
Setelah kembali dari bepergian dengan tujuannya masing-masing. Sepasang kekasih halal itu sedang bersiap terlelap, malam sudah larut tetapi keduanya masih saja sibuk membahas hal-hal kecil dan saling berbagi tawa. Sholeh yang terus saja menggoda istrinya yang pemalu tapi mau.
Sholeh juga menceritakan soal Agus yang mengajari dan berbagi tips tentang malam pertama yang belum mereka lakukan sampai saat ini. Sholeh tak menyangka akan jujur pada temannya itu masalah pribadi seperti ini, meskipun Agus juga hanya bercanda tanpa tau yang sebenarnya.
Saling bertukar cerita, Sholeha juga menceritakan jika sang ibu menasihatinya agar bangun pagi dan jangan lupa layani suaminya dengan sepenuh hati. Sholeh sampai tertawa saat Sholeha manyun karena Sholeh tak melanjutkan aksinya padahal ia sudah menginginkannya malam kemarin, jika tidak sedang marah Sholeha pasti sudah memintanya.
" Jadi, kita lanjut nih?" tanya Sholeh, matanya sudah terpaku pada mata Sholeha yang mengerjab tak beraturan.
Berpelukan erat masih dengan cerita dan tawa yang terus mengalir, keduanya semakin mengeratkan dekapan itu.
Sholeh mengecup kening Sholeha seperti kemarin, kali ini begitu dalam dan menggoda. Begitu juga dengan Sholeha yang telah mendapat gambaran kemarin malam ia tak lagi gugup, sebaliknya dia kini sangat menikmati, memejamkan mata menunggu kemana larinya bibir Sholeh selanjutnya. Hidung, pipi, telinga, ah dan akhirnya sampai pada tempat kesukaannya. Kemarin sudah begitu dalam, kali ini keduanya lebih santai menikmati ritme indah dengan hasrat yang begitu menggelora. Lembut perlahan bibir keduanya saling bersapa, bertukar rasa dan mengecap dengan begitu mesra.
Perlahan tak bertumpu pada bibir saja, Sholeh mengecup semua bagian menarik dari istrinya, mengikuti semua insting yang tak berhenti menuntunnya, dari tempat yang begitu menonjol dari tubuh indah seorang wanita. Dia tenggelam menikmati hangat dan nyamannya sang puncak dada indah dengan segala bentuk dan rupanya.
Ah, ciuman mereka begitu indah dengan gelora yang terus bertambah, tangan Sholeh menyapa banyak hal pada Sholeha. Tempat-tempat indah, hal-hal nyaman dan sumber kecanduan.
" Sabar sayang.... Kita selesaikan yang ini dulu" bisik Sholeh pada istrinya yang mulai menggelinjang tak tahan.
Sholeh berupaya menyenangkan Sholeha lebih lama lagi, jemari yang terus menari dalam kedalaman inti sang istri, bersabar mengontrol hasratnya yang sama menggebunya dengan wanita yang terlihat begitu pasrah di bawah kuasanya.
" Sekarang.... Mas..." Pinta Sholeha dengan sangat pelan hampir tak terdengar, suaranya melayang terbang terbawa rasa nikmat yang tak bisa ia gambarkan.
Tak perlu bertanya lagi, dengan instingnya yang begitu kuat, Sholeh bergegas mempertemukan inti dari pergumulan malam ini, saling melepas dan menikmati bersama. Keduanya tau jiwanya telah mencapai titik nikmat tiada tara, sesuatu yang begitu sulit di jelaskan rasanya.
" Mas... Perlahan saja", Sholeha telah berani meminta, mengiba agar keinginannya di penuhi.
" Iya, perlahan seperti ini?" tanya Sholeh di telinga sang istri. Tubuhnya bergerak seirama dengan suara istrinya yang mulai menguar di ruang itu, keduanya meneruskan kegiatan cintanya.
Tanpa kata, hanya ada matanya yang berkali-kali terpejam menikmati gaya sang suami yang di luar dugaannya. Sesekali Sholeha tersenyum dan berkali-kali memanggil Sholeh dengan suara manjanya.
Tak tahu pasti berapa lamanya, keduanya sedang beristirahat melepas semua rasa yang telah menyatu dengan berpelukan. Ketebalan selimut yang tak sampai lima senti itu, entah mengapa terasa sangat hangat hampir mendekati panas. Padahal keduanya tak berpakaian sama sekali.
" Lelah ndak,?" ucap Sholeh, tangannya mengusap kening yang banjir keringat.
" Lelah, tapi besok mau lagi" jawab Sholeha malu-malu.
" Setelah ini, kita coba lagi" usul Sholeh tertawa.
" Ih, besok aja "
" Kenapa, Mas masih penasaran." Bisik Sholeh .
Sholeha mengecup dada sang suami, " Nagih ya?"
Sholeh tertawa. Tak menyangka jika istrinya ini cukup mengerti apa yang sedang ia rasakan. " Kamu juga suka, kan?" balas Sholeh menggoda.
Terang-terangan Sholeha langsung meneruskan aksinya mendahului Sholeh menjelajahi bibir tebal yang masih asik menggoda, sebagai pembuka aksi selanjutnya. Sholeh tak mau diam menerima serangan mendadak sang istri . Tangannya meneruskan menelusuri banyak lagi tempat tercandu baginya.
***
" Mas, bangun dulu yuk. Kita bisa tidur nyenyak setelah bersih." Bisik Sholeha hampir tak terdengar.
Dia setengah tertimpa tubuh kekar sang suami, apa dua kali percobaan membuat laki-laki gagah itu habis tenaga. Dia sampai tak bisa membuka matanya.
" Mas, ayok. Ini keringat semua, ndak nyaman tidurnya", ucap Sholeha lagi.
Sholeh mengurai dekapannya, bersentuhan langsung dengan wanitanya memberi efek gila yang candu. Dia sangat menyukainya, " Sekalian aja, subuh nanti" gumam Sholeh.
__ADS_1
" Mas.... Masih lama subuh nya", jawab Sholeha geram.
Sholeh membuka mata, melihat jam dinding yang masih nangkring di puncak sekali. " Jam dua belas, "
Tak mau berdebat, akhirnya mereka segera membersihkan diri, bersama dengan bergegas. Takut masuk angin katanya. Lucu sekali mereka.
" Yang, besok-besok mepet subuh aja lah, biar ndak mandi tengah malam gini" ucap Sholeh saat keduanya sedang berpakaian.
" Iya deh, kalau ndak kesiangan" jawab Sholeha santai, sambil mengenakan daster tanpa lengan tadi.
" Kesiangan, ya abis sholat subuh aja sekalian" Sholeh tertawa.
Sholeha mendelik, saat menyadari sang suami menyentuh dadanya sekilas. Dia juga ikut tertawa setelahnya.
Kembali ke tengah ranjang bersiap untuk beristirahat, semoga saja benar-benar tertidur kali ini batin Sholeha.
" Yang... " panggil Sholeh.
" Hem... "
" Kamu emang ngak pernah pakai itu kalau malam ya" sebut Sholeh sambil melirik dada sang istri.
" Iya, kenapa?"
" Tuh, bayangin pas kemarin mas udah di goda eh ternyata ngak di kasih, taunya kamu juga pengen ngak berani minta" Sholeh mengomel tentang insiden kemarin malam.
" Mas juga pegang-pegang. Emang aku bisa tenang, aku juga sama mas. Coba mas mau tanya udah bersih belum, pasti aku ndak sampai nahan kayak kemarin" Sholeha juga tak terima.
Kejujuran sederhana terucap tanpa ragu, seolah menjadi pembahasan penting yang harus segera di ceritakan. Terbukti keduanya menyimpan rasa penasaran dan penyesalan yang saling melengkapi.
Keduanya saling menatap, kemudian tersenyum begitu hangat. Ah, siapa sih yang masih mau begadang di tengah malam seperti ini. Kalau bukan pengantin baru itu.
***
Langkah Sholeha begitu ringan, tanpa sadar sang sahabat sedang menunggunya. Irma menggeleng kepala, melihat tingkah Sholeha yang begitu ceria tak ubahnya anak-anak yang sedang berlarian di halaman. Apa lagi adegan cium tangan di depan gerbang yang terbuka, Irma jadi sangat ingin menggodanya karena iri.
" Nyonya Hamdan, bagi dong bahagianya. Jomblo lapuk ini sedang iri" goda Irma saat Sholeha sampai di hadapannya.
Sholeha tersenyum, " Maaf ya, ndak bisa berbagi kali ini. Ini private sekali, ntar kamu iri", Sholeha lari kecil meninggalkan Irma yang tampak masih menganga.
" Awas ya kamu, dasar" teriaknya, sambil melempar kemoceng yang sedang di bawanya.
Irma tau Sholeha telah mengejeknya, lihat saja sebentar lagi dia pasti akan meminta Irma untuk segera menikah. Hem dasar pengantin baru emang suka pamer, ah pasti mereka hanya bercanda.
Irma mengejar Sholeha keruang kerja. Dia terkejut saat melihat Bu Risma yang sedang duduk bersama Sholeha. Irma mengundurkan diri, tak jadi masuk ke sana.
***
"Saya memaafkan, tetapi jangan di ulang Bu, saya takut suamiku kembali marah dan bisa berbuat lebih", jawab Sholeha, saat Bu Risma terang-terangan meminta maaf dengan sedikit angkuh.
Dia seolah hanya tak enak, jika tidak meminta maaf terlebih dahulu. Sholeha juga tak tau suaminya itu telah berbuat apa pada ibu-ibu ini. Semoga tak mengatainya atau mengancamnya.
Dia tidak menjawab, setelah itu keluar meninggalkan Sholeha di tempat itu. Sholeha menghela nafas, mengelus dadanya yang menyimpan rasa marah dan kesal. " Sabar, Sholeha " ucapnya pelan.
Irma datang, memanyunkan bibirnya seperti mengomeli seseorang secara diam-diam. " Kamu kenapa?" tanya Sholeha.
Irma menarik kursi, duduk di depan Sholeha " Aku pikir kamu akan menamparnya, atau menjambak rambut pendeknya atau menyiramnya dengan air minum atau-,
__ADS_1
" Bukan sinetron Ir, " potong Sholeha cepat.
Irma melorotkan pundaknya, " Iya, tidak akan seperti itu".
Sholeha tersenyum, teman yang sedang jomblo ini pasti akan mengisi hari-harinya dengan menonton drama dan membaca novel.
" Eh, ngomong-ngomong soal sinteron jadi ke inget drama Korea, gimana. Kalian sudah pernah ciuman kan?" Irma kembali bersemangat.
Sholeha mendelik, tak menyangka temannya ini masih penasaran dengan pertanyaan dua hari yang lalu.
" Kan aku juga sudah cerita, udah Ir dikit waktu itu"
" Berarti sekarang sudah banyak nih, atau sudah semua. Gimana sama persis sama bacaan ku di novel?"
" Ya ampun, novel lagi. Privasi Ir, tak boleh di umbar." Sholeha berusaha menghindar dari pembicaraan ini, jika tidak dia akan kembali terbayang kejadian semalam, dan Irma akan mengoloknya.
" Ya udah lah, tak cari tau sendiri nanti", ucapnya singkat.
" Eh, cari tau di mana?" Sholeha panik.
" Di Google, ya ndak lah. Tak cari suami juga. Biar ndak iri"
Tawa Sholeha meledak begitu saja, jujur saja dia tak menyangka jika Irma memikirkan hal sejauh itu hanya karena iri.
***
Sholeha masih berbunga dengan godaan Irma yang ternyata tak berhenti sedari tadi, sampai mereka berpisah hendak pulang, keduanya tetap berbincang riang seperti biasanya. Sesekali Sholeha membahas kedekatan Irma dengan seseorang yang sering diceritakan sebagai kekasih barunya.
Terlepas dari Arman belum lama, dia sudah punya pacar saja. Jika secepat itu mengapa dulu mereka memperebutkan Arman. Ujungnya tidak di ambil juga. Sholeha mengembangkan senyumnya melihat sang suami mulai mendekatinya. Sepertinya motor kesayangannya akan jadi kendaraan andalan sang suami.
Saling bertukar senyum, dan saling sapa seperti lama tak jumpa. Sholeh bahkan menanyakan keadaan, katanya capek ndak yang?, padahal Sholeha sangat terlihat sehat dari biasnya.
Sholeha menanggapi suaminya hanya dengan senyuman saja, terlihat sekali jika suaminya ini tidak pernah menjalin hubungan dekat sebelum menikahinya, dia terkesan berlebihan, atau memang seperti ini orangnya, Sholeha belum tau.
" Kita makan bakso ya Mas" ajaknya saat baru saja menaiki motor.
" Tempat kamu pacaran dulu?"
Sholeha memukul paha Sholeh pelan, "Apa sih, satu dua kali aja kok",
Sholeh tersenyum tanpa terlihat dari sang pujaan, " Ya udah, kita bakal sering ke sana deh, pacaran di sana".
Sholeha tak lagi menjawab, ia lebih memilih menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya lembut. Kebetulan sekali matahari tak begitu terik menyinari.
Ada banyak hal yang baru saja Sholeha sadari, menghabiskan waktu bersama dengan Sholeh, begitu menyenangkan, melebihi rasa bahagianya saat pertama kali pacaran dengan Arman dulu. Lagi-lagi Sholeha masih membandingkan suaminya dengan mantan kekasihnya, walau bagaimanapun berbagi cerita dengan Arman menyita waktu remajanya lebih dulu, waktu saat-saat berbunga-bunga dan senang di puji. Sholeha tak bohong, jika kedua pria ini memang berbeda. Memang begitulah semua orang kan, jika tetap sama saja untuk apa berpindah rasa darinya.
Menikmati semangkuk bakso bersama Sholeh sudah pernah terjadi, saat itu hatinya belum se-senang ini. Masih banyak meraba isi hati sendiri.
" Mas, Ibu suka bakso ndak?"
" Tidak usah yang, Ibu tidak boleh makan sapi, tensinya bisa naik" jawab Sholeh.
Sholeha murung, dia berpikir apa yang bisa menyenangkan hati ibunya saat pulang nanti. " Beli buah aja, biar sehat", celetuk Sholeh tau apa yang sedang di pikirkan sang istri.
Sholeha mengangguk singkat setuju dengan usulan sang suami.
" Mas, kayak ada yang perlu Mas bahas deh, masih ingat kan?"
__ADS_1
***