sekali bagi Sholeha. Dia terkesan memaksa dan berlebihan.
Tidak sedikit pun leha memperdulikan Irma, Sholeha meneruskan langkahnya menuju ruang kerjanya. Andai dia bisa di teriaki " Ih kamu tuh ngeselin" sayangnya Irma itu sedikit tidak perasa orangnya, alias tidak peka. Itu sebabnya Sholeha memilih diam dari tadi.
Yang tidak ia pahami mengapa Irma sangat terkesan memaksa dan sangat mendukung semua yang sedang terjadi saat ini.
***
__ADS_1