Cinta Sholeha

Cinta Sholeha
Suami ku


__ADS_3

Di tengah kesibukan yang begitu beragam jenisnya, bu Nur terkejut melihat Rahma dan ibunya datang ke rumahnya. Keduanya sudah rapi layaknya tamu undangan yang siap mengikuti serangkaian acara ini. Bu Nur tak menyangka jika Sholeh mengundangnya sebagai pihak keluarga. Sempat ada rasa kecewa sebab Sholeh tak mendiskusikan hal ini dengan dirinya.


" Apa kabar Bu Nur?" ibunya Rahma atau biasa yang di panggil bu Rani oleh banyak orang itu menjabat tangannya.


" Baik Bu, beginilah saya" ucap bu Nur menyembunyikan rasa kagetnya.


Sebagai seorang tuan rumah, bu Nur mempersilahkan keduanya duduk di emperan rumah yang penuh dengan barang yang akan mereka bawa. Tanpa di suruh Rahma menelusuri ruang rumah yang memang sedang banyak sekali orang keluar masuk.


" Selamat ya Bu, akhirnya punya mantu terlebih dahulu dari ku" senyumnya seolah menyinggung perasaan bahagia yang seharusnya ia juga rasakan.


" Jika sudah tiba waktunya, ibu juga segera mantu" jawab bu Nur dengan ramah.


" Saya pikir kita bakal besanan, melihat Sholeh yang terus saja mendekati putri saya" senyumnya miring seolah mengejek.


Bu Nur terdiam sesaat, dia tau akan ada prasangka buruk jika berhadapan langsung dengan wanita ini. Sejak dulu ia kurang menyukai gaya bicaranya yang ramah namun membantah. Bu Nur membatin, mengapa dia seolah mengatai putra ku begini.


" Tidak jodoh Bu, mereka yang memilih dan menentukan. Kita hanya bisa mendoakan saja"


" Entahlah, mengapa akhirnya begini" dia menghela nafas panjang.


" Jangan salahkan anak-anak yang memiliki keputusan bu, biarkan mereka dan cukup doa kan seperti ibu yang baik " sedikit saja bu Nur ingin menegaskan jika putranya berhak memilih jalan hidupnya, namun sekuat tenaga ia menahannya.


" Jika saja Rahma tak bodoh menolak Sholeh, pasti kita yang akan besanan sekarang" ia tertawa pilu seolah meratapi nasibnya.


Bu Nur tak perduli, tamunya ini hanya akan sibuk merecoki hari bahagia putranya saja, apa maksudnya perkataan itu. Sholeh sedikitpun tak berniat menikahi Rahma, jika ia berniat pun ia tidak akan merestuinya, dalam hati bu Nur terus berkomentar.


"Sudahlah Bu, mungkin Sholeh tak cukup baik untuk Rahma, doa kan saja yang terbaik untuk putrimu yang sangat pintar dan cantik. Dia banyak kenalan di kota, mungkin saja dia memiliki pacar yang lebih hebat saat ini" bu Nur beranjak. " Saya tinggal ya bu" ia masuk mencari putranya yang entah sedang apa di dalam.


Langkahnya menhan kesal yang bersumber di dadanya, ia merutuki Sholeh yang masih saja melibatkan Rahma lebih jauh di hari pentingnya. Dia tidak akan marah jika sekedar mengundangnya saja, mengapa harus di ikut sertakan bersama seluruh kerabat hari ini.


***


" Ah iya Bu, tunggu sebentar aku harus mengambil handphone ku" Sholeh pergi ke kamarnya dengan berlari kecil.


Menatap mata ibunya yang begitu tajam, Sholeh menyadari telah terjadi masalah dalam hatinya. Sholeh berharap ibunya tidak akan mengatakan sesuatu pada Rahma di sana.


Seulas senyum terpancar dari wajah Rahma, rasa gugup jelas tergambar mendadak. Apa lagi penyebabnya jika bukan teguran bu Nur yang tegas dengan nada amarahnya.


" Maaf jika saya menggangu Mas Sholeh" ucap Rahma berusaha menurunkan sorot mata itu.


" Sudah waktunya untuk pergi," jawab bu Nur dengan datar. Ia menyusul Sholeh ke dalam kamar.


Sholeh terkejut melihat ibunya tiba-tiba masuk ke kamarnya, " Ada apa Buk?" .


Bu Nur duduk sejenak di atas ranjang, menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. " Kita berangkat, jika paman mu sudah datang. Biar kita di sini dulu" .


Sholeh ikut duduk di sebelah sang ibu, ia memahami ada hal yang menggangu pikiran ibunya, hanya saja ia tak menceritakan lebih detail. Sholeh menggenggam tangan ibunya, menyalurkan rasa aman dan ketenangan tanpa kata. " Kita bahas nanti ya Bu, Sholeh terlalu gugup hari ini, bantu putra mu ini untuk mendapat keberaniannya " perlahan Sholeh memeluk ibunya. Hatinya bercampur aduk hari ini, dekapan sang ibu semoga bisa menjadi kekuatan.


Tanpa kata, terdengar ada Isak kecil dari sang ibu. Hatinya ikut perih seketika, Sholeh bisa mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh ibunya.


" Ayahmu akan bahagia jika melihatmu hari ini le, sejak Sholeha kecil ia sudah memilih untuk jadi mantunya. Itulah mengapa kita bersikeras menjodohkan kalian, ini sebuah wasiat tak terucap dari ayahmu. Terima dia setulus hati, jangan buat hatinya terluka" bu Nur melepas pelukan hangat itu.


Sholeh tersenyum menatap wajah ayu ibunya yang berhias keriput yang mulai jelas di usia yang terus bertambah.


" Apa pun itu Buk, insyaAllah kita menikah dengan niat beribadah kepada Allah, cukup doa kan kami saja."


" Iya nak, doa ibu akan terus terucap untuk kebahagian kalian berdua"


Air mata bu Nur kembali mengalir, betapa sedih, bahagia, dan juga pilu menjadi satu. Keduanya berpelukan lagi, mencoba melupakan kesedihan dan banyak hal kecil yang baru saja mengusik hatinya.

__ADS_1


Suara pintu di ketuk terdengar, Agus mengingatkan untuk segera bersiap untuk berangkat. Sholeh mengusap air mata ibunya, mencium tangan dan segera menggandeng bu Nur keluar.


***


Mobil hitam mengkilat berhias sedikit bunga sebagai tanda mobil sang pengantin berjajar di tengah mobil para keluarga. Terlihat keluarga paman nya juga sudah bersiap memimpin rute perjalanan. Sebuah kegembiraan yang begitu bangga mereka pamerkan, seolah agar semua orang tau hari ini putra dari keluarganya akan pergi menikahi gadis yang bertempat tinggal di desa yang sama. Beberapa tetangga juga bersiap mengikuti dengan sepeda motor seperti pada umunya sebuah iring-iringan pengantin di desa. Mereka memberikan senyum gembira menyemangati Sholeh, ada rasa indah yang ia dapatkan di pagi ini.


" Bagaimana, kita berangkat sekarang saja?" tanya pak kades selaku paman dan sekaligus wakil dari almarhum ayahnya.


" Kita cek semua sekali lagi, setelahnya kita pergi. " kata bu Nur memastikan.


Sebagian kerabat yang berdatangan dengan para anak membuat halaman rumah itu riang penuh tawa, tanpa di sengaja ia juga menentukan hari pernikahannya di hari minggu.


Sholeh mulai mengusap dahinya yang sedikit berkeringat, timbul rasa gelisah dan gugup saat semua mulai bersiap berangkat. Satu mobil yang di kemudikan oleh Dito itu perlahan melaju. Ada Sholeh ibunya paman dan juga bibinya.


Entah empat mobil lainnya mengangkut siapa saja di dalamnya. Sekilas tadi terlihat keluarga Agus dan anak-anak dari pamannya juga. Karena kerabat Sholeh yang tidak banyak selebihnya di isi dengan teman dan tetangga atau kerabat jauh. Berjalan beriringan, perlahan tak terburu-buru, Dito seolah tau dengan kondisi hati sang sobat yang di dera kegugupan.


" Jaraknya dekat kok Leh, sebentar juga sampai" celetuk sang paman dari kursi depan.


Sholeh tersenyum, posisi duduknya yang di apit kedua wanita terdekatnya membuatnya jelas sangat ingin di berikan ketenangan secara berkala dari mereka.


" Dari tadi tarik nafas terus ponak an mu Pak, keringat dingin" jawab sang bibi sambil tertawa.


" Biasa itu, nanti kalau sudah sah ya hilang gugupnya. Sudah biasa ini berjabat tangan dan ngobrol sama mertuanya, yakin aja bisa ndak usah gugup" paman yang begitu mengerti apa yang sedang di pikirkan Sholeh itu tak berhenti tersenyum menyemangati.


" Wajar-wajar saja toh, namanya juga pertama kali, belum berpengalaman" tambah bu Nur tiba-tiba.


" Ini kang Dito sudah nikah belum?"


" Belum pak kades, Alhamdulillah masih sabar ikhtiar mencari yang cocok" dengan senyum percaya diri dari balik kemudinya.


" Oh ya ndak papa, siapa tau hari ini nemu ya kang, kayak Sholeh ini ndak tau jodohnya di ujung hidungnya." Tawa Sholeh muncul di tengah keseriusan keduanya berbincang.


" Lah iya, kalau dekatnya sedekat hidung kan malah ndak di sadari, "


Dito juga tertawa, guyonan pak kades satu ini memang sangat ramah. Enak di dengar dan menghangatkan.


" Sayang anak ku cowok semua, sebenarnya saya juga pengen cepat mantu " celetuk bibi dari sebelah kiri Sholeh.


" Masih kecil-kecil gitu kok sudah sibuk mantu toh dik, tunggu saja cucuku keluar kalau sudah pengen momong lagi" sela bu Nur pada ibu kades itu.


" Sebenernya pengen punya temen aja Mbak, serumah kok lanang semua kadang pengen punya tim hehe"


Bu Nur tertawa, tau jika adik iparnya ini pasti mengeluhkan keadaanya sebagai wanita tunggal di tiga laki-laki di rumahnya. Wajar saja dia iri dengan bu Nur yang sebentar lagi memiliki menantu.


" Dah sabar saja, Sholeha juga mantu mu kok nanti" hibur bu Nur.


Bu kades sekaligus bibi Sholeh itu tersenyum hangat, mengakhiri keluhnya yang tak serius itu.


***


Di balik ke bosanan Sholeha menunggu, ada saja cerita Irma yang berusaha menghiburnya dari kegelisahan berdiam di dalam kamar sejak tadi. Matanya tak berhenti melirik jam kecil di pojok meja riasnya. Bisa di hitung ia meliriknya hingga tiap menit, padahal Irma sudah berusaha keras mengalihkan dengan mengajaknya berbincang.


" Kok lama ya Ir, perasaan biasanya jarak tempuh dari sana kesini tembus lima belas menit loh" keluhnya setelah bolak balik bosan melirik jam.


" Kan acaranya jam setengah sembilan, wajar mereka belum sampai. Sudah tenang saja ya cantik, jangan cemas " Setengah tertawa Irma menenangkan sobatnya itu.


Wajar saja jika dia gelisah, sudah sejak subuh tadi ia sudah menunggu bagaimana ia tidak bosan.


" Dari subuh loh Ir aku duduk di sini, perutku saja sudah lapar lagi, "

__ADS_1


" Tuh kan, gayanya tadi ndak mau makan, dah minum aja ini biar buat ganjal" Irma menyodorkan air mineral kemasan.


" Ndak usah lah, kalau aku banyak minum malah pengen pipis terus. "


Irma masih tertawa. Bukan karena terburu-buru bersiap, tetapi memang kebiasaan para mbak perias yang tak ingin mepet dengan jam akad, apa lagi yang menikah bukan Sholeha saja. Setidaknya Sholeha harus menambah kesabaran untuk menunggu.


" Tunggu deh. Kayaknya rombongan udah pada datang." Irma mencoba mengintip dari jendela kamar, sepertinya iya tak mendapat hasil.


" Syukurlah, semoga saja ndak ada kendala " Sholeha melemaskan pundaknya yang sejak tadi tegang.


" Belum juga akad Ha, udah tenang aja"


" Setidaknya dia sampai dengan selamat dulu, kalau akad kan aku juga bisa dengar dari sini" jawabnya tenang.


" Iya juga, setidaknya mempelainya prianya tidak kabur ya Ha" tawa Irma seketika menguar.


" Apa sih Ir, kamu ini pasti sama kan aku dengan cerita novel mu ya",


Irma tertawa, " Sedikit sih, sempat menyamakan "


" Novel mana sih Ir yang kamu baca akhir-akhir ini, agak ngawur kadang"


" Ih kamu ini, kan banyak cerita itu juga berasal dari kenyataan loh, mungkin sedikit di tambah saja supaya menarik "


Pintu kamar terbuka, Ayu muncul dari sana. Dia mengenakan terusan beserta hijab yang senada, ada rona pipi dan merah di bibirnya, tampak cantik dan anggun.


" Rombongan Sholeh sudah tiba, sepuluh menit lagi di mulai acaranya" ujar Ayu mengabarkan.


" Iya mbak" Sholeh tersenyum pada Ayu.


" Mbak tinggal ya, nanti ibu jemput kamu" Ayu kembali keluar.


Wajah yang sempat santai dan ceria tadi, kembali menegang campur gelisah.


Suara dari pengeras suara yang saling berdengung, tanda proses jalannya acara akan segera di mulai. Ah entah lah Sholeha begitu tak mengerti apa saja yang sedang terjadi. Berdiam menunggu dengan cantik di ruangan yang tak berguna jendelanya, cukup membuatnya tersiksa, sebab rasa penasaran dan tak sabaran yang bercampur jadi satu. Setidaknya ia ingin sekali melihat seperti apa di luar sana.


Ketika salam pembuka terdengar dari pembawa acara, membuka dan memimpin jalannya acara, ada beberapa ayat Alquran yang di lantunkan, sambutan yang di sampaikan dan terdengar pula kutbah nikah yang Sholeha sendiri tak begitu jelas mendengar, ia sibuk sendiri dengan kegelisahan yang terus saja menghinggapi hatinya.


Degup jantungnya semakin cepat, seiring kalimat ijab dan qobul di ucapkan oleh kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya, jelas suara sang ayah dan dengan tenang suara Sholeh pun menyelesaikan akad nikah ini dengan sempurna.


Hati Sholeha berdesir menguntai panjang kalimat syukur, bibirnya tersenyum memenuhi wajah cantik bak ratu hari ini.


Setelah kata sah terdengar riuh, hatinya menghangat. Menikmati segala rasa yang datang silih berganti, bahagia, suka, senang dan seakan cinta juga telah memenuhi hatinya dalam seketika.


Sholeha memeluk Irma, sahabat yang tak hentinya mencucurkan air mata harunya, dia sampai tak berkata apa pun, Sholeha tau apa yang sedang ia rasakan.


" Selamat ya, kamu sudah jadi istri orang" ucap Irma di sela-sela tangisnya.


" Iya terima kasih ya," Sholeha tersenyum menatap wajah tulus sahabatnya.


Pelukan mereka terlepas, namun kedua tangannya masih saling menggenggam seperti tadi, ada banyak hal yang mungkin saja belum terucap dari keduanya. Sholeha tak menyurutkan senyum bahagianya, dan Irma yang terus saja membiarkan air matanya menetes.


" Jangan menangis, aku bahagia kamu juga harus bahagia, sekarang antar aku keluar. Aku rindu suami ku" ucap Sholeha berbisik, kemudian keduanya tertawa.


" Kamu akan di jemput suami mu, tidak perlu ku antar. Lihat, tunggu saja dia akan muncul di hadapanmu dalam hitungan detik" kata Irma penuh keyakinan.


Sholeha tersenyum, dia berbalik dan kembali memeriksa tampilan wajah dan juga gaunnya. Dia berdiri meneliti sekali lagi, dia seolah khawatir jika semua riasan telah luntur karena lama menunggu.


Tak lama ganggang pintu bergerak.

__ADS_1


***


__ADS_2